Yoga and Creativity

How do you see creativity?

As for me, creativity is not solely about being creative (pffft).

Apapun yang kamu lakukan, ataupun apapun profesimu, semua butuh kreativitas kan? Whether you are an artist, accountant, journalist, or a mother who pick up your child on daily basis, you need creativity to meet everyday challenges. You need creativity to juggle schedules or even traverse the traffic. Creativity tells your brain to find solution.

I say, there’s no such thing as claim you self as ‘creative person’. Everybody has a sense of creative sides. To find solution. To finish the task. To teach your children how to read. To decide meal menu on daily basis. To  write report with the right word.  And so on and so forth. That’s part of being creative, too.

Dan buat saya, yoga ( I know…., boringgggg *yawn*), menolong saya menjadi lebih intuitif. Lebih kreatif. When I’m in an intuitive state, everything is not always black and white. I see different colors. I know my self better. It helps me to open flow of creativity. It is becoming fuels to creative process, gives spacious mind and observant heart, too. S

aya merasa lebih fokus pada apa yang saya kerjakan. Membuat saya lebih tenang pada saat harus multi tasking soal pekerjaan dan Nyai. Membuat ide berseliweran begitu saja. Inspiration strikes from everywhere.

Yoga helps me find my passion and mission. I know what I want because I see clearer.  I am more confident to take different step nor move forward.

So yes, just like Sianna Sherman as the creator of Mythic Yoga Flow said:  “creativity is actually the living and breathing essence of our self”.

And yoga leads my way.

Namaste.

Advertisements

Gara-gara Vero

Jadi, dulu jaman reporter atau masih kerja di TV, sehari-hari saya hanya mengenakan bedak, lipstick dan maskara. I’m not a make up person. Semua serba praktis aja. But through times, si mantan pacar malah secara gak langsung membuat saya jadi betah mengenakan perangkat make up selain bedak-lipstick-maskara. Dan, sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi mulai banyak.

Bertambah lagi gara-gara Vero, rekan kerja di urusan konsultan sekarang. (Iya, kamu Vero!!!. Grrr) Gara-gara dia, perbendaharaan jadi bertambah. Meski gak melulu beli.  Ternyata make up gak melulu MAC atau Make Up Forever yang pigmented dan bagus. Tapi ada Urban Decay, The Balm, Ben Nye, Laura Mercier, Wet and Wild and so on and so forth. Kadang hanya senang melihat aneka make up, karena kemasannya lucu-lucu. Misalnya packaging si Too Faced atau The Balm seperti dibawah. Akkk, lucu dan vintage bangeeet! *addtowishlist*placeholder_50x458048288_orig

Image

Gara-gara Vero juga saya jadi tau ada tutorial make up di youtube *selfslap*. Kadang kalau habis kerja, kita berdua malah asyik membuka youtube. Meski gak bisa make up aneh-aneh juga, tapi sekarang saya lebih sedikit-berani bereksperimen.

Kalau dulu hanya berani pakai lipstick nude, sekarang lebih berani untuk memulas lipstick merah menyala. Gara-gara racun Vero juga, setelah punya Naked Palette si Urban Decay kesatu, saya ngidam seri palette kedua. Sampai meminta si mantan pacar belikan Naked Palette seri dua di Sephora. Untung dengan rela dia mencari dan bertanya, padahal gak ngerti. Hihihihi.

Walhasil, si mantan pacar salah beli. Dia malah membelikan Naked Palette satu, YANG SAYA SUDAH PUNYA! Padahal udah diwanti-wanti beli seri Dua. *mukaijo*.

Kata dia: “yah pokonya kan Naked Palette, lagian bentuknya kayanya sama dengan yang kamu punya”. Doenggg. #truskalosamamasadibelijuga  *tutupmuka*

Ya sudahlah, saya pun mengucapkan terimakasih atas segala daya dan upayanya. Tsaaah.

Untung gak ilang akal, teman yang menjual aneka make up secara online, bersedia menukar si Palette-salah-beli dengan Naked Palette Urban Decay seri dua yang sudah lama saya idamkan  itu. Cukup dengan hanya menambah 50 ribu rupiah dan ongkos kirim.

Hola, Naked Palette 2. Come to Mama…. *pelukerat*

images

Si Anak Ibu

Image

The picture taken during our previous exhibition at Inacraft.

Si anak kecil yang selalu ingin ikut saat saya berpartisipasi pameran, tanpa rasa bosan dan selalu penuh semangat menjelajahi setiap sudut pameran. Si anak kecil yang sudah hafal nama-nama tas: Anjali, Cadusa, Padma, and so on an so forth. Si anak kecil yang emoh pakai rok, tapi dengan bangga memilih mengenakan batik atau kebaya. Si anak kecil dengan kaki yang masih menggantung di kursi piano, tapi sudah bisa bermain mulus dengan dua tangan dari mulai The Flemisch sampai London Bridge. Si anak kecil yang suka lagu Frank Sinatra dan Nat King Cole, dan tanpa bosan berulangkali menonton DVD The Sound of Music. Si anak kecil yang sekarang sudah bisa gantian: “Kalau Ibu capek bacain, aku bacain aja deh cerita buat Ibu”. Si anak kecil yang tomboy dan gak mau diam, serta sesekali membuat Ibu ingin kabur saja ke bulan karena keras kepala :D. Si anak kecil yang selalu meminta: “Ibu pulang kerja jangan malam-malam yaaa”. Si anak kecil yang tidak mau memanjangkan rambut sama sekali. Si anak kecil yang harus ‘tawar menawar’ saat diminta tidak mengenakan celana loreng dan kaus Firman Uttina kesayangannya *tutupmuka*

Si anak kecil yang selalu energik dan bahagia, serta selalu membawa kebahagiaan di rumah untuk Ibu dan Bapak. Si anak kecil yang jadi matahari, bulan, bintang, alam semesta, sejagad raya untuk Ibu. Si anak kecil yang mencuri sepenuh hati cinta  terbesar yang dimiliki Ibu sepanjang hayat dikandung badan.

Mi lop yu, anak Ibu….

Help Is Around The Corner

Hari ini mendadak melankolis.

Ditengah kebingungan sejak beberapa hari lalu urusan wardrobe untuk fashion parade perdana Nyai di Indonesia Islamic Fashion Fair, tau-tau aja banyaaaak banget teman yang bantu. Dari mulai kasih informasi contact person yang bisa dihubungi, sampai ada juga yang menanyakan langsung  kesediaan rekan-rekan desainer yang mereka kenal, untuk berkolaborasi sama Nyai. Dari yang awalnya bingung harus cari kemana, sampai hari ini saya malah punya beberapa janji untuk initial meeting dengan beberapa brand yang menyediakan aneka pakaian muslimah penuh gaya.

Sampai-sampai hari ini sambil menyelesaikan report, saya mendadak dangdut, pengen nangis atas semua perhatian, bantuan, pertolongan dalam berbagai wujud yang tidak putus berdatangan. Dari mulai kawan dekat, sampai teman lama yang sudah bertahun-tahun gak berjumpa.

Kayanya semua jalan kebuka, karena banyaaak banget orang yang bantu.  Sejak Nyai mulai melangkah lagi, sampai detik ini.

Dan tanpa disadari, saya rupanya sering bercerita soal ‘bantuan’ yang kerap diterima si Nyai. Sampai-sampai waktu sharing session di Universitas Multimedia Nusantara pekan lalu, dan kemarin usai wawancara dengan satu majalah wanita untuk profil, semua berkata: “Kayanya banyak banget yang bantu NYai ya mbak dalam perjalanannya. Kenapa tuh?”

Terus terang, saya gak tahu kenapa. Saya cuma tau, bahwa banyak berkat dan kemudahan yang diberikan oleh banyaaak …orang, sampai detik ini.  Buat mereka mungkin hanya hal sepele. Tapi buat saya, itu menjadi hal yang luar biasa, Dan kalian semua sungguh luar biasa.

Terimakasih.

*sambilmewek*

Image

Menyiapkan Fashion Parade

Image

Jadi, Nyai resmi ikut Fashion Parade di Indonesia Islamic Fashion Fair 2013 di Jakarta Convention Center. Kepastian bahwa kami akhirnya bisa ikut berpartisipasi itu last minute. Sungguh menegangkan *alabentengTakeshi* . Menegangkan karena akhirnya tanpa disangka dan diduga, kami jadi dan positif ikut di hari terakhir batas waktu pendaftaran Fashion Parade.

Yang pasti, Fashion Parade ini gak mungkin terwujud tanpa bantuan seorang kawan baik (yes, it’s you Mas Iwan 😀) yang memungkinkan Zakat TV  fully supported NYai , sehingga kami bisa ikut ambil bagian dalam fashion show ini. Yippie!

Persinggungan dengan ZakatTV ini berawal akhir tahun lalu, saat NYai diwawancara dalam program mereka disini. Oh iya, ZakatTV ini adalah internet TV milik Dompet Dhuafa Republika. Pasti pada tau-lah apa kiprah dan rekam jejak Dompet Dhuafa Republika.

Lalu, setelah positif ikut, apa selesai PR-nya? Tentu tidaaaak. *sambilnangis*

Untuk Fashion Parade, peragawati dan koreografi sudah menjadi paket yang disediakan penyelenggara. Termasuk make-up. Tapi PR buat si Nyai, karena kita kan brand yang menyediakan tas dan aksesoris. Laluuuu, peragawati-nya lenggak lenggok di catwalk di JCC nanti mengenakan apaaaa? *tutupmuka* . Nah kan, baru deh kepikiran… #selfslap

Sekali lagi, menjalankan bisnis itu akhirnya memang gak akan lepas dari kebaikan dan bantuan tulus teman-teman. Kali ini, seorang teman yang biasa mengurusi wardrobe dan make up sejumlah program TV, mau membantu saya yang cupu ini. Alhamdulilah.Gak bisa dibayangkan kalau nanti di backstage saya bego sendirian sambil planga-planga 😛 . Dia jugalah yang mengingatkan saya detil-detil yang harus diperhatikan, sampai kesinambungan busana dengan produk Nyai. Membuat saya cuma bisa komentar: ‘oh iya ya, oh iya ya’ . 😀

Walhasil sejak hari ini pula saya bergerilya, ‘menjual diri’, dengan harapan ada brand busana muslim indie yang mau berkolaborasi dengan Nyai untuk Fashion Parade. Pokonya usaha aja dulu ditengah waktu yang sempit ini. Moga-moga masih cukup ada waktu, dan ada juga yang bersedia bekerjasama *sawerkemenyan*

As for the collection, the show tittle is Travelista. I am imagining a vacation, bright bold -flirtatious colors, flowers, summer breeze, festivities, beach. Let’s holiday and travel with NYai!

Carpe diem. Carpe noctem

Nyai-Fashion Parade

We Keep Pressing Forward

brochure01

So many things to do as NYai is brewing.

First, we are now preparing for upcoming exhibition at IIFF 2013. New collection is lining up, for sure. Sabtu kemarin juga akhirnya kami sempatkan mengadakan syukuran dan doa bersama dengan seluruh elemen yang terlibat dalam Nyai di workshop, dipimpin si kepala suku.

Ada rasa haru menyeruak, karena lewat si bayi kecil bernama Nyai ini, ada banyak elemen terlibat. Gak cuma tukang saja yang mengerahkan segenap kemampuan dan ketrampilan mereka. Segelintir  masyarakat sekitar, yang mungkin sebenernya gak punya skill khusus untuk bisa jahit tas, tapi mereka (yang sebagian diantaranya adalah pelajar perempuan, yang membantu usai mereka bersekolah. Rata-rata mereka sekolah SMA atau madrasah setingkat SMA. Girl power!),  dikerahkan juga untuk bantu mengelem, memasang aksesoris, membungkus tas yang sudah jadi dengan plastik, atau memastikan setiap produk berisikan bungkusan koran yang dilapis kertas untuk menjaga agar tas tidak rusak.  So, this is what makes me beyond happy. Bahwa ada banyak elemen dan upaya yang dikerahkan segenap hati oleh banyak orang, untuk memberikan yang terbaik via NYai. Nyai hanyalah medium, di belakangnya ada proses yang menghidupi dan menggerakkan kehidupan sejumlah individu, untuk terus bergerak sesuai skenario kehidupan yang mereka punya. Subhanallah.

Along our humble journey, I found miracles after miracles. Salah satunya, tiba-tiba saja kita mendapat kesempatan ikut Fashion Parade di Indonesia Islamic Fashion Fair bulan Juni mendatang di JCC, secara cuma-cuma alias tanpa bayar! (Nyai sendiri  sekitar sebulan lalu dinyatakan lolos menjadi exhibitor di acara tersebut). Padahal tentu saja ikut Fashion Parade membutuhkan biaya yang buat ukuran NYai sih tidak sedikit.

How come? Will share ‘how’ later on our blog. Yang jelas, saya gak pakai target apapun. Saya hanya menjalankan porsi untuk berupaya sekuat tenaga, lalu membiarkan alam semesta mewujudkannya. Let the universe do its job, to let higher power taking care the rest. Yang pasti, sekarang kita sedang kebat-kebit mempersiapkan koleksi untuk fashion parade. Remember, this is our very first time. Namun entah kenapa, meski waktu yang tersisa tidaklah banyak, I just believe that everything will be ok, because I know God will handle everything in a greater way than I do. Hasbunallahi wa ni’mal wakil.

By the way, whaddaya think of above design? It’s the first draft which required another element. It’s part of the preparation for our next exhibition in Kuala Lumpur next June.

 

Kumparan Energi Via NYai

Jadi hari ini adalah kali pertama Nyai membuka resep bisnis-nya di hadapan umum. (Halaah :P). Sebetulnya kalimat ini rasanya jadi gak membumi. Karena menjalankan NYai gak pakai resep aneh-aneh kok 😀 . Cuma modal yakin, berpikir positif (meski susah 😀 ) dan tebal muka untuk bertanya dan belajar pada orang yang (saya anggap) tepat. Lagipula si Nyai ini kan masih bayi betul. Tapi saya pikir, lewat sharing ini saya ingin mahasiswa tau, bahwa berbisnis itu modal bukan-lah yang utama.

Pagi tadi Nyai sharing di kuliah umum e-marketing, di hadapan mahasiswa jurusan Marketing Universitas Multimedia Nusantara. Kalau soal teori, ilmu branding, e-marketing, jelas mahasiswa dan para dosen disana lebih jago. Saya sih jujur bilang sama mereka, bahwa saya memulai dari gak tau. Semua yang saya jalani sampai ke titik ini, adalah proses belajar luar biasa. Jadi jangan tanya soal teori apapun sama saya, karena saya cuma tau secuplik. But I will share wholeheartedly our humble journey.

Sejak 2 hari lalu, berhubung diselingi pekerjaan, saya mulai mencicil bahan yang akan saya sampaikan. Sempat mentok juga, apaaa… ya yang harus saya omongin. Bagaimana merumuskan menjadi materi yang bisa diterima oleh audiens yang pastinya lebih mumpuni ilmu-nya. Bingung jadinya.

Tanah Abang-20130507-02877

Akhirnya semua bermuara pada: jujur.

Iya, akhirnya tadi pagi saya jujur bilang sama mahasiswa yang hadir, bahwa berbisnis adalah never ending learning process. Berbisnis adalah gerbang masalah. Sejak memulai hingga detik ini, selaluuu..ada masalah. It could be happy, or chaotic problem. You, only your self can decide how to see towards problem. Saya jujur, bahwa saya awalnya gak ngerti keuangan, sampai akhirnya saya paham membuat laporan keuangan dan analisa rugi laba yang lebih komprehensif. Saya jujur bahwa untuk sampai di titik paham, saya sampai harus diajarin berkali-kali sama ‘konsultan keuangan’ amatir slash teman baik. Saya jujur bahwa saya awalnya membuat HPP itu kira kira: satu batik kira-kira jadi sekian tas, misalnya *nyengirasem*. Tapi saya jujur juga bahwa itu proses, hingga sekarang saya punya ‘primbon’ berisikan hitungan akurat material hingga ke nol koma untuk setiap model hasil mentoring sama orang yang baik hati mengajari saya yang cupu’ ini. Saya jujur juga bahwa saya gak ngerti teori value base atau cost base saat pricing saat ada mahasiswa bertanya. Saya jujur bahwa tadinya saya gak ngerti itung margin berdasarkan harga pokok produksi. Sampai akhirnya saya punya tabel hasil ajaran berkali kali (dan jeweran teman yang kesal akan lambatnya saya mencerna 😛 ), yang membuat saat kerjasama dengan pihak lain, saya bisa tau real profit  berapa.

IMG-20130508-02881

Saya tekankan, bahwa bisnis itu sekolah luar biasa untuk saya agar terus mau belajar, belajar, belajar. Gak malu untuk bertanya. Gak malu bilang bahwa saya gak tahu dan gak mengerti, maka biarkanlah saya bertanya dan bertanya lagi (ini sih menjurus bolot kayanya ya. Hiahahahah).

Intinya saya cuma mau bilang, bahwa semua proses. Kalau mereka misalnya melihat,  “wah bagaimana bisa bekerjasama dengan online store asal negeri Jiran dan mendapatkan kesempatan itu?”.  Jangan semata dilihat hasil akhirnya. Tapi ada proses panjang yang harus dilewati, dengan segudang masalah yang menghampiri. Dengan pengorbanan, besar atau kecil. Waktu, tenaga, dan uang.

Misalnya, untuk bisa punya space di Koloni dengan segala pernak-perniknya, mereka gak tau kan jam 5 pagi saya sama si mantan pacar dan supir gotong peti kayu yang berat luar biasa, ditengah gelap, lewat lift barang, dan sempat mati pula lift-nya. Atau kalau sekarang produk kita bisa alhamdulilah ada di Grand Indonesia, orang kan gak tau setaun sebelumnya  saya nyaris ‘digaruk’ satpam, karena buka bagasi mobil yang penuh dengan tas, lalu transaksi tas, persis sebelah sana sedikit dari lobby West Mall GRand Indonesia. (Yes, Sandra…itu sama kamu! if you happen to read my post :D)

Berbisnis buat saya bukan cara cepat jadi kaya. Pun bukan sarana mengejar dan menumpuk materi  (jika ada yang berpikir demikian).   Jadi apa arti Nyai?

Buat saya Nyai adalah kumparan energi yang terus memompa semangat buat diri saya sendiri.

Semangat buat belajar. Semangat buat terus bergerak. Semangat buat terus melangkah meski satu titik dibanding hari sebelumnya. Semangat untuk bisa berbagi dan menyebarkan semangat serupa ke orang lain, misalnya lewat sharing session tadi pagi. Buat saya, tadi pagi bukan hanya mahasiswa yang (diharapkan) bisa mendapat sesuatu lewat Nyai.

Tapi lebih dari itu. Bahwa saya, justru jadi belajar banyak, lewat pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Lewat istilah-istilah baru yang saya dapatkan saat berdiskusi usai acara dengan para dosen mumpuni di bidang e-marketing dan branding. Juga dengan pemahaman baru yang saya dapatkan lewat perbicangan satu jam bersama mereka, para dosen. Juga kesempatan untuk berkonsultasi yang mereka buka lebar soal branding atau e-marketing.  Bahkan dengan kesempatan lain yang datang sesudahnya. Jadi, semua tarik menarik, seperti magnet. Saya juga merasa tercerahkan, merasa seperti baterai yang habis di charge hingga sepulang dari sana rasanya saya ingin melonjak senang. Bagaimana saya merasa tidak terberkati? So yes, I’m the one who should thanking you all.

Law of attraction.

Tabik.

.Image

Pic: with some of the students and lecturer from Multimedia Nusantara University.