Hujan Bulan Juni *

By: Inka Prawirasasra

Aku ingat betul kala pertama kita berjumpa. Saat itu aku tengah berkeliling, nyaris putus asa mencari buku Hujan Bulan Juni karya Sapardi. Kutelusuri rak-rak buku satu demi satu. Rupanya sejak itulah, kau sudah memperhatikan diriku. Ekor matamu tak putus mengikutiku, menguping pembicaraanku dengan penjaga toko. Saat aku menanyakan dimana letak buku yang kucari, kau akui,  dirimu melesat secepat kilat mencari buku yang aku mau. Kau begitu indah. Kau dengan manik bola matamu, begitu katamu saat kutanya apa yang membuatmu melakukan itu.

“Kau mencari buku ini,kan?,” aku ingat betul saat itu aku bingung melihat tiba-tiba sesosok pria jangkung berdada bidang, bertopi dan berkacamata datang menghampiriku. Ditanganmu ada buku itu. Karya Sapardi.

“Ya, betul. Bagaimana kau tahu aku mencari buku itu,?”. Kau bilang saat itu dia ingin tertawa melihat raut mukaku. Campuran pas antara bingung, curiga dan senang karena akhirnya buku itu aku temukan.

Pertemuan senja itu lantas menjadi gerbang pertemuan kita selanjutnya. Senja itu pula kita lanjutkan dengan menikmati secangkir kopi, dan sepiring kue coklat lezat. Kita nikmati senja, hingga semburat lembayung di ufuk langit perlahan menghilang ditelan kegelapan malam. Rupanya kau penggemar Sapardi. Lantas sore itu pula kita berbicara panjang, menelisik makna dibalik Hujan Bulan Juni. Sore yang indah namun terpaksa kita akhiri saat saat lampu kota menelan kekusutan Jakarta, yang gamblang dilihat kasat mata di siang hari. Saat langit jingga mewarnai  langit Jakarta, sore itu pula semburat lembayung  hangat mewarnai hatiku.

“Aku minta pin BB-mu jika kau tidak keberatan,” kau katakan itu sebelum kita berpisah. Tentu saja permintaanmu aku kabulkan. Percakapan kita sore itu, tak ingin aku sudahi.

Lantas, blackberry menjadi saksi betapa riuh percakapan kita selanjutnya.  Sejak pagi hingga malam. Sejak aku membuka mata, hingga aku dipeluk bunga mimpi. Bilik percakapan kita itu juga menjadi saksi janji pertemuan selanjutnya. Dan seterusnya.

 Senja adalah waktu yang paling kita suka untuk berjumpa. Sejak pertemuan pertama itu, entah berapa puluhan senja kita habiskan berdua. Kadang ada secangkir kopi, kadang ada segelas anggur. Kau selalu bisa membuatku terpesona. Kau yang tak banyak bicara, namun perkataanmu selalu memiliki makna yang luar biasa. Pikiranmu yang diselimuti berjuta lapisan penuh misteri, membuat aku tak bosan menguliti satu demi satu isi kepalamu, layaknya mengupas irisan bawang yang tak habis dalam satu kupasan. Setiap lapisan membuat aku kepayang.

Kita bisa tertawa terbahak-bahak, hingga semua beban dunia menguap, seperti embun pagi yang menghilang kala surya menampakkan muka. Membuat aku merasa ringan dan melayang.  Membuat aku tergagap, terjerat. Satu waktu  bisa kita nikmati dengan sepiring kue coklat nan pekat. Pekat seperti coklat bola matamu saat menatapku tajam di balik kacamatamu. Sore lain, kita menikmati sepiring pasta dengan serakah, menggauli rasa rindu kita, usai beberapa hari tak jumpa, meski kau bilang kau tak suka pasta.

“Tapi karena kau suka, aku mencoba menyukainya,” kau katakan itu sambil menyuapi pasta berlumur saus kental kemulutku.

            Aku hanya terkekeh geli. “Gombal,’ begitu rutukku.

            “Aku cinta kamu. Kau tahu itu kan,?” jawabmu tajam sambil menatapku.

            Aku mengedikkan bahu. “Entahlah, kau tidak pernah bilang selama ini,” aku menjawab tak acuh. Meski itu hanya topeng untuk menutup gemuruh yang tiba-tiba muncul tanpa permisi. Jangan katakan itu. Kau tahu, dua sisi mata pedang mulai menghunjam hatiku.

            “Ayo kita ke toko buku,” ajakmu tiba-tiba.

“Untuk apa? Aku mau disini saja,” jawabku malas sambil menyurukkan tubuhku di sofa tebal, di sudut sebuah kafe dengan pemandangan kota, dengan kaca-kaca besar. Ini tempat favorit kami, karena saat senja menghilang ditelan gelap, lampu kota memancarkan gemerlap buatan.

 Aku cium wangi tubuhmu. Wangi yang khas yang aku kenal betul aromanya. Aroma sore, aku bilang. Saat tubuhmu bergumul keringat sejak pagi, bercampur wangi parfum kesukaanmu. Ramuan pas yang senantiasa menari-nari di hidungku, membuat aku ingin melumat aroma tubuhmu dengan sekali telan.  Aku pernah bilang, aroma tubuhmu akan aku simpan dalam toples ingatanku. Toples itu akan aku letakkan di sudut hatiku. Lalu kuhirup serakah  setiap saat ketika aku merindumu.

“Sudah, ikut saja denganku,” kau menarik tanganku dengan tergesa-gesa. Sore itu kita menyeberang jalan meski dibawah gerimis. Kita berlari-lari kecil di trotoar jalanan kota.

“Ah gerimis begini kau paksa aku ikut denganmu. Sepatuku bisa kotor, kau tahu,” aku menggerutu kecil, meski tak mau pula aku tidak mengikuti maumu.

“Hujan ini hanya gerimis, sayang. Mewarnai dan memaknai penghujung sore hari, menemani langkah kaki kita. Meski ini bukan Hujan Bulan Juni,” kau menggodaku sambil mencium rambutku, memelukku kian erat sambil memperlambat  langkah. Lalu sambil tetap memelukku, kau cium keningku.

“Aku tahu kau malas beranjak dari café itu. Tapi mari, meski ini bukan hujan bulan Juni, pasti akan mampu menghapus jejak kakimu yang ragu-ragu di jalan ini. Itu karena aku,” katamu penuh percaya diri sambil terus menggodaku dengan modifikasi bait puisi kesukaanku.

“Kau selalu tahu bagaimana membuat aku tak bisa menolakmu, meski sofa di café tadi adalah alasan malas terbesarku untuk beranjak,” kataku sambil tertawa kecil. Hatiku melayang saat kau kian erat pegang tanganku, lalu kau belai rambutku. Riak-riak gelombang kecil menghantam hatiku, kian deras menghantarkan rasa bahagia hingga aku tak mampu menahan seulas senyum di wajahku. Aku tak mau melepaskanmu. Tidak hari ini. Atau esok, dan juga nanti.

Lantas di dalam toko buku, kau tiba-tiba mengambil sebuah buku dari rak.

“Dengar aku. Ini adalah penggalan favoritku. Aku mau bacakan untukmu meski aku tahu kau sudah pernah membacanya,” mukamu tiba tiba serius. Kau naikkan kacamatamu yang merosot di hidungmu, lalu kau usap hidungmu berulangkali.  Lantas kau berdeham, “Dengar baik-baik.”

Dalam doaku subuh ini, kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara,” kau ucapkan pelan-pelan puisi itu.

“Lalu,?” aku menjawab sambil melumat coklat pekat  bola matamu. Hatiku berdebar kencang, tak sabar mendengar kalimat selanjutnya.

Kau kembali berdeham, “Aku tidak mau bacakan paragraf kedua dan ketiga. Paragraf yang berikutnya akan aku bacakan untukmu. Aku tidak bisa menulis keindahan seperti Sapardi. Tapi aku mencintai bait demi baitnya….. Seperti aku mencintaimu….., ” kau menjawab dengan tatapan matamu yang menelanjangi mataku. Membuatku merasa ditelanjangi dalam diam, karena pekat matamu tidak membiarkan satu jengkal pun luput dari tajam bola matamu.

Aku tercekat. Lantas kau melanjutkan, dengan suara yang kian lirih. Perlahan kau lumat kata demi kata, seakan kau coba meyakinkan dirimu sendiri, mencoba meresapi dalam hatimu satu kata demi kata. Aku pasang telinga baik-baik, memastikan indra pendengaranku mampu menyesap keindahan dalam untaian kata yang keluar dari mulutmu.

Magrib ini dalam doaku, kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun disana. Bersijingkat di jalan, dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi dan bulu-bulu matamu,” kalimat terakhir kau ucapkan dengan sangat perlahan seperti desau angin yang mengalir di sore hari, seraya menutup buku dan mengembalikan ke tempatnya semula.

Dadaku bergetar. Kian hebat hingga ada sebulir air mata menggantung di bola mataku. Lalu menetes perlahan ke pipiku. “Sapardi memang selalu bisa mengungkapkan dengan sederhana, dengan makna luar biasa. Kesederhanaan yang dibalut keindahan. Seperti kamu,” ujarku sambil memeluk tubuhmu. Kau rengkuh aku lebih erat dari biasanya sore itu. Kita tidak berkata-kata sepanjang sisa sore itu. Kita bicara dengan bahasa hati,  lewat sentuhan, ciuman kecil dan kerlingan penuh makna.

Di malam yang hujan itu, aku menjadi angin. Yang menyentuhkan pipi dan bibirku, di rambut, dahi dan bulu-bulu matamu. Mula-mula pelan, turun perlahan, dan bersijingkat. Namun angin itu lantas menjadi pusaran besar, yang kian lama kian mengguncang kita berdua, menelanjangi setiap inci tubuh kita berdua. Membuat aku tak kuasa menjerit berbalut keringatmu dan keringatku sendiri. Lalu fajar menyingsing, tangan kita masih bertautan erat. Lantas aku bertekad dalam hati, kau adalah jawaban doaku, yang menjelma di sore hari. Menjelma langit, menjelma pucuk-pucuk cemara, menjelma nyanyian burung gereja, menjelma angin, menjelma denyut jantungku.

Aku mencintaimu. Sebab itu aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu. Begitu ucapku dalam hati.

***********

Malam itu kau datang, lagi-lagi dengan buku kumpulan karya Sapardi. Entah mengapa, sejak malam pergumulan kita, pertemuan selalu diwarnai dengan membaca penggalan karya Sapardi yang membuat kita selalu terbius, terpesona. Lewat puisi, perasaan kita berdua dikuliti untuk menyatu. Mendekat kian erat lewat bahasa hati yang dipersatukan oleh Sapardi.

“Hujan kian deras, sejak kemarin. Kota ini basah diguyur hujan. Membuat cucianku tidak kunjung kering,” ujarku menggerutu seraya menutup jendela apartemen 3 kamarku.

“Hujan di luar memamg bukan gerimis, sayang. Tapi hei, ini bulan Juni. Hujan ini membuatku teringat puisi favoritmu yang kini sudah aku hapal betul diluar kepala,” kau tertawa kecil sambil menarik tanganku. Memberi isyarat agar aku duduk di sofa empuk di depan TV.

“Ya sudah kita habiskan saja menonton marathon CSI di depan TV ya. Aku malas beranjak pergi di tengah hujan deras seperti ini. Aku akan pesan makanan Thailand saja lewat delivery, kamu mau kan,?” aku bertanya sambil berusaha meredakan kegelisahan di dalam hatiku. Malam yang hujan itu, aku akan menyampaikan sesuatu padamu. Yang aku tahu akan meninggalkan rasa tidak nyaman di hati kita berdua.

Sejuta kalimat menggantung di mulutku. Aku ingin buru-buru meluncurkan rentetan kata sebagai kabar bagimu. Namun aku tak tahu bagaimana memulainya. Tanganku terkepal, mencoba mencari jawaban atas kekuatan yang aku butuhkan. Sampai makanan datang ke apartemenku, aku masih tak sanggup mengatakan kepadamu. Keringat dingin mulai membasahi badanku, kecemasan kian mengalir di tubuhku.  Tapi rasanya mulut ini tercekat di kerongkonganku, seperti ada batu besar yang membuat aku susah berkata-kata.

“Ada apa sebetulnya? Sejak aku tiba kau bersikap seperti tidak biasanya,” kau menatapku tajam. Seperti pisau yang sanggup menorehkan kebenaran agar keluar dari mulutku.

Aku mengambil minum di meja, menenggak isinya. Mencoba memuluskan agar berita yang kusampaikan dapat dengan mudah meluncur dari kerongkonganku.

“Suamiku meminta aku tinggal bersamanya di Amerika Serikat. Saat ini keadaan sudah membaik, pekerjaan barunya yang mengharuskan ia melakukan perjalanan ke banyak kota, kini sudah berubah. Ia hanya akan bekerja di kantor pusat, tanpa perjalanan seperti sebelumnya. Sudah saatnya aku kembali bersamanya,’” aku menjawab dengan suara tercekik. Namun demikian, kata demi kata meluncur tanpa berhenti dari mulutku. Segumpal kelegaan memenuhi rongga hatiku, digantikan oleh rasa takut yang muncul tanpa permisi.

“Jadi aku diminta kembali tinggal bersamanya, minggu depan aku akan menyewakan apartemen ini kepada orang lain. Dan minggu sesudahnya aku akan berangkat, meninggalkan pekerjaanku, meninggalkan kota ini,” aku menambahkan dengan cepat. Aku memalingkan muka. Tidak seperti biasa, kali ini aku berbicara tanpa sanggup melihat pekat coklat matamu.

“Dan… meninggalkan aku?,” kau menjawab lambat-lambat. Membuka topimu, sambil mengusap kepalamu dengan raut bingung dan kaget. Lagi-lagi aku memalingkan muka.

“Kau tahu sejak awal, inilah keadaanku. Cepat atau lambat hal ini akan tejadi,” aku menjawab sambil memainkan bantal sofa. Mencuri pandang ke wajahmu, yang dipenuhi dengan sejuta perasaan yang hanya kau yang tahu.

“Secepat itu ya…, mendadak sekali,” kau menimpali seraya berjalan menuju jendela. Menatap jauh, menerawang, melihat lampu kota yang kabur terselimuti tebal air hujan. Lantas ruangan terbalut diam. Aku tak berani berkata-kata, aku tak sanggup harus menahan air mata. Bagiku kau adalah segalanya. Tapi aku tak sanggup harus mengambil keputusan meninggalkan suamiku meski pernikahan 5 tahun kami kerap meninggalkan jejak sepi dihatiku. Tapi jeritan hatiku tak sanggup aku katakan padamu malam itu. Meski beberapa bulan ini, sore yang kita habiskan adalah saksi keramaian ditengah hidupku yang kemarin terasa kosong.

Malam itu kau pulang, tanpa berkata-kata, tanpa memelukku seperti biasa. Namun tatapan matamu membuat aku paham dengan hati, ada pilu di hatimu. Begitu juga aku.

********

Sore itu aku bersiap untuk berangkat dengan koper-koper yang akan menemani aku menuju negeri Paman Sam, menemui pria yang telah mengikat janji sehidup semati denganku. Dalam perjalanan, di tengah kemacetan menuju bandara, aku merogoh tas besarku, mengambil dan membaca ulang kalimat dalam lipatan kertas di dalam amplop.

Pagi tadi aku menemukan amplop di bawah pintu masuk apartemenku. Amplop itu polos, putih bersih.  Dengan rasa tak sabar yang menyeruak, aku robek amplop itu. Didalamnya ada kertas putih dengan tulisan tangan yang aku hapal betul setiap tarikannya. Dengan dada berdebar, kubaca setiap kata yang tertera di dalamnya. Tanganku bergetar hebat membacanya sambil membuka toples ingatanku. Menghirup aroma sore yang begitu aku kenali setiap incinya,  meninggalkan rasa rindu yang kali ini terasa menyakitkan. Meski sejak malam tanpa kata itu, tak pernah ada lagi senja kita habiskan berdua hingga malam datang meski tanpa bintang. Kamu harus tahu , aku  simpan baik-baik semua memori  bersamamu dalam peta ingatanku.

Hatiku selembar daun, melayang jatuh di rumput.

Nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring disini

Ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput

Sesaat adalah abadi, sebelum kausapu tamanmu setiap pagi

Aku terisak.  Larut dengan bait Sapardi. Berjuta kata yang tak sempat aku ucapkan kepadamu, tumpah dengan bulir manik yang menderas di pipiku. Kau tarik dirimu dari cerita kehidupanku begitu saja, seperti jejak kaki yang menghilang tanpa bekas usai disapu gelombang air hujan di tanah basah.

******

Pemuda itu menanti di balkon tunggu penumpang di bandara. Hujan lagi-lagi mengguyur kota di bulan Juni. Mata coklat pekatnya tak lepas menatap pesawat yang akan bersiap tinggal landas, membawa wanita yang menjadi puisi terindahnya. Ada separuh jiwa hilang dikala pesawat besar itu terbang tinggi membelah angkasa, hingga hanya tampak setitik kecil dengan pendar cahaya yang perlahan hilang ditelan awan gelap saat hujan.  Matanya dengan lapar masih mencari-cari, seolah ia bisa menukarkan rasa rindu yang membuncah hanya dengan melihat burung besi yang membawa pujaan hati.

Kepalanya menunduk lunglai. Energinya tiba-tiba terasa terhisap. Ia kemudian duduk, tak hirau oleh lalu lalang manusia di bandara. Ia merogoh saku celana, mengambil  blackberry. Sudah tak ada lagi nama wanita yang selama beberapa bulan ini begitu mengusik kewarasannya, dalam daftar blackberry messenger. Ia hapus namanya sejak beberapa hari lalu. SMS yang berulang kali ia terima, tak satupun ia balas. Jarinya kemudian menyentuh trackpad, menekankan jempol saat panah berada di lambang surat. Siang tadi ia terima email, yang lantas ia baca berulangkali sambil membayangkan setiap lekuk tubuh wanita yang ia cinta, setiap mili lekuk wajah dengan mata bermanik indah.

Tak ada yang lebih tabah, dari Hujan Bulan Juni.

Dirahasiakannya rintik rindunya pada pohon berbunga itu…

Ia menghela napas usai membaca penggalan puisi dalam email yang ia terima. Ia sulut sebatang rokok, menghisapnya dalam-dalam hingga nikotin memenuhi rongga dadanya. Entah sampai kapan ia akan sanggup menyatukan kepingan hatinya. Mungkin sampai bulan Juni meninggalkan dirinya dengan malu-malu. Cukup sampai disitu. Lantas ia akan menyerahkan ingatan pada perjalanan menyapa lupa.

****Judul diambil dari puisi karya Sapardi Djoko Damono dengan judul yang sama***

***Kalimat yang ditulis miring adalah petikan puisi karya Sapardi Djoko Damono***

Advertisements

How Do I Love Thee

DSC_0045

DALAM DOAKU.

By Sapardi Djoko Damono

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

DSC_0452

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu.

(Membaca Sapardi adalah membaca keindahan yang tak habis menorehkan berjuta rasa yang dituliskan dengan begitu indah oleh beliau. Terimakasih atas untaian Dalam Doaku, yang begitu tepat menjadi muara rasa untuk keindahanku, Arundhati Kayanashira).