Nyai, Ilalang dan Bau Sampah

Pemotretan terakhir, dilakukan dengan konsep sedikit beda. Pengen aja bereksperimen. Maka diputuskan kita akan foto produk ditengah ilalang yang tebal. Dimana lokasinya? Ya mau gak mau hunting. Gak usah jauh-jauh, mari berburu dekat rumah.

Jam 10 pagi saya dan mantan pacar pun memulai hunting. Which is waktu gak tepat, karena pemotretan akhirnya dilakukan saat matahari lagi lucu-lucunya. Persiapan pemotretan kali ini seperti mau piknik. Botol minum besar-besar, yakult, biskuit, dan payung! Kita juga bawa satu meja antik untuk dudukan tas dan satu gembol koran bekas.

Setelah keliling ke beberapa kampung, akhirnya nemu juga ilalang yang cocok. Tingginya, ya rimbunnya. Ilalang tebal itu kita patahin sedikit supaya tas gak justru tenggelam saat difoto. Pakai apa? Menurut ngana’? Ya pakai tangan. Hihihihi. Mungkin lain kali harus bawa palu arit ya macam Gerwani 😀

Jangan tanya panasnya kayak apa, kita foto dari jam 11 sampai sekitar setengah 2.  Tumben si mantan pacar gak ambil terlalu banyak frame makanya hanya sebentar foto kali ini, mungkin gak tahan juga sama panasnya yang bikin perih ya (alhamdulilah buat saya, gak terlalu jereng saat milih foto).

Banyak kejadian yang dipikir-pikir akan jadi kenangan tersendiri nantinya. Ya ada kodok loncat lah, ada musang lewat lah yang bikin kaget (takut kalau itu uler, bro),  naik bukit-bukitan demi dapat posisi bagus, sendal masuk kubangan tanah, kumpulin ranting kering buat pemanis foto macam pemulung. Belum lagi penduduk kampung sekitar ngeliatin dari jauh. Kedengeran komentar mereka “Ooh foto tas, kirain ada suting”. GR aja kita, mungkin  dikira ada artis kampung sebelah ya (hueek cis)

Saat pindah lokasi ke lapangan tanah dan lagi serius motret, tiba-tiba hidung kok mencium bau aneh. Semilir bau busuk menyergap penciuman. Ndiladah, rupanya gak jauh dari lokasi kita foto, ada tempat pembuangan sampah. Pantes aja busuk bau situ Jooo. Mulut situ dekat idung ya? Hihihihiih

Meski sesudahnya, kaki saya baret-baret terkena semak belukar, leher juga mengelupas terbakar matahari. Tapi yah, ini demi memberikan yang terbaik di tengah keterbatasan (dana) yang kita miliki. Jadinya putar otak, bagaimana meminimalkan biaya, mari manfaatkan yang ada semaksimal mungkin. Hahahah

Jadi, gimana hasil foto kali ini? Kalau mau lihat mah, hayuuuk, mangggaa mampir kesinih  *nyengir*

Advertisements

Logo Nyai dan Semacamnya

Meski usaha ini  tergolong UKM (Usaha Keren Mahmud slash Mamah Muda :D) , kami ingin serius mengembangkan brand ini. Jadi mimpinya sih, kita ini bukan sekedar bakul tas, tapi kami ingin mengembangkan brand. Apa saja sih? Ah belum saatnya cerita, wong belum action kok, baru perencanaan pengembangan. Insya allah ada jalannya. Yakin aja (atau sok pede ya? Hihihihi)

Salah satu action yang kami lakukan sebagai tahap awal mengembangkan brand ini (selain produk yang baik), apalagi kalau bukan brand identity. Apalagi logo kita dulu itu bikinnya cupu dan abal-abal banget. Saya ingaat sekali, dulu kami ngobrol di teras belakang rumah, buka laptop, coba-coba bikin logo pake aplikasi Keynote-nya Macbook. Satu demi satu font huruf kita coba, lengkap dengan eksperimen warna. Persis nonton bola, banyak komentar, diimbuhi mantan pacar yang ikut urun suara nyamber kayak bensin.

Klik, coba huruf ini. “Jeleeek”, kata penonton. Klik, coba huruf anu. “Gak bagus ah”, penonton kecewa. Klik lagi, coba huruf inu. “Jeleeek”, begitu kata penonton kebanyakan komentar. Begitu seterusnya, sampai logo (cupu) itu jadi. *sumpelkaoskakibau*

Begini penampakan si logo cupu dulu…….*tarakdungces*….

Kendalanya, karena logo itu abal-abal, waktu bikin kartunama juga ya jadinya abal-abal. Seadanya banget karena kita kan gak punya brand identity guidelines. Walhasil merek yang kita tempel di dalam tas juga ya tanpa aturan, yang menurut kita bagus aja. Makanya ketika pelan-pelan kas Nyai sudah bertambah (tsaah :P). kita  sepakat, pengembangan brand identity ini penting. Pengennya sih, logo itu menjadi simbolisasi nafas produk Nyai. Ciri khas yang membentuk juga persepsi di benak konsumen.

Dan lagi-lagi, Tuhan Maha Baik. Dipertemukanlah kita dengan seorang teman, yang pengalaman branding. Kalau bayar profesional, duuuh, bisa-bisa celengan babi dibongkar semua. Tapi untung, dia ini baik hati. Kita dikasih harga murah *joget*

Jadi berikut penampakan brand identity kita.  Tentu saja PR kita masih banyak sih. Makanya saya gak habis berdoa, semoga semua jalan dimudahkan, semoga semua kendala dan persoalan bisa dipecahkan. Sayang kan, sudah sampai titik ini. Bukan begitu, bukan?

Eh, eh, jangan lupa mampir ke blog Nyai ya. Ada barang baru. (Bakul tas mau promosi. Yeuuk)

Hadiah Untuk Shira

Loh kok malah dipake buat foto tas sih? Ya memang, begitu sampai langsung aja besoknya dipake background buat foto tas (teteteuup ya demi kelangsungan diri sebagai bakul tas).  Hihihi. Eh, kalau mau beli tas-nya, sila  mampir ya ke blog kita disini , atau like FB page kita disonoh. Dipilihhh, kakaaaa. Jiyordano-nya, kakaaa….

Ya, alhamdulilah deh akhirnya pianika vintage yang  dipakai Shira beberapa bulan belakangan untuk latihan musik di rumah,akhirnya bisa pensiun dulu . Meski sekarang kita lagi ngitung sisa recehan di celengan babi. 😛 .(Ohhh, pump shoes hitam itu 😦  Mari lambaikan tangan karena nampaknya batal jadi hak milik *dadahdadah*)

Ada yang mau sumbang recehan? *tadahintangan*

Sakit Dengan Bahagia

Hipertiroid. Mata tergantung obat tetes setiap jam. Menjelang malam dipastikan mata memerah, kering dan semakin berair. Lalu tiba-tiba dinyatakan demam berdarah plus tifus. Lalu diberi obat, eh malah bikin tulang nyeri sampai hanya bisa mengaduh berjam-jam. Sering demam tinggi tiba-tiba disertai nyeri tulang hebat. Kalau lemas menyerang, rasanya bangkit dari tempat tidur juga tidak sanggup.  Beberapa bulan kemudian, ada pembengkakan kelenjar getah bening. Lantas dikasih obat gak cocok, sehingga muka bengkak dan merah-sekujur tubuh gatal. Diganti obat lagi, tau-tau  menyebabkan bibir kering dan pecah-pecah, sehingga membuka mulut  dan menelan pun sakit. Belum lagi sedikit-sedikit flu-batuk. Sakit kepala hebat. Pokonya gak habis-habis daftarnya.

Semua terjadi hingga pertengahan tahun lalu. Sampai saya mengutuk dalam hati, apa sih yang salah sama tubuh saya. Apa juga dosa saya. Saya rajin kok minum obat sesuai anjuran dokter. Tapi kenapa, alih-alih sembuh, malah gejala lain mampir. Ada masa dimana dua minggu sekali saya pasti ambil darah, diambil serum putihnya, lantas dicampur campuran obat, dan harus diteteskan mata sejam sekali. Saking pusingnya, sering  malam saya hanya bisa menangis diam-diam, sambil melihat muka Shira, menciumi wajah dan kening dia. Pikiran buruk mampir, panjang umur gak ya saya. Saya cuma ingin mendampingi Shira sampai dia dewasa, saya juga gak mau merepotkan dia karena tua sakit-sakitan. Sedangkan umur segini aja, dokter jadi langganan saya. Itupun gak juga sembuh.

Meski awalnya mengutuk, menggugat, menyalahkan diri sendiri, you name it. Tapi sekarang saya malah bersyukur. Bersyukur karena pernah dikasih sakit (Catatan: sekarang alhamdulilah semua membaik, meski berobat masih jalan dengan dosis yang terus menurun). Kalau karena gak sakit, mungkin gak akan ada dorongan dari diri saya untuk sembuh. Gak akan ada kesadaran bahwa kesembuhan dan menjadi sehat adalah tanggung jawab saya. Percuma minum obat, kalau saya masih gampang stress. Percuma minum obat kalau gaya hidup saya masih gak diperbaiki. Obat bukan satu-satunya penyelamat untuk menyembuhkan. Diperlukan upaya holistik dari diri kita, untuk jaga kesehatan. Kalau sudah merasakan sakit dan gak enaknya sakit-sakitan, dijamin sadar bahwa sehat itu mahal.

Pernah gak berpikir, ilmu pengobatan berkembang dengan sangat cepat tapi kenapa orang yang jatuh sakit justru terus bertambah? Sebetulnya semua simple kan? Tubuh punya mekanisme sempurna untuk menyembuhkan diri. Istilah kerennya sih homeostasis. Tapi kita sendiri yang mengabaikan sinyal tubuh. Sakit menelan sedikit, obat. Maag sedikit, obat. Sama seperti saya dulu, sombong dan yakin semua bisa pakai obat. Buktinya?

Kalau gak karena sakit, saya gak akan sadar itu. Saya gak akan sadar bahwa untuk tetap muda, tetap sehat, membangun minat banyak hal, dan tetap positif, semua berhubungan untuk menjadi diri kita yang lebih baik. Keseimbangan, itu kuncinya. Klise sih, body and soul, tapi memang bener. KIta aja yang suka skeptis. Menggampangkan. Ambil cara instan. Padahal semua proses kan. Semua juga pilihan. Betapa sayangnya kehilangan hidup yang pendek dan berharga ini, kalau waktu kita habis dengan sakit-sakitan, lemah tenaga padahal cara hidup sehat sebetulnya tertera dalam garis hidup kita kan? Sesederhana ini pikiran saya setelah lelah digempur sakit. Sembuh perlu motivasi dari saya sendiri.

Pantas saja saya dulu sakit-sakitan. Bagaimana enggak.  Selain makan semaunya tanpa mikir efeknya untuk tubuh, saya juga sempat  lupa bersyukur, sempat fokus pada hal-hal negatif. Rasanya yang saya kejar semua tolak ukurnya materi (sempat loh begini beberapa tahun belakangan, terutama sejak kantor idaman itu beku beroperasi.). Anehnya, ketika pekerjaan dan jabatan yang saya mau ada di tangan, kok saya masih merasa  ada aja yang kurang. Padahal hidup sudah dimudahkan untuk saya.

Berkat sakit, saya format ulang hidup saya perlahan-lahan. Apa sih yang penting dalam hidup ini? Darimana sumber kebahagiaan saya sebelumnya? Kemana diri saya yang positive thinking, kok saya kehilangan diri saya sendiri akhir-akhir ini? Saya mikir, sejak itulah rasanya sakit silih berganti mampir. Artinya, ada yang salah dengan cara pandang saya terhadap hidup dan diri saya sendiri kan? Ternyata semua sederhana kok. Saya sendiri yang ‘sempat’ membuatnya rumit.

Pelan-pelan semua terbuka. I feel better, my head is clearer. I’m healthier and happier.  Miraculously and slowly, I see a better horizon. Surely with best effort to take one step at a time to make a better version of me.

Makanya saya jatuh cinta dengan yoga. Yoga gak hanya menyembuhkan saya secara fisik perlahan-lahan, tapi juga mengajari saya untuk fokus, persistent, mendengarkan sinyal tubuh dengan lebih baik, aware better with sign in this universe.  Yoga mengasah agar saya terus menjaga sikap hidup positif, seperti kotak ajaib yang saya datangi kalau sedang galau, lelah, cemas, kalut atau marah. Ada yang bilang yoga is meditation in movement. Hell yeah, it is! Saya juga sudah sejak akhir tahun lalu disiplin makan mentah setiap hari, karena saya hanya ingin lebih sehat, memperbaiki tubuh saya sendiri dengan cara alami, sekaligus menyeimbangkan setiap aspek kehidupan saya.  Tentu saja saya masih makan nasi dan kawan-kawan alias cooked food, namun diseimbangkan dengan porsi makanan mentah yang mengandung enzim alami untuk imunitas tubuh. Balance. Apakah ada hasilnya? Tentu saja. Tidak ada upaya yang sia-sia. Bukan begitu?

Sekarang saya mudah bahagia. Murahan sekali malah :P. Masak bersama di dapur dengan suami dan anak. Jalan pagi keliling kompleks, lantas mampir membeli pepaya dan nanas di tukang buah. Cekikikan dengan teman perempuan. Melihat hasil kreasi tas menuai pujian. Pergi dengan Shira berdua ke toko buku-bersendal jepit, kemudian pulangnya beli eskrim dan berbagi berdua. Ngobrol sama mantan pacar sepulang kerja, lantas mampir ke Sandwich Bakar untuk dinner berdua saja. Baca buku baru. Pulang dari salon. Latihan yoga. Sepatu baru (halaah :D). Liburan sama sepupu. Belanja tanpa mandi ke pasar ,bertiga saja, lalu sarapan dimsum. Berpelukan di tempat tidur sama Shira dan mantan pacar sambil saling mengucapkan ‘I love you’. Mengajak Ibu dan Bapak makan malam di malam minggu. Hunting barang antik. Menulis. Mendengar kisah teman-teman perempuan hebat itu. Berkenalan dengan orang-orang baru. Eksplorasi ide. Mengisi waktu sebaik mungkin. Bekerja sepenuh hati.  Menjalani hidup dengan passion and purpose. 

Hati yang bahagia adalah obat.

I haven’t fully recovered, yet. But here I am, trying to do my best to live a life to the fullest to make all my chakras balanced. Happiness is simple. Life is simple. God-given blessing is simple. It’s only take simple heart to realize that we’re all fully-simply blessed.

Carpe diem. Carpe noctem.

Tentang Si Mantan Pacar

Kemarin saat makan siang, saya bertemu seorang teman yang (kebetulan) bisa baca tarot. Hihihi. Iseng dong ya, langsung aja saya colek dia supaya mau bacain tarot. Apa yang minta ‘dibacain’? Standar lah, pekerjaan, bisnis, keluarga. Yang paling Gong adalah waktu dia bilang “Suami kamu tuh sabar banget ya, dia itu jadi seseorang yang selalu ‘mendinginkan’ kamu saat sedang kesulut bensin”. 😛

Sebetulnya apa yang teman saya bilang itu sudah gak aneh. Gak ada kok yang yang kenal kami, bilang: Inka itu sabar banget *uhuk*.  Karena memang enggak (kaca di rumah besar kok, jadi saya sadar diri :D). Seluruh dunia tau, siapa yang sangat ekspresif dan seperti buku terbuka untuk masalah emosi dan perasaan. Seluruh dunia juga rasanya tau siapa makhluk penyabar dan tenang yang selalu berhasil membuat saya ikutan (sedikit) lebih ‘tenang’. *ngakakKUnti*

Tapi sepulang pertemuan makan siang itu, saya jadi kilas balik bagaimana hubungan kami berdua. Buat saya, si mantan pacar ini bukan sekedar suami, atau Bapak-nya Shira. Si mantan pacar ini, juga solid rock, tempat konsultasi, teman terbaik, teman berdebat, partner kreatif yang selalu ada kapan pun saya membutuhkan dia. Tanpa saya harus bilang, entah kenapa sepertinya ‘tangan’ dan ‘bahu’ dia selalu ada, mengenggam dan mengalirkan kekuatan, untuk menumpahkan kekesalan, atau mengalirkan inspirasi.

Lalu teringat lagi saat saya meeting malam-malam 2 hari lalu dengan beberapa teman yang kebetulan kenal baik dan pernah satu kantor dengan saya dan suami saya. Si teman ini tahu lah, apa saja kegiatan-kegiatan saya selama beberapa bulan terakhir ini yang mungkin membuat saya harus loncat dari satu tempat ke tempat lain.  Sebelum meeting, saya juga baru saja taping untuk acara resensi buku. Dia memberikan pujian bagaimana saya bisa mengerjakan beberapa hal sekaligus dengan passion, sehingga kok ya’ dimata dia saya bekerja dengan senang hati dan dengan tenang bisa melakukan beberapa hal berbeda.

Tanpa disadari, kata-kata meluncur dari mulut saya, dan ujung-ujungnya semua bermuara pada kekuatan dan kebesaran hati satu orang. Iya, si mantan pacar.

Bagaimana tidak, Saya bisa mengerjakan ini semua, karena di belakang saya ada si mantan pacar. Dia itu sumber kekuatan dan inspirasi saya. Dia-lah sesungguhnya yang berperan besar mendorong saya menemukan passion, kesenangan, dan purpose in my life. Dia-lah yang dengan sabar mendengarkan segala imajinasi dan ide saya yang berloncatan dari satu ke yang lain, dia juga yang membantu saya fokus menemukan yang saya mau.

Tanpa dia, saya tahu saya gak akan bisa begini. Bahkan untuk urusan Nyai pun, dialah yang berperan besar di balik ini semua. Dari mulai modal, dorongan untuk memulai, suntikan kepercayaan diri,  bahkan menjadi tempat diskusi ketika Nyai sudah mulai berjalan tertatih dan kemudian jatuh dan bangkit lagi. Mungkin saya yang menjalankan, tapi sebenarnya ada partner ‘bayangan’ yang senantiasa memberikan pandangan dan masukan untuk saya. Konsep kreatif, visual communication, perencanaan ke depan, semua bisa pelan-pelan terwujud karena ada ‘invisible hand‘ si mantan pacar.

Entah kenapa, dia juga sumber kepercayaan diri saya sebetulnya. Mau melakukan sesuatu yang baru, mengambil keputusan penting dalam hidup, masalah pekerjaan, rasanya gak pede betul tanpa saran dan masukan dia. Kalau orang melihat saya sebagai orang yang PD, well…. hihhi, sebetulnya salah. Ada banyak waktu dimana saya gak yakin bisa atau mampu. Dan orang yang dengan sabar mendengar gerundelan saya, lantas menyuntikkan serum PD, ya siapa lagi kalau bukan mantan pacar.

Somehow, he’s my life changing secret. Untuk hal sederhana ya, dulu saya mana PD pakai baju warna bright, atau sepatu centil. Sekarang? Jangan tanya. Berkat dia juga, sekarang si Naked Palette jadi senjata sehari-hari yang membuat saya senang dan jatuh cinta dengan efek yang ditimbulkan. Ada banyak transformasi diri saya, yang gak akan terjadi tanpa dorongan si mantan pacar. Dari mulai hal dan keputusan besar, sampai hal yang remeh temeh macam pertanyaan: baju ini bagus enggak?. Saya lebih berani bereksperimen dengan penampilan, lebih mantap untuk mencoba sesuatu yang baru, lebih PD akan kemampuan saya sendiri, lebih yakin bahwa saya bisa, bahkan lebih santai menjalani hidup. Entah bagaimana, tanpa paksaan ataupun marah-marah, dia bisa membuat saya terdorong melakukan yang terbaik. Bukan buat siapa-siapa, tapi buat diri saya sendiri. Tanpa harus melarang, dia bisa membuat saya berpikir dua kali kalau mau ‘aneh-aneh’. Saya menemukan  jati diri , karena dia justru membebaskan, tidak menuntut,  dan tidak membatasi gerak langkah saya. I could be my self, completely just the way I am, nothing less and nothing more.

Dia selalu bilang: “Hidup ini bukan matematika. Jalani dan yakin. Semua akan mungkin kalau kamu yakin, dan aku yakin kamu bisa. It’s all in your head. Bersyukur, karena Tuhan sangat baik sama kamu dan sama kita

Without him, I would be a static person who is clueless finding her passion and purpose. Thanks, hun. Mi lop yu!

Senjata Rahasia

Setelah merasakan gak enaknya sakit-sakitan (hipertiroid, mudah flu-demam-batuk, maag pula) nyaris 2 taun belakangan, tekad pun semakin kuat untuk terus menjaga kesehatan. Sehat itu mahal jadinya kalau sudah merasakan gak enaknya sakit dan bolak-balik dokter sampai sekarang untuk maintain hormon tiroid yang demen naik-naik ke puncak gunung. Masa sih dikit-dikit mau obat lagi hanya karena flu atau demam. Apa jadinya timbunan bahan kimia di tubuh saya kan? Cukup hipertiroid aja yang membuat saya harus minum obat setiap hari. Mari cari cara alami untuk menghalau penyakit-penyakit yang lain. Bukan begitu, bukan?

Salah satu senjata saya adalah….. *drumroll*…….

Photo courtesy of: Wolipop.com

Yes. Lemon. Setiap pagi, bangun tidur saya minum air perasan lemon yang dicampur air hangat dan madu.  Gak takut maag? Enggak tuh.  Yang jelas maag saya berangsur hilang. Sudah lebih setengah tahun ini saya bebas flu, sakit menelan dan batuk. Memang sejak tau dashyatnya lemon, setiap mulai sakit menelan, saya hajar aja sama air campuran lemon lebih sering. Ajaib, sakit menelan hilang tanpa obat (hasta lavista FG troches dan kawan-kawan), tanpa diselingi batuk atau flu sesudahnya. *joget*

Rupanya, lemon ini memang buah kecil sejuta khasiat. Terutama untuk kinerja liver.

“A.F. Beddoe, author of Biological Ionization as Applied to Human Nutrition, writes that the liver can make more enzymes out of fresh lemon juice than from any other food.”

Gak cuma itu, lemon juga mencegah konstipasi, mencegah flu dan demam, membantu menjaga kadar bakteri jahat di tubuh sehingga otomatis meningkatkan imunitas tubuh tentunya.Gak usah khawatir maag, karena lemon saat dikonsumsi justru menjadi basa, walhasil akan membantu menghilangkan heartburn, belching dan bloating. Dashyat kan?

Senjata lainnya apa? Ini dia….

Itu dia  si apple cider vinegar. Saya pake Bragg, karena raw dan unfiltered atau non distilled.  Memang harganya
lebih mahal, tapi yang clear-distilled itu gak ada khasiatnya buat kesehatan.Kenapa? According to http://www.pioneerthinking.com adalah begini katanya:

“Look for ACVs that have been cold pressed and made from whole, organically grown apples, with no added chemical preservatives, and in which the ‘mother’ of vinegar liquid has been retained. This ‘mother’ substance, as it is lovingly known, is the gelatinous liqueur that is naturally formed during the final fermentation process.This milky, cloudy, and stringy looking stuff at the bottom of the container is what contains the healthiest part of the mixture. It also lets you know that the important vitamins, minerals, enzymes, and naturally occurring good bacteria have not been compromised due to over processing, filtration, or excessive heating’.


Bau si apple cider vinegar alias ACV ini emang gak enak. Setiap saya buka botol ini, Shira langsung teriak “Ibu, bau apeeek!” :D. Kalau diminum begitu saja juga gak baik buat gigi. Makanya dibuat campurannya, 1 sdm ACV plus air hangat dan madu. Dijamin enak, rasanya mirip-mirip lemonade jadinya, apeknya juga hilang. Bisa diminum during meal as extra digestive power, atau sesudah makan. Kadang sehabis yoga sore, saya buat campurannya dengan es batu sedikit. Seger banget.Atau buat salad dressing dari campuran ACV, bawang putih, minyak wijen, garam dan perasan lemon.

Khasiatnya apa sih si ACV ini? Menghilangkan toksin dan membunuh bakteri jahat. Ujung-ujungnya ya meningkatkan imunitas tubuh. Konsumsi regular akan meningkatkan derajat keasaman tubuh, sehingga kondisi bakteri jahat dan baik akan seimbang. (Begitu kira-kira dalam pemahaman saya sebagai orang awam. Kalau mau lengkap mah cari ke mbah google aja ya :D). Bahkan sebenarnya khasiat ACV ini sudah dikenal sejak 3000 tahun sebelum Masehi. Saat itu Hippocrates bahkan menjadikan ACV untuk pengobatan.

So, apple-cider-vinegar with ice, or glass of lemon with honey. Anyone?

Konser Pertama Shira

Hari Minggu lalu, Shira konser musik untuk pertama kali bersama sekolah musik dia di Yamaha Sincere Music School, di WTC BSD. Berhubung sekelas dia masih anak piyik-piyik, maka Shira bertiga tampil dengan teman sekelasnya, gak sendiri-sendiri seperti kelas lain yang lebih senior. Tapi tetap aja, ibunya harap-harap cemas. Grogi gak ya, bisa gak ya dia, berani gak ya, atau jangan-jangan mogok gak mau naik panggung. Sambil nangis guling-guling *lebay*

Eh rupanya, kekhawatiran ibunya gak beralasan. Dia cuek aja tuh, tampil dengan muka lempeng. Lagu “See You Tomorrow” yang sederhana dan simple banget itu, dia mainkan dengan mulus diatas organ. Hihihi. Malah dia justru ‘grogi’, ketika ibunya sibuk mengabadikan dengan Tab  saat ia akan tampil. Kata dia “Aku gak mau difoto!”. Oke deh, Nak.  *pissss*

Haruuu rasanya melihat dia naik panggung dan main  dengan berani. Rasanya waktu berjalan dengan amat cepat. Rasanya baru kemarin dia bayi kecil, tau-tau sekarang sudah berani tampil di panggung. Semoga aja dia konsisten dan semangat latihan terus (jangan kayak Ibu ya Nak. Dulu les piano saat menginjak SMP, sering bolos. Teman sebangku disuruh telpon ke tempat les, mengaku kalau Inka sakit jadi gak bisa les. Ooopps  #jitakNih)

Yang bikin makin terharu, karena di rumah sebenernya belum ada piano. Saya sama mantan pacar sepakat, akan beli piano kalau Shira terlihat suka dan gak terpaksa untuk les piano (kita gak mau maksain kalau dia gak mau. Sudah beli, tau-tau Shira gak suka dan emoh latihan piano, huwaaa, dompet bisa menjerit kencang 😀 :D).

Jadi 3 bulan kemarin itu trial juga buat Shira, dia akan terus semangat gak latihan musik.  Lalu gimana caranya Shira latihan? Hihihi. Namanya anak kecil ya, meski dengan keterbatasan, dia semangat loh mengulang lagu yang diajarkan di tempat les dengan…… *drum roll*…..  pianika bekas ibunya jaman SD dulu!! (vintage booo).

Sesudah konser dan melihat dia happy, rasanya kekhawatiran dia gak suka les musik, pupus sudah. Dan memang selama 3 bulan ini, dia selalu semangat berangkat les musik. Sesudah konser kita tanya sama Shira, masih mau les piano? Dia mengangguk mantap. Mau! Aku suka les musik!

Oke Nak, sabar ya. Insya allah kita akan carikan piano secepatnya. Consider this as our gift for you being so brave and diligent these past few months. Mi lop yu!