Siapkah Mental Saya?

Nyai, tergolong masih bayi. Usianya, sejak diluncurkan resmi akhir November lalu, masih hitungan bulan. Awal-awal, rasanya gak ada yang terlalu sulit ya. Alhamdulilah produk kita yang skalanya masih terbatas ini, bisa diterima pasar dengan baik. Beberapa konsumen, bahkan menjadi pelanggan setia.  Bahkan ada satu konsumen yang total membeli 14 tas Nyai! :D. Para konsumen setia ini, sekarang bukan hanya jadi pelanggan saja, tapi juga menambah kenalan baru yang akhirnya kerap saling menyapa dan chat via BBM. Alhamdulilah…

Tapi, jangan cuma mau enaknya dong. Naik turun, itu pasti dialamin oleh siapapun yang menjalankan usaha. Terlena karena beberapa kali meluncurkan koleksi baru, dan cepat laku, koleksi terakhir kok ya ‘agak sepi’. Bahkan penjualan 2 minggu lalu, jadi rekor terendah selama satu minggu. Pusing kepala rasanya liat stok sebanyak itu di workshop.

Tapi memang bener ya, masalah itu justru yang melatih otak kita melar kaya karet. Cari akal, putar otak. Akhirnya saya beranikan diri aja menggarap reseller. Meski masih hitungan jari, dan teman sendiri. Mulailah memberanikan diri menaruh barang sama mereka, yang alhamdulilah semangat jualan, karena awalnya mereka ini adalah pelanggan Nyai yang sudah beberapa kali membeli tas kita.

Putar otak lagi. Mencoba menganalisa, mungkin karena peluncuran koleksi kemarin kan bersamaan dengan liburan anak sekolah dan menjelang tahun ajaran baru. Banyak teman dan konsumen menanyakan koleksi Nyai berkata, ingin punya koleksi Nyai, tapi beberapa ujungnya bilang: “ntar deh abis anak masuk sekolah”. Artinya apa? Penjualan dan promosi gak bisa mengandalkan hanya via online saja. There’s gotta be another way to boost up sales.

Entah bagaimana, adaaa aja ‘kindest soul‘ yang menjawab kepusingan. Tiba-tiba beberapa teman BBM, minta datang ke kantor mereka lengkap dengan segabruk tas Nyai. Tanpa pikir panjang, saya pun datang. Atur waktu, jam makan siang atau pulang meeting, saya datangi kantor-kantor, bahkan tanpa malu datang ke arisan. Persis inang-inang betulan. 😛 😛 . Gak pake gengsi. Gengsi sih kelaut aja. Gak malu ama anak buah? Ah, saya suka kok menjalaninya.

Dan betul, setiap usaha, sekecil apapun gak akan sia-sia. Alhamdulilah, penjualan pun naik lagi. Pesanan juga berdatangan. Jadinya, kegiatan yang satu ini rasanya patut dijadikan bagian marketing strategy. Jemput bola. Masih banyak juga ibu-ibu, mahmud-mahmud, yang gak sreg kalau gak lihat dan pegang langsung barang, bukan? Meski margin keuntungan berkurang karena ada reseller fee, tapi saya mencoba berpikir begini: anggap saja ini ongkos promosi, sekaligus bagi rejeki sama sesama perempuan kan? Gak ada ruginya.

Yang sempat bikin makin pusing, ada konsumen (teman sendiri) yang sempat gak bayar sekian banyak tas hingga 2 bulan. Ditagih, berkelit dan kasih alasan terus. Marah, kecewa, takut campur jadi satu. Kok teman tega ya?

Lihat tas menumpuk, konsumen gak bayar, belum lagi ada yang hit and run, sudah pesan lantas menghilang tanpa kabar berita. Lengkap sudah kepala saya cekot-cekot saat itu. Sempat kepikiran yang enggak-enggak, kalau barang pada gak laku, bagaimana ceritanya?  Tapi untunglah, pelan-pelan ada jalan keluar dan orang-orang berhati malaikat yang mengulurkan tangan mereka. Menunjukkan jalan keluar. Bahwa sebetulnya jalan keluar itu ada, saya cuma perlu disadarkan aja *plaaak* .

Mungkin mereka gak tahu, bagaimana tindakan yang sepele itu, bisa membangkitkan optimisme saya ke langit ketujuh. Ketika pulang jadi inang-inang, dan tas laku, saya sampai pengen nangis *lebay*.  Dan ternyataaaa, jadi inang-inang dari satu tempat ke tempat lain itu menyenangkan. Bukan cuma tas kita laku. Tapi ada bonus tambahan: dapat kenalan baru.

Ternyata kita cuma perlu yakin, karena ketika kita yakin, jalan keluar itu terbuka pelan-pelan. Meski sempat sih dalam hati kebat-kebit dan harap-harap cemas, takut dan khawatir. Boong kalau enggak.

Menjalankan usaha itu memang gak boleh menyerah. Itu saya cantumkan di otak berkali-kali.  Setiap hambatan, harus cari jalan keluarnya. Kalau gak ada kejadian kemarin, otak saya gak bakal ‘melar’. Gak akan tuh kepikiran menjalankan strategi lain, yang mungkin bisa dipertimbangkan untuk dilakukan. Lalu, kalau gak ada konsumen kabur, mungkin saya gak akan sadar bahwa menjalankan bisnis itu harus hati-hati. Mau sama teman kek, bisnis adalah bisnis. Kehati-hatian mutlak dijalankan.

Bagian tersulit, rasanya bukan bagaimana menjalankan usahanya. Tapi bagaimana mengasah mental, agar terus optimis. Menyederhanakan rasa agar terus berhati-hati dan menjalankan usaha dengan hati. Karena saya yakin betul, kebaikan dan hati akan mendatangkan kebaikan lainnya. Meski kita mungkin dikecewakan orang lain.

Carpe diem. Carpe noctem

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s