Titik Balik

20130908_061432

Menerima hasil lab 2 bulan sekali sudah menjadi rutinitas 2 tahun terakhir ini. Gak ada yang aneh. Biasa saja. Tapi membaca hasil tes terakhir, tiba-tiba saja membuat dada ini sesak. Akhirnya si hormon tiroid dinyatakan normal. Akhirnya upaya selama 1,5 tahun ini membuahkan hasil. Yoga, rajin makan mentah dan semacamnya, ternyata berhasil menjinakkan si hormon tiroid yang sempat menghambat aktivitas dan melemahkan kondisi fisik saya. Meski tentu saja my own battle ini tidak berhenti sampai disini. Autoimun ada di tubuhmu, deal with it, and fight for it. It is surely a life time commitment. 

Buat saya ini membuktikan, bahwa sehat itu pilihan. (those negative people, go mock your self and your life, please. If you have any :D). Sempat ada yang mencibir sinis, ini pencitraan lah, ikut-ikutan trend lah. Hahaha. Kasihan. Instead of judging, why don’t you dig deeper to know what other have been going through?

Yang pasti, dikasih sakit membuat saya berpikir ulang atas hidup saya. Sakit juga yang membuat saya memutuskan meninggalkan pekerjaan yang (sebelumnya saya pikir) saya idamkan. Lengkap dengan jabatan dan uang yang saya inginkan. Saya berusaha keras untuk mendapatkan pekerjaan sebelumnya tersebut, yang saya pikir akan membuat hidup saya lebih bahagia dan berwarna. Nyatanya? Nihil. Saya merasa kosong, padahal yang saya mau sudah ada di genggaman. Sakit, sempat memberi pukulan buat saya dan mengutuk. Kenapa?

Namun sakit pula yang  memunculkan ide Nyai, saat melihat tumpukan kain dan batik di lemari. Suami mendukung.  Klop. Match made in heaven. Jadi kalau ada yang berpikir Nyai adalah cara saya untuk menjadi kaya, salah besar. Nyai adalah terapi ‘sembuh’, for doing things I love. Teman dekat and those who are close in my heart knows my craze for traditional fabric.

Tanpa diduga, keputusan meninggalkan zona nyaman  ternyata malah membuka pintu lebih lebar bagi saya untuk melihat dunia dengan kacamata berbeda. Saya lantas mendapatkan kesempatan menjadi konsultan media yang memberi tantangan untuk terus bergerak dan berpikir, dengan waktu yang lebih fleksibel . Segala aktivitas yang saya jalankan, bahkan sempat memberi saya waktu untuk menjadi dosen meski kemudian saya lepaskan karena lelah atas keharusan pulang pergi Jakarta-Bandung. Saya juga mendapat kesempatab jadi dosen tamu untuk sharing soal si bayi Nyai, bisa bertemu dengan orang-orang baru dan menjalin network, berkenalan dengan para womenpreneur luar biasa itu, traverse to places for work mission, sempat memiliki waktu untuk rutin beryoga, quality time dengan kawan-kawan. Dan yang terpenting, masih bisa memiliki waktu lebih leluasa untuk keluarga.

Semua mengalir bagai air. Tanpa pernah diduga, banyak hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, sekarang saya lakukan. And I do fall in love with all.  Saya jatuh cinta dengan beragam warna dalam hidup ini yang secara ajaib menuntun jalan saya untuk melihat dengan lebih jernih. Siapa sangka jalan hidup saya akan seperti ini? Padahal dulu, pandangan saya lurus ke depan. Bekerja yang baik, karir yang baik. Cukup.

Sakit, ternyata menjadi titik balik dalam hidup saya. Titik balik yang mengubah pandangan. Titik balik bahwa berkarya itu membahagiakan. Titik balik bahwa kebahagiaan tidak perlu dicari, cukup dirasakan dengan hati dan pikiran jernih. Titik balik bahwa hidup terlalu singkat dan indah dihabiskan dengan sakit-sakitan, A turning point which made me realize that feeling healthy, strong and fit are rock!

Siapa sangka bahwa kemudian muncul pula keinginan bahwa suatu saat, saya akan mengajar yoga. Untuk menyebarkan virus dan semangat serupa, yang saya rasakan berkat yoga. Untuk merasa sehat dan kuat, dan mampu menaklukkan dunia.

Keluar zona nyaman memang (sedikit) menakutkan. Namun tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan. The Greater Power will take care of you as long as you do your best. With love. Namaste.