Perkara ‘Menyenangkan” Orang

DSC_3230-1024x681

I was a people pleaser. Terlalu takut jika saya mengatakan A atau berbeda B, orang akan gak suka atau membenci. Menahan, tetapi bukan dengan sabar. Ya, kalau sabar, kita iklas gak menggerundel. Ini tidak. Akibatnya, ketika meledak dan ‘kesabaran’ itu habis, outputnya sungguh gak enak. Apalagi saya ini terhitung emosional.

Seiring berjalannya waktu, saya belajar mengambil pilihan meski itu bisa jadi pilihan atau sikap yang tidak populer. But at least, I’m being honest to my self. Iya, atau enggak. I no longer have patience for certain things because I reached a point in my life where I do not want to waste my time with people or things that displeases or hurts me. Kini saya memilah energi baik-baik untuk tidak dihabiskan bagi orang yang tidak menyukai, membenci dan berpikiran buruk . Menggoreng dan meniriskan waktu tidak bagi mereka yang berbohong, maling, merendahkan, menyimpan senyum palsu, arogan, tidak jujur, opportunis, hipokrit,  memiliki kesombongan intelektual, OKB norak, hingga mereka yang enggan mengakui kelebihan dan pencapaian orang lain, tukang tuduh, nyinyir, seksis, misoginis, pecandu agama dengan ego tinggi dan bermain Tuhan. Mohon maaf, energiku terlalu sayang untuk dilewatkan menoleransi hal semacam itu.

Toh sebaik apa kita berusaha, mereka yang tidak menyukai dan membenci, tak akan beralih menjadi sebaliknya. Jadi untuk apa berusaha mati-matian untuk itu? Untuk apa berusaha mengikuti arus, padahal arus itu bertentangan dengan hati dan nuranimu? Untuk apa berupaya merangkul, jika tujuan kita berbeda. Untuk apa berbaik-baik tersenyum, jika ada orang yang memang enggan tersenyum untuk kita? Untuk apa bersusah payah menunjukkan karya jika mengapresiasi pun enggan? Untuk apa ada dalam satu grup, jika dirimu pun dianggap tidak bisa berkontribusi? Untuk apa meraih sesuatu mati-matian padahal itu bukanlah takdirmu?

Saya gak punya cukup kesabaran untuk orang-orang yang tidak layak mendapatkan kesabaran saya yang juga memang tipis. Dan ketika saya mengambil langkah itu, dunia terasa lebih ringan. I made peace with all the risks. Hati saya tak lagi dipenuhi kesal dan omelan yang tidak dapat terlontarkan. Toh berbuat dan tidak berbuat (dalam mengambil keputusan), tetap memiliki resiko yang setara.

Karena saya yakin, sekeliling saya hanya akan memberi energi dan vibrasi yang baik jika kita memilah dan memilihnya, sehingga saya dan lingkungan pun akan baik-baik saja. I pick my battle and choose it wisely. If we vibe, we vibe.

Bagaimana dengan kamu?

 

 

Advertisements

Jodoh si Arsitek

Jadi sudah 3 tahun belakangan ini, saya dan si mantan pacar mencari arsitek kesana kemari. Tak lain karena kami merasa sudah siap dan sudah waktunya merenovasi rumah yang kami beli tahun 2006.

Namun rupanya, perkara mencari arsitek juga tidaklah mudah. Seperti mencari jodoh saja. Apalagi saya dan si mantan pacar, punya selera yang mungkin sedikit berbeda dengan umumnya. Kami gak mau desain rumah yang seperti ada di kompleks-kompleks perumahan sekitar tempat kami tinggal. Bukan karena jelek, tapi masalah selera saja. We both have bohemian-laid back-eccentric attitude. Kami menyukai sesuatu yang rustic, unik, unfinished vibe , tidak formal, serba terbuka. Gak mau terjebak Scandinavian style juga yang lagi hits, karena rasanya itu tidak mencerminkan kepribadian kita berdua. Kita gak terlalu suka desain rumah yang kaku, minimalis-modern seperti di cluster-cluster di BSD pada umumnya. Hasil hunting 2 tahun lebih terakhir ini, kok ya rata-rata desainnya bukan seperti yang kita inginkan. Kurang pas’, meski karya mereka itu ya bagus juga. Kami sempat mendatangi beberapa pihak loh yang ada di sekitar BSD.

Sempat sih komunikasi dan isi formulir dengan 1 arsitek yang dikenal berkat style-nya yang ‘kita’ banget. Arsitek asal Bandung yang dikenal dengan desain unik, selaras alam, rumah tropis dan punya idealisme dalam berkarya (berkat itu dia masuk acara Big Bang Show Andy Noya). Sudah dikasih kalkukasi harga juga. Tapi mungkin karena bukan jodoh ya, karena satu dan lain hal, saya dan mantan pacar saat itu memutuskan hold dulu, sambil hunting-hunting arsitek lain. Gak mau terburu-buru memutuskan. Kalau pun akhirnya gak nemu, ya si arsitek ini yang akan kita gunakan jasanya.

Sempat pula ketemu dengan 1 orang, yang akun instagramnya di follow ribuan orang, berkat share tips soal pembangunan rumah ataupun renovasi yang ‘ramah kantong’. Hasil karyanya lumayan kena’ sebenarnya ke hati kami. Dia dan suaminya yang kebetulan arsitek, juga sempat datang ke rumah kami. Meninjau, berdiskusi. Laluuu, menghilanglah dia tak ada kabar.  SAMA SEKALI. Ditanya juga jawabnya lama. Kayak gak niat. Padahal akun Instagram-nya update terus loh. Atau keliatannya tampang kami misqueen sekali yha ketika kami bilang budget kami berapa? Hihihi.

Lalu, tak sengaja FB mempertemukan saya dengan karya-karya Mas Andy Rahman. Browsing sana sini, rasanya ada ‘soul‘ yang terpancar dari karyanya, sesuai kepribadian masing-masing pemilik rumah. Terpincut lah hati ini. Akhirnya, beberapa bulan lalu, saya memberanikan diri mengirim email yang langsung dibalas saat itu juga. Tapi dasar saya si pelupa, diri inihh pun lupa untuk follow up hingga suatu ketika suami menanyakan bagaimana kabar si arsitek ini. Oiyaaa. Faktor U memang. Langsung hari itu juga saya WA nomor kontak yang diberikan via email balasan.

Dan yaaa, sungguh beda respon si biro arsitek ini yang karyanya sudah ada dimana-mana berkat keunikan dan ciri khas dia. Beda banget maksudnya dengan si mbak ‘selebgram’ ituuh.  Komunikasi intens pun dilakukan saat konsultasi. Rasanya setiap telpon dan WA saya yang bertanya ini itu, dilayani dengan sabar dan detil. Sehingga kami juga memperoleh pemahaman apa yang terpenting dari sebuah desain rumah. Budget untuk renovasi juga disesuaikan pada hasil akhir desain rumah. Hingga akhirnya singkat cerita, SPK pun dikirimkan kepada kami. Tanpa proses panjang, saya tandatangani.

Bukan tanpa alasan memang, semesta menggenapi persinggungan dengan biro jasa yang satu ini. Pencarian 3 tahun terakhir, dimudahkan begitu saja dalam banyak hal. Mungkin karena sudah jodohnya. Apalagi ternyata harga desainnya pun lebih murah dari arsitek asal Bandung itu (yang kami juga sebetulnya jatuh cinta dengan karyanya, keduanya punya benang merah, hanya ada berbeda dari segi rasa yang berujung desain akhir). Yah, namanya mamak-mamak, lebih murah itu penting, yekaaan.

Daaaan…hari ini resmi saya membayar DP untuk proses desain dan jasa arsitek Andy Rahman. Proses desain hingga  hingga final detil bestek, mencapai waktu 10-12 minggu. Bismillah, semoga semua lancar hingga nanti apa yang kami cita-citakan terwujud perlahan.

Ini dia karya-karya mas Andy Rahman yang bikin kami jatuh cinta. Rasanya pencarian (yang gak ngoyo) selama 3 taun terakhir ini, gak sia-sia. Karena karya dia serta filosofi bangunannya, itu selaras dengan jiwa saya dan mantan pacar. Rasanya memang ini jodoh kami.

1. Detail Fasade

4f3bed06ddfe33a6d237de826e565c95

 

18163539_co-sharing-office-by-andyrahman_tea10eb57

 

photo-exterior-night-view-rumah-miring-desain-arsitek-oleh-andyrahman-architect

 

 

Jika Itu Kau Tuding Adalah Neraka-ku, Maka Belum Tentu Itu Adalah Surgamu

30727038_10156381441723658_4688797320093892608_n

Lelah membaca timeline beberapa hari terakhir ini. Membuat saya mempertanyakan makna ketauhidan bagi diri saya sendiri.

Saya muslim. Jelas. Meski menyekolahkan anak di Santa Ursula, meski saya tidak berjilbab, pun shalat masih bolong-bolong tak melulu menggenapi perkara 5 waktu. Dan masih panjang daftar lain yang mungkin tidak masuk daftar kesalehan, jika  bentuk kesalehan dimaknai dan dibatasi hal demikian semata.

Pun saya bukan pula ahli agama. Tapi dalam pikiran terbodoh saya, semakin kuat ketauhidan seseorang kepada Tuhan-nya, akan sejalan lurus dengan penghargaan pada sesama, pemuliaan dan pelayanan kemanusiaan.

Ada satu tulisan Kyai Enha yang melekat, bahwa  “Dunia itu sarat kemelekatan, lalu ajaran tauhid mengajarkan pelepasan”. Bahwa ketauhidan itu sejatinya memperluas hati. Jika agama itu ada untuk mencerahkan, mengapa tindak kekerasan dan caci maki lisan menjadi dibenarkan dengan dalih “membela agamaku?”.

Bukankah semua agama adalah cara kita masing-masing umat di dunia untuk menemukan-Nya, meski jalan yang ditempuh tak selalu sama. Semua menawarkan kasih sayang dan kedamaian, cinta kasih. Lalu dari mana kebiasaan para pencaci maki terhadap mereka yang berbeda itu berasal? Agama adalah media menuju Tuhan masing-masing, dalam manifestasi nilai-nilai universal, lalu kenapa sebagian dari kita cenderung menyempitkan, mengkotak-kotakkan, dan menuding yang berbeda adalah salah.

Jika Tuhan saja menciptakan perbedaan itu, kenapa kita mengambil alih peran itu untuk menuding siapa yang kafir siapa yang tidak.

Rasanya kesalehan mengalami degradasi yang menyentuh titik nadir akhir-akhir ini. Ketauhidan itu adalah tentang melepaskan kemelekatan. Jika kita masih menuding dan bermain “Tuhan”, bukankah kemelekatan pada egomu masih tak kunjung sanggup kau lepaskan? Pelepasan membawamu pada keikhlasan, zona nyaman di pikiran dan hati, sehingga tak ada ruang untuk kebencian pada mereka yang mungkin, mengambil jalan berbeda di persepsi dan benak.

Tauhidku ada di hatiku. Tak perlu kuparadekan, atau diletakkan dalam simbol. Karena sepanjang tarikan nafasku, aku percaya bahwa Tuhan itu Maha Esa. Maha Agung. Maha Pemaaf. Maha Mengasihi. Tidak mengerdilkan kemanusiaan, atau mengganti peran Tuhan.

 

 

Body Shaming is Bullying, So Stop It.

(As published here )

Have you ever been trapped in an awkward situation of body shaming? And the ones doing the body shaming are those you considered your girlfriends?

Some women I know like to joke about my physical appearances. My breasts are too small and so are my eyes. To them my small eyes and fair skin exemplify a particular race. They tease me for lacking the so-called womanly curves or criticize my choice of make-up and dress. I thought bullying was a thing that I had left in high school, but I was wrong.

Sure I can easily shrug it off and not take it personally. But the more stories of body shaming I hear from my girlfriends and how it affects them, the more it bothers me. Body shaming manifests in many ways, but, essentially, it is a form of bullying. It leads to comparison and shame. It’s rude and it’s not funny.

I know I’m not the only person experiencing these uncomfortable situations. I was a victim of verbal bullying in school decades ago. Some seniors, all girls, often shouted at me for my choice of sweater (they said it was too bright and provocative for a junior) or for being bubbly. They ambushed me after school, shouting nasty words. I remember how words hurt, causing me deep shame and pain. But I’ve learned the hard way to never let bullying put me down again, but it took me some time to get there.

We were not born hating our own body or how we look until society teaches us to, one of which is through the media’s reinforcement of the patriarchal view on body image. So why is body shaming so common among women? Don’t all of us want to be appreciated and not torn apart?

Here’s what I’ve learned about body shaming and those who do that:

1.     It’s never about you. The mean things other women say reflect their own judgment and misconception about their own body image. Perhaps putting down other women is the easiest for them to feel better and to compensate their own insecurities. At least now you know which are your real friends and which are not.

2.     If you want to confront them directly, go ahead and speak kindly. But if you don’t, that’s okay. Let it go. Some people don’t deserve your energy and your sanity.

3.     Anger is okay. Feeling humiliated is human. But turn the negative feeling into real action. Buy yourself a nice dress, book a manicure-pedicure session, do yoga or go to the gym, watch a movie, feast at a nice restaurant – anything that makes you feel better. Take a break from the nasty groups, or leave them for life if necessary.

Some may say: “Oh, relax! I’m only joking, don’t take it personally.” Still, you don’t have to listen to their explanation. Body shaming does not merely reflect female misogyny, it’s also about compassion, the lack of  empathy. It is neither tough love nor funny jokes. As body shaming is bullying, it is never okay. It’s not okay to bully fat or skinny people. It’s not okay to bully people with fair skin or those with dark skin. It’s not okay to joke about certain race. Whatever makeup or wardrobe we choose, we don’t deserve to be shamed. We must not tolerate it.

We have an obligation to kindle compassion and kindness in the next generation. We also need to teach them manners, and that freedom of speech does not equal commenting freely about other’s physical appearance. Instead of body shaming others, our daughters and sons must learn to empower each other.

Inka Prawirasasra is a specialist on building TV stations from scratch. She is an ambivert who doesn’t tolerate banality, nonsense and small talk and a selectively social creature, who prefers being alone and read book, than being a sheep that goes with loud herd. 

 

Cocot-nya Ibu

23380124_10155949538243658_1130371077506248680_n

Akhir pekan kemarin Ibu diceritakan Teteh-si mbak di rumah. Katanya saat itu Teteh bilang sepulang sekolah, supaya kamu telpon Ibu menggunakan HP-mu untuk memberitahukan sesuatu sama Ibu. Kamu bilang sama Teteh: “Aku kan gak boleh main HP, kecuali Sabtu dan Minggu”. Teteh bilang, bahkan saat Ibu Bapak gak ada di rumah pun, kamu gak mau langgar itu.

Kisah lainnya, si Mbak melanjutkan, tentang Pakde. Tetangga dekat rumah yang dulu teman jalan pagi Aki saat sedang ke rumah kita. Pakde ini senang anak kecil. Gak heran kalau anak-anak kompleks, kerap bermain di halaman rumah dia yang luas. Pakde juga murah hati, kerap membagi cemilan juga permen. Namun saat kamu ditawari, kamu bilang sama Pakde: “Aku tanya dulu ya (sama Ibu) karena aku gak boleh sering makan permen”.

Lain waktu, Teteh melanjutkan kisah sama Ibu. Suatu masa, kamu mendapatkan uang 50 ribu dari Bapak, yang kemudian kamu pergunakan pergi ke Indomaret membeli cemilan yang kamu mau.  Diantar Teteh. Lalu kamu merasa, kayaknya uang dari Bapak kurang karena cemilan yang kamu mau banyak betul. Teteh menawarkan “Teteh tambahin uangnya deh Neng, kalau kamu mau barang itu”. Lalu Teteh berkisah sama Ibu, kira-kira kamu bilang begini , ” Gak usah deh, Teh. Ini kubalikin aja cemilannya. Jangan pakai uang Teteh”. Begitu kamu bilang, sambil mengembalikan barang yang sudah kamu ambil ke rak di toko itu.

Kamu tau gak, Shira?

Yang Teteh ceritakan sama Ibu, rasanya jauh lebih membanggakan daripada saat kamu dapat nilai bagus, atau kamu bisa menguasai komposisi piano klasik setelah berminggu berlatih. Buat Ibu, itu artinya kamu paham nilai kejujuran. Yang bukan kamu lakukan, saat ada ‘orang’ melihat, dalam hal ini, Ibu dan Bapak.

Selalu ingat ya Shira, belajar integritas itu ya dari sekarang. Kamu harus teguh soal integritas ya dari sekarang ini. Supaya kalau udah gede, gak kaya wakil rakyat yang terhormat. Mengambil uang rakyat, atas nama rakyat. Jangan juga nanti saat kamu gede, jadi manusia-manusia penuh kedok , yang…. sumpaaah, banyak banget loh di sekeliling kita. Mereka yang berkawan baik dengan hipokrisi.

Hipokrisi itu buat Ibu, adalah tentang membohongi nurani. Dan percaya deh, itu bikin ngganjel loh. Kaya bisul, kecil…tapi bikin duduk gak enak. Kan lebih baik makan enak, tidur nyenyak, daripada membohongi hati nurani kamu. Keberadaan Tuhan kita, yang menjaga kita tentang batasan soal perkara hitam-putih, dikaruniakan Tuhan kepada manusia melalui hati nurani. Gak jauh dimana-mana. Itu ada di diri kita selama ini. Bukan di buku-buku self-help, atau para motivator yang jualan kecap soal kesempurnaan. Jangan jadi manusia-manusia yang juga memperjualbelikan Tuhan, seperti tukang loak menjual barang bekas.

Nanti kalau udah gede, baca-baca deh pemikiran Soe Hok Gie. Anak muda dengan idealisme. Bukan berarti harus seperti dia. Karena Ibu yakin, setiap orang harus menjadi versi terbaik dirinya sendiri, begitu juga kamu. Oh ya, Gie pernah bilang gini, “Lebih baik diasingkan, daripada tenggelam dalam kemunafikan”.

Karena mengambil sikap, adalah pilihan. Jangan pernah takut kalau kamu memperjuangkan kebenaran. Misalnya apa? Segala bentuk nyolong, ya udah jelas gak boleh dong. Di agama manapun loh itu. Jadi ya jangan dilakukan. Jangan pernah mengambil sepeser pun yang bukan hak. Meski sekeliling kamu melakukan itu, meski juga dengan modus yang ‘seolah-olah’ : “gue gak ambil atau merugikan kok”. Preet deh pokonya.

Nanti juga perlahan kamu akan berkenalan akan nilai-nilai moralitas, yang sesungguhnya menjadi landasan Hablum Minnanas dan Hablum Minallah, dua-duanya gak boleh dipisahkan. Yin dan Yang, seperti sepasang sepatu yang saling melengkapi. Esensi kita sebagai muslim, jangan hanya dimaknai pakai jilbab, sembahyang semata. Atau sesuatu yang sifatnya ritual. Itu namanya masturbasi beragama. Tapi maksud Ibu, harus seimbang soal hubungan dengan sesama. Nilai penghormatan pada perbedaan, tidak mencederai hak orang, konsisten dalam bersikap, tidak banyak bohong sama orang lain, dan masih banyak lagi. Nanti kalau sudah besar, kita akan banyak deh diskusi nilai-nilai filosofi semacam ini. Pelan-pelan ya, sayang.

Trus kamu harus inget juga, memperjuangkan keyakinan yang kamu yakini, bakal gak mudah. Apalagi kalau prinsip kamu bertentangan sama banyak orang yang saling mengamankan kepentingan. Tapi gak usah takut. Percaya deh sama Ibu. Niat baik kita itu yang akan melindungi kita. Gak mudah jalannya, tapi kamu pasti bisa kok.

Ya udah deh, nanti pasti kamu mengerti yang Ibu maksud. Nanti kamu akan belajar soal hidup dan kehidupan, nilai-nilai kehidupan, manusia dan memanusiakan manusia.

Tapi yakin deh, hidup dan kehidupan meski jalannya rumit atau berliku, tapi sebenarnya mengerucut pada nilai-nilai yang sederhana. Jangan pernah membuat nilai dan moralitas menjadi rumit.

 

 

This is My Soul Song, People

As an ambivert, I’m not a ‘group of friends’ person and certainly can’t keep up with all that.  A solitaire by nature.  As Lion walks alone, sheep walks with a herd. Not consider my self as lion tho. It’s just…, I prefer being alone than trapped in a group with banality and nonsense because I clearly cannot tolerate those.

I don’t despise small talk, but as ambivert, we are easily bored by small talk. I tolerate chit chat for a little while, but we need to dive into more meaningful conversation. Small talk, is not my forte.  I  won’t hesitate to withdraw my presence from nosy-busybodies people. As I can sense, guided by intuition those who fake their smiles, who really care, and those who are just being social climbers and need validation. Moreover, I strongly believe in my intuition until I know exactly those people whom you should avoid.

I might seem extrovert and bubbly, while the truth, I can only tolerate certain people. Love being surrounded by people, but still closed off and keeping to yourself. A selectively social, as certain people can recharge me but others drain the energy level. I’d rather make my limited “people” energy count by investing it into relationships that are truly fulfilling. Have no interest of trying to prove myself to certain people as well.

I do enjoy time alone, or perhaps with selected people whom I am comfortable with. I always look forward to: stay at home weekend, just relax with people you love and deeply care about, read books, cooking and yoga. I don’t like malls, large and loud venues, can be social whenever I want to be. I don’t have the urge to own the room, but need certain people I can connect with. Finding the real personality  who is willing to go beyond daily weather chat or material things, and yada..yada..yada, is like finding hidden gem to me.

 

Setangkup Rindu

Siang itu, ada kenangan yang sekelebat terlintas,

Tentang  air mata menggantung yang ditahan si empu-nya, karena sungguh ia tak pandai merangkai kata menjabarkan rasa. Tentang doa yang ia katakan, selalu ia sebut dalam shalat malam. Tentang tangis tertahan di telepon, karena ada cinta yang tak luwes ia ucapkan. Tentang kebanggaan, lewat kumpulan koran dan majalah yang memuat si anak. Tentang kian lembutnya hati dan perilaku, seiring  dengan cucu-cucu yang menorehkan bahagia.

Tapi siang itu pula,

Ada rindu yang tak sempat diucapkan. Ada perasaan yang tak sempat diungkapkan. Siang itu, hanya bisikan di tubuh kaku dan ucapan tak putus di telinganya. Dengan harapan, bisa melintasi beda dunia. Dengan keinginan sederhana, bahwa rasa itu bisa  sampai getarannya.

Sore itu,

Ada baju-baju tergantung sedemikian rapi. Ada tumpukan kitab suci dan buku yasin yang sedemikian banyak.  Satu buku, tertera tulisan rapi ditujukan pada anaknya. Ada foto-foto yang dengan telaten ia kumpulkan dan dibingkai. Semua adalah bahasa kalbu, yang tak selalu mulus ia ucapkan. Karena tak pandai mengungkap bahasa jiwa.

Pada siang itu, jasadmu tak ada lagi. Suaramu tak terdengar lagi. Pun tak bisa kulihat lagi bulir air mata tergantung di pelupuk mata, dengan sorot rasa cinta tiap kita berjumpa.

Tapi, toh tak akan kurelakan kau sendiri, karena dalam bait doa yang kulantunkan setiap malam, ada rindu yang kutitipkan.

Aku mencintaimu, sebab itu aku tak akan pernah berhenti mendoakan keselamatanmu.