NYai ada Dimana?

parvati

Nyai bisa ditemukan di:

  •  Alun-alun Indonesia. Grand Indonesia Shopping Town. West Mall. Level 3. Jl. MH. Thamrin No.1 . Jakarta .
  • Alun-alun Indonesia. Sogo Bali Collection. Nusa Dua. Kawasan Wisata Nusa Dua (for our purses collection)
  • Koloni. Mall of Indonesia.  2nd Floor. Jl. Raya Boulevard Barat. Kelapa Gading. Jakarta Utara .

Produk NYai juga sudah ada disini dan di:

  • Rumah Sehat Intiyana. Terogong Raya 11-Pondok Indah. Jakarta Selatan (near Jakarta International School) #Phone 081310077756.

Kembali “Murahan”?

imagesJadi, sudah setahun lebih ini saya ‘jual’ mahal. Teguh kukuh atas godaan head hunter, atau siapapun. Hihihi

Dulu itu paling murahan sama ‘godaan’ para head hunter. Kadang suka iseng aja. Akhirnya saya datang, ikut proses. Penasaran. Ujung-ujungnya bingung. Diambil gak yaaa… Hihihihi.

Tapi sejak saya sempat sakit-sakitan, lantas memutuskan keluar dari kantor lama (padahal dapatnya gak gampang loh), ditambah lagi urusan Nyai, membuat saya agak ‘malas’ kembali ‘kerja’ yang terikat waktu ketat. Sekarang ini, walau ada kewajiban menyelesaikan suatu tugas (ya iyalaaah, namanya juga kerjaaa :D) , tapi waktu bisa saya atur. Kapan mau keluar kota, kapan mau meeting, dan lain sebagainya. Yang penting output. Toh teknologi memungkinkan suatu pekerjaan selesai lewat cara yang gak konvensional. Meski gak santai juga, tapi saya punya kuasa penuh atas jadwal saya sendiri. Dan itu rasanyaaaa…priceless. Gak usah buru-buru saat mau ambil rapot si anak kecil, atau bisa dengan tenang antar si anak kecil ke dokter saat dia sakit. Yang penting kerjaan beres. Makanya saya sempat mengajar dan jadi dosen. Meski kemudian saya gak teruskan, karenaaa….capeeek harus bolak-balik Jakarta-Bandung setiap akhir pekan.

Tapi akhir-akhir ini kok lagi kegoda lagi yaaa. Apalagi saat tadi baru saja ada tawaran menyelesaikan suatu ‘project’  dari seorang kawan. Kalau kemarin-kemarin, dipastikan saya gak akan datang saat ada godaan para  head hunter, atau teman yang menawarkan anu inu. Saya sudah nyaman dengan kondisi saat ini. Tapi kok ya telpon yang satu ini, bikin bimbang dan ragu. Ketemu gak yaaa minggu depan sama orang yang kata teman saya, perlu ditemui saya? Katanya sih mau ngobrol-ngobrol dulu. Cuma sumpah deh ya, ini kok challenging banget rasanya. Kalau gak datang untuk tahu lebih jauh, sayang gak sih ya. Ah, entahlah… *gelindingan*

Jadi ingat kata Bapak. Bapak pernah bilang begini: “Kesulitan atau kemudahan, dua-duanya sama-sama cobaan. Keduanya bisa menjerumuskan”

*jleb*

#lalutenggakTopiMiring

Road to Koloni

Yesss, jadi dalam waktu dekat Nyai akan menempati toko kecil di Koloni-Mall of Indonesia. Dimana sih Mall of Indonesia? Di Kelapa Gading-Jakarta Utara.

Jadi Koloni ini semacam toko besar yang terdiri atas toko-toko kecil yang menjual produk-produk lokal. Senang kan? Ada medium dan pihak yang peduli untuk mengapresiasi para pelaku industri kreatif tanah air? Jadi tentu saja kita juga senang luar biasa, saat tahu lolos kurasi untuk bisa punya toko (tokoan :D) kecil disana. Space-nya hanya 2 x 2 meter saja. Namun tentu saja ukuran jadinya bukan masalah bagi bakul tas  seperti saya. (makasih mbak Meliaaaaa….. *pakeToa*)

Ini dia penampakan toko kecil kami sebelum ditempati nantinya…

Iya itu, yang dibelakang saya. heheheheh *loncat-loncat*

koloni 1

Tentu saja sesudah kami dinyatakan lolos kurasi, ada beberapa proses yang harus dijalani. Yang paling utama, adalah submit desain 3 dimensi untuk toko (tokoan :P) kecil Nyai. Desain ini harus disetujui arsitek dan visual merchandiser pengelola. Juga harus dijelaskan secara detail, material apa yang digunakan dan lain sebagainya. Ini dia desain awal kami yang harus direvisi….

Comment Drawing KL-58Sekarang kami sedang dalam proses pembuatan display. Kami juga sudah harus mengurus segala administrasi (akan dilakukan pekan ini). Hand over unit (diusahakan pekan ini :D). Mencari SPG. (yang ini belum sama sekali. Huaaaa *gelindingan*)

Rasanya semua berkejaran, karena pihak Koloni menginginkan Februari kami sudah bisa menempati toko (tokoan :D) si Nyai. Sementara kami juga sedang semaput nungging menyiapkan pameran Indonesia Fashion Week Februari mendatang. So far, inilah acara terbesar yang pernah diikuti Nyai. Maklum, kami kan masih ‘cupu’.  Jadi tentu saja tenaga dan upaya ekstra dikerahkan ditengah keterbatasan kami. Dan… tentu saja yang bikin repot, karena kita kan masing-masing juga bekerja. Otomatis waktu leluasa adalah sesudah urusan pekerjaan selesai, dan akhir pekan. #ngos-ngosan.

Taraaa…., ini dia revisi final toko kecil kami. Nantinya kan bukan toko (tokoan :D) lagi. Insya allah akan berwujud nyata. Doakan berhasiiilll…. *alaBentengTakeshi*

tampak perspektiftampak atas

Ah…, dan sebentar lagi produk tas Nyai juga bisa ditemukan di salah satu toko di pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat. Dan jika tidak ada halangan, dompet Nyai juga akan mengisi cabang toko mereka di pulau Dewata. Yippieee. Wish us luck!

Carpe diem. Carpe noctem.

Eh, jangan lupa mampir kesini buat belanja…..

Si NYai Tjilik

Jadi memang, nama Nyai itu terinspirasi panggilan kesayangan si gadis cilik.  Shira kerap dipanggil nini-nya, Nyai. Berhubung dibesarkan dalam kultur Sunda, panggilan NYai ini akrab di telinga saya.

Hal ini memberi ide saat memberi nama brand, jadilah Nyai digunakan. Karena unik, mudah diingat dan sangat Indonesia. Lambat laun, tanpa sengaja, konsumen pun kerap memanggil Nyai saat order. Bukan sis, atau yang lain :D. Bahkan di grup reseller, kami saling menyapa dengan sebutan Nyai satu sama lain. Lucu juga jadinya.

Kembali lagi ke urusan Shira, alias Nyai cilik. Sejak 3 bulan terakhir ini, load Nyai memang lumayan meningkat. Akibatnya, hampir setiap weekend waktu kami tersita untuk urusan Nyai. Berhubung weekend juga adalah waktu keluarga, mau gak mau urusan Nyai kerap dilanjut dengan jadwal makan keluar  di akhir pekan, atau hunting cari buku dan DVD.  Si gadis cilik pun kerap diajak dari mulai hunting batik, belanja bahan, kontrol produksi, pemotretan dan hal semacam itu. Kadang kasihan juga sih. Bisa seharian kadang dia ikut, sampe pulangnya ketiduran di mobil karena kecapekan. Meski dia sih selalu semangat, ikut bantu (baca: ngerecokin) pemotretan seperti foto dibawah ini, misalnya. (jangan sampai ketahuan Komnas Anak karena Nyai mempekerjakan anak dibawah umur. Hihihihi :P)

pekerja cilik

Tapi disatu sisi, saya pikir ini jadi cara jitu memperkenalkan semangat entrepreneurship sejak dini sama dia.  Juga memberi pengertian, bahwa untuk dapat uang, ya harus kerja. Gak ada cerita uang jatuh dari langit. Semoga dia akan terus paham, bahwa kerja keras itu bagian dari kehidupan. Untuk mendapat sesuatu ya dia harus berusaha. Ada proses. Bukan cara instan.

Dengan semangat dan senang hati, dia kerap ikut membantu memasukkan tas ke dust bag, atau menempel selotip ke paket kiriman barang. Ikut menghitung stok (hitung-hitung memperlancar menghitung). Bantu masukin koran ke tas untuk pemotretan. Ikut repot angkut tas juga. Kadang kesal, karena malah suka bikin heboh. Semangat membantunya besar, hanya dia lupa, bahwa dia masih kecil. Dia suka ngotot ingin gunting untuk memotong tali pricetag, misalnya. Tentu saja masih belum saya ijinkan. Dia sudah hapal nama beberapa tas. “Tas yang Sankerti kan bu?”, begitu kata dia. Bahkan dia suka menulis di secarik kertas nama-nama tas Nyai. ANJALI. PADMA, begitu dia tulis. Lucu.

Suatu hari saat saya tengah rekap stok tas, terjadi percakapan seperti dibawah ini:
“Kalau sudah besar, aku mau kerja sama ibu,” begitu dia bilang sambil menempelkan sticker untuk kirim barang.
“Mau jualan tas?” saya tanya.
“Iya. Nanti aku masukin tas ke dust bag kan? Aku bantu ibu dong”, Shira menimpali. Mukanya serius dan sungguh-sungguh.

Hati ini ingin tertawa geli. Tapi ada haru menyeruak. Dengan pikiran sederhana, dia sudah memberi seulas senyum hadir hari itu di bibir saya. Mi lop yu, nyai cilik….

shira-ibu1

Apa Yang Kamu Lakukan di Malam Tahun Baru?

Sebetulnya buat saya sama si mantan pacar, malam Tahun Baru gak pernah jadi malam spesial. Sama aja sama malam biasa. Hanya mungkin sesekali jadi ajang kumpul bersama keluarga. Itu saja. Apalagi memang saya sama si mantan pacar, gak terlalu suka keramaian. Clubbing. Atau apalah namanya itu. Sejak jaman pacaran, kita itu lebih suka pergi cari makan, dari mulai menjajal kakilima sampai buffet di Satoo, misalnya. Paling banter nonton DVD. Senangnya di rumah. Bahkan hal ini berlanjut pada preferensi saat berlibur. KIta justru menjauh dari keramaian. Kalau ke Bali, ogah banget menginap di Kuta. Bahkan jalan-jalan juga sudah menghindari daerah Kuta. Kalau ke Yogya-Solo yang kerap kami sambangi, cari penginapan pasti yang unik dan mampir ke tempat/lokasi yang gak ramai kaya cendol. Misalnya, mampir ke Ullen Sentalu, museum-museum lain, atau menginap di Roemahkoe atau di Rumah Mertua  .Pokoknya menghindari keramaian yang orang banyak tumplek blek.

Persamaan kami, kami berdua terlalu senang di rumah. (yes, we’re that boring 😀 ). Kami juga senang kumpul keluarga. Makan-makan di rumah meski serba sederhana, itu sudah menyenangkan dan membahagiakan buat kami. Gak heran kalau tahun baru, acara kami juga gak kreatif. Ya seputar makan, dan kumpul keluarga. Yang jelas, liburan di Tahun Baru rasanya agak jauh dari daftar keinginan kita. Karena apa? Karena malas ramai dan keharusan menjadi gerombolan cendol. Baik saat berangkat, atau tiba di tempat tujuan.

Tahun lalu juga begitu. Rumah salah satu saudara jadi tempat berkumpul. Tahun ini? Ya di rumah mungil kami. Gak pakai persiapan heboh. Sore sehabis meeting, saya mampir ke Ranch Market, belanja keperluan makan malam.

Serpong-20121231-02467 Menu tahun baru? Homemade shabu-shabu, sepinggan pastel tutup pesan dari catering langganan. Lalu ada puding Christy-Kelapa Gading yang disuka si gadis cilik. Ibu dan Bapak jauh-jauh membawa kue klasik-jadul Frou-frou dari Sumber Hidangan, Braga. Ada cemilan dari Sakura Anpan. I made pitcher of home made lemongrass-mint tea. Sisanya, ngobrol, nonton DVD. Sesederhana itu. Namun bahagia memang sederhana kan?

Hari pertama di tahun 2013, lagi-lagi kita memilih di rumah. Pagi-pagi saya bangun. Yoga. Makan, Tidur lagi. Terus nonton TV. Dengerin si anak kecil main piano. Tidur lagi. Baca buku. Lantas liat berita TV dan bersyukur gak kejebak macet tahun baru. Hehehhehe.

Meski demikian, pergantian tahun kami lewatkan dengan mengobrol. Dari hati ke hati.  Saya sama si mantan pacar merefleksikan apa yang terjadi di 2012. Rasanya gak ada hal buruk yang terjadi, kok. Semua ujungnya malah berbalik, menjadi berkah buat keluarga kecil kami secara tidak terduga. Dan itu, yang membuat saya gak henti-henti bersyukur. Kami merasa, secara perlahan usaha kami membuahkan hasil. Kesabaran selama ini, ternyata berbalas dengan indah.

Saya bukan orang positif sedunia. Ada kalanya saya merasa lelah, marah, sedih, kecewa. Tapi hidup adalah pilihan. Dan saya memilih untuk bahagia. Yes, I’m too happy to be a hater. Apakah kita mau melihat gelas itu (selalu) setengah kosong atau terisi? It’s our call. Mau nyalahin orang lain atas sesuatu yang kita anggap ‘kesialan’? Mau mengutuk orang lain karena (tampaknya) hidup mereka lebih mudah dari kita? Semua gampang kok. Semua kembali sama kita sendiri. Mau rejeki dimudahkan? Usaha lebih keras lagi. Mau bahagia? Hindari berpikiran buruk sama orang lain. Memaafkan itu memudahkan buat kita sendiri kok. Mau jalan kita berkah? Doa dan restu orangtua jadi pintu kemudahan pertama. Sesederhana itu.

Resolusi di 2013? Ah gak punya.Hanya berdoa semoga selalu dikasih keyakinan dan optimisme. Dijauhkan dari buruk sangka (karena bikin cape diri sendiri. Bukan begitu bukan? :D). Dikasih tenaga dan waktu cukup untuk bisa membahagiakan orangtua, karena merekalah pintu rejeki selama ini. Doa dan restu mereka yang selalu menerangi jalan kami berdua.Dan ah…, ya, semoga selalu diberi kesehatan dan tenaga untuk merawat titipan Yang Diatas. Si gadis cilik. Yang selalu jadi sumber kekuatan dan kebahagiaan tanpa henti. Untuk kami berdua.

Let yourself be silently drawn by the stronger pull of what you really love (Rumi)

warrior pose