Jalan ber (yin) yoga

FullSizeRender

Jadi sejak nyaris 2 tahun terakhir ini, perjalanan hidup membawa saya dalam banyak kejutan-kejutan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Dari kesadaran sebagai ’empath’ yang mau tak mau harus dijalani dan diterima. Dari kesadaran itu pula, memunculkan dorongan untuk ‘channeling’ the strength to help others. Itu terjadi begitu saja, seperti air yang bergerak menemukan jalannya. Juga berbagai konsekuensi terhadap diri, yang menjadi sarana juga untuk belajar mengenal kekuatan diri sekaligus memproteksi energi (Sebagai empath, kita kan kaya spons. Kapan-kapan saya akan posting lebih jauh soal empath ini).

Kesadaran dan penerimaan ini lantas seperti magnet yang menarik banyak hal. Dari mulai menjadikan tarot sebagai tools, mempertemukan dengan mereka yang senasib sebagai empath, berujung pada diskusi berbagi pengalaman dan membuka wawasan.

Salah satunya, dorongan untuk lantas begitu saja mendaftarkan diri pada Yin Yoga teacher training bulan April nanti. Sebetulnya keinginan mengikuti training sudah lama, tapi rasanya masih gamang mencari bentuk outputnya. Apa yang cocok sesuai kebutuhan dan objective-nya nanti. Karena selama saya mengenal yoga selama 6 tahun, jika awalnya adalah untuk semata alasan fisik (sehat dan tetap langsing, bahahahah), lantas tanpa disadari beralih mempelajari lebih dalam soal filosofi, chakra, energi, mind over body, hakikat dan lainnya. Lantas perbincangan intens dengan seorang kawan, seperti merangkai potongan puzzle itu.

Toh semesta sudah membuka ‘jalannya’, saya hanya perlu meneruskan dan merangkai kepingan puzzle agar sampai di tujuan (yang sungguh pun saya tak paham wujud nyata-nya, tapi hati selalu memandu tanpa lelah). Sebelumnya ada begitu banyak pertanda yang menuntun, dan saat ini sudah terangkai, saya hanya perlu memulainya. Lalu menjalaninya, untuk menemukan perjalanan baru yang mengasyikkan.

Sampailah pada satu kesimpulan: Yin Yoga adalah jawabannya. We all need yin to swap the yang life. To slowing things down in this fast-pace life. To give ourself a pause, and look deeper within our self. As yin has a very different attitude and approach to a Yang practice (vinyasa, ashtanga, bikram and all that),  giving us opportunity to experience ourselves in a slower, gentler, more mindful, meditative, introspective and patient mode.

Saya belum berniat menjelaskan apa itu yin yoga. Tapi rasanya, ini adalah komplementer sebagai empath. Tak hanya untuk balancing energi diri sendiri saja, tapi juga membantu orang lain mengenal energi dan proteksi energi diri mereka. Jika membaca tarot yang sesekali dilakukan, adalah dengan niat membantu orang lain menemukan jati diri (ya, tarot kan bukan meramal), rasanya yin yoga akan menjadi tools lain untuk mengasah bagaimana mendampingi orang lain menemukan jati diri dan kekuatan mereka. Bagaimana nantinya ini bisa membantu orang lain mengenal tubuh, jiwa dan pikiran mereka untuk lantas mengendalikan diri mereka, bukan hanya untuk semata sehat secara fisik saja.

Itu saja. Sankalpa.

 

 

 

 

 

Advertisements

Jangan Lekas-lekas

DSC_0347

Bebaskan saja semua takut itu

Taruh ia ke dalam botol, lemparkan

Tapi ingat baik-baik setiap sel dan incinya, biar luruh ditelan gelombang

Karena senja selalu akan datang, berganti malam

Lalu esok, matahari akan kau rengkuh. Bukan begitu, sayang?

 

Jangan biarkan jiwa itu terlunta

Karena kita hanya cukup punya satu titik keberanian

Meski mungkin kadang ia tersembunyi

Meski ia kadang menggodamu, bermain-main

Menggelitik memunculkan lara

Sapa saja, di relung pikiranmu. Atau di sudut tergelap hatimu

Bahkan kadang di satu langkah kaki kecilmu.

 

Gusar gemetar, jangan biarkan menggeliat. Menyelinap

Sudahi saja itu. Karena besök, surya akan kembali

Membelai-belai pipimu. Menderas hangat. Menyentuh-nyentuh jemarimu.

Sungguh. Matahari itu akan selalu datang

Menggantikan gelap. Bahkan setelah hujan

Jangan lekas-lekas. Biar saja semesta yang menggenapi

Membalas tuntas kesumat, meski ia sudah kau lepas

 

Life Is Too Beautiful To Stop Learning

46463219_10156910013568658_3724006584326553600_n

Sebetulnya sudah sekitar 6 tahun lalu mulai coba-coba baking. Diselingi banyak kisah. Ya gosong, ya bantet, ya keras sehingga bisa untuk nimpuk maling, ini itu, itu ini. Walhasil karena baking-nya juga hanya bisa dilakukan di akhir pekan, kemajuan ya disitu-situ aja. Paling banter bisa bikin cake standar aja, yang mudah-mudah. Bikin roti, kok ya masih kurang empuk. Belum lagi istilah-istilah semacam soft peak, window pane test,  aduk balik, itu makhluk macam apa pulak. Mixer yang dipunya juga hand mixer murah meriah, plus stand mixer Phillips lungsuran ibu yang umurnya nyaris 20 tahun.

Padahal sumpah, aku tuh tertarik banget dengan dunia baking. Ingin bisa bikin itu ini. Maka tercetuslah ikut kursus. Kursus pertama, sekitar Agustus akhir lalu. Diajari membuat aneka pie dengan aneka filling. Akhirnya, paham juga teknik yang benar beserta trik, yang gak diajarkan di buku-buku resep. Walhasil, sekarang bikin Hokkaido Cheese Tart aja sudah bisa karena sudah paham juga teknik membuat custard yang benar dan gak menggumpal. Yay!

46312614_10156904631373658_6409293538776842240_n

Lalu makin keranjingan deh. Ikut lagi kursus untuk 3 pertemuan di Bogasari Baking Center. Kali ini paket kursus membuat aneka roti dengan sertifikat. Dari sini jadi paham, yang dimaksud kalis itu tekstur adonan seperti apa. Window pane test itu macam mana. Diajari juga teori yang berhubungan dengan pembuatan roti, bagaimana menghitung takaran bahan, hingga perhitungan harga dasar kalau mau bisnis roti.

Ketika menambah ilmu baru, rasanya semakin senang. Walhasil eksperimen di dapur yang sebelum kursus itu on off, sekarang dipastikan setiap Sabtu sehabis yoga sudah bebikinan. Termasuk hari Minggu. Dari mulai quiche loraine, fruit pie, donat dengan filling yang ga-nyangka-aku-bisa (salted caramel dengan kacang, mocca buttercream dengan nogat, icing glaze denganselai, buttercream dengan keju edam dan cheddar, Boston cream , serta ganache coklat), roti susis dengan keju parmesan, cinnamon roll super empuk (akhirnyaaa….), pizza dengan dough buatan sendiri (yay!). Dan ini itu. Sudah bisa juga membuat cake dengan layer. Senangggnyaaa.

48269023_10156963767608658_4499367873403158528_n

Lalu ikut lagi deh kursus Gluten Free Cake. Sengaja ikut kelas ini, karena diajari teknik frosting dan crumble coating untuk kue berlayer. Juga cara membuat aneka buttercream (yang ternyata ada macam jenis, dari mulai Italian buttercream, Swiss Meringue, American buttercream dan lainnya), saus caramel, saus coklat enak, cream cheese frosting yang enak.

Makin menggila-lah itu setiap weekend kalau kebetulan sedang gak kemana-mana, sudah dipastikan bebikinan. Mulai berani juga bikin Mocca Nogat Cake dengan nogat bikinan sendiri. Alhamdulilah hasilnya super empuuuuk. Mocca Nougat Cake ini adalah kue yang gak pernah absen saat Lebaran, buatan sahabat ibuku dan selalu ditunggu-tunggu keluarga besar hingga ke sepupu. Eh…sekarang sudah bisa buat sendiri. Padahal dulu selalu takut, karena base-nya adalah chiffon cake, yang sumpah yaaa…itu kue manja. Baik saat dibuat adonannya, hingga selesai dipanggang. Ini melewati proses trial 4 kali, hingga si chiffon mengembang-merekah sempurna.

46160577_10156901200798658_488144361997991936_n

Lalu, mulai lah kerap berburu peralatan baking. Sekarang sudah punya juga standing mixer baru (gak usah lah sebut merek karena entar dikira pamer #ngikik) yang dipake membuat adonan mantap betul. Membuat adonan roti pun gak oglek-oglek itu bowl-nya dan mixernya. Ahahahahha. Sudah mulai punya spuit lengkap, alas putar si lazy susan, scrapper,  aneka pisau palet, itu ini, ini itu.

Yang pasti, masih menargetkan ikut kursus kue kering dan aneka kue hias di 2019. Apalagi, kalau dihitung, sudah ada 5 orang serius mau pesan kue. Tapi saya masih bilang: nanti yaa, sekarang belum pede. Bukan apa-apa, kalau teman saya sudah rela mengeluarkan uang untuk membeli kue buatan saya, artinya saya juga harus bisa memastikan produk yang dihasilkan juga gak mengecewakan. Untuk saat ini, saya masih perlu memberikan waktu pada diri sendiri untuk mengumpulkan kepercayaan diri.

Perkara ‘Menyenangkan” Orang

DSC_3230-1024x681

I was a people pleaser. Terlalu takut jika saya mengatakan A atau berbeda B, orang akan gak suka atau membenci. Menahan, tetapi bukan dengan sabar. Ya, kalau sabar, kita iklas gak menggerundel. Ini tidak. Akibatnya, ketika meledak dan ‘kesabaran’ itu habis, outputnya sungguh gak enak. Apalagi saya ini terhitung emosional.

Seiring berjalannya waktu, saya belajar mengambil pilihan meski itu bisa jadi pilihan atau sikap yang tidak populer. But at least, I’m being honest to my self. Iya, atau enggak. I no longer have patience for certain things because I reached a point in my life where I do not want to waste my time with people or things that displeases or hurts me. Kini saya memilah energi baik-baik untuk tidak dihabiskan bagi orang yang tidak menyukai, membenci dan berpikiran buruk . Menggoreng dan meniriskan waktu tidak bagi mereka yang berbohong, maling, merendahkan, menyimpan senyum palsu, arogan, tidak jujur, opportunis, hipokrit,  memiliki kesombongan intelektual, OKB norak, hingga mereka yang enggan mengakui kelebihan dan pencapaian orang lain, tukang tuduh, nyinyir, seksis, misoginis, pecandu agama dengan ego tinggi dan bermain Tuhan. Mohon maaf, energiku terlalu sayang untuk dilewatkan menoleransi hal semacam itu.

Toh sebaik apa kita berusaha, mereka yang tidak menyukai dan membenci, tak akan beralih menjadi sebaliknya. Jadi untuk apa berusaha mati-matian untuk itu? Untuk apa berusaha mengikuti arus, padahal arus itu bertentangan dengan hati dan nuranimu? Untuk apa berupaya merangkul, jika tujuan kita berbeda. Untuk apa berbaik-baik tersenyum, jika ada orang yang memang enggan tersenyum untuk kita? Untuk apa bersusah payah menunjukkan karya jika mengapresiasi pun enggan? Untuk apa ada dalam satu grup, jika dirimu pun dianggap tidak bisa berkontribusi? Untuk apa meraih sesuatu mati-matian padahal itu bukanlah takdirmu?

Saya gak punya cukup kesabaran untuk orang-orang yang tidak layak mendapatkan kesabaran saya yang juga memang tipis. Dan ketika saya mengambil langkah itu, dunia terasa lebih ringan. I made peace with all the risks. Hati saya tak lagi dipenuhi kesal dan omelan yang tidak dapat terlontarkan. Toh berbuat dan tidak berbuat (dalam mengambil keputusan), tetap memiliki resiko yang setara.

Karena saya yakin, sekeliling saya hanya akan memberi energi dan vibrasi yang baik jika kita memilah dan memilihnya, sehingga saya dan lingkungan pun akan baik-baik saja. I pick my battle and choose it wisely. If we vibe, we vibe.

Bagaimana dengan kamu?

 

 

Jodoh si Arsitek

Jadi sudah 3 tahun belakangan ini, saya dan si mantan pacar mencari arsitek kesana kemari. Tak lain karena kami merasa sudah siap dan sudah waktunya merenovasi rumah yang kami beli tahun 2006.

Namun rupanya, perkara mencari arsitek juga tidaklah mudah. Seperti mencari jodoh saja. Apalagi saya dan si mantan pacar, punya selera yang mungkin sedikit berbeda dengan umumnya. Kami gak mau desain rumah yang seperti ada di kompleks-kompleks perumahan sekitar tempat kami tinggal. Bukan karena jelek, tapi masalah selera saja. We both have bohemian-laid back-eccentric attitude. Kami menyukai sesuatu yang rustic, unik, unfinished vibe , tidak formal, serba terbuka. Gak mau terjebak Scandinavian style juga yang lagi hits, karena rasanya itu tidak mencerminkan kepribadian kita berdua (Terutama shabby chic, bukan kita banget!). Apalagi kita berdua juga penerima lungsuran barang antik, senang berburu barang vintage. Jadi, desain rumah yang pas rasanya juga ya nafasnya harus selaras kan.

Kita gak terlalu suka desain rumah yang kaku, minimalis-modern seperti di cluster-cluster di BSD pada umumnya. Hasil hunting 2 tahun lebih terakhir ini, kok ya rata-rata desainnya bukan seperti yang kita inginkan. Kurang pas’, meski karya mereka itu ya bagus juga kok. Kami bahkan sempat mendatangi beberapa pihak loh yang ada di sekitar BSD untuk konsultasi awal masalah desain dan renovasi rumah. Tapi kok ya rasanya kurang sreg. Desain mereka meski bagus, bukan yang sesuai dengan style kita. Kita juga sempat konsultasi dengan beberapa arsitek hasil dari Sejasa.

Sempat juga sih komunikasi dan isi formulir dengan 1 arsitek yang dikenal berkat style-nya yang ‘kita’ banget. Arsitek asal Bandung yang dikenal dengan desain unik, selaras alam, rumah tropis dan punya idealisme dalam berkarya (berkat itu dia masuk acara Big Bang Show Andy Noya). Sudah dikasih kalkukasi harga juga. Tapi mungkin karena bukan jodoh ya, karena satu dan lain hal, saya dan mantan pacar saat itu memutuskan hold dulu, sambil hunting-hunting arsitek lain. Gak tau kenapa. Saat itu kami gak mau terburu-buru memutuskan. Kalau pun akhirnya gak nemu, ya si arsitek ini yang akan kita gunakan jasanya, begitu pikiran saya dan suami.

Sempat pula ketemu dengan 1 orang, yang akun instagramnya di follow ribuan orang, berkat share tips soal pembangunan rumah ataupun renovasi yang ‘ramah kantong’. Hasil karyanya lumayan ‘kena’ sebenarnya ke hati kami. Dia dan suaminya yang kebetulan arsitek, juga sempat datang ke rumah kami. Meninjau, berdiskusi. Laluuu, menghilanglah dia tak ada kabar.  SAMA SEKALI. Ditanya juga jawabnya lama. Kayak gak niat. Padahal akun Instagram-nya update terus loh. Atau keliatannya tampang kami misqueen sekali yha ketika kami bilang budget kami berapa? Hihihi.

Lalu, tak sengaja FB mempertemukan saya dengan karya-karya Mas Andy Rahman. Browsing sana sini, rasanya ada ‘soul‘ yang terpancar dari karyanya, sesuai kepribadian masing-masing pemilik rumah. Terpincut lah hati ini. Akhirnya, beberapa bulan lalu, saya memberanikan diri mengirim email yang langsung dibalas saat itu juga. Tapi dasar saya si pelupa, diri inihh pun lupa untuk follow up hingga suatu ketika suami menanyakan bagaimana kabar si arsitek ini. Oiyaaa. Faktor U memang #ngikik. Langsung hari itu juga saya WA nomor kontak yang diberikan via email balasan.

Dan yaaa, sungguh beda respon si biro arsitek ini yang karyanya sudah ada dimana-mana berkat keunikan dan ciri khas dia. Beda banget maksudnya dengan si mbak ‘selebgram’ ituuh.  Komunikasi intens pun dilakukan saat konsultasi dengan principal architect. Rasanya setiap telpon dan WA saya yang bertanya ini itu, dilayani dengan sabar dan detil. Termasuk komentar dan pertanyaan retjeh saya yang awam soal desain dan renovasi. Sehingga kami juga memperoleh pemahaman apa yang terpenting dari sebuah desain rumah dan perencanaan renovasi. Budget untuk renovasi juga disesuaikan dengan hasil akhir desain rumah dan pernak-perniknya. Hingga akhirnya singkat cerita, SPK pun dikirimkan kepada kami. Tanpa proses panjang, saya tandatangani keesokan harinya.

Bukan tanpa alasan memang, semesta menggenapi persinggungan dengan biro jasa yang satu ini. Pencarian 3 tahun terakhir, rasanya dimudahkan begitu saja dalam banyak hal. Mungkin karena sudah jodohnya sehingga semesta memberikan banyak pertanda dan kemudahan. Tanpa ada ragu, tanpa banyak berdebat sama suami, tanpa banyak berpikir soal kenapa kita gak sreg, semua klop rasanya. Apalagi ternyata harga desainnya pun lebih murah dari arsitek asal Bandung itu (yang kami juga sebetulnya jatuh cinta dengan karyanya. Si arsitek Bandung dan Andy Rahman, keduanya punya benang merah, hanya ada perberbeda dari segi ‘rasa’ yang berujung desain akhir). Yah, namanya mamak-mamak, lebih murah itu penting, yekaaan.

Daaaan…hari ini resmi saya membayar DP untuk proses desain dan jasa arsitek Andy Rahman. Proses desain hingga  hingga final detil bestek, mencapai waktu 10-12 minggu. Bismillah, semoga semua lancar hingga nanti apa yang kami cita-citakan terwujud perlahan.

Ini dia karya-karya mas Andy Rahman yang bikin kami jatuh cinta. Rasanya pencarian (yang gak ngoyo) selama 3 taun terakhir ini, gak sia-sia. Gak sia-sia membuat semuanya mengalir bagai air tanpa terburu-buru. Saya selalu percaya ‘if we vibe, we vibe’. Karena karya Andy Rahman serta filosofi yang ia tiupkan pada desain bangunannya, selaras dengan jiwa saya dan mantan pacar. Rasanya memang ini jodoh kami.

1. Detail Fasade

4f3bed06ddfe33a6d237de826e565c95

 

18163539_co-sharing-office-by-andyrahman_tea10eb57

Unik. Mungkin itu tepatnya menggambarkan karya biro arsitek Andy Rahman. Salah satu desainnya, Windcatcher House bahkan terrpilih sebagai nominasi Building Of The Year 2010 Archdaily untuk skala Internasional. Lalu karya Ambiguity House, juga masuk nominasi untuk penghargaan Architizer A+ Awards di 2012.  Dia banyak menggunakan material lokal, material murah, namun jadinya tidak terlihat ‘murahan’.  Semisal batu bata, batu kali, bambu dan lainnya. Itu yang membuat saya dan suami jatuh cinta. Dan kebetulan, selera kami pas dengan karya-karyanya.  Jadi begitulah kisah pencarian ini pada akhirnya. Jodoh kami dengan si arsitek. Dia juga disebut-sebut sebagai 1 dari 10 arsitek muda terbaik Indonesia.

(Sekarang peernya, mencari rejeki harus makin kencang, meski juga tanpa ngoyo. Semoga juga bayi si suami, Saka Nusantara yang didirikan tahun lalu dengan modal dengkul itu, bisa senantiasa memberikan rejeki romantis bagi keluarga kami. Sehingga rejeki untuk renovasi rumah juga bisa berjalan lancar)

photo-exterior-night-view-rumah-miring-desain-arsitek-oleh-andyrahman-architect

1492417912

vc3nyrp5t5

18._Kitchen_-_View_1

1492414895

Jika Itu Kau Tuding Adalah Neraka-ku, Maka Belum Tentu Itu Adalah Surgamu

30727038_10156381441723658_4688797320093892608_n

Lelah membaca timeline beberapa hari terakhir ini. Membuat saya mempertanyakan makna ketauhidan bagi diri saya sendiri.

Saya muslim. Jelas. Meski menyekolahkan anak di Santa Ursula, meski saya tidak berjilbab, pun shalat masih bolong-bolong tak melulu menggenapi perkara 5 waktu. Dan masih panjang daftar lain yang mungkin tidak masuk daftar kesalehan, jika  bentuk kesalehan dimaknai dan dibatasi hal demikian semata.

Pun saya bukan pula ahli agama. Tapi dalam pikiran terbodoh saya, semakin kuat ketauhidan seseorang kepada Tuhan-nya, akan sejalan lurus dengan penghargaan pada sesama, pemuliaan dan pelayanan kemanusiaan.

Ada satu tulisan Kyai Enha yang melekat, bahwa  “Dunia itu sarat kemelekatan, lalu ajaran tauhid mengajarkan pelepasan”. Bahwa ketauhidan itu sejatinya memperluas hati. Jika agama itu ada untuk mencerahkan, mengapa tindak kekerasan dan caci maki lisan menjadi dibenarkan dengan dalih “membela agamaku?”.

Bukankah semua agama adalah cara kita masing-masing umat di dunia untuk menemukan-Nya, meski jalan yang ditempuh tak selalu sama. Semua menawarkan kasih sayang dan kedamaian, cinta kasih. Lalu dari mana kebiasaan para pencaci maki terhadap mereka yang berbeda itu berasal? Agama adalah media menuju Tuhan masing-masing, dalam manifestasi nilai-nilai universal, lalu kenapa sebagian dari kita cenderung menyempitkan, mengkotak-kotakkan, dan menuding yang berbeda adalah salah.

Jika Tuhan saja menciptakan perbedaan itu, kenapa kita mengambil alih peran itu untuk menuding siapa yang kafir siapa yang tidak.

Rasanya kesalehan mengalami degradasi yang menyentuh titik nadir akhir-akhir ini. Ketauhidan itu adalah tentang melepaskan kemelekatan. Jika kita masih menuding dan bermain “Tuhan”, bukankah kemelekatan pada egomu masih tak kunjung sanggup kau lepaskan? Pelepasan membawamu pada keikhlasan, zona nyaman di pikiran dan hati, sehingga tak ada ruang untuk kebencian pada mereka yang mungkin, mengambil jalan berbeda di persepsi dan benak.

Tauhidku ada di hatiku. Tak perlu kuparadekan, atau diletakkan dalam simbol. Karena sepanjang tarikan nafasku, aku percaya bahwa Tuhan itu Maha Esa. Maha Agung. Maha Pemaaf. Maha Mengasihi. Tidak mengerdilkan kemanusiaan, atau mengganti peran Tuhan.

 

 

Body Shaming is Bullying, So Stop It.

(As published here )

Have you ever been trapped in an awkward situation of body shaming? And the ones doing the body shaming are those you considered your girlfriends?

Some women I know like to joke about my physical appearances. My breasts are too small and so are my eyes. To them my small eyes and fair skin exemplify a particular race. They tease me for lacking the so-called womanly curves or criticize my choice of make-up and dress. I thought bullying was a thing that I had left in high school, but I was wrong.

Sure I can easily shrug it off and not take it personally. But the more stories of body shaming I hear from my girlfriends and how it affects them, the more it bothers me. Body shaming manifests in many ways, but, essentially, it is a form of bullying. It leads to comparison and shame. It’s rude and it’s not funny.

I know I’m not the only person experiencing these uncomfortable situations. I was a victim of verbal bullying in school decades ago. Some seniors, all girls, often shouted at me for my choice of sweater (they said it was too bright and provocative for a junior) or for being bubbly. They ambushed me after school, shouting nasty words. I remember how words hurt, causing me deep shame and pain. But I’ve learned the hard way to never let bullying put me down again, but it took me some time to get there.

We were not born hating our own body or how we look until society teaches us to, one of which is through the media’s reinforcement of the patriarchal view on body image. So why is body shaming so common among women? Don’t all of us want to be appreciated and not torn apart?

Here’s what I’ve learned about body shaming and those who do that:

1.     It’s never about you. The mean things other women say reflect their own judgment and misconception about their own body image. Perhaps putting down other women is the easiest for them to feel better and to compensate their own insecurities. At least now you know which are your real friends and which are not.

2.     If you want to confront them directly, go ahead and speak kindly. But if you don’t, that’s okay. Let it go. Some people don’t deserve your energy and your sanity.

3.     Anger is okay. Feeling humiliated is human. But turn the negative feeling into real action. Buy yourself a nice dress, book a manicure-pedicure session, do yoga or go to the gym, watch a movie, feast at a nice restaurant – anything that makes you feel better. Take a break from the nasty groups, or leave them for life if necessary.

Some may say: “Oh, relax! I’m only joking, don’t take it personally.” Still, you don’t have to listen to their explanation. Body shaming does not merely reflect female misogyny, it’s also about compassion, the lack of  empathy. It is neither tough love nor funny jokes. As body shaming is bullying, it is never okay. It’s not okay to bully fat or skinny people. It’s not okay to bully people with fair skin or those with dark skin. It’s not okay to joke about certain race. Whatever makeup or wardrobe we choose, we don’t deserve to be shamed. We must not tolerate it.

We have an obligation to kindle compassion and kindness in the next generation. We also need to teach them manners, and that freedom of speech does not equal commenting freely about other’s physical appearance. Instead of body shaming others, our daughters and sons must learn to empower each other.

Inka Prawirasasra is a specialist on building TV stations from scratch. She is an ambivert who doesn’t tolerate banality, nonsense and small talk and a selectively social creature, who prefers being alone and read book, than being a sheep that goes with loud herd.