Jurnal Nyai

Akhirnya, sedikit-sedikit yang kita nantikan mulai ketahuan wujudnya. Saat ini kumpulan cerita soal Nyai yang sebelumnya kerap saya tulis disini, bisa dilihat di jurnal:  www.nyai.co . Yuk sila mampir kesonoh 😛

Jadi si alamat diatas, akan khusus menjadi tempat untuk menyimpan stories behind Nyai Indonesia. Hal-hal sederhana, yang semoga menjadi kisah tersendiri buat saya untuk mengenang perjalanan Nyai. Bahwa bisnis ini dibentuk bukan sekedar iseng, tapi ada pencapaian yang ingin dituju. Bahwa Nyai juga bukan sekedar mesin uang, tapi wadah berkarya dan berdaya. Nyai bukan sekedar jualan tas, tapi sarana menyalurkan kesenangan. Tempat menemukan passion. Kesenangan menuangkan ide, bertemu orang baru, menulis bahkan bermimpi. Menulis soal Nyai, jadi sarana saya menjaga energi positif. Seperti suntikan energi yang terus memompa semangat untuk terus bergerak.

Ada banyak rencana yang saya inginkan pelan-pelan bisa terwujud, bukan hanya jadi bakul tas. Meski Nyai menjadi ‘gerbang-nya’. Bukan masalah berapa X Rupiah yang akan saya dapatkan. Saya percaya rejeki akan ngikutin kok kalau kita patuh pada komitmen. Sankalpa, istilah sanskritnya. Tapi lewat Nyai, saya juga pengen berbagi energi positif (yang mikir negatif pasti bilang: banyak cingcong deh Inka 😛 :P). Energi positif itu bukan karena saya adalah manusia paling positif sedunia. Justru banyak jatuh bangun dengan Nyai ini, perasaan yang teraduk-aduk dan lelah luar biasa (lebayyy deh looo :D). Tapi Nyai mengajarkan saya untuk: ayo terus berpikir positif dan optimis, sesusah apapun dan seberat apapun. Bahwa pasang surut itu kehendak alam. Dinamika itu pembelajaran. Berpikir positif itu menguatkan komitmen.  Muaranya apa? Kembali pada passion and purpose. My passion and purpose.

Yang jelas, Nyai banyak membuka mata saya. Saya banyak dipertemukan orang-orang dengan energi positif dan semangat luar biasa, serta penuh komitmen pada apa yang mereka kerjakan. Ada teman lama, ada juga kenalan baru. Secara gak langsung, telunjuk kasat mata mereka menunjukkan jalan pada saya. Mengingatkan saya. Pertemuan-pertemuan dengan mereka selama perjalanan seumur jagung itu anugerah yang gak kenilai uang. Saya belajar banyak sama mereka.

Jadi, jurnal Nyai akan jadi medium untuk kotak memori itu. Semoga bisa bermanfaat untuk menebar energi positif, sekecil apapun itu. Apapun bentuknya.

Kudos to you, people. It’s an honour to meet you all. You know who you are.

Baby, don’t grow up too fast…

Tahun ini, si anak kecil masuk TK. Sebelumnya dia masuk Kelompok Bermain dekat rumah, tinggal ngesot, sampe deh. Gak perlu bangun terlalu pagi, berangkat juga bisa jalan kaki. Tapi tahun ini kami memutuskan memasukkan dia ke sekolah lain masih di sekitar BSD juga. Akhirnya, jadilah Shira masuk Santa Ursula. Pertimbangannya, dia bisa lanjut terus sampai SMA karena Santa Ursula BSD ada hingga jenjang pendidikan SMA.

Jaraknya sih gak jauh dari rumah, hanya sekitar 20 menit. Kita putuskan Shira ikut antar jemput. Praktiknya, tetap aja kebat-kebit. Berhubung si Oom Hendri yang punya usaha antar jemput ini tetangga yang rumahnya berjarak sekoprol, si anak kecil dijemput paling pertama. Jam 6 lewat 10. Walhasil setengah 6 lewat, anak kecil sudah dibangunkan. 3 hari pertama, dia masih diantar saya hingga ke kelas, meski saya juga ikut antar jemput biar dia biasa dengan kebiasaan baru ini. Tapi peraturan sekolahnya, hari keempat dan seterusnya, pengasuh atau orangtua cuma bisa antar hingga gerbang TK.

Dan, di hari ke 4, kita putuskan Shira berangkat sendiri tanpa diantar siapa-siapa, hanya dengan ikut antar jemput. Oom Hendri ini orangnya telaten, dia memastikan Shira sampai dengan selamat masuk kelas, dan menunggu di gerbang saat menjemput. Sebelumnya kita tanya: “Kamu berani gak?”. Si anak kecil mengangguk mantap, tanpa ragu dan penuh percaya diri.

Dan hari pertama dia berangkat sekolah sendiri, sukses. Gak menangis, gak merengek. Malah neneknya cerita, pulang sekolah dia sumringah betul sambil bilang “Besok aku berangkat sendiri lagi ya, Ni. Nini gak usah ikut aku ke sekolah”.

Pagi tadi ritual berlanjut seperti biasa. Bangun setengah 6 lewat, dengan muka ngantuk dan menguap lebar berulang kali. Seperti biasa juga dia minta ibunya yang memandikan (meski dalam hati malaaas rasanya. Ibunya ngantuk, pengennya selimutan aja sampai waktunya mandi #plaaak). Pagi ini dia agak susah dibangunkan, karena pengasuh laporan sehari sebelumnya dia tidur siang hanya sebentar. Dalam hati, saya kasihan juga. Kita aja sebesar ini, kalau kurang istirahat bangun pagi kan perjuangan.

“Shira mau gak sekolah hari ini?”

“Enggak, mau kok. Aku hanya ngantuk sedikit aja. Aku mau sekolah…”

“Oke nanti di mobil jemputan tidur aja ya?” saya menjawab dengan sedikit cemas. “Atau mau diantar aja sama Ibu, gak ikut Oom Hendri biar gak berangkat terlalu pagi?”

Dia menggeleng kuat. “Enggak bu. Aku bisa sendiri. Aku kan sudah besar. Aku kan wo-meun (woman :D), bukan girl”. Dia menjawab mantap, penuh tekad. Tak lama dia melangkah  masuk mobil jemputan tanpa keraguan, dengan ransel di punggung. Saat mobil melaju perlahan meninggalkan rumah, si anak kecil membuka jendela, berteriak bahagia sambil bilang “dadah Ibuuuu….”

Hati ini bercampur antara bangga, haru, sedih, bahagia. Anakku sudah besar. Sudah menunjukkan kemandirian dan keberanian di usia semuda itu. Sudah pelan-pelan menyadari, bahwa sekolah itu menjadi ‘kewajiban’ yang mau tidak mau harus dijalani. Semoga sampai besar dia terus menyadari, bahwa komitmen adalah hal penting dalam menjalani hidup, seberat apapun. Hati ini mencelos.

Baby, don’t grow up too fast. I still remember that memory of me holding your warm body with those tiny fingers and toes linger. As if it was yesterday. Be brave baby girl. Be wise choose your path. Be smart embracing life.  You’ve grown, and you will grow, but you always be my baby….

Sankalpa

In oneself lies the whole world and if you know how to look and learn, then the door is there and the key is in your hand. Nobody on earth can give you either the key or the door to open, except yourself.’ Krishnamurti in ‘You are the World’.

What is the word Sankalpa means?

Resolve, determination and good intention When you set intention, the universe respond. Perhaps it’s what we’ve known as law of attraction.

And today, I’m getting more and more believe the power of having good-positive intention. Perhaps other people take it the wrong way. Let them be. As long as you realize, that you mean no harm. As long as you believe that everything is for the good purpose.

Lalu?

Ketika berulangkali saya ucapkan ‘mantra’, akan ada jalan keluar, tetap bergerak dan terus bergerak, jangan menyerah dan terus melangkah. Ketika terjatuh, jangan lupa bangkit lagi. Hari ini pula dua kabar baik datang untuk membuka jalan lebih lebar. Tidak disangka-sangka dan membuat nyaris tidak percaya. Komitmen dan niat-tujuan baik tidak pernah salah.  Kepercayaan datang dengan sendirinya karena kita yakin akan tujuan. Positivity brings positive vibe. Alhamdulilah.

Kebulatan tekad. Menetapkan hati  untuk tidak mundur saat kesulitan muncul di tengah jalan, dan tidak berhenti sebelum maksud yang diinginkan terwujud. Menetapkan hati untuk menjalani komitmen hingga titik terakhir.

As is your desire so is your intention. As is your intention so is your will. As is your will so is your deed. As is your deed so is your destiny.

Sankalpa.

Gratitude

When you look at your life, the greatest happinesses are family happinesses.  ~Joyce Brothers

Sesibuk apapun, sepusing apapun ketika harus menyelesaikan pekerjaan dan kewajiban ataupun things I considered as ‘moral obligation’, semua punah sudah ketika berada di rumah. Semua kepusingan dan ‘otak’ yang sibuk rasanya hilang, menguap dengan cara sederhana.

Hanya dengan pulang ke rumah. Disambut pelukan terhangat si gadis cilik. Ciuman-ciuman kecil di bibir, pipi dan dahi, lalu mulut mungilnya mengucap “aku kangen Ibu”.

Lantas kami bertiga masuk ke rumah, diiringi senyuman lebar dan mata berbinar si gadis cilik yang bahagia betul orangtuanya tiba di rumah saat ia belum tidur. Lalu celotehan di ruang makan, hanya kami bertiga. Mungkin sesekali ada Ibu mampir meramaikan suasana malam di meja makan. Berlanjut dengan ritual mendongeng, diiringi pertanyaan bertubi dari si gadis cilik yang cerewet bukan kepalang. Lalu ia minta tidur ‘disayang-sayang Ibu’. Tak lama ia tertidur , memeluk guling, menyambut alam mimpi dengan senyum. Lantas malam berlanjut dengan obrolan di depan tv. Saya dan dia.

Semua sudah cukup. Kebahagiaan sederhana yang melebihi apapun di dunia. Semua ada di rumah. Bukan dimana-mana. Deo Gratias.

To us, family means putting your arms around each other and being there.  ~Barbara Bush

Stop searching. Happiness is right next to you. – Anonymous

Hasta La Vista My Bag!

Sudah dua kali, tas dengan batik twist yang saya gunakan, ‘dirampok’ perempuan-perempuan nan kejam. Yang pertama saat saya sedang buka lapak di markas salah satu Cagub. Satu ‘perampok’ yang hamil besar (hihihihi, peace mbak Kiki), setengah memaksa membeli tas saya. Padahal tas itu sudah dipakai loh. Dia gak peduli. Walhasil selain beberapa tas laku keras, saya juga harus merelakan tas (Nyai) milik saya dirampok 😀

Kejadian kedua, terjadi Senin lalu. ‘Perampok’ yang satu ini bahkan nekat mengeluarkan semua isi tas saya, memindahkannya ke tas promo, melenggang membawa tas saya, dan kembali dengan amplop berisi uang. 😛 . Padahal saya sempat tawarkan, saya buatkan dengan batik lain. Dia gak mau. Saya bilang juga, tas ini sudah saya pake. Biarin, dia bilang gitu.

Mulanya gak rela betul, karena tas yang saya pakai saat itu didesain khusus dengan batik tulis koleksi pribadi. Huhuhuhu. Tapi akhirnya berpikir, itu kan rejeki. Positifnya, berarti tas buatan kita ‘kena’ ke selera pasar kan? Ya sudahlah, semoga dia baik-baik saja.

Tapi tas yang satu ini, entah kenapa memang suka jadi perhatian orang (cis, GR!). Padahal saya eksperimen waktu buat loh, demi kepuasan pribadi. Waktu saya ke Living World, ada mbak-mbak komentar, tasnya bagus. Lalu sehabis meeting di PS, ada dua ibu-ibu paruh baya, sampai  menghampiri dan menanyakan “Mbak tasnya beli dimana?”. langsung deh ya bakul tas promosi kasih tau website Nyai. 😀

Itu dia tas dan sepatu flat buat personal collection. Keduanya, beberapa minggu belakangan jadi senjata di kala jalan-jalan santai akhir pekan. Huffft. Sekarang hanya sepatu saja yang jadi teman jalan-jalan. Semoga si tas-kuning-centil itu baik-baik di tangan pemilik baru ya. Huhuhuhu

Siapkah Mental Saya?

Nyai, tergolong masih bayi. Usianya, sejak diluncurkan resmi akhir November lalu, masih hitungan bulan. Awal-awal, rasanya gak ada yang terlalu sulit ya. Alhamdulilah produk kita yang skalanya masih terbatas ini, bisa diterima pasar dengan baik. Beberapa konsumen, bahkan menjadi pelanggan setia.  Bahkan ada satu konsumen yang total membeli 14 tas Nyai! :D. Para konsumen setia ini, sekarang bukan hanya jadi pelanggan saja, tapi juga menambah kenalan baru yang akhirnya kerap saling menyapa dan chat via BBM. Alhamdulilah…

Tapi, jangan cuma mau enaknya dong. Naik turun, itu pasti dialamin oleh siapapun yang menjalankan usaha. Terlena karena beberapa kali meluncurkan koleksi baru, dan cepat laku, koleksi terakhir kok ya ‘agak sepi’. Bahkan penjualan 2 minggu lalu, jadi rekor terendah selama satu minggu. Pusing kepala rasanya liat stok sebanyak itu di workshop.

Tapi memang bener ya, masalah itu justru yang melatih otak kita melar kaya karet. Cari akal, putar otak. Akhirnya saya beranikan diri aja menggarap reseller. Meski masih hitungan jari, dan teman sendiri. Mulailah memberanikan diri menaruh barang sama mereka, yang alhamdulilah semangat jualan, karena awalnya mereka ini adalah pelanggan Nyai yang sudah beberapa kali membeli tas kita.

Putar otak lagi. Mencoba menganalisa, mungkin karena peluncuran koleksi kemarin kan bersamaan dengan liburan anak sekolah dan menjelang tahun ajaran baru. Banyak teman dan konsumen menanyakan koleksi Nyai berkata, ingin punya koleksi Nyai, tapi beberapa ujungnya bilang: “ntar deh abis anak masuk sekolah”. Artinya apa? Penjualan dan promosi gak bisa mengandalkan hanya via online saja. There’s gotta be another way to boost up sales.

Entah bagaimana, adaaa aja ‘kindest soul‘ yang menjawab kepusingan. Tiba-tiba beberapa teman BBM, minta datang ke kantor mereka lengkap dengan segabruk tas Nyai. Tanpa pikir panjang, saya pun datang. Atur waktu, jam makan siang atau pulang meeting, saya datangi kantor-kantor, bahkan tanpa malu datang ke arisan. Persis inang-inang betulan. 😛 😛 . Gak pake gengsi. Gengsi sih kelaut aja. Gak malu ama anak buah? Ah, saya suka kok menjalaninya.

Dan betul, setiap usaha, sekecil apapun gak akan sia-sia. Alhamdulilah, penjualan pun naik lagi. Pesanan juga berdatangan. Jadinya, kegiatan yang satu ini rasanya patut dijadikan bagian marketing strategy. Jemput bola. Masih banyak juga ibu-ibu, mahmud-mahmud, yang gak sreg kalau gak lihat dan pegang langsung barang, bukan? Meski margin keuntungan berkurang karena ada reseller fee, tapi saya mencoba berpikir begini: anggap saja ini ongkos promosi, sekaligus bagi rejeki sama sesama perempuan kan? Gak ada ruginya.

Yang sempat bikin makin pusing, ada konsumen (teman sendiri) yang sempat gak bayar sekian banyak tas hingga 2 bulan. Ditagih, berkelit dan kasih alasan terus. Marah, kecewa, takut campur jadi satu. Kok teman tega ya?

Lihat tas menumpuk, konsumen gak bayar, belum lagi ada yang hit and run, sudah pesan lantas menghilang tanpa kabar berita. Lengkap sudah kepala saya cekot-cekot saat itu. Sempat kepikiran yang enggak-enggak, kalau barang pada gak laku, bagaimana ceritanya?  Tapi untunglah, pelan-pelan ada jalan keluar dan orang-orang berhati malaikat yang mengulurkan tangan mereka. Menunjukkan jalan keluar. Bahwa sebetulnya jalan keluar itu ada, saya cuma perlu disadarkan aja *plaaak* .

Mungkin mereka gak tahu, bagaimana tindakan yang sepele itu, bisa membangkitkan optimisme saya ke langit ketujuh. Ketika pulang jadi inang-inang, dan tas laku, saya sampai pengen nangis *lebay*.  Dan ternyataaaa, jadi inang-inang dari satu tempat ke tempat lain itu menyenangkan. Bukan cuma tas kita laku. Tapi ada bonus tambahan: dapat kenalan baru.

Ternyata kita cuma perlu yakin, karena ketika kita yakin, jalan keluar itu terbuka pelan-pelan. Meski sempat sih dalam hati kebat-kebit dan harap-harap cemas, takut dan khawatir. Boong kalau enggak.

Menjalankan usaha itu memang gak boleh menyerah. Itu saya cantumkan di otak berkali-kali.  Setiap hambatan, harus cari jalan keluarnya. Kalau gak ada kejadian kemarin, otak saya gak bakal ‘melar’. Gak akan tuh kepikiran menjalankan strategi lain, yang mungkin bisa dipertimbangkan untuk dilakukan. Lalu, kalau gak ada konsumen kabur, mungkin saya gak akan sadar bahwa menjalankan bisnis itu harus hati-hati. Mau sama teman kek, bisnis adalah bisnis. Kehati-hatian mutlak dijalankan.

Bagian tersulit, rasanya bukan bagaimana menjalankan usahanya. Tapi bagaimana mengasah mental, agar terus optimis. Menyederhanakan rasa agar terus berhati-hati dan menjalankan usaha dengan hati. Karena saya yakin betul, kebaikan dan hati akan mendatangkan kebaikan lainnya. Meski kita mungkin dikecewakan orang lain.

Carpe diem. Carpe noctem

Green Juice dan Marquisa-Orange Juice

Kalau badan lagi merasa gak fit, biasanya itu sinyal bahwa keseimbangan tubuh lagi gak baik. Saya hajar dengan perbanyak istirahat, minum air putih diperbanyak, minum campuran lemon-air hangat-madu dengan frekuensi gak cuma pagi. Meski memang campuran lemon di pagi hari itu punya fungsi sebagai tonik liver saat kita belum mengkonsumsi apa-apa. Tapi…, toh lemon itu buah sejuta khasiat yang membantu meningkatkan kekebalan tubuh kita. Tapi, biasanya frekuensi minum jus non gula juga diperbanyak. Seperti 2 minggu lalu saat badan mendadak demam, dan sekeluarga pun terkena flu, saya hajar aja dengan dua jus favorit berikut ini.

MARQUISA-ORANGE JUICE

Why is it good for you?

Markisa ini salah satu sumber vitamin C terbaik, bagus untuk pelindung virus dan bakteri, sumber karetonoid, antioksidan ampuh juga. Saya suka wanginya harum, rasanya enak.  Lebih keren lagi, markisa itu menyehatkan sistem pencernaan dan kestabilan energi tubuh. Campur jeruk yang juga kaya vitamin C, mantap banget buat yang mau flu atau sudah terkena flu.

 

 

 

 

 

GREEN JUICE (MY VERSION)

Why is it good for you?

Dibuat dari campuran bayam, apel dan jeruk. Khasiatnya dashyat. Bayam itu memacu respon imun memerangi infeksi. Lalu apel punya khasiat anti inflamasi, jadi bagus buat yang sakit nelen atau radang tenggorokan dan batuk.  Jeruk? Ya kandungan vitamin C yang tinggi menjadikan jeruk bagus untuk kekebalan tubuh karena membasmi virus dan bakteri.