Pemotretan Nyai

Minggu lalu kami mengadakan pemotretan Nyai. Meski masih tergolong usaha rumahan, kami bertekad untuk perlahan menyajikan yang terbaik secara visual. Meski masih taraf KKN sih.  Menggunakan jasa suami sebagai tukang foto (biar gratis, sehingga HPP gak bertambah dengan variable lain), meminjam rumah Ua terdekat saya, yang kebetulan konsep rumahnya pas betul jika dikawinkan dengan produk Nyai. Pokonya ingin ada benang merah antara konsep dan nafas produk Nyai, dengan biaya seminimal mungkin (bahasa halus gratisan #plaaak).

Ya pelan-pelan kami ingin menyajikan visual communication yang enak dilihat mata. Bukan apa-apa, itu akan berhubungan dengan how we present our brand kan? Meski saya akui, kami masih belum konsisten. Kadang ada beberapa foto tas pesanan orang yang lupa kami foto, atau kami foto seadanya dengan smartphone atau tab. Tapi sungguh, kami berusaha  terus memperbaiki sistem kerja, produksi, mematuhi jadwal yang sudah disepakati, sehinggga semua lini dari hulu dan hilir bisa terus in sync. Tentu saja semua bermuara kepada kepuasan konsumen kan? Saya percaya, ketidak puasan konsumen akan membuat ‘kerja setahun sia-sia dalam satu hari’. Jadi Nyai masih banyak belajar. Sangat dan amat banyak, bahkan dari konsumen yang mengajukan keluhan.

Singkatnya, mulai bulan ini kami sepakat punya jadwal pemotretan. Karena core marketing strategy kita kan online. Jadi it’s all about visual. It’s part of our brand identity juga, meski skalanya sederhana.  So, harus serius dong. Apa ada korelasinya sama penjualan Nyai? Alhamdulilah ada.  Kan namanya usaha. We’ll get there someday. Kalau hasilnya mau maksimal, usahanya juga harus maksimal dong. Gak boleh ada yang disepelekan, meski dengan kekurangan sana-sini. Yang penting sih optimis aja. Yakin.

Pemotretan kali ini lumayan capek. Hihihi 😀 😀 . Leklok lah pokonya. Kita harus ambil seluruh tas sample ke workshop di Depok (catatan: rumah kita di BSD, lokasi pemotretan di Cipete. Yeuuuk). Sehari sebelumnya, ada perubahan yang membuat kita harus ambil  tas last minute. Padahal hari itu supir libur, saya juga jadi moderator setengah hari. Untuuung ada mantan pacar yang baik hati, cancel janji ketemu orang untuk ambil tas. Langsung aja bagasi belakang mobil penuh sama tas segambreng itu. Bahkan bagasi pun gak muat, sampai sebagian tas harus ditaro di tengah mobil. Besoknya pagi-pagi kita berangkat, Shira ikut karena mbak squad dikerahkan-diboyong pemotretan. Supaya ikut bantuin, karena masa ngerepotin pembantu saudara yang udah baik hati meminjamkan rumah untuk lokasi foto.

Saat seluruh tas diturunkan, tas dikelompokkan berdasarkan jenis dan model tas. Keluarin dari dust bag. Satu-satu tas diisi sumpelan koran (satu tumpukan tinggi koran pun jadi penyelamat). Aslik…., lumayan chaos .

Teras depan rumah saudara sampai berantakan, kepala sampai pening lihat tas dan tumpukan sumpelan koran sebanyak itu (So far, ini pemotretan dengan tas terbanyak. Kebayang kalau next batch lebih banyak lagi. Ampun dijeee. Hahahahhaah). Sibuk cari spot yang bagus untuk setiap jenis tas, diskusi sama mantan pacar, diimbuhi debat dikit-dikit. Hihihihi. Yang ada saya bolak-balik, kesana kemari, angkut tas, susun tas, atur posisi, mikirin background.  Mbak squad sampai bilang “ngeliat Ibu kayak gasing mondar-mandir ke depan ke belakang”. Hahahahhaha. Untung memang mbak squad dibawa, karena kita juga pakai geser-geser furniture, angkut meja ke halaman, cari ganjelan supaya tas bisa dalam posisi berdiri, cari pernak-pernik yang pas, endebra endebre.

Trus namanya fotografer gratisan dong ya, servis asisten merangkap penata gaya (halah), harus maksimal. Walhasil dimari’ sibuk bolak balik bikinin ‘es teh manis gelas besar esnya yang buanyaak’. Gak enak soalnya, masa mbak squad sudara yang harus buatkan request spesial si mantan pacar. Tapi. sumpah hari itu memang panas abis sih. Mantan pacar sampai seperti habis lari marathon. Keringetan. Karena motretnya sampai naik-naik, jongkok, tiduran di rumput (loh ini motret apa maen bola sih ya?).

Akhirnya sore pemotretan selesai. Udahnya kita berdua blek, tidur di rumah sodara, sampai Magrib. Kecapean.Faktor uzur juga sepertinya. Saking errornya, saya sampai lupa pakai sepatu. Sampai rumah, sepupu BBM, bilang sepatu saya ketinggalan. Saya cuma bilang “Masa sih?”. Ternyata iya, flat shoes kesayangan ketinggalan. Sampai hari ini masih jadi misteri, masa iya saya naik dan turun mobil nyeker tanpa sepatu. Bodooh *tepokjidat*

Tapi bagaimanapun, perasaan hati saya puas. Kreatifitas dan ide hari itu tersalurkan. Kolaborasi hari itu sama mantan pacar sungguh menyenangkan. I think we are a great team, despite the silly debates on that day. I know I can always count on him, no matter what.

Selesai? Belum buat saya. Besoknya mata saya sampai jereng ngeliatin ratusan frame foto, cari foto terbaik versi saya, trus diedit. Makanya upload foto ke blog dan Facebook gak bisa satu hari, dicicil booo. Bahkan sampai hari ini saya belum selesai bikin katalog baru (nyicil…nyicilll…). Karena the last batch of our bags baru kelar upload pagi tadi. Hehehhehe

Ya, harapan saya sih, semoga usaha ini gak sia-sia. Saya yakin sih, sekecil apapun usaha pasti akan memberi hasil. Now or later. Toh brand image itu gak bisa dibentuk sehari-dua hari kan? Perlu konsistensi terus dari sisi kita. Semoga semangat terus menyala.  Persepsi di benak konsumen melalui brand image, harus dipupuk dari sekarang. Bisnis online kan kepercayaan. Konsumen gak liat barang dan bisa sentuh barang yang kita jual. Online business disamping memudahkan pengusaha modal terbatas kayak saya melalui internet dan social media , tapi juga kalau gak hati-hati bisa jadi alat menggali kubur Nyai. Pelanggan komplain di social media, misalnya, lantas dibaca banyak orang. Persepsi yang dibentuk susah payah, bisa habis semudah menjentikkan jari karena kita gak jaga kualitas dan layanan. Haduh jangan sampe ah…

Konsumen percaya barang kita baik, melalui tampilan visual yang juga baik di internet (salah satunya). Jadi inilah salah satu upaya kami, menyajikan Nyai Indonesia secara baik.  Semoga vibrasinya bisa diterima dengan baik juga sama konsumen.  Semoga kita juga konsisten untuk terus memberi yang terbaik, gak cuma produk dan tampilan yang baik, tapi juga kualitas dan after service yang baik dan meminimalisasi complaint pelanggan. (Mampir yuk ke blog Nyai . Jangan lupa beli yaaa *teteuup* #jadiIIS  alias Inang-Inang Senen. Yeuuk)

Carpe diem. Carpe noctem.

Advertisements

Kembali Mengajar (Not)

Akhirnya, minggu lalu saya memutuskan tidak mengambil tawaran untuk mengajar di semester depan. Meski sungguh, saya merasa tersanjung saat Sekretariat Jurusan berkata: If someday you want to go back teaching again, let me know. I’ll keep you.

Pun dengan kesempatan mengajar di salah satu universitas di Jakarta. Bukan karena saya tidak menyukai aktivitas yang satu ini. Tapiii, rasanya saya tidak adil pada keluarga, terutama Shira, jika waktu saya yang sempit ini *tsaaah*  akhir pekan pun saya habiskan untuk mengajar. Saya juga rasanya tidak adil pada para mahasiswa, jika harus ijin tidak mengajar karena kesibukan (meski saya yakin, mahasiswa mana yang gak senang dosennya berhalangan hadir. Been there done that :D).  Apalagi sejak Februari, ada tanggungjawab baru yang secara resmi saya pikul (Alhamdulilah, dikasih kepercayaan dan diberi amanah). Meski tidak ada larangan, rasanya saya harus fokus mengerjakan apa yang jadi kewajiban saya. Nyai juga masih bayi betul, berjalan masih tertatih, perlu konsentrasi dan waktu. Saya gak mau kerja setengah-setengah, musiman dan suka-suka. Buat saya, komitmen dan fokus menjadi kunci.

Kemarin sempat ada yang tanya, bagaimana kemarin saya bisa ‘survive’, dengan tenang bisa mengerjakan beberapa hal berbeda sekaligus, tanpa keteteran. Jujur, sempat ada masa dimana saya merasa perlu ‘bernafas’, panic attack. Tapi saya akui, saya ini keras sama diri saya sendiri. Makanya dari hari ke hari, di BB saya ada tuh catatan, hari ini harus kerjakan dan follow up apa, jam segini saya harus ngapain. Kalau saya gak disiplin soal waktu, pasti yang ada saya kerjaannya batalin janji terus sama orang , atau gak kunjung tuntas mengerjakan apa yang jadi kewajiban saya.

Mau gak mau, kuncinya memang itu. Punya timeline dan jadwal buat diri sendiri, dan patuh sama skala prioritas. Kalau jam sekian saya harus kerjakan A, ya saya disiplin kerjakan A. Bahkan weekend, saya juga atur waktu dan perkirakan durasi kasar. Jam sekian waktunya keluarga, lalu saat Shira tidur adalah waktu saya cicil printilan Nyai, misalnya. Singkirkan gangguan yang gak penting. Misalnya kalau lagi review document, ya saya gak akan jawab BBM dulu biar tetap konsentrasi. Kalau gak disiplin begitu, mana bisa saya punya waktu jalan hahahihi sama teman, yoga, atau sekedar meni-pedi ke salon (teteeeup yah namanya perempuan). Mantan pacar juga pasti ngamuk kalau urusan Shira dan keluarga sampai terbengkalai.  Strategi memang diperlukan disini, kalau enggak bisa overload nih kepala (sempet kejadian sih, hahahah :P). Bos juga bisa ngamuk kalau ini itu keteteran. (Alhamdulilah sih belum, jangan sampe dong *knock on wood*).

Saya yakin, kerja harus dari hulu sampai hilir. Masa mau gapai bintang, tapi ogah ambil tangga, keringetan naik dari satu anak tangga ke anak tangga yang lain. Kredibilitas justru ditentukan bukan saat bintang ada di tangan kan? Tapi bagaimana kita jatuh dan bangkit lagi, ngos-ngosan naik anak tangga untuk fokus ke tujuan.

Kembali ke urusan ngajar. Dengan kepercayaan dan amanah yang bertambah, saya merasa saya bakalan gak fokus dan komitmen penuh  seperti sebelumnya kalau saya masih harus mengajar. Saya gak mau menggampangkan, ah gimana nanti. Justru nanti itu gimana. Kalau menggampangkan, rasanya kok’ saya jadi gak tanggungjawab banget ya sama komitmen yang sudah saya sepakati sendiri. Saya gak mau itu. Jadi dengan berat hati, saya harus merelakan untuk menampik tawaran mengajar (kembali), serta kesempatan mengajar yang baru saja mampir.

Tapi sungguh, 5 bulan kemarin jadi salah satu pengalaman yang memperkaya diri, membahagiakan, dan membuka mata. Dan itu rasanya lebih dari uang (honor mengajar yang tidak seberapa :D). Kali ini saya katakan, saya beruntung bisa mencicipi pengalaman itu.

(A Beginner) Love Letter to Yoga

Picture: Courtesy of elephantjournal

It was not love at the first sight. I’ve known you since 2 years ago. But I considered you as one of my fling back then.

Time passes by. I intensely began more serious relationship with you 7 months ago. And now, here I am. It’s been intense  months of dating you, and I still look forward to spending time with you. All those flowing Vinyasa class with dripping rivers of sweat all over my body, or even the fun Acro yoga, or the power class-Ashtanga, have been such an amazing gift.

I spent months knowing you, but foremost you spent these whole 7 months teaching me about my self. Knowing my self better and better, to know my limit. You taught me that yoga is not about competition with my self, it’s all about balancing body and soul.

Thank you for encouraging me to  do what feels wonderful . Thank you to challenge myself when I care to, and to rest  with Savasana as long as I want after every session.Thanks for encouraging and not demanding. Thanks for the joy you give back, even with limited times we’ve had. 30 minutes, or even 1 hour. 3 times a week, or sometimes 4.

Thank you for wonderful times on the mat together. And here’s to many more.

XOXO

Inka

Ke Dufan Kami Kembali

Minggu lalu, jadi minggu yang ‘yaowoh astajim‘ buat saya. Kalau dilihat dari rutinitas, sebetulnya sama aja kayak minggu-minggu sebelumnya. Tapi mungkin karena akumulasi kesibukan sejak April yang membuat saya banyak keluar kota, ditambah beban kerja yang sedikit-sedikit bertambah, jadilah sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit yang membuat kepala penuh, ujungnya malah bikin bengang-bengong dan ngelamun karena bingung harus menyelesaikan pekerjaan dan kewajiban darimana.Ditambah lagi saya memang sedang #drama aja *nyengirkuda*

Jadinya sensitif. Ketanggor sedikit (is this even a proper language?), Gerwani saya keluar. Belum lagi jadi gampang mewek, merasa dunia sedang berkonspirasi membuat saya pusing. Orangtua yang sedang sensitif karena usia, membuat saya juga seolah sedangPMS selama beberapa hari terakhir. #drama banget deh.

Jadilah rencana geblek melintas di kepala saya dan Yuniz. Yuniz ini teman bego-begoan sejak kami masih imut dan polos (huek :P), jaman kerja di Citibank-Bandung,  saat kami berdua baru saja meretas jalan dunia kerja begitu lulus kuliah S1. Belasan tahun lewat (yaaah, ketauan deh berapa umur kita :D), ditambah sedikit kerutan di muka dan efek gravitasi pada lengan dan perut, here we are, kami pun masih berteman baik sampai sekarang.

Minggu lalu, saya curcol kepala lagi penuh, eh dia juga. Sempat terpikir: “ke Bali yuk. Berangkat Jumat, pulang Sabtu”. Berhubung permit dadakan dari mantan pacar rasanya agak susah ya kalau ujug-ujug mau ke Bali tanpa bab pendahuluan. Akhirnya mikir, kemana dong enaknya. Tapi kita berdua perlu nganga‘ kena angin laut, duduk pongo dibawah puun kelapa. Hahahaha

Jadilah terlintas di benak Yuniz: “ke Dufan yuk!”.  Sapa takut! BBM-an pagi, jam 10 kita berdua pun memutuskan pergi tanpa pikir panjang. Kenapa Dufan? Ya udeeeh, jangan tanya. Pokonya tau-tau kita berdua sudah meluncur kesana.

Cekikikan sudah dimulai saat masuk arena Dufan. Diingat-ingat, mungkin akhir era 90-an kita terakhir berkunjung kesana. Sempet ragu juga, dih, masa dua emak-emak gak tahu malu ke Dufan tanpa anak, apa kata dunia. Ah, sebodolah. Hajar!

Ada banyak perubahan, yang pasti Dufan lebih bersih, banyak pohon rindang yang sukses membuat angin berhembus sanggup mengalahkan panasnya Jakarta Utara. Udah gitu, kita datang hari Jumat. Jadi sumpe’, suasananya enak. Gak packed sama orang-orang, sepi, kita bisa duduk-duduk di taman sambil ngobrol, antre wahana juga lancar jaya. Tapi tiketnya ternyata lumayan ya, Rp. 230 ribu untuk weekdays. Weekend Rp. 250 ribu. Kirain tiket masuk 100 ribu doang (dilempar lembing pengelola Dufan ini mah. Secara patokan kita masih harga-harga tahun 90an. Hahhaha :P)

Kita ngobrol dulu sambil makan. Lamaaa, ngalor ngidul. Cerita kepenatan masing-masing. Ketawa-ketawa lagi. Trus dilanjut deh, naik Alap-Alap. Ha! Dua mahmud (mamah muda) ini macam orang gila. Ketawa paling keras, tereak paling keras. Kayaknya sih suara hati terdalam banget. Keluar deh tuh semua kepenatan kepala.

Lanjut lagi ke Rumah Jahil, cekikikan berdua saat kita bukannya nemu jalan keluar, malah kembali ke pintu masuk (dasar IQ jongkok). Lanjut Niagara-Gara. Trus Untang-Anting. Rumah Boneka sambil nyaris ngantuk dan anti sosial dengan BB masing-masing.

Yang paling gong sih waktu naik Arung Jeram. Karena gak mau kebasahan, kita niat dong beli ponco macam leletubbies. Diliatin orang? Bodo amat. Yang penting kering sentausa sejahtera aman bahagia. Yang ada, selama perjalanan, kita berdua ketawa paling keras. Bukan apa-apa, kita ketawa ngakak liat tampang dan ekspresi orang-orang yang kesiram air, sementara kita duduk anteng macam putri solo.  Gak usah khawatir tas basah, karena tersimpan aman di balik ponco. Maaak, hiburan banget buat mamak-mamak lupa umur ini. Dengan cueknya, saat selesai, kita kurang puas. Akhirnya lanjut satu putaran lagi, memuaskan hasrat ketawa liat orang kebanjur aer sampai ada yang teriak: “waduh, celana dalamku basah!”. Wakakakaaakka

Perjalanan hari itu ditutup dengan menikmati semilir angin sore. Menertawakan kekonyolan kita berdua. Yang pasti, kepenatan kepala menguap. Semua hilang, blas. We surely had so much fun!

Sometimes, we need tad of craziness in our life. We need tad of spontanity in our dull-typical daily routine. Sometimes we need to release the tension, because bitter is something we create in our head. Most of all, we need girlfriend to share as they are source of our unseen-strength.

Thank you, Yuniz. Mi lop yu!

I (Sometimes) Don’t Know How I Do It

When they said balance is the key to juggle between working and family, well, people… It’s not as glamorous as you’ve seen on television. As for me, sometimes it takes silent scream, unpredictable tears, occasional boredom or impulsive shopping (Ha!). Sometimes you go back home with  shopping bags, which, you realized later…, you don’t need all. Nothing you can do except cursing and blaming the illogical urge that rushed into your brain and screamed: Buy! Buy! Buy!. I swear people. it’s like you know it’s wrong but feels so right. You know you don’t need another shoes. Or clothes. Or bags. Yet you need shopping to release the tension (cliche, I know.. :D)

Contohnya pekan lalu. Semua rasanya berkejaran. Semua menuntut agar dikerjakan, diselesaikan. Ran between obligation to attend POMG meeting-preparing lunch box for Shira in the morning. Before off to traverse crazy traffic, your maid asked: “Mau masak apa bu pagi ini?”. Then you went blank, it’s like your brain is freezing by a very simple question like that.

Then you have to catch appointments, read reports on your blackberry during the insane traffic in  Big Durian just to ensure your to-do-list is half done. Then piles of emails are waiting for you once you arrived at work In the middle of important meetings, you received messages from your students, asked about their assignments, and so on and so forth.

#Drama berlanjut saat urusan Nyai juga perlu untuk diselesaikan hari itu. Lalu minggu itu berlanjut kian #drama dengan keharusan untuk melakukan perjalanan dinas luar kota selama beberapa hari. Otak langsung berputar keras, bagaimana caranya memastikan domestic stuff berjalan seperti biasanya, saat kita tahu rumah akan ditinggalkan beberapa hari. Oke, telpon Ibu, meminta beliau beberapa hari berada di rumah. Meski ada pengasuh, tapi rasanya otak dan hati tidak tenang meninggalkan Shira tanpa pengawasan Ibu. Otak juga berpikir, artinya minggu itu belanja bulanan terpaksa ditunda, dilakukan sepulang perjalanan dinas. Artinya lagi apa? Harus mengalokasikan waktu di hari kerja, karena semakin ditunda, kebutuhan bulanan di rumah kian menipis. Bukan begitu, bukan? Otak kian liar memikirkan yang enggak-enggak dan sumpah deh ya gak penting benjeeet. Seperti: jadwal yoga terganggu kalau begini padahal minggu ini sudah batas hangus sesi yoga, kapan saya input nilai tugas mahasiswa, bagaimana kalau kangen Shira, baju apa yang harus dibawa selama beberapa hari keluar kota. Lagi pusing-pusingnya mikir yang enggak-enggak begitu, tiba-tiba: PING! Cek BB, ada konsumen yang mengeluhkan soal pegangan tas yang kurang kuat. Buntutnya, semaput.com dan kepalapenuh.co.id , daaaan…akhirnya dimari’ malah pongo depan laptop gak ngapa-ngapain 😀

Sampai di rumah, mari selesaikan bahan mengajar untuk pekan ini sambil menunggu Shira tidur. Oh, tunggu dulu! Shira  minta ada dongeng sebelum tidur. Mari Nak, kita bacakan cerita dulu. Saat dia tertidur, ritme berlanjut dengan menyelesaikan bahan kuliah hingga mata sudah tak sanggup berkompromi lagi. Saat kepala penuh, mantan pacar minta pendapat soal pekerjaan pun,rasanya kepala sudah tidak sanggup lagi berpikir dan memberikan komentar. On the contrary, I felt annoyed by his little disturbance. I snapped at him  and said: “Nanti aja kenapa, lagi ribet ini!” There goes my self being utterly stupid. And selfish at the same time.

Familiar dengan situasi seperti itu? Disaat semua berkejaran, menuntut perhatian dan penyelesaian, disaat itu pula hati menjerit: Give me a break! Then my self  shouted silent scream: I have  tightly packed work-business schedule but more importantly I have a kid,maid and a husband who just wants five minutes of my time. Arrrgh. Kalau sudah begitu, ingin rasanya badan dibelah 2,3 atau 4. Satu bekerja, satu di rumah, satu badan lain biarkanlah saya ke salon untuk creambath #loh.


Kadang, #ngayalbabu jadi pilihan. Bayangkan: seminggu penuh pergi entah kemana dengan teman perempuan rasanya menyenangkan. Seminggu penuh tanpa memikirkan harus masak apa hari ini. Seminggu penuh mematikan BB, tanpa keharusan cek email, membaca report, kordinasi, budgeting, jawab email dan terima pesanan konsumen Nyai, endebra endebre. Seminggu penuh hanya bermalas-malasan, ketawa-ketiwi, makan enak, misalnya. A whole week without thinking about mother’s to-do-list before going to bed that we all have to think of. Meski sesudahnya logika pun mampir, masa’ seminggu tega meninggalkan Shira dan gak mau tahu keperluan dia dari hari ke hari apa. Masa’ iya mogok belanja bulanan, atau gak mau mikirin harus masak apa. Bukan pilihan yang akan membuat hidup lebih tenang juga, toh?

Meski menjalani kehidupan sebagai working mother, adalah pilihan dengan penuh kesadaran dan bukan keterpaksaan. Tapi adakalanya saya merasa, well, I’m just ordinary woman who can’t do it all, sometimes.

Juggle diantara dua dunia seperti ini, kadang (sering ding :D)  disertai mood swing (maaf ya, mantan pacar 😛 :P) . Atau rasa bosan ketika tahu sudah saatnya belanja mingguan, padahal badan menjerit hanya ingin jadi kursi kentang di depan televisi di saat libur. Atau pembenaran untuk membeli sepatu (lagi!) ( Eh, ini sih emang doyan ding #plaaak :P) Bahkan perasaan bersalah saat pulang ke rumah, Shira sudah tidur.  Rasanya, perasaan bersalah itulah yang kerap menjadi bagian tersulit. Perasaan bersalah karena belum menjadi yang sempurna sebagai seorang Ibu, saat tahu bahkan saya belum pernah sekalipun mengantar dan menunggui Shira les musik setiap Kamis, karena  harus bekerja. Meski saat ini pekerjaan memiliki waktu fleksibel (I swear, this is one of the best part of my current job. I don’t have to be there from 8-5 as long as the output is on the right track), tetap saja toh ada kewajiban yang harus saya jalankan yang membuat berada setiap Kamis pukul 3 sore menemani Shira, menjadi mustahil. Perasaan bersalah saat tahu, saya kadang harus tugas keluar kota disertai ucapan “Ibu jangan pergi” dari si gadis cilik. Perasaan bersalah saat Shira sakit dan harus dibawa ke dokter oleh ayahnya, karena saya sedang tugas luar kota. Guilt. I think that’s the worst part that every  woman (who juggle between work and home) have to dealt with.

Saya beruntung, ada mantan pacar yang tanpa diminta akan taking over domestic stuff. Buat dia, tidak ada pekerjaan (rumah tangga) untuk perempuan, ataupun laki-laki. Tanpa dia, I don’t know how I do it. Suatu malam, di pekan lalu, saat saya berlinang air mata dengan penuh #drama, dia hanya berkata: “Sometimes it’s okay just to be good enough. You don’t have to be perfect to juggle everything”.

There I go, making peace with my self. I’m just this average-ordinary woman, who sometimes pat my shoulder on the back and say: “It’s okay not to be super woman. This too, shall pass“.