Ketika Ibu Marah Padamu

Sore itu, aku tahu raut mukamu kaget bukan kepalang  saat kau tahu aku marah betul padamu. Lalu aku menghukummu, tidak ada TV malam itu. Pun besok kau tidak kuijinkan bermain di sore hari bersama teman-temanmu seperti biasa. ‘Untuk satu minggu’, begitu tegasku. Meski aku tak yakin kau paham makna satu minggu, selama apakah itu di benakmu.

Menjelang tidur, dengan panjang lebar kujelaskan padamu, bahwa kamu aku hukum karena berbuat kesalahan. Bahwa ini adalah akibat yang didahului oleh sebab, dengan bahasa sederhana yang kuharap bisa kau serap. Kau hanya mengangguk dengan raut muka sedih.  Meski tidak pula merengek meminta menonton kartun, atau merengek meminta besok kau boleh bermain di sore hari seperti biasa. Tak ada protes. Meski aku tahu, sore itu bukan senja yang mudah untuk dirimu. Aku yakin, kau paham dengan caramu sendiri, sesuai usiamu, bahwa kesalahanmu membuahkan akibat yang mau tak mau harus kau telan. Harus kau hadapi. Harus kau terima.

Lalu malam itu, seperti biasa menjelang tidur, kau bertanya ‘Tapi aku boleh dibacain kan?’. Aku mengangguk. Sesekali matamu melirik TV, bertanya seraya bertanya, “Besok boleh nonton?”. Tidak, tegasku. Malam itu dan beberapa hari ke depan. hanya dongeng yang kembali menghiasi malam sebelum tidurmu. Dan besok tak ada acara main bersama temanmu. Hingga satu minggu.

Lalu kau terlelap tak lama aku membacakan cerita untukmu. Sebelumnya aku sempat bertanya padamu, “Kamu sayang ibu?”. Kamu mengangguk menyunggingkan seulas senyum. Lalu kau tertidur memelukku. Buku aku tutup. Aku kecup keningmu, sambil berbisik ditelingamu. Kupeluk erat dan kuhirup wangi tubuh mungilmu.

Aku marah padamu bukan karena benci. Pun saat sentilanku mampir ditelingamu. Aku lakukan karena aku sayang padamu. Aku hanya mau kau belajar, akan ada akibat dari setiap perbuatan. Bahwa kelak kau akan paham, pilihan ada ditanganmu, untuk menentukan setiap langkahmu. Ada saatnya nanti ketika kita berselisih paham,  bersilang kata. Aku melarangmu, namun kau merasa tahu. Pahamilah anakku, tidaklah mudah bagi orangtua manapun, untuk menempuh jalan marah pada buah hatinya, dengan atau tidak disadari. Setiap saat, orangtua , jauh di lubuk hati mereka, hanya ingin mencurahkan kasih sayang tanpa nada tinggi yang mungkin akan menyisakan luka di hatimu.

Tahukah kamu, matahariku? Penyesalan selalu menyelinap tanpa diundang sesudahnya disertai janji untuk lebih sabar lagi. Namun kemudian, bukan orangtua tak pernah salah atau sempurna. Aku pun belajar memaknai, senantiasa menjadikan kamu sebagai manusia, dan menjadikan aku orangtua yang lebih manusiawi.

Bukan karena aku tak sayang padamu, anakku sayang. Marah padamu, adalah bentuk lain rasa sayang yang mungkin tak selalu bisa dipahami oleh pikiranmu. Mungkin kelak kau akan berontak, menganggap aku orangtua yang tak bisa memahamimu, mengerti dirimu. Mungkin kau kelak akan merasa aku memaksakan kehendakku tanpa mau mendengarmu. Mungkin kelak akan ada perdebatan antara kita. Mungkin akan ada bantingan pintu. Atau kau mengurung diri usai aku memarahimu. Mungkin disertai tangis dirimu. Atau kelak akan ada gugatan dalam hatimu, betapa sulitnya memiliki orangtua sepertiku.

Tapi selalu ingat dalam benakmu, bahwa hingga kapan pun, sepanjang hayat dikandung badan, aku hanya berusaha memberi rumah terbaik bagi ragamu. Dan bukan jiwamu. Namun untuk itu, harus kupastikan bahwa hati dan jiwamu cukup kuat, untuk meretas jalan diatas kakimu, dengan pahit manis hidup, yang memang tidak selalu sempurna dan tidak selalu satu warna .

Pegang erat tanganku, anakku. Disitu akan kau rasakan setiap denyut nadiku yang mengalirkan doa tak putus untukmu. Rasakan hatiku, betapa setiap tarikan nafasku adalah untuk hidupmu. Jangan kau lihat kemarahanku. Tapi rasakan setiap kecemasan, ketakutan, kekhawatiran, rasa sayang, cinta, kerinduan, harapan dan doa yang sedemikian besar, bercampur bergemuruh menjadi satu hingga rasanya tubuh ini tak sanggup menampung setiap partikel rasa hatiku untukmu.

Bulanku, bintangku, matahariku, hujanku, lautku, bumiku, gunungku, alam semestaku, jagat rayaku…. , ya hanya dirimu. Semua rasa dan asa tertumpah menjadi satu di tubuh mungilmu. Disertai harapan besar, agar aku senantiasa bisa menjadi yang terbaik bagi dirimu, ditengah ketidaksempurnaanku.293615_10150377693623658_1336197814_n

Selamat tidur anakku, sayang. Semua keindahan, ada di dirimu.

Shira, Musik dan Perseverance

Image

Kemarin, si anak kecil ikut konser musik yang diselenggarakan oleh tempat ia les setahun terakhir, Yamaha Music. Ini adalah kali kedua si anak kecil ikut konser serupa. Tahun lalu juga ia ikut. Jika tahun lalu ia masih bermain dengan satu tangan, hanya tangan kanan. Tahun ini ia mempertunjukkan kebolehannya bermain dengan dua tangan. Ada rasa haru, tentu saja. Gak sia-sia rasanya sering jadi tiger mother untuk drill si anak kecil latihan piano di rumah . 😀 . Semoga saja ia terus konsisten berlatih piano. Semoga sudah besar dia gak bakalan bohongin guru les-nya dengan pura-pura sakit, sepertiiiii… IBUNYA!. *toyormetronome*

Image

Oh iya, dengan pede dia memilih mengenakan kebaya dan kain batik. Tampil beda sendiri disaat anak kecil lain mengenakan gaun dan rok (sebagian ala Cinderella :D). Yang aneh dari si anak kecil, dia itu paliiiing susah disuruh pakai rok. Sampai harus keluar golok untuk suruh dia pakai rok. Tapi…., dia selalu dengan bangga memilih dan mengenakan kebaya atau batik di kesempatan khusus. Saat pergi ke pesta, ujian musik, atau konser musik macam kemarin. Jadi, itu bukan hasil suruhan ibu-nya. Memang anaknya sendiri yang mau. 😛

Image

Namanya anak kecil ya, kadang kalau mood-nya lagi jelek, susah betul minta dia latihan piano setidaknya 15 menit dalam sehari. Kadang dengan muka mau menangis dia merengek: “aku gak bisa bu, itu susah not-nya. aku belum bisa…”, begitu dia bilang. Begitu berlatih, lantas salah memencet tuts piano, kadang mukanya langsung sedih sambil berucap “Tuh kan bu, aku gak bisa…”

Tapi saya selalu menekankan sama dia bahwa: “Gak bisa itu biasa. Semua orang juga awalnya gak bisa. Ibu juga dulu gak bisa. Yang penting kalau salah, coba lagi, coba lagi..dan jangan menyerah. Lama-lama kamu pasti bisa”. Kalau sudah diomongin kira-kira begitu, akhirnya dia memaksakan diri berlatih lagi. Begitu satu lagu dia kuasai dengan mulus, matanya berbinar-binar. Saya peluk dia, lantas kami berdua tos-tosan. “Tuh, kamu bisa kan kalau terus nyoba?,”. Ia mengangguk sambikl tersenyum lebar. I can see the expression of attainment.

Kalau dia lagi ogah-ogahan latihan diajarin nini-nya, saya suka mengingatkan “Ibu beli piano gak murah loh. Bayar les-nya juga ibu sama bapak harus kerja dulu. Kalau Shira gak mau latihan, artinya Shira buang uang ibu sama bapak…”. Akhirnya (dengan berat) dia latihan piano dengan wakil tiger mother, yaitu neneknya. Hahahhaha. Dia harus belajar arti tanggung jawab, meski dengan pemahaman sederhana kan?

Tapi kalau mood-nya lagi bagus, tanpa disuruh juga dia latihan sendiri. Yah mood-nya memang masih naik turun. Yang jelas, dia selalu semangat setiap akan berangkat les. Gak pernah mau bolos. Beberapa kali mengantar dia les musik, memang fun. Metode pengajarannya disesuaikan untuk anak seusia Shira, sehingga belajar musik jadi menyenangkan sekali.

Yes, we both want to introduce her to music since early stage. Not because we have these parent’s ambition to turn her into a greatest pianist and all that. It’s about introduce her to perseverance, self-discipline and being brave to conquer your fear. Mastering music is just an added bonus. I believe music is also great way to gives a child sense of accomplishment.

So yes, baby girl, the sky is your limit. In life, you might fall down. But just remember pumpkin pie, what matters is…. you shall keep getting up. Don’t limits from limit.  Sankalpa

Si Nyai Tjilik Lagi

DSC_5037

“Pak..pak…, foto aku dong sama tas. Yang Janani  ya Pak (yes she remember names of our bag).  Aku kan Nyai….”.

*kemudianhening*

DSC_5046“Ibu kapan pameran lagi? Aku ikut dong. Jaga toko…”

*menjiwaisebagaianakbakultas*

DSC_5127“Sini bu, aku itungin tas yang baru…. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam , bla bla bla bla”

*semangattinggibantustocklist”