Letter of The Day

Let me tell you,

I do yoga and slowly change my lifestyle, NOT because I’m obsessed of being a skinny bitch. Or to be awarded with ‘the yoga expert’ nor ‘health expert’. I’m far of being one nor planning to be one.  This is  my long journey, hence it takes  self commitment, a life time consistency. My battle still long and bumpy.

Is that wrong to be healthy or at least, trying to be healthy? Is that wrong to prepare my self facing bad situation and keep my self sane and happy despite all shit around our life? Is that odd to write down self reminder with words of wisdom, for example?

I’m sure those cynical will shut their mouth once they have autoimmune within their body or struggling to fight it. I’m sure they will keep silent once they know how it feels to be terribly sick. Or at least, to be in my shoes, I’ll let you know every inch of trying to battle your sickness.

I want to be fit and be healthy. I want to stay strong and vibrant. I don’t want to have a painful life today or days ahead because I’m sick. Aging happens, just like shit happens. But it’s my choice to prepare my self aging gracefully and happily, without feeling bad and mad towards my physical condition. Autoimmune will never stop me. I’m doing this for my self, because I know my life as well as my self are changing slowly. No other motivation except to be a better me.  I’m doing this for my daughter. To be her role model, to be there in perfect condition once she grow up. I’m doing this for him. To grow old with him without being a grumpy -sick-old- lady…

So, shut your mouth, people…  Go mock your life and your self. I’m not gonna let negative comments turn me down. Because I know my body is thanking me, and I thank my self as well. For taking care and put more attention to my self. I don’t have much to complain, because life is too beautiful and too short to live with negativity.

Feeling healthier, stronger and better, are rocks!

KIsah Tentang Hujan

Pada suatu pagi, kau datang dengan puisi-puisi Sapardi. Hujan diluar sana, bukan gerimis, sayang. Mewarnai dan memaknai hari di penghujung Juni, bahkan mungkin mengukir sakit hati, selayaknya Hujan Bulan Juni karya Sapardi. Lalu siapa yang akan “membiarkan yang tak terucap diserap akar pohon bunga itu?” Jangan tanya aku, atau paksa aku untuk mengakui. Percakapan panjang dan riuh di bilik blackberry hingga malam menyapa. Atau percakapan di dunia nyata. Tempat ramai hingga yang tersepi. Ditemani sepiring hidangan lezat atau anggur putih kesukaanmu. Dan aku, tak lupa menikmati sepiring kue coklat lezat dan hangat. Kau tak suka biar secuil pun. Tapi aku bilang, coklat ini manis, semanis senyummu, coklat ini hangat, sehangat pancaran bola matamu. Coklat ini adalah kamu

Kadang ada alunan suara Nat King Cole menemani perjalanan di ruas bebas hambatan. Semua menyisakan peta panjang di memori ingatan kita. Mungkin kau lupa? Sini, kuperlihatkan hingga ke titik terkecil di gambar itu

Malam itu, hujan datang lagi. Bukan gerimis, sayang. Lalu kau bilang “hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput. Nanti dulu, biarkan sejenak aku terbaring disini”. Aku pun membalas. Lagi-lagi dengan Sapardi, lewat puisi. “Ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput; adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi

Aku menebalkan hati, tak akan kubiarkan pagi itu datang lagi. Jahanam. Sapu itu akan kucabik saja. Biar dia terbang terbawa angin malam. Biar saja ia hilang bersama waktu. Akan kusimpan si malam dan siang, dalam toples yang kututup rapat-rapat.Lalu kubuka saat aku mau. Kau mungkin akan bertanya, mana mereka. Tak akan kujawab.

Kau mungkin tetap tak ada di genggamanku setiap waktu. Biar kususuri hingga jalan itu. Satu demi satu. Atau kuhirup wangi tubuhmu, lalu kusimpan dalam wadah memori ingatanku. Meski berulang kali, kau bisikkan lagi Sapardi lewat puisi. Seperti ini :

‘Kubiarkan cahaya bintang memilikimu
Kubiarkan angin yang pucat dan tak habis-habisnya
Gelisah tiba-tiba menjelma isyarat merebutmu
Entah kapan kau bisa kutangkap”

Jadi jangan tanyakan, sayang. Aku-lah yang tabah selayaknya Hujan Bulan Juni, karena ‘dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu‘.

Ya, hingga bulan Juli menampakkan muka, malu-malu. Cukup sampai disitu. Lantas kuserahkan saja ingatan di kepalaku, menuju perjalanan menyapa lupa.

Pics taken from blog.reflexstock.com

*   Judul diambil dari judul puisi karya Sapardi Djoko Damono.

** Beberapa penggalan kalimat dengan garis miring, diambil dari puisi karya beliau: Nokturno, Hatiku Selembar Daun, dan tentu sajaaa… Hujan Bulan Juni. Saya pinjam beberapa bait puisinya ya Pak..

Let’s Go Raw (ck)!

Pertanyaan yang sering diajukan: “apalagi sih yang mau dikurusin?”

Sekali lagi, jangan salah kaprah. Raw food itu bukan untuk diet. Namun akan membantu tubuh mencapai titik keseimbangan dengan asupan nutrisi yang cukup. Raw food juga tidak menghalalkan menghilangkan konsumsi makan malam, misalnya. Justru makan pagi, makan siang dan malam mutlak harus dilakukan. Jangan demi kurus, namun tubuh jadi mudah sakit karena kekurangan nutrisi. Justru buat saya, mengkonsumsi si mentah membantu menyeimbangkan metabolisme dan daya tahan tubuh mengingat saya pengidap auto imun. Berat badan saya perlahan naik karena tubuh dengan mekanisme sempurna-nya, didorong mencapai titik keseimbangan alami. Meski saya masih bandel juga, makan junk food sesekali, atau kue-kue enak (diselepet blender ini mah 😀 . Jangan diikutin ya… I’m still a sucker for dessert). Buat saya, kuncinya: nikmati. Kalau memaksakan, nanti kita malah terbebani. Dan gak akan terasa nikmat lagi menjalaninya.

Gak usah bingung resep-nya. Cari aja buku-buku soal salad atau food combining, atau browsing. Justru gak perlu repot masak kok. Tinggal cuci bersih, potong, atau blender, atau kocok dan aduk untuk mencampur bahan membuat dressing. Bumbunya juga biasanya seputar itu saja, simple. Maklum, masih amatiran betul. Bosen jus itu-itu saja? Atau bingung gimana buat green smoothie yang enak mengingat daun-daunan hijau jadi bahan baku yang tak boleh alpa dimasukkan dalam blender? Tanya-lah mbah google. Banyak link membuat green smoothie yang maknyus.  Ngomong-ngomong, jus sayuran ini ampuh loh menghadang flu. Kalau sudah mulai bersin-bersin, frekuensi jus aneka sayuran biasanya ditambah. Sebaiknya dihidangkan suhu ruang, dan 3 warna. Supaya lebih enak, kucurkan saja air perasan jeruk atau lemon. Kenapa jus sayuran mentah baik? Karena mengandung antioksidan dan cairan kaya tonikum yang segera membantu tubuh membentuk sistem kekebalan alami tanpa obat flu. (ini bukan kata saya, tapi kata mbah Wied Harry…)

Eksperimen juga bermanfaat kok untuk membiasakan indra perasa kita. Paling kalau ternyata gak enak, dibuang tempat sampah karena rasanya gak karuan. heheheheh 😀

Mbak Yani

Silahkan lihat foto diatas. Perkenalkan, perempuan sebelah kiri saya biasa dipanggil Mbak Yani. Asalnya dari Sragen.

Dia  kerja di rumah saya, sebagai ART yang pulang hari. Datang jam 8, jam 12 dia sudah pulang. Beres-beres, masak, mencuci dan menyetrika. Kita menggunakan jasa dia, dan kebetulan cocok. Lebih cocok dan percaya sama Mbak Yani, dibandingkan pembantu-pembantu sebelumnya yang menginap di rumah. Mbak Yani ini hebat. Perempuan sederhana, namun pintar dan cepat belajar. Sayang saja nasib menyebabkan dia hanya sekolah sampai SMP.

Kerjanya cekatan, setrikaannya rapi.  Kasih saja buku resep-resep baru sama dia, langsung dia bisa mempraktekkan dengan mantap. Tidak banyak bicara. Bersih dan resik. Struggle. Selain kerja dirumah saya, dia kerja juga di 2 rumah lain. Jadi sejak subuh sampai Magrib, mbak Yani ini kerjanya full dari satu rumah ke rumah lain. Lebaran kemarin dia memilih tidak pulang kampung. Memilih jadi infal, termasuk kerja di rumah saya, supaya dapat uang tambahan.  Suaminya satpam. Anaknya sengaja dia titipkan di kampung. “Supaya irit biaya, Bu. Anak saya harus sekolah tinggi”. Begitu dia bilang.

Karena cocok dengan pembawaan dan kerjanya yang cekatan, akhirnya kita tawarkan dia mendapat gaji dua kali lipat dari biasanya. Dengan catatan  dia kerja di rumah sampai sore, hingga saya tiba di rumah. Gak percaya aja melepas nanny baru Shira tanpa pengawasan sama sekali. Kalau ada Mbak Yani, rasanya hati ini tenang. Dia setuju, dan melepas satu pekerjaan di rumah lain. Meski sejak subuh sebelum ke rumah saya, dia masih harus mencuci dan beres-beres di rumah lain.

Nah, waktu saya pameran September lalu di FX, entah kenapa hati saya mengatakan, Mbak Yani bisa saya jajal untuk mencoba jaga pameran. Dia hanya perlu diberi kesempatan untuk belajar mengembangkan diri. Tentunya tambahan uang hasil jaga pameran lumayan kan buat dia. Awalnya MBak Yani menolak. Malu, takut, gak bisa. Pertanyaan beruntun diajukan pada saya :“Kalau ada orang asing saya kan gak bisa bahas enggres Bu. Saya gak tahu harga-harga tas jualan Ibu. Kalau ditanya tas ini dibuat batik apa, saya jawab apa Bu?”.

Saya menenangkan dia. Saya bilang, saya gak akan percaya begitu saja Mbak Yani jaga pameran kalau menurut saya dia gak mampu. Saya juga bilang, Mbak Yani harus berani dan belajar coba sesuatu baru. Uangnya kan lumayan buat tambahan kirim ke kampung. Akhirnya dia bersedia.

Sengaja saya tempatkan dia di shift sore, agar saya bisa menemani kalau kerjaan sudah selesai. Lagipula, pulangnya bisa bersama saya kembali ke rumah, mengingat rumah Mbak Yani ada di belakang kompleks.

Sehari sebelum pameran, saya beri dia ‘seragam’ inventaris pameran. Kebaya bordir dan kain batik yang saya beli di Tanah Abang. Dia bertanya dengan polos: “Bagus banget bu bajunya, gakpapa saya pakai?”. Baju dan kain itu ia elus-elus dengan tangannya dengan mimik setengah tidak percaya.

Hari pertama pameran, Mbak Yani masih malu-malu. Banyak diam. Bingung meladeni konsumen. Mungkin selama ini dunianya kan seputar rumah orang. Antara kain pel dan dapur. Tapi hari kedua, dia sudah mulai pede. Mulai beraksi jadi ‘inang-inang’ yang merayu memberi saran pada konsumen.  Communication skill perempuan pendiam ini berkembang. Meski kadang-kadang lucu juga jawabannya. Dia sudah ahli membuat rekap penjualan di penghujung hari. Saya hargai kemajuan dirinya yang terjadi selama 3 hari pameran.

Hari terakhir, mukanya sumringah betul saat menerima amplop hasil kerja keras dia selama 3 hari. Belum lagi bonus tambahan tas Nyai Indonesia yang saya berikan kepada dia. Senyum-nya lebar. Saat saya bilang: “kalau Nyai pameran lagi, ikut ya mbak… Mbak Yani bisa kok. Saya yakin”. Mbak Yani pun mengangguk mantap. Kali ini tanpa keraguan.