Belajar Dari Nyai

Nyai, buat saya bukan sekedar belajar bagaimana me-manage bisnis ataupun mengembangkan produk dan memperkenalkan brand (yuk…yuk, mampir ke online shop temporer kita disini) . Didalamnya, ada sekumpulan aktivitas yang membuat otak rasanya terus melar, untuk cari tahu. Bayangkan saja, saya yang ketika SMA benci setengah mati sama akuntasi dan gak pernah sukses membuat tabel debet dan kredit jadi balance, sekarang mau gak mau harus belajar namanya akuntansi sederhana. Kayaknya orang keuangan kantor cukup jengkel menghadapi saya yang telmigapo. (baca: telat mikir gampang poho). Hari ini diajarin, besok sudah lupa lagi  (Makasih loooh kang Lucky nan baik hati :D). Jadi seperti back to square one rasanya. Hyuuuk….

Belum lagi belajar pelan-pelan soal internet marketing endebra endebre. Lah, mau gak mau harus tau dong, wong core bisnisnya kan online. Atau dicekokin soal Meta. Atau SKU. Meski masih dalam format sederhana, tetep juga deh ya bikin penat binti semaput.

Terlepas dari hal-hal teknis diatas, ada yang jauh lebih berharga. Yaitu soal bagaimana mengasah sikap mental agar terus optimis, mengolah kesederhanaan rasa saat dikecewakan orang atau apapun itu. Mungkin yang terjadi belum seberapa, mengingat Nyai sebagai brand kan masih bayi betul. Tapi, setidaknya itu jadi tempelan kertas di kepala, supaya diingat terus, supaya siap apapun yang terjadi. Supaya saya  hati-hati, gak terjebak dan melakukan pola yang sama. Bagaimana pun Nyai harus terus melangkah, bukan?

Kita pernah ditawarin seseorang (catat ya: ditawarin) untuk cross promo di website ‘mereka’. Katanya bisa pasang foto produk Nyai, termasuk ada short brief soal produk Nyai. Ya senanglah pasti. Siapa yang gak mau. Apalagi ‘mereka’ itu produknya lebih dulu eksis meski core business kita berbeda jauh. Sudah semangat kirim ini itu, wanti-wanti bilang kalau ada yang kurang kasih tau aja akan dilengkapin. Kok tunggu sebulan, dua bulan, tiga bulan, empat bulan…. gak muncul juga ya. Bahkan email kita pun gak dibalas. Ketika ditanya, malah balik bilang: “abis situ belum kirim logo“. Doeng, kenapa gak ngomong dong ya sejak awal, atau balas kek email kita yang gak cuma sekali itu (sekedar catatan: email kita gak ada yang di reply loh padahal ditujukan ke lebih dari satu orang. Mungkin saking sibuknya ya, sampai gak sempet balas email 😛 :P).

At least shows that you have good courtesy. Wong wakil dari Pendopo Indonesia aja masih loh reply email dari Nyai.  Belum lagi salah satu dari ‘mereka’, tahu-tahu curi ide saya. Dia presentasikan kepada calon investor (gak ada hubungan sama Nyai sih) tanpa sepengetahuan saya. Padahal sebelumnya dengan polos saya kirim konsep panjang lebar dan detil, saya keluarkan semua ide sama dia. Sakit hati dobel-dobel rasanya pas tahu saya ditelikung begitu. Tapi ya sudahlah. Biarkan saja. Gak follow up lagi sama ‘mereka’? Ogah ah. Gengsi. Gak usah ambil pusing meski sedikit (banyak ding :D) dongkol. Masih banyak jalan menuju Roma kok. Nyai bisa bergerilya mencari cara lain.

Beberapa hari sesudah kejadian itu, tiba-tiba ada seseorang yang menawarkan develop website kita (permanent online shop) dengan bentuk kerjasama yang kita gak pernah bayangkan sebelumnya. Ada kesepakatan win-win solution yang terjadi. Tapi, jelas itu membuat mimpi punya website keren bakal terwujud lebih cepat dari perencanaan dan kondisi keuangan kita.  Saya sadar betul, kalau kita harus bayar as professional, mehi neeek. Rasanya keuangan Nyai belum sanggup di tahun ini.

One of our dream, slowly in front of our eyes. Rasanya kok setimpal ya setelah dikecewakan ‘mereka’ yang tadinya saya percaya sedemikian rupa. Yang lebih bikin bahagia dan membuat kekecewaan terbalas, kerjasama ini Insya Allah gak akan cuma berakhir di urusan website Nyai. Tapi juga ada pengembangan lain yang kalau terlaksana, akan membuat ide dan idealisme punya outlet lebih banyak. Belakangan saya tau dari orang lain, visitor website ‘mereka’  yang bikin mangkel itu ,ternyata perhari sekarang malah lebih sedikit dari Nyai.  Hyuuk…. (boleh gak sih nyengir ala Kunti? Eh, gak boleh yaaa. *tutupmulut* #ambillakban)

Pelajaran Pertama. Law of reciprocity. Bear in mind that a small favor can produce a sense of obligation to a larger return favor. Give, and it will be given to you.

Jadi ingat, dulu ada orang kantor saya jaman masih kerja di holding company nganu itu. Waktu saya keluar, memang orang itu tanya kabar saya? Atau at least, texting me to say farewell? Zero. Trus gak ujan gak angin beberapa bulan kemudian, dia sampai minta pin BB saya sama teman dekat saya di kantor itu. Pertama basa-basi, apa kabar, kerja dimana sekarang? Kok gak pernah kelihatan?  (lah ngapa’ ngana gak sms aja, kalau kangen sama saya sejak dulu ya? Hiahahaha) Udah mulai ada feeling gak enak, tumben-tumben nih orang. Ujung-ujungnya, dia minta saya bantu promosikan produk yang lagi dia kembangkan, ke orang media (dia tau saya mantan orang media, dan sekarang masih bersinggungan dekat sama orang media). Dia juga  minta saya kenalkan ke orang-orang media supaya produk dia diliput. Terus dia pengen juga joint promotion sama Nyai. Dalam hati saya ketawa aja, “kemane aje situ kemarin, Joooo…”.

Intinya sih bukan mau balas dendam. Tapiii, maintain relation sama orang itu emang penting, Massss…. Mana tau ngana bakal butuh orang lain di masa yang akan datang. Jangan pas butuh aja situ super duper baik. Bukan begitu, bukan?

Pelajaran kedua. Be sincere. Business is about maintain relation and expanding network. Itu bukan basa-basi bau nan palsu. It required your heart, and how you treat people.

Lalu kemarin, saya baru BBMan sama seseorang (gak perlu disebut lah ya, yang jelas kita bakal kerjasama dengan Nyai). Dia cerita bagaimana dia diculasin seseorang, yang sudah dibuatkan konsep dan aplikasi. Tanpa permisi dan notifikasi, konsep itu diubah begitu saja. Kompensasi tidak dibayarkan. Bahkan terakhir, email tidak direspon, dan ujung-ujungnya dia dihapus dari kontak BBM.

Kejadian itu membekas betul buat saya. Meski gak terjadi sama saya. Tapi, memang bisnis itu bisa kejam. Shit could happens. Kabur gak bayar untuk sejumlah kewajiban, bisa aja dilakukan. Tapi, rasa-rasanya kredibilitas lebih penting dari sekedar uang. Makanya saya jaga betul soal kepercayaan dan kredibilitas Nyai. Meski mungkin  kadang kita rugi secara materi, waktu, atau tenaga.

Misalnya: ganti tas kulit pesanan orang dengan tas baru tanpa extra charge, karena ada goresan sedikit saat tas ia terima (padahal beli selembar kulit sapi lumayan juga tuh harganya 😀 ). Atau, ganti ongkos kirim konsumen yang terpaksa mengirimkan kembali tas pesanan dia karena magnet tas gak berfungsi. Iya, emang cuma tujuh ribu perak, tapi itu goodwill kita. Bahwa kepercayaan konsumen sama produk kita  harus dijaga. Contoh lain, karena alasan teknis, pesanan tas seseorang yang sudah bayar lunas, ternyata mundur-mundur terus dari waktu yang dijanjikan. Padahal konsumen ini sudah 3 kali beli produk Nyai. Walhasil, ketika tas jadi, kita bela-belain kirim pakai supir ke rumahnya di….Bogor. Ongkos bensin sama tol-nya aja dari BSD udah lumayan kan? Hahahahahha. Tapi intinya, kepercayaan konsumen yang mulai terbentuk sama Nyai, itu lebih mahal dari uang. Misal yang lain, ada konsumen hit and run. Padahal teman loh. Dia pesan tas, pakai minta dibuatkan spesial dengan batik dan kulit pilihan dia. Ketika jadi? Boro-boro ya kasih kabar, mau apa enggak. Gimana kelanjutannya tuh pesanan dia?. Sudahlah. Relakan . Gak usah tagih padahal dia teman yang tinggal saya BBM. Kalau dia punya goodwill, dia akan kasih tau saya,toh? Tau-tau, alhamdulilah sehari kemudian tas itu laku, bahkan pesanan berdatangan. Ada orang lain yang memesan tas persis sama.

Pelajaran ketiga. Goodwill. Once trust is broken, you will have to pay more than you are now. It will do no harm to show others how you have goodwill towards everything. On the contrary, respect will flow right back to you. Now. Or later.

Advertisements

Food For Your Soul

A vacation, no matter what is far beyond mere vacation. It’s the moment I stop the wheels on my head. Watch kid (s) laugh and have fun, are something priceless. It’s time to watch her play (with us, or with her cousins), enjoy the company of some friend or families, walk the beach holding my husband’s hand, having afternoon talk whilst enjoying the cool breeze, breathe at the moment, share cup of happiness and so on and so forth. It’s not about transporting our self to places, but more about transporting our soul into better frequency. It’s food for your soul, and memory from the heart.

 

It’s not about where you go. But who you’re with. That’s the only score that really matters. At the end, you’ll be home with extra warm feeling, that each and every moment are precious to be spent with your loved ones.

 

So, are your vacations truly vacations?

 

END 2008

 MIDDLE OF 2009

 END OF 2009

EARLY OF 2010

END OF 2010

 2011

 

Passion Alert: Lecturing

Seumur hidup gak pernah mimpi atau punya cita-cita jadi dosen. Selain merasa gak punya kualitas sebagai dosen (baca: pintar secara akademis), dalam bayangan saya, karakter saya yang pecicilan ini kayaknya enggak banget kalau jadi dosen.

Tapi, emang bener kalau jalan hidup itu kita gak pernah tau. Tiba-tiba aja kaya durian runtuh, seorang rekan kerja jaman urdu di SCTV dulu, menawarkan saya untuk mengajar di almamater kami berdua, Universitas Katolik Parahyangan-Bandung. Rupanya dia sudah lebih dahulu jadi dosen di Fakultas Fisip. Semula saya emoh, ogah, gak mau, pokonya enggak! Alasannya: gak pede, kasian mahasiswanya, bukannya mencerdaskan kehidupan bangsa, tau-tau saya malah mengacaukan kehidupan mereka 😀

Saya merasa gak cukup pintar buat jadi dosen. Apalagi, latar belakang saya S2 Hukum, ndiladah saya ditawari ngajar di Fakultas Fisip. Dimana korelasinya? Oh rupanya, saya diminta mengajar mata kuliah International Journalism dan satu mata kuliah lain (saya lupa apa namanya, tapi berhubungan sama CSR dan hal semacam itulah pokonya)  karena dianggap pengalaman profesional saya di bidang itu. Komunikasi dan Jurnalistik. Latar belakang pendidikan S2 hukum jadi gak berpengaruh, karena mereka melihat pengalaman kerja. Toh saya memang lawyer kafir. Bukan begitu, bukan?

Rupanya lagi, kampus Fisip mulai mencari dosen dari kalangan profesional untuk mata kuliah tertentu, sehingga diharapkan bisa share tidak melulu teori kepada para mahasiswa. Kerennya sih begitu. Tetep aja awalnya saya bilang: gak salah nawarin saya?, Ogah ah. Begitu saya bilang 😀

Rayuan maut pun dikeluarkan teman saya ini. Walhasil saya mulai goyang  dan sedikit oglek. Lalu minta pendapat suami dan beberapa teman. Lah, mereka kok bilang: ambil saja, ini tantangan dan nambah pengalaman. Dipikir-pikir, iya juga. Kenapa enggak? Mulai deh ibubil (baca: ibu-ibu labil). Toh saya uji coba buat 1 semester dulu. Meski akhirnya tawaran untuk mengajar dua mata kuliah, saya tampik. Saya hanya setuju ngajar International Journalism. Itu pun dengan catatan waktu saya hanya Sabtu. Satu mata kuliah aja dulu joooo… Ini aja belum khatam jadi dosen binal #eh.

Singkatnya, sejak Januari lalu, saya pun resmi jadi dosen luar biasa di Universitas Parahyangan-Bandung. Pihak kampus juga bersedia menyesuaikan jadwal mengajar di hari Sabtu sesuai ketersediaan waktu saya,   Saya pegang dua kelas. Total kira-kira ada seratus mahasiswa-lah yang saya ajar .

Pertama ngajar, perut rasanya mules. Norak ya? Padahal live report di depan kamera udah biasa, begitu satu teman saya bilang. Tapi ini beda cin. Sumpah deh ya. Rasaya campur aduk: perut mulas, ingin muntah sekaligus kabur ke Mars. Sampai terbersit dalam pikiran saya saat pertama ‘manggung’, kenapa saya sok pede ambil tawaran ini ya?

Tapi lambat laun, saya kok kena tulah. Mengajar ternyata mengasyikkan. Saya ketagihan. Apalagi  mahasiswa saya juga baik-baik, cukup kritis, punya keingintahuan. Tanpa disadari, mengajar jadi sarana saya buat belajar (lagi). Saya jadi buka-buka lagi buku referensi, riset kecil-kecilan, mengulang pemahaman soal teori-teori jurnalisme yang sempat mengendap di kepala entah berapa lama. Mengajar jadi seperti sarana recharge otak saya. Berbicara depan kelas, menjawab pertanyaan mahasiswa, bikin mereka ketawa, kok jadi ramuan pas untuk membuat saya bergairah. Sehabis ngajar, sebagian mahasiswa suka ajak ngobrol, tanya ini-itu, sekedar minta saya cerita pengalaman saat jadi jurnalis dulu, atau minta masukan tema buat skripsi, atau tanya-tanya kiat bekerja. Dengan ngobrol sama mereka, kok perasaan jadi kembali muda lagi (uhuk!), meski hening sesaat ketika sadar perbedaan umur diantara kami belasan taun. Doeeeng!

Yang membahagiakan, ketika ada beberapa mahasiswa memberi respon positif di Linkedin saya, atau Twitter mereka. Ini salah satunya (dibaca dengan hidung kembang kempis, dan hati merona berbunga. *Tsaaah*)

 

Kok jadi GR berat rasanya ketika tau mereka senang diajar saya (mau kesandung kulit pisang gak sih. Hiahahahah). Adik-adik kok mau aja saya bohongin yaaa, saya kan cuma menyamar jadi manusia baik selama ngajar. Padahal jaman mahasiswa saya suka ditegor dosen karena ngobrol melulu di kelas. Bahkan pernah ditegor  karena kutekan sama teman di kelas, sehingga dosen gemas untuk gak tahan menegur saya dan teman. Hahahaahhay.

Rasa-rasanya, mengajar kini jadi kesenangan baru. Meski kayaknya semester depan, saya sudahi kegiatan mengajar ini. Ampun dijeee, saya cuma pengen Sabtu saya santai lagi. Sudahi, bukan berarti gak mau lagi sama sekali. Tapiii, saya rasanya udah sedikit jompo kalau harus bolak-balik Bandung untuk ngajar setiap Sabtu. Semoga saja bakal ada kesempatan ngajar di kota Jakarta, sehingga kesenangan baru ini bisa diteruskan.

Cerita Soal Nyai

Nyai

Inilah bayi saya yang baru belajar berjalan sejak resmi diluncurkan di blog (silahkan mampir sini ya) akhir Desember 2011 lalu. Meski sejak Agustus, saya sudah tes pasar kecil-kecilan via teman dan saudara dekat. Sampai detik ini, Nyai belum tergolong besar, tapi pencapaiannya sudah membuat  bahagia. Tentu masih banyak rencana  dan perbaikan maupun pengembangan di kepala kami berdua, yang harus dan terus dilakukan untuk membesarkan Nyai.

Apa Itu Nyai?

Nyai adalah brand yang sedang dibangun.Dengan (sok) pede, saya ingin mengembangkan brand sendiri , ogah bikin tas KW yang menjamur kayak jamur. Hehehehehe

Bag with ethnic twist. Tepatnya begitu. Jadi tas produk ini bukan sekedar tas batik, atau tas etnik. Kain tradisional menjadi twist produk Nyai, tapi tetap terkesan playful dan modern. Pasar menengah jadi fokus pasar yang  dibidik. Kenapa? Karena banyak dong mbak-mbak kantoran atau mahmud-mahmud (baca: mamah muda :D) yang ingin punya tas nuansa etnik berkualitas baik, tapi harganya terjangkau. Kalau diperhatikan, tas batik berkualitas identik dengan mahal.  Memang terbuat dari kulit asli dan batik tulis. Atau enggak, murah sekalian, sehingga bisa dengan mudah ditemukan misalnya di pasar Beringharjo. Kenapa enggak kita buat tas yang terjangkau dengan kualitas baik, dari kulit sintetis tapi menggunakan batik cap (jadi tetap menggunakan tangan para pengrajin, bukan?). Meski Nyai juga melayani custom order untuk pembuatan tas dengan batik tulis dan kulit asli. Tapiiii…, pasar middle tetap jadi fokus utama.

Walk Like a Baby

Bisnis ini  diawali dengan passion. Kesenangan. Sejak dulu saya ini murahan dan gak punya malu dalam rangka ngumpulin kain tradisional. Jadi pemulung kain-kain batik lawas milik almarhum nenek, rampok jatah punya Ibu, atau nodong suami kalau habis tugas luar kota untuk membelikan selembar kain tradisional, sudah saya lakukan dengan bebal sejak jaman kuliah demi menambah koleksi kain (lihat foto sebelah ya, ini dia sebagian koleksi saya).  Kain-kain itu menumpuk di lemari. Kalau sedang bengong, iseng saya jembrengin, diliatin, lipet lagi. Itu aja  sudah cukup bikin senang. Lalu kepikir, kenapa enggak sih bikin tas dengan twist kain tradisional?

Awal-awal jadi fase ‘cupu’. Saya memulai dari gak tahu. Gak tahu dimana beli bahan kulit. Gak tahu cari tukang dimana. Gak tahu apa yang membedakan proses pembuatan tas yang ‘rapi’ dan enggak.  Gak tahu apa produk kita bakal laku atau enggak. Gak tahu aksesoris yang murah itu bakalan luntur. Gak tahu ini, gak tahu itu. Modal pede dan nekat. Pede bakal ada jalan keluar untuk menjawab ketidaktahuan kami.

Banyak kekonyolan yang terjadi. Bikin logo abal-abal sendiri pakai aplikasi Keynote-nya Macbook, salah beli bahan yang gak bisa dipake sama sekali, dicurigai preman di lokasi pembuatan tas di Bandung, terpekik girang dan norak saat sampai ke toko kulit yang luar biasa lengkap dan besar, menelusuri gang berliku di Cibaduyut demi mencari tukang tas,  sampling tas hingga kesana -kemari,cari pasokan kulit domba sampai ke Garut , keliling ke Pekalongan dan Cirebon untuk dapat cari stok batik,  tukang (lama) yang kurang ajar, tukang (lama) yang gak ngembaliin material dan bahan baku, bikin rak sendiri demi menghemat ongkos (atau mreki binti pelit ya?) dan masih banyak lagi. Tapi kita nanggepinnya gak pake stress (well, mungkin sedikit sih. Hihihihi). Cengengesan aja. Anggap ongkos belajar. Yang penting kalau satu lagi down atau pesimis, yang lain harus (sok-sokan) optimis dan menumbuhkan semangat.

Perlahan-lahan, Nyai berkembang. Dari niat awal hanya lempar pembuatan tas ke tukang yang sudah cocok dengan kita, sampai akhirnya kita nekat buat workshop dan punya tukang sendiri. Lalu makin nekat menambah tukang, beli mesin jahit besar untuk menambah mesin jahit yang sudah ada, merancang tempat menggantung bahan tanpa merusak material, beli ini dan itu, beli anu dan inu, demi kelancaran produksi. Sesudahnya kebat-kebit karena: huwaaa, uang kas kita tinggal X rupiah. Mari pingsan bersama 😀

Lalu kita makin nekat sampai  serius develop online shop  permanen dengan bantuan seorang kawan yang kami harap bisa support untuk urusan IT , lalu berkembang lagi dengan plan untuk exceed brand image melalui konsep magazine (doakan yaaa!), re-branding agar tampilan logo dan communication material lebih ciamik. Semua berjalan dan mengalir yang kadang buat saya terheran-heran, oh kami sudah sampai tahap ini ya.  Saya gak muluk-muluk, hanya punya satu keyakinan, bahwa Nyai harus berkembang dari waktu ke waktu. Patokannya? Ya hari kemarin.Hari ini kita harus melangkah meski satu titik dibanding hari kemarin. Sesederhana itu. Goal-nya apa? Ya mimpi kita akan terwujud. Walk like a baby, we may fall down and but we keep getting up. Period.

The Law of Attraction

Dalam perjalanannya, Nyai mempertemukan saya dengan orang-orang yang punya ‘ruh’ sama. Saya bilang begini, karena Nyai menjadi lem yang mempertemukan dengan orang-orang yang punya passion dan idealisme di bidangnya masing-masing.Istilahnya, law of attraction ini mempertemukan saya dengan orang-orang yang punya vibrasi kuat. Sepertinya alam semesta berkata sama saya “Ini loh jalannya. Jalani dan wujudkan, kesanalah kamu harus melangkah…”. Meski tentunya, jalan yang ada di depan mata masih panjaaaang dan lamaaa kaya iklan Coki-Coki. But I believe, we’ll get there. Perseverance is the key.

Lewat Nyai, saya menemukan purpose of life perlahan-lahan. Lupakan atribut soal uang dan jabatan. Saya cuma pengen hidup ini bermanfaat buat orang sekeliling, sekecil apapun. Nyai saya kembangkan bukan karena saya pengen kaya raya. Nyai jadi salah satu outlet buat menyalurkan ide dan idealisme. I could be in trance  when my head explode with ideas. Entah ide produk dan kreatif, atau ide pengembangan bisnis dan brand image . Skala-nya masih kecil. But I believe, even giant step start with small-tiny step,

Dalam perjalanannya yang seumur jagung, saya dipertemukan mereka yang punya ide dashyat dan gila, sekaligus punya idealisme. Kalau semua kekuatan ini disatukan, energi yang terasa luar biasa. Dan itu sudah terasa, kok. Saya merasa bergairah, penuh semangat. Rasanya Nyai jadi sumber energi buat saya, saya punya energi lebih mengurus dan memikirkan lebih dari satu hal tanpa mengeluh (paling ngeluh capek dan joprak kalau schedule lagi padat antara kerja, ngajar dan Nyai.  Eh, itu ngeluh juga dong yaaa… :D) . Saya percaya, alam semesta akan tarik menarik mewujudkan mimpi. Ibarat magnet, kekuatan pikiran ini akan menarik medan magnet lain secara otomatis, Dan, itu terjadi pada Nyai. Deo Gratias.

Tumbuh Bersama

Saya percaya, berbisnis bisa jadi cara sederhana memberdayakan orang sekeliling kita. It’s not mere about how much we pay salaries to our worker. It’s about how we empower them. How we, wholeheartedly, teach them to change their perspective and way of thinking. It takes commitment. Susah pastinya. Karena tolak ukurnya dan goalnya kan bukan uang yang rupiahnya jelas.

Pemberdayaan ini gak usah jauh-jauh. Tukang misalnya. Saya selalu bilang sama tukang yang sejak awal sudah ‘nekat’ mau gabung sama Nyai, padahal kualitas kerja dan pengalaman dia sudah segabruk. Tentu saja dia bisa memilih ikut pengusaha kelas kakap yang jauh lebih mapan.  Saya bilang: “Jangan puas terus jadi tukang, ayo sama-ama gedein Nyai. Mas kerja  sama saya harus happy. Kalau mas kerja happy, pasti mas kerja tanpa ngitung dan tanpa beban. Buktikan bahwa Mas bisa saya percaya untuk jadi orang kepercayaan, untuk sama-sama besarkan Nyai. Yang untung nantinya bukan cuma saya, tapi Mas juga bisa wujudkan mimpi kan?”.

Seriiing…. saya ajak omong si tukang kami, seperti pembicaraan yang intinya seperti diatas, dengan maksud menumbuhkan kesadaran sama dia. Kerja itu gak cuma kerja, selesai. Tapi ada tanggung jawab, kecintaan, sama yang dia kerjakan. Dia juga harus menemukan purpose of life dia. Cepat atau lambat. Semoga Nyai bisa jadi alat dia menemukan itu, mengasah kemampuan berpikir dia juga.

Saya bilang sama dia, saya mau dia nantinya jadi supervisor produksi. Gak cuma melulu jadi tukang. Saya mau dia berkembang bersama Nyai. Tapi untuk sampai kesana, dia juga harus belajar berpikir gak parsial. Saya suka ajak dia diskusi., biar cara berpikir dia gak cuma untuk hari ini. Perlahan dia harus sadar mata rantai produksi itu semua berkesinambungan dan seperti bola salju yang efeknya cepat atau lambat akan kita tuai nantinya. Apa berhasil? Semoga.Toh itu jadi never ending tasks pengusaha manapun. Saya cuma mau, siapapun yang terlibat dalam Nyai,  punya passion dan akan tumbuh bersama.

Buat saya, jadi pengusaha itu gak cuma sekedar bayar gaji orang, selesai. Tapi bisakah kita memberdayakan mereka, baik dari pola pikir maupun kemampuan. Disitu tantangannya. Cape? Mungkin? Bisa berhasil? Insya allah. Dan Nyai, jadi inkubator saya untuk mewujudkannya. Let’s seize the day. With a purpose.

Carpe Diem. Carpe Noctem.