Keberuntungan Hanya Mitos?

Kadang suka gemas sama (segelintir) orang yang dengan mudah mengatakan “Ah, dia hanya beruntung”

Buat saya, tidak ada faktor keberuntungan semata. Kenapa si A mudah dapat pekerjaan, misalnya, dibanding orang lain? Kenapa sepertinya pernikahan si B kok bahagia dan gak ada masalah dibanding si D? Well, ketimbang hanya menuding si keberuntungan sebagai penentu, pernah gak mencermati prosesnya bagaimana mereka sampai pada suatu  titik yang orang lain anggap beruntung itu?

Mungkin si A mudah dapat pekerjaan, karena dia punya network yang tepat. They don’t have to be everyone’s bosom buddy but it is the art of being open to many new people that counts. This can open door of opportunities.

Mungkin juga, si A adalah orang yang percaya insting dan kata hati. I believe lucky people realize that. Mereka sadar dan paham, bahwa kata hati tidak pernah salah. Tapi kata hati tentunya bukan emosi. Kata hati adalah resiko  yang terkalkulasi. Mereka percaya pada kesempatan, menyambut ketidakpastian tanpa kekhawatiran. Buat saya,  anxiety and worry are enemies of luckYou won’t be stumbling across luck while you are too busy hiding out. When opportunities come, you need to notice them and you need to seize them.

Orang yang katanya beruntung percaya sepenuh hati, bahwa mempercayai hari esok jauh lebih baik dari percaya hari kemarin. Que sera sera.

Lalu bagaimana soal keberuntungan dalam pernikahan?

Ah, mungkin orang lupa, akan ada proses dibalik semuanya. Mungkin saja orang yang kita anggap beruntung dalam pernikahan sehingga terlihat bahagia, adalah karena sejak awal sebelum menikah, dia sudah melakukan proses screening pasangan bukan berdasarkan cinta yang bisa saja buta. Ada proses rumit dari sekedar cinta semata yang mereka jalani. Sampai akhirnya mereka memutuskan memilih pasangannya, berdasarkan ukuran dan nilai yang mereka yakini.Bisa jadi berdasarkan kesamaan visi dan pandangan hidup, faktor restu orang tua, keyakinan akan values yang sama, kadar intelektualitas yang gak jomplang, menghargai perbedaan dan bukan mencari kesamaan,  dan masih banyak lagi. Atau bisa jadi pernikahan merea bahagia karena buat mereka menikah itu harus membebaskan, menikah harus bisa membuat masing-masing menjadi manusia lebih baik lagi. Keyakinan itulah yang menjadi lem kuat dari sekedar cinta, yang bisa saja lekang oleh waktu, Buat saya, kebahagiaan yang mereka peroleh, misalnya dalam pernikahan, adalah buah dari keputusan-keputusan yang mereka buat sebelumnya. Buah dari perbuatan-perbuatan kecil yang mengerucut menjadi satu kesimpulan besar. Bahagia, kebahagiaan, beruntung dan keberuntungan. Semua adalah proses.

Tentu saja saya percaya takdir. Tapi bukankah manusia mempunyai kekuatan untuk memilih?

So it’s true what Seneca said Luck is where the crossroads of opportunity and preparation meet.”

Advertisements

Apa Yang Mentah Hari Ini?

Above picture: raw the day by the amateur-me

Kesadaran untuk sehat membuat saya mencari informasi sana-sini. Obat, terbukti hanya menghilangkan gejala penyakit saja tanpa membantu banyak dari dalam untuk membuat tubuh memperbaiki diri secara keseluruhan. Bukan bermaksud mengajarkan soal kesehatan, ini hanya berbagi pengalaman. Bahwa you are what you eat itu benar adanya.

Jangan salah sangka, bahwa kemudian saya hanya melulu makan yang sehat, kemudian pantang makan enak. Karena saya pecinta makanan enak dan segala yang enak. Buat saya makanan itu jadi comfort way for my days. Apalagi dessert. Jajanan tradisional, sampai red velvet berlapis cream cheese, rainbow cake nan cantik, macaron, dan lain sebagainya. Saya dan suami gemar berburu makanan enak, bahkan untuk mendapatkan semangkuk ramen lezat Hakkata Ikousha, kita hajar hingga ke Muara Karang sana (lumayan jauh dari rumah soalnya :D)

Hasil baca sana sini, rupanya makanan mentah menjadi salah satu solusi mendapatkan imunitas tubuh. Kalau imunitas kita baik, secara alami tubuh punya defense mechanism terhadap penyakit tanpa tergantung obat. Kenapa? Rupanya para penganut raw food percaya, makanan yang belum melewati proses pemasakan maksimal 40 derajat celcius masih memiliki enzim natural yang diperlukan tubuh. Makanan mentah dipercaya memiliki bakteri ‘baik’ dan mikroorganisme  yang justru diperlukan untuk imunitas tubuh dan digestive system, mengandung antioksidan alami tanpa perlu menggantungkan pada aneka vitamin dan suplemen .

Raw food dan metodologinya diperkenalkan pertama kali oleh Maximillian Bircher Benner si penemu muesli. Setelah sembuh dari jaundice dengan mengkonsumsi buah mentah, Maximillian ini melanjutkan penelitian efek makanan mentah bagi kesehatan manusia. Lengkapnya, disini ya.

Maka berbekal buku-buku Food Combining karya Wied Harry Apriadji dan segabruk buku-buku resep raw food dan kawan-kawannya, saya pun mulai cari informasi dan menguatkan tekad. Tapi perlu dicatat, saya bukan lantas berubah jadi vegetarian atau jadi penganut raw food  yang mengharamkan makanan yang diproses. Enggak sama sekali!  Jadi kuncinya buat saya: keseimbangan. Saya masih makan makanan yang diproses, tapi juga memakan sayuran dan buah mentah. Informasi yang saya dapatkan, saya adaptasi dengan kondisi dan kemampuan saya sendiri. Hanya, dalam sehari saya usahakan minimal sekali minum jus tanpa gula, dan minimal semangkuk sayuran  atau buah mentah, kombinasi kacang-kacangan atau buah yang dikeringkan. Sisanya? Ya masih lah makan biasa, nasi dan lauk-pauk, kue-kue enak . Gak diet, hanya mengatur apa yang saya makan.

Biasanya pagi ketika bangun, saya minum jus lemon dicampur air hangat dan madu. Dilanjut dengan segelas jus buah dan/atau sayur tanpa gula. Lalu makan roti layaknya sarapan biasa, misalnya. Ke kantor bawa tempat bekal, isinya sayuran dan/atau buah. Tapi bukan buat makan siang, ini hanya kudapan antara makan pagi dan siang. Biasanya sore, lanjut dengan jus buah tanpa gula. Malam kalau lagi gak malas buat, lanjut semangkuk mentah-mentah lagi diluar makan malam. Mungkin secara prinsip raw food, ini gak murni. Tapi buat saya, efeknya adalah untuk flush makanan yang diproses yang kita konsumsi. Menyeimbangkan asupan enzim yang kita butuhkan aja pada prinsipnya.

Jangan salah ya. Raw food itu bukan untuk kurus. Dia akan bantu memperbaiki metabolisme tubuh. Yang kelebihan lemak, jadi turun berat badannya. Buat saya yang sempat turun berat badan karena hipertiroid, malah jadi membantu menambah berat badan. Terbukti, berat badan saya justru bertambah tanpa khawatir gelambir lemak. Keajaiban lain? Maag saya hilang. Dulu khawatir lemon malah bikin maag kumat. Ternyata malah sukses menghilangkan muntah pagi hari akibat asam lambung yang naik. Terus, terus…., beberapa orang bilang kulit muka saya sekarang bagus. Padahal obat muka yang saya pakai sama saja sejak bertahun-tahun lalu. (Dulu kok gak ada yang bilang gitu ya? Hehehehe). Tapi beberapa bulan belakangan, banyak yang bilang kulit muka lebih halus. Dan lagi…., komedo-komedo di muka semakin sedikit. Wajah lebih lembab, namun lebih bebas komedo. Yay!

Keajaiban lain. Suatu hari saya merasa, saya akan terkena flu. Sakit tulang, mulai sakit menelan. Biasanya sudah pasti beberapa hari kemudian saya flu Ditambah orang sekeliling banyak terkena flu musim hujan lalu. Akhirnya jatah jus saya tambah jadi 3 kali sehari. Terutama yang mengandung lemon, jeruk, dan tambah sedikit parutan jahe. Yoga juga saya tambah dengan gerakan untuk menyembuhkan flu atau demam. Tidur gak mau telat pakai acara nonton televisi. Walhasil? Flu tidak jadi mampir, gejala mereda dengan sendirinya. Sakit menelan perlahan hilang, tanpa bantuan obat sedikit pun! Wohooo, padahal dulu, decolgen  dan obat hisap selalu setia menemani kalau gejala sudah dirasakan tubuh.

Indra perasa kita sebetulnya memiliki pola. Lama-kelamaan, rasanya biasa saja tuh menyantap kol ungu mentah dengan tambahan dressing. Atau segelas jus bayam campur lemon dan apel. Meski awal-awal saya cuma bisa mengernyit dan menelan dengan susah payah. Otak sudah terprogram rasanya, bahwa jus seledri itu gak enak. Tapi lama kelamaan, rasanya tidak semenakutkan itu kok. Mungkin ini tepat seperti ajaran Yoga Anusara bilang ‘open to grace’. No expectation. Surrender to something bigger that is always there to support you. 

Setiap enggan menelan karena pikiran bilang pasti gak enak, saya cuma bilang dalam hati: “Ini buat kebaikan saya sendiri. Kalau gak mau sakit-sakitan ya telan saja. Mau dong mendampingi Shira saat menikah nanti dalam kondisi segar bugar?”.  Lama-lama, semua terasa biasa saja. Kalau orang melihat dengan heran, iih apa enaknya jus seledri campur apel, saya cuma bilang, ‘coba aja dulu, lama-lama biasa kok’. Dan itu terbukti.

Perjuangan masih panjang. Kedisiplinan masih dibutuhkan tanpa henti. Kadang bingung juga, apa lagi yang harus dimakan? Tapi saya jadi berusaha kreatif, raw food gak melulu salad kok. Rajin browsing, atau baca buku resep biar gak bosan .

Mau sehat, bosan sakit. Itu saja motivasi saya.

So, what’s raw for today?

Kenapa Yoga?

I never considered my self as sporty person. Bahkan dulu saya paling  malas berolahraga. Dua kali ikut keanggotaan Fitness First, bayar dimuka untuk 6 bulan, di bulan ketiga saya mulai malas-malasan. Ujungnya rugi, sudah bayar namun gak pernah datang lagi saat menginjak bulan ketiga dan seterusnya. Meski awal-awal semangat betul, beli baju olahraga, beli sepatu olahraga, tas khusus buat fitness, dan lain sebagainya. Niat pun berakhir niat, untuk resolusi agar lebih rajin berolahraga. Rasanya saya gak punya alasan khusus untuk melangkahkan kaki, mengenyahkan kemalasan agar rajin olah tubuh.

Trus?

Tahun lalu, saya sakit-sakitan. Sepertinya semua penyakit bersarang di tubuh. Dari mulai sakit mata yang kata dokter dry eyes syndrome, namun gak sembuh-sembuh sampai setahun, malah makin parah. Soft lens pun yang sudah setia menemani 10 tahun, terpaksa dibuang dan dilupakan jauh-jauh. Belum lagi berat badan terus turun, padahal sumpah deh saya gak pernah diet. Malah nafsu makan itu dari dulu tergolong luar biasa. Mudah demam tanpa sebab. Saya juga merasakan, gampang keringetan dan jantung mudah berdebar. Kadang kalau tarik nafas dada sakit. Jalan sedikit saja, saya mudah ngos-ngosan. Jompo betul. Bahkan kaki saya sempat tuh ‘banjir’, saking banyaknya keringat  di telapak kaki sampai gak pede rasanya pakai sepatu tertutup.

Puncaknya saya dirawat 2 minggu di rumah sakit. Dokter hanya menyimpulkan saya kena virus, meski saya penasaran sekali. Saya tahu ada yang salah sama tubuh saya, tapi kok jawaban dokter gak memuaskan. Kalau saya iseng googling di internet soal gejala tubuh saya, ndiladah kok ujungnya yang keluar kata: auto imun.

Beruntung dokter mata saya yang terakhir, orangnya teliti dan sabar. Masih muda, komunikatif (hal langka buat dokter, dengan kaliber profesor sekalipun!). Dia cek medical record saya dengan teliti, banyak tanya soal keluhan kesehatan saya. Sampai dia bilang, kekhawatiran dia adalah : saya mengalami gejala auto imun. Buntutnya saya disuruh ambil darah, dan betul saja, saya mengidap hipertiroid yang notabene adalah satu dari sekian banyak jenis auto imun. Buat yang penasaran apa itu hipertiroid , silahkan klik aja ya).

Intinya saya harus minum obat setiap hari, untuk maintain hormon tiroid yang berlebih. Obat diminum sampai normal, menurut dokter bisa memakan waktu 1-1,5 tahun. Cek darah setiap 3 bulan sekali untuk memastikan ada progress. Memang sih, setelah berobat dari bulan ke bulan, ada perubahan nyata secara fisik. Berat badan bertambah dan kembali normal (yay), keringat dan ngos-ngosan hilang. Mata membaik, bebas dari obat tetes setelah dulu setiap jam harus ditetes obat. Meski sekarang saya masih gak berani juga pakai softlens.

Apa hubungannya sama Yoga?

Gara-gara sakit dan mudah sakit, saya mikir, umur segini kok saya merasa sudah gak fit. Obat, meski bisa menyembuhkan, juga bukan solusi kalau imunitas kita gak baik. Gejala pasti akan berulang. Meski gejala hipertiroid membaik, kok tetap aja saya merasa tubuh saya ini rentan sakit. Saya merunut ke belakang, sejak dulu saya ini mudaaaah sekali flu. Tempatkan aja 2-3 orang flu berat dekat saya, beberapa hari kemudian saya pasti flu juga. Belum lagi maag saya itu gampang kambuh. Telat makan sedikit, kumat. Minum soda sedikit, kumat. Minum kopi, kumat. Kurang tidur, kumat juga. Saya juga merasa gampang lelah dan mengantuk, yang saya tahu indikasi dari ketidakseimbangan metabolisme tubuh.  Kok ya rasanya tubuh ini gak beres. Seumur-umur menikah, saya punya koleksi kartu keanggotaan dari 4  rumah sakit berbeda (termasuk rumah sakit mata). Sementara suami saya, satupun gak punya! Dia sakit paling banter demam atau flu. Itu juga gak perlu obat, cukup tidur seharian, minum hangat, sembuh. Lah saya, kalau batuk atau flu bisa berhari-hari padahal sudah minum obat.

Dari situ mulai mikir. Apa ada hubungannya juga sama saya yang tergolong anggota ‘sumbu pendek’ alias gampang emosi, gampang stress (akhir-akhir ini, tepatnya setaun belakangan sejak saya didiagnosa hipertiroid) karena urusan pekerjaan dan hal sepele. Beda sama suami yang tergolong penyabar dan tenang dalam keadaan yang membuat panik sekalipun.

Artinya saya harus memperbaiki  dari ‘dalam’, gak cuma menghilangkan gejala fisik.. Obat hanya menghilangkan sakit, tapi saya percaya ibarat mobil kalau mau jalan bagus,gak cukup hanya ganti oli. Mesin harus prima, supaya jalan juga bisa kencang. Kondisi fisik dan jiwa saya perlu diperbaiki juga dong biar gak gampang stress karena hal kecil dan sepele yang ujungnya menganggu kondisi fisik. Saya percaya yin dan yang itu berlaku dalam tubuh kita.

Pilihan jatuh sama yoga. Alasannya? Bisa latihan di rumah. Cukup seminggu 1-2 kali di studio, sisanya bisa di rumah. Gak perlu angkat pantat malas saya dan menyetir mobil ke gym, bangun tidur juga bisa dilakukan di rumah toh? Weekend saya gak perlu hilang karena berangkat ke gym. Baju olahraga bisa seadanya. Wong cuma modal yoga mat yang digelar di teras belakang (sekarang plus aromaterapi yang dibakar dan punya efek luar biasa pada mood).

Dorongan kuat untuk sehat, rupanya bisa mengenyahkan kemalasan saya. Saya hanya ingin bisa mendampingi Shira sampai dia dewasa, tanpa dia harus melihat ibunya bolak-balik ke dokter karena sakit. Saya cuma mau sehat demi Shira. Buat saya prestasi, loh sanggup secara konsisten menjalani 3-4 kali sesi yoga di rumah dan studio dalam seminggu, sementara dulu1-2 kali  fitness dalam seminggu  saja hanya tahan maksimal  tiga bulan. Sejak hampir  5 bulan terakhir, tubuh saya terbiasa dengan ritme olah nafas dan tubuh ala yoga. Kalau beberapa hari gak yoga, ada dorongan dalam diri saya untuk:  ‘ayo yoga, sayang badan kamu nganggur’.

Buku yoga lengkap dengan CD saya beli, buat bekal latihan di rumah. Waktu disesuaikan, kalau saya lagi gak malas bangun pagi, jam 5.30 saya sudah mulai yoga di rumah. Kalau lagi malas bangun pagi, pulang kantor sesudah magrib saya latihan di rumah. Cukup 45-60 menit. Seminggu sekali (kadang dua kali) saya latihan di JakartaDoYoga . Saya harus terimakasih sama instruktur-instruktur disana, yang selalu menjelaskan dengan sabar fungsi setiap gerakan dan menjawab setiap pertanyaan saya.

Semakin  saya tahu filosofi dan fungsi tiap gerakan, saya makin jatuh cinta pada yoga. Setiap gerakan punya keindahan tersendiri, punya cara untuk mengenal sinyal tubuh kita dengan lebih baik, Yoga punya magnet yang membuat saya tertantang untuk mengalahkan tubuh saya sendiri tanpa memaksakan kemampuan tubuh . Buat saya, yoga itu gabungan kekuatan dan kelembutan. Bagaimana di  setiap gerakan kita harus sadar akan tubuh kita, kontrol tubuh dan nafas dengan penuh kesadaran, namun ada energi yang dialirkan. Di setiap gerakan yoga yang terlihat sepele, tersimpan kekuatan energi  kita, si pemilik tubuh. Bagaimana gerakan semudah Tadasana (pose gunung, yang notabene hanya berdiri)  bisa menghasilkan bulir keringat dan membuat tubuh terasa segar. Dashyat!

Yang  membuat saya lebih jatuh cinta, saya seperti mengalahkan setiap inci kemalasan dari tubuh saya. Saya yang gak pernah menganggap tubuh saya fleksibel, bahkan cenderung kaku, ternyata perlahan-lahan bisa challenge my body to go further. Buat orang mungkin biasa, tapi buat orang sekaku badan saya, jadinya luar biasa. Now I can touch my toes, I can do plank position easily, saya bisa mengangkat tubuh dengan tangan dalam posisi badan lurus dengan mudah sekarang. Padahal dulu, personal trainer di Fitness First selalu saya mohon agar sesi gerakan satu itu di skip saja. Dan…., banyak ‘keajaiban’keajaiban’ kecil yang tadinya saya pikir gak bakal bisa saya lakukan. Meski saya juga masih belum bisa posisi-posisi yang sulit dengan tubuh meliuk-liuk, but I believe, someday I’ll get there as long as I’m consistent.

I am now still struggle with hyperthyroid, but I’m getting better, faster than my doctor and I both expected. Months ago, he was amazed by the result of my blood check up. Pembesaran kelenjar pun mengecil dengan cepat dari pasien lain pada umumnyaYang pasti, sekarang saya gak mudah terkena flu (terbukti saat satu kantor flu, saya sempat harap-harap cemas. Namun untuk pertama kalinya saya gak tertular disaat dulu saya pasti jadi orang pertama yang tertular).

Saya gak gampang lelah sekarang. Padahal kesibukan saya 6 bulan ini, lebih dari biasanya. Saya kerja, urus @NyaiIndonesia, juga mengajar, yang mengharuskan  keluar kota seminggu sekali secara rutin. Dalam seminggu, biasanya hanya hari Minggu saya bisa leyeh-leyeh gak ngapa-ngapain. Senin-Sabtu, sampai di rumah pun saya kadang masih selesaikan pembukuan dan keuangan @NyaiIndonesia, selesaikan bahan mengajar, atau periksa tugas mahasiswa. Herannya, sejak yoga, rasanya tubuh lebih berenergi, gak mudah capek. Maag saya juga gak pernah kumat lagi. Padahal biasanya dulu setiap pagi cairan lambung saya pasti keluar. Sekarang? Hasta la vista.


Bahkan, I feel happier. Bukan berarti saya dulu gak bahagia, hanya setahun belakangan hal sepele bisa bikin saya kepikiran terus sampai gak bisa tidur, gampang tersinggung. Sekarang? Rasanya semua lebih ringan. Macet? Ya udah baca buku sambil nunggu macet. Tukang  tas di workshop dodol? Ya udah cari tukang baru, Anak buah BBM, laporan gak penting pagi hari? Gak usah dipikirin, tarik nafas, ntar juga ada solusinya. Takut terlambat di tempat meeting? Ya udah pakai aja ojek, biar cepet sampai. Gampang kan? Hehehehehe.

Jadi, bagaimana saya gak jatuh cinta sama yoga?

Yoga is a powerful tool for living a balanced and happy life so roll out a mat and do it