Integritas = Jati Diri

Integritas itu layaknya dua sisi mata uang. About who you are, and what you are.  Itu adalah keyakinan akan nilai, moralitas, kesejatian. Jati diri sebagai manusia. Yang akan melekat hingga akhir hayat. Membulatkan hati dan tekad untuk teguh, meski sekeliling melakukan sebaliknya. Integritas adalah lawan kemunafikan dan ketidakjujuran.

Bertahun-tahun melihat begitu banyak manusia tanpa integritas di planet itu. Tak perlu jenius untuk tahu, begitu banyak hal-hal yang tak sesuai nurani telah dilakukan. Bahkan untuk manusia semacam itu, pergeseran makna kejujuran pun terjadi.  Saling menutupi bangkai busuk. Saling mengamankan kepentingan kolektif segelintir manusia yang itu-itu saja. Saling memanfaatkan demi kepentingan sendiri. Tentu segalanya tidak lagi hitam dan putih. Padahal kejujuran meski bermakna luas, adalah selalu hitam atau putih.

Hanya satu kata: jijik.

Dan aku selalu ingat kata Bapakku: “Jujur itu harga mati!”. Dan aku jijik pada mereka yang menggadaikan kejujuran demi materi.

Integrity

integrity-2.jpg

Yes is yes. My no is no. No compromise. It’s about life’s honour.

Honesty and integrity is the wisdom  of life.  I’m not here to please everybody, but to do what’s right than convenient. I never compromise both by cheating.

It’s about doing the right thing because it’s the right thing to do. And I’m not afraid of the truth, the reality principle. Telling the truth eventho’ the truth is ugly. Integrity is the state of mind.

I’d rather be a person to hate, than crossing the line of my conscience. So suck it up, and I will keep pressing forward of telling the truth.

Mari Berpetualang, Anak Ibu!

Sejak tahun lalu, kami mulai membawa si anak kecil untuk melangkahkan kaki, namun dengan menyelipkan unsur petualangan, mengenal alam, juga budaya. Kami sudah bolak-balik pergi liburan ‘standar turis’,  berkali-kali dan lagi-lagi ke kota sama, semacam Yogyakarta, Solo, Semarang dan Bali sejak si anak kecil berumur 1 tahun. Bosan.  Kami juga sudah melangkah ke Lampung, Surabaya dan Madura, termasuk standar liburan orang Indonesia ke Malaysia dan Singapura demi Universal Studio dan Legoland. Meh 😀 Tapi saat itu kami juga tak lupa menyelipkan perjalanan ke museum-museum.

Tapi ya rasanya itu belumlah memberikan pengalaman ‘berpetualang’ yang sebenar-benarnya. Belum memberikan legacy untuk dia tentang makna perjalanan. Termasuk mengenal negerinya, #indonesiaku dan Indonesia kita yang sebenar-benarnya. Jujur apa adanya

dsc_1272

Jadi sejak tahun  lalu, kami bertekad memperkenalkan Indonesia dengan lebih dekat melalui perjalanan yang lebih memberi kesempatan pada dia untuk bereksplorasi. Toh dia sudah cukup besar, sudah mulai diajarkan mengurusi barang dan keperluannya sendiri. Sudah punya pemahaman keamanan diri sendiri secara sederhana. Saya gak mau dia tercerabut dari kehidupan yang sebenarnya , lantas kehidupan di mata dia identik dengan perjalanan yang nyaman, tentang kota besar dengan gemerlap cahaya, atau permainan dan atraksi buatan yang tidak memberi kesempatan bagi dia untuk bersinggungan dengan banyak manusia dengan kebiasaan dan kehidupan berbeda. Dia harus mengenal bumi dan alam tempat dia berpijak. Tanpa polesan. Sebenar-benarnya, dengan wajah kejujuran.

_mg_7224

Maka dimulailah perjalanan ke Baduy, ke Bitung, hingga camping di tahun ini. Sebelumnya kami mencoba melakukan eksperimen sederhana, dengan project pribadi #weekendtanpamall  sejak 2 tahun lalu. Maka dimulailah eksplorasi ke museum-museum,  galeri seni, pertunjukan seni dan budaya, sengaja menggunakan transportasi umum seperti KRL menuju satu tujuan, hingga sebisa mungkin berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lain yang berdekatan. Atau menonton di micro cinema, jelajah pasar dan kota tua, menelusuri tempat ibadah kuno umat agama lain.  Mampir ke toko buku bekas, atau menyaksikan senja di taman kota. Menikmati hal sederhana, eksplorasi, mencari tahu hal sekeliling kita. Kadang hanya di rumah, menikmati kebersamaan dengan bermain monopoli atau memasak bersama. Ada makna yang ingin kami titipkan melalui gerakan #weekendtanpamall.

dsc_0899

I believe, kids need adventure and experience. But parents have to teach them how to. How to spot risk, how to deal with problems, how to explore, how to develop skill and judgement when they need to be safe. Expose them to culture and history, so they know there is more than one way to live life. We took her to all kind of museum. A history museum, a science museum, an art museum. . She doesn’t have to understand everything. I just want to show her that exploring the unfamiliar is fun. It’s the place to encounter things you know nothing about, to ask questions, find answers, and see in new ways. 

Kids nowadays,  are over scheduled, and their days are filled with pressure. Tugas kami-lah sebagai orangtua, untuk mengajak dia bersenang-senang dengan cara sederhana. Mengajarkan dia menikmati hidup, yang dimulai dengan langkah kecil dan tidak rumit.

dsc_4818

Karena bukan salah video game atau TV. Tapi bagaimana saya dan mantan pacar membentuk cara berpikir si anak kecil, adalah yang utama. Memberi dia pemahaman kenapa lebih baik berlama-lama di alam terbuka, daripada bermain game dan hanya terkurung di ruangan.  Kenapa lebih baik bersenang-senang di bawah hujan, ketimbang seharian terkurung dengan Ipad. Toh melalui pengenalan sedikit-sedikit di project pribadi #weekendtanpamall , dia sudah mulai terlihat menikmati aktivitas yang sedikit gak biasa, dan tentu di luar mall. Meski kita gak anti mall 😀

15873271_687523891427459_2393659522165884574_n

I want her to enjoy the sunset surrounded by nature, not the super-packed beach club with pretentious people. They need connection with nature, as well as people.  They also need to figure out how to exist without technology. Dan perjalanan kami menginap di Baduy, membuktikan situ. Bahwa anak-anak justru amat menikmati hal dan aktivitas sederhana, tanpa listrik maupun teknologi.  Mereka belajar mengapresiasi hening di tengah malam gelap.

Kami juga dalam beberapa perjalanan tahun ini, lantas trekking serta hiking. Memperkenalkan si anak kecil juga dengan budaya, manusia yang berbeda. Membiasakan dia berkomunikasi dengan orang baru, seperti saat di Bitung, ia dengan mudah berinteraksi bahkan dengan penari Kabasaran yang secara tampilan fisik, berhubung itu adalah tarian perang, membawa pedang lengkap dengan aksesoris tengkorak Yaki. Menyeramkan? Tergantung cara pandang bukan? Disitulah kami sebagai orangtua mengambil kesempatan untuk menceritakan sedikit soal budaya etnis MInahasa, dan kenapa ada tari perang. Juga menjelaskan soal Kolintang, yang membuat dia terpaku di tempat duduknya.

img_8765

Di Baduy dan Bitung pula, kami biarkan ia bermain dan bersenda gurau dengan anak-anak lokal. Bahkan ada satu masa, dimana ia asik berkejaran dengan seorang anak lokal, menjelang matahari terbenam di pantai. Lalu mereka terlibat perbincangan khas anak-anak. Lucu, menghangatkan hati.

Kami ingin dia juga menyadari, bahwa Indonesia tempat ia lahir dan hidup, bukanlah milik segelintir manusia. Tapi ia adalah rumah bagi beragam rupa, tanpa memperdulikan suku, ras, agama, orientasi seksual, pilihan politik dan sejuta kotak yang dibuat manusia. Agar ia melebarkan cakrawala pikiran seluasnya, merengkuh perbedaan sebagai bagian dari kehidupan.

DCIM100MEDIADJI_0037.JPG

So, I want her to embrace life wholeheartedly. Let her climb the mountain. Paddle the river. Sail the sea. Crawl the cave. Go out and look up the night sky. Go chase the sunset. Appreciate silence and modesty. Knows value, not price. Knows the real meaning of life and be alive. Appreciate differences. Be human.

img_1681

Karena hidup adalah bagaimana kita memaknai dan mewarnainya. Mari kita bersenang-senang lagi, untuk perjalanan dan petualangan berikutnya!

dsc_2317-2

Jujur

Ibu dan Bapak selalu mengajarkan tentang kejujuran. Dan itu buat aku dan adikku, artinya luas. Jujur pada perasaan. Jujur pada keinginan. Jujur pada diri sendiri. Jujur pada hati nurani . Jujur gak mengambil yang bukan hak.

Doa mereka juga yang senantiasa dihembuskan, yang menjaga aku sampai detik ini, untuk gak pernah mengambil yang bukan hak. Bahkan berhutang sama orang juga, alhamdulilah gak pernah dilakukan hingga detik ini. Se-kantong kempes apapun, rejeki romantis itu Alhamdulilah selalu ada, tanpa berhutang. Dan itu semua, yang membuat aku tidur nyenyak, menjalani hidup tanpa beban karena takut ketahuan dan terbongkar belangnya. Tidur nyenyak, karena gak berkonspirasi sama siapapun untuk mengutip yang bukan hak. Tidur nyenyak karena gak dikejar penagih hutang. Tidur nyenyak tanpa khawatir ada yang ‘bernyanyi’.  Tidur nyenyak karena rejeki romantis yang menenangkan dan membahagiakan. Tidur nyenyak karena gak harus menutupi banyak rahasia.

Ibu dan Bapak  juga selalu bilang, jangan pernah berhutang budi sama orang. Jangan meminta-minta. Biarkan Tuhan yang membolak-balik keadaan.  Kehidupan kamu adalah tanggung jawabmu, jangan bergantung belas kasihan pada orang untuk menjalani kehidupanmu. Itu yang selalu mereka bilang.

Itu juga yang membuat hidup aku tanpa beban pada orang lain. Tanpa rasa takut jika rahasia ketahuan. Karena semua adalah hasil keringat sendiri. Bukan pemberian, bukan belas kasihan, bukan hasil merengek dan meminta. Termasuk dari orangtua.

Sekeras itu aku pada diriku sendiri. Karena aku percaya, honesty is the first chapter in the book of wisdom. Begitu kata si Thomas Jefferson.  Dan sesulit apapun tantangannya,  ada doa orangtua yang menjadi peneguh dan penerang jalanku. Dan itulah, sumber kekuatanku.

Anakku, Si Tomboy-Romantis

14947482_10154745030148658_7026689316100608704_n

Pagi-pagi menemukan amplop tergeletak di meja rias. Rupanya dari si anak kecil. Si tomboy romantis yang sudah bisa mengungkap rasa pada ibunya, yang kerap dia bilang garang.😀

Ini bukan kali pertama menerima hal serupa, tapi tetap saja bahagia pagi ini sederhana.

Nininya bercerita, si anak kecil menyiapkan ini sore kemarin. Satu amplop untuk Ibu, satu lainnya untuk Bapak. Entah bagaimana isi surat untuk si Bapak.

Seperti Itu Aku Merindukanmu

*Taken from my FB Notes. It’s fiction. Nothing real. It’s because I miss Reading Lights so much, the sanctuary that I love. But sadly, now it’s closed*

Kamu tahu seperti apa aku merindukanmu?
Seperti saat kita menyusuri labirin di balik judul buku bekas di Reading Lights. Memiringkan kepala, berupaya mencerna judul buku yang tegak berdiri di rak kayu usang namun mengeluarkan aroma hangat. Mencium aroma lembaran buku, yang entah sudah dibaca berapa mata. Bau, kamu bilang. Wangi, itu kataku. Khas. Seperti wangi tubuhmu sehabis bertemu air kala mandi sore, tanpa aroma buatan. Membuat aku tak bosan menghirup wangi tubuhmu, lagi dan lagi. Tempat itu kerap kita datangi di sore hari. Saat lalu lintas tak sesibuk pagi. Ketika orang bergegas kembali ke rumah, mencari kehangatan mereka yang tertinggal sejak pagi.

Seperti apa rasa rinduku untukmu?
Seperti saat kita terdampar di Kedai Teko, usai kuliah sore. Lalu kamu pesan teh masala. Satu porsi saja. Namun toh cukup untuk kita berdua. Kau tuangkan teh hangat beraroma menggoda itu, ke dalam cangkir kecil, Kau biarkan aku menyesap perlahan, sambil membiarkan aku bercerita apa saja. Kau hanya diam, sambil sesekali mengembalikan letak si poni yang terjurai menutupi mata indahku. Ya, kau yang bilang mataku indah. Katamu mataku hidup, semua semburat rasa terpancar disana. Lalu kita pesan kue wortel dengan lapisan keju diatasnya. Kita nikmati, lagi-lagi berdua.

Mau tahu seperti apa aku merindumu?
Kala sore hari kita melangkahkan kaki. Menuju Potluck Coffee Bar and Library. Kali ini aku pesan Apple Pie. Kau tak lupa mengambilkan buku yang ada di rak pojok ruangan sana. Kau ingat kan, bisa berjam lamanya kita disana. Paduan tawa, kopi hangat, kue yang enak,buku bagus serta pembicaraan tentang apa saja, menjadi ramuan pas yang membuat kita betah disana. Kita duduk di sofa, berdekatan sambil membaca buku hingga aku bisa mencium aroma tubuhmu, yang baru saja bertemu air di sore hari.

Kamu tahu kan aku merindumu?
Ya, aku si perempuan sore yang jatuh hati padamu. Yang jatuh hati pada semburat lembayung di ufuk langit sana. Kala panas perlahan menguap, bercampur udara dingin yang datang saat menjelang gelap. Tapi kau tak bisa lagi temani aku menunggu sore dan menyapa kedatangan gelap, karena sore kemarin kau sudah ucapkan janji sehidup semati, dengan cincin tersemat di jari kau dan dia. Wanita yang kini akan menghabiskan sore setiap hari bersamamu, hingga ajal memisahkan kau dan dia.

Jadi, sini, duduk temani aku habiskan sore. Satu kali ini saja.

Hidup Yang Berwarna

13178663_10154172591968658_7775675558277575580_n.jpg

Saya gak mau dan gak akan bisa menjalani hidup yang flat. Biasa-biasa saja. Semacam datang kantor, pulang, ketik-ketik, makan siang, ketik-ketik lagi. Pulang. Sudah begitu saja. Biasa-biasa disini bukan berarti hidup mewah. Toh saya juga bukan orang kaya. Kelas menengah biasa yang harus menabung sekian lama untuk bisa jalan-jalan dan liburan, misalnya.

I’m hunger for problems and obstacles. Karena hal itu membuat hidup lebih hidup. Learning curve.  I heart dynamic-colorful life.

Satu yang saya bersyukur, diberikan pekerjaan yang menantang, memungkinkan bertemu banyak kalangan, belajar dari senior-senior dunia televisi yang memberikan kesempatan luas bagi saya menyerap ilmu, membantuk jaringan. Masalah sih selalu ada. Tapi gak penting juga. Toh gak mengurangi kadar cinta saya pada pekerjaan saya sama sekali, memberikan suntikan energi luar biasa untuk menjalani hari tanpa menjadi robot tanpa jiwa.

Makanya dulu juga sempat menjalani usaha kecil-kecilan dengan brand NYai, yang bahkan tahun lalu masuk daftar semifinalis Wanita Wirausaha Femina, yang sayangnya karena kesibukan yang kian kerap (dimana sebagai autoimmune survivor saya juga harus pintar-pintar mengatur energi), akhirnya sementara Nyai hibernasi . (moga-moga diberi keluangan waktu tanpa harus sering-sering keluar kota lagi sehingga Nyai bisa jalan lagi). Tapi sungguh, menjalani Nyai itu sungguh menyenangkan. Bukan tentang uang. Tapi berkarya, bisa ikut pameran sekelas Indonesia Fashion Week hingga Inacraft, juga mendapat teman banyak sesama pelaku usaha kecil dan menengah.

13907132_10154442116048658_4008648590823492266_n.jpg

Itu juga kenapa saya selalu sebisa mungkin menyempatkan bertemu teman-teman sepulang kantor. Sebisa mungkin. Ditengah jadwal luar kota yang frekuensinya kian kerap beberapa bulan terakhir (eh mungkin setahun terakhir ya :D).  Teman, yang membuat hidup semakin berwarna. Bukan hanya teman sekolah dan kuliah, tapi juga teman-teman seru yang membuat saya merasa punya learning curve ilmu , dari beragam tempat kerja saya dulu, hingga teman playdate.

Keluarga, tempat untuk ‘pulang’ dan menemukan ‘rumah’, sehingga menjadi bagian amat penting dalam hidup. Menghabiskan waktu bersama mereka, meski melakukan kegiatan sederhana. Tak perlu luar biasa, itu saja membuat bahagia. Keluarga, meski tidak sempurna, tapi selalu menghangatkan hati ketika pulang. Banyak rencana seru kami untuk berpetualang menjelajahi negeri ini nantinya, yang satu-satu sudah masuk daftar checklist. 

Melakukan perjalanan. Tahun ini mulai memberanikan diri melangkahkan kaki ke tempat yang ‘gak biasa’. Bersama mantan pacar dan si gadis cilik. Jailolo di Halmahera Barat, menginap di suku Baduy, hingga pekan lalu ke BItung di Sulawesi Utara yang sohor berkat Selat Lembehnya. Semoga tahun-tahun berikutnya kami bisa melakukan perjalanan dan petualangan lain bersama, ke tempat yang juga eksotis, kaya budaya, dengan alam yang juga indah, tentu. Mendapat banyak teman baru yang knows how to live life wholeheartedly. Mereka yang memberi energi positif, karena menjalani kehidupan dengan energi dan rasa cinta. Saya bersyukur mengenal mereka.

Saat melakukan perjalanan, sejak dulu kami gak pernah tertarik ikut tur. Kami merasa suatu perjalanan akan menjadi memori dan tantangan mengasyikkan, jika kami berjalan kemana pada hari itu, sesuai dengan hati mengatakan ingin melangkah kemana. Tersesat, bingung, tanya sana-sini pada orang lokal, persinggungan dengan banyak individu, rasanya menjadi hal seru yang memberikan memori tersendiri. Tentunya juga, menyumbang keragaman warna hidup dalam perjalanan singkat itu. It’s the journey and experience, not the destination.

Lalu, project pribadi #weekendtanpamall juga ikut menyumbang keseruan hidup ini. Hal-hal sederhana, eksplorasi hal sekeliling, membuat akhir pekan juga menjadi ditunggu untuk mencoba hal-hal baru. Bahkan perlahan saya dan 2 teman lain, membuat page  Weekend Tanpa Mall, untuk sarana berbagi kegiatan seru diluar mall. Hal sederhana, yang memberi keasyikan tersendiri.

13876414_10154442119863658_2579603083273966759_n.

Saya selalu percaya, bagaimana kita mewarnai hidup, ragam warna apa yang akan ada dalam kehidupan kita, akan bergantung bagaimana saya merengkuh kehidupan sebagaimana adanya. Tidak sempurna, tapi saya memang kerap memiliki memori selektif yang akan mengisi benak dan jiwa. Tak mau mengingat hal sulit. Karena bagaimanapun segala masalah itu adalah satu paket yang harus kita terima sebagaimana berkat. Itu saja. Akan selalu ada orang sulit mampir ke kehidupan kita. Akan selalu ada teman yang mengkhianati kepercayaan dan ketulusan kita. Akan selalu ada masalah yang menghampiri , hingga bahkan membuat saya meneteskan air mata. Ada masa dimana saya merasa tak kuasa. Tapi esok, bangkit lagi dan menyongsong lagi hari untuk mewarnai lagi hari ke hari.

Ya sudah. Itu hidup. Toh masih ada berjuta berkat yang diberikan kepada saya dan keluarga kecil saya. Itu saja. Untuk segalanya, hanya Alhamdulilah. 

Lalu nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

Jadi, bagaimana kamu mewarnai hidupmu?

13151687_10154167454733658_3406389780890683791_n.jpg