Bergerak, Untuk Kewarasan Diri

Sejak pekan lalu, jadwal pekerjaan dan yang harus diselesaikan tengah berkejaran. One list down, the other need to be done. Tambahkan pula perjalanan ke dua kota dalam dua hari sekaligus di pekan lalu, dengan keharusan pertemuan yang demikian padat. Begitu pula dengan esok. Kaki ini akan kembali melangkah sejenak ke sisi lain di luar Ibukota.

Tapi entah mengapa. Kesibukan adalah nafas. I’m not the kind of person who can sit and do nothing all day. Otak ini harus terus diajak berpikir. Tubuh ini harus terus bergerak. Pekerjaan adalah nafas. Bagian tak terpisahkan yang membuat saya lebih hidup. Bergerak dan bergerak, memberi daya dorong luar biasa agar kumparan energi ini tidak pernah padam. Lantas melahirkan rasa bahagia yang membuat semuanya lebih berwarna.

Hari ini, usai rapat dengan salah satu departemen, saya hanya ingin menikmati sejenak waktu ini. Di ruangan kerja. Tapi bukan untuk menyelesaikan setumpuk kewajiban yang memanggil untuk diselesaikan. Tapi untuk mengucap syukur. Masih diberi kepercayaan untuk menggawangi satu project baru yang tentu akan membuat otak ini terus menyerap hal baru (thanks, Mbak! I’m flying to the moon and beyond excited! ). Masih diberi kesempatan agar si bayi Nyai bisa berekspansi.

Bersyukur karena secara perlahan, semua kelelahan yangmenyenangkan selama ini, perlahan-lahan terbayar. Semua waktu istirahat yang sempat tercuri, waktu bermalas-malasan di akhir pekan yang kadang tersisa secuplik, ternyata akan selalu terbayar pada akhirnya, Bukan dalam bentuk materi. Ada yang jauh lebih penting. Yakni perasaan bahagia, karena kotak hadiah itu pelan-pelan terbuka satu demi satu. It’s true. Doing things we love are truly great blessing.

Deo Gratias.

 

                                                  For all my despair, for all my ideals, for all that – I love life.

 But it is hard, and I have so much – so very much to learn.”
― Sylvia Plath