Tales of a (lazy) Writer (wanna-be)

Saya senang membaca. Sejak kecil. Gak heran minus mata sebesar ini. Akibatnya bertahun-tahun sejak kuliah S2, saya selalu pakai soft lens karena malas berkacamata nan tebal. Tapi sejak hipertiroid nangkring yang sempat berimbas pada kondisi mata, meski kini sudah membaik, saya gak berani pakai softlens.

Rak buku di rumah kini nyaris sudah gak sanggup menampung buku saya. Ini belum termasuk buku-buku yang ada di rumah orangtua di Bandung. Buku apa? Macam-macam. Dari mulai chicklit karya Sophie Kinsella, karya Amy Tan yang kerap dengan cerdas berkisah soal hubungan ibu-anak dalam konteks benturan budaya dan generation gaps, Khaleed Hosseini yang kerap menjadikan Afghanistan sebagai latar belakang kisah dalam novelnya, Orhan Pamuk, sampai buku kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono atau Sitok Srengenge, Bahkan Madilog-nya Tan Malaka, sampai trashy magazine juga saya baca. Apa saja. Karena hobi baca itulah, sebetulnya ingin jadi penulis. Namun apa daya, gak punya cukup kedisiplinan untuk terus konsisten menulis. Plus gak pede juga akan kemampuan menulis untuk lantas dijadikan buku, cerpen atau apapun. Jadilah menjadi penulis buku, berkutat sebagai angan-angan di siang bolong.

Tapi saya tetap suka menulis. Ada banyak draft short stories di laptop, yang gak pernah berani saya publikasikan. Ada yang akhirnya cuma nongol di notes FB, atau di akun multiply yang sekarang sudah jadi kenangan. Suka juga menulis Haiku. Tapi ya gitu. On off. Kalau lagi senang menulis haiku, bisa berhari-hari nulis terus lalu posting di twitter. Kemudian berbulan-bulan hibernasi.

Namun biar bagaimana, saya suka menulis untuk konsumsi sendiri. Jadilah blog atau dulu notes di FB sarana untuk menuangkan hobi angin-anginan ini.

Tapiiii….

Sejak mengurusi si bayi Nyai dan menggagas rubrik Women We Love untuk ada di micro site (berhubung main sitenya masih belum selesai  :D), mau gak mau menulis profil para perempuan hebat itu harus konsisten. Jadinya seperti dapat keasyikan baru. Mengulang serunya saat jadi jurnalis TV, namun kali ini dengan format berbeda dan media berbeda. Tapi tetap ada proses wawancara, riset kecil-kecilan soal profil yang akan ditampilkan. Kali ini plus ditambah rasa haru yang suka menyeruak tanpa permisi, saat membaca transkrip hasil wawancara dengan para narasumber itu.  Sambil menulis dalam hati saya kerap berseru kagum: wah hebat ya mereka.

Buat saya, menulis jadi sarana mendapat energi positif. Saya merasa tercerahkan, bersemangat saat membaca profil para wanita luar biasa itu. (Terimakasih. Kalian gak tahu betapa kalian semua jadi sarana recharge baterai diri yang sederhana).

Senang luar biasa ketika ada rekan yang menawarkan saya menulis artikel di media online yang tengah mereka kembangkan. (Klik disini  .     Tunggu tulisan lainnya yang akan segera dipublish di media online lain) Meski gak dibayar, senangnya berlipat loh. Bukan soal bayarannya. Memang mengerjakan sesuatu yang kita cintai, bayaran itu rasanya jadi nomor dua dan bukan yang utama.  Perlahan saya tersadarkan, meski bukan penulis, menulis menjadi nafas baru dalam hidup yang memberi warna indah dan berbeda.

Suntikan energi itu bisa dari mana saja. Bahagia memang sederhana.

Work Place = Second Home (Not)

Salah satu alasan yang membuat saya betah kerja di dunia televisi, adalah kebersamaan. Sejak saya pertama kali bekerja di SCTV, saat training reporter baru, yang selalu terngiang di kuping adalah: teamwork, teamwork, teamwork.

372_34692653657_4101_n

Ya. TV itu memang bukan kerja individu. Ada banyak elemen di dalamnya yang terlibat untuk menyajikan bahkan untuk berita berdurasi 3 menit sekalipun. Apalagi misalnya untuk siaran 1 jam. Belum lagi saat saya kerja di Astro TV, makna ‘berat sama dipikul, ringan sama dijnjing’ itu terasa sekali. Bahkan untuk ijin kerja karena sakit pun, bisa menimbulkan perasaan gak enak di hati, karena beban kerja dipastikan berpindah ke rekan kerja kita.

Meski target kerja tergolong ketat, deadline sempit, namun teamwork itu terasa luar biasa. Meski saat proses produksi berita, friksi itu ada saja terjadi, tapi sesudahnya kita tetap makan siang bersama, ketawa-ketawa, seolah tak ada hal tak enak terjadi sebelumnya. Entah bagaimana, etos kerja dengan tujuan menyelesaikan pekerjaan dengan tenggat dan teamwork itu, menjadi kebiasaan yang melekat bahkan ketika sudah meninggalkan dunia yang saya cintai tersebut. Termasuk kehidupan sosial yang memberi saya begitu banyak berkat dengan rekan kerja yang luar biasa.

289_18507888657_6618_n

Sejak bekerja di TV pula lah, tempat kerja itu terasa menjadi rumah kedua. Karena selain suasana kerja yang egaliter, rekan kerja yang asyik, saya juga banyak mendapat teman baik.  Saling sapa via BBM, janjian makan malam bersama, shopping date dan masih banyak lagi. Ternyata, gak cuma saat bekerjadi televisi, bahkan  tempat kerja di dunia korporasi sebelumnya saat saya alih profesi jadi Corporate Communication, juga saya banyak teman baik yang seru. Kami punya gank perempuan gila makan-belanja -tapi- kerja- sepenuh-hati yang dinamakan gank CA. Kepanjangan dari divisi kami, Corporate Affair. Sampai sekarang meski kami sudah berpencar, kami rutin bertemu beberapa bulan sekali.

265_21873323657_6769_n

Tak hanya menjadi rumah kedua, tempat-tempat kerja bahkan memberi bonus  sahabat dekat untuk saya, yang selalu menempati porsi tersendiri di ruangan hati hingga saat ini.

But reality bites. Masa bulan madu bertahun-tahun seperti itu jangan selalu diharapkan akan terjadi.  Kasat mata, perlahan ekspektasi semacam itu tak selalu bisa diterapkan di semua tempat. Karena ternyata, kesetiakawanan di tempat kerja-empati-berbagi beban itu harus timbal balik. Ternyata bisa saja orang yang kamu anggap memiliki pikiran sama (tanpa pretensi), justru menyimpan agenda tersendiri demi kepentingan mereka sendiri, misalnya. Etis gak etis itu nomor dua.

Hikmahnya apa? Ya menjadi selektif. Jangan asal ngomong ceplas-ceplos tanpa pikiran apa-apa. Waspada itu penting. Gak semua orang itu kerja tanpa agenda  apa-apa selain menyelesaikan pekerjaan,Tk perlu heran ketika kerja itu betul-betul hanya tempat kerja tanpa ikatan emosinal dan kebersamaan diantara sesama. Tempat bekerja tidak selalu menjadi rumah kedua.

Perhaps we’re now living in the world of ignorance that we don’t put heart and compassion when we’re working. Perhaps it’s the new era of the working world. Or perhaps it is only me who’s being melancholic and stupid at the same time. The world is changing! *grin* . Let’s find a way to restored my faith in heart and compassion. At work.

Mari Berlari?

Sudah sebulan terakhir ini, akhirnya saya memutuskan untuk: lari!

1461077_10152019515603658_1067958238_n

Sebetulnya keinginan ini sudah lama. Cuma gak pernah terlaksana. Namun akhirnya memulai juga sejak pertengahan Oktober lalu gara-gara si mantan pacar membelikan sepasang sepatu lari. Akhirnya ya dimulailah.

Alasannya? Gak perlu alat macem-macem (errr, meski ada yang bilang lari olahraga mahal sekarang ya. Karena apa? Ada sport earphones lah, running sun glasses lah, hydration belt lah, sampai compression running pants endebra-endebre. Etapi itu sih balik ke individu masing-masing sih. Tanpa gear yang disebut diatas, toh saya masih bisa berlari dengan modal sepatu pemberian mantan pacar dan celana pendek untuk yoga :D)

. Sama kaya yoga. Bisa dilakukan dimana saja. Keliling kompleks, atau kemarin sempat mencoba lari di GBK sama teman perempuan sepulang kantor. Gak perlu parkir ribet macam mau ke gym yang kerap berada di pusat perbelanjaan.

Tapi jangan bayangkan sudah sanggup lari jauh ya. Baru sampai 1,8 kilometer saja di catatan terakhir Nike running minggu lalu dengan waktu tempuh 17 menitan. Tapi gak ngoyo. Sama kaya waktu awal-awal ikut yoga, gak memaksakan diri tapi juga terus mencoba dan berusaha disiplin.

Jadi sekarang jadwal yoga dan lari dikombinasi. Setiap kamis itu pasti yoga di Jakarta Do Yoga. Paling geser ke Rabu sore kalau Kamis lagi nggak bisa. Sisanya  seminggu 2-3 kali yoga di rumah kurang lebih 30-45 menit setiap pagi.

Nah bagaimana dengan jadwal lari? Biasanya sih Sabtu pagi. Namun minggu lalu pulang kerja saya menjajal track di GBK. Target saya setidaknya seminggu satu kali ada jadwal lari. Karena biar gimana, cinta pertama saya tetap buat yoga. And wish to have a chance to register for teacher training. Wish me luck!  😀

Semoga saja bisa sekonsisten saat beryoga yang kini sudah mau jalan dua tahun (and wish for many years to come. Amien). Meski sempat di pertengahan tahun ini yoga-nya hanya seminggu sekali selama 2-3 bulan. Alasannya? Malas melanda lah. Apalagi. Hahaha.

But again, it’s not about how you start. But how you manage to be persistent. It’s going to be a battle, nonetheless.

602366_10151022942148658_1811273728_n

Oh ya. Sebelum ada yang menduga yang enggak-enggak. Ini bukan pencitraan ya. Cuma pengen sehat aja. Boleh dong milih sehat setelah sempat sakit-sakitan. Tapi kita bukan alien loh. Masih sesekali makan gorengan. Gak tabu juga makan kue enak kok once in a while. Mencicipi juga ayam penuh msg ala snack Taiwan ketika ada teman menawarkan, to know the taste.  I have cheating days as well. Hihihihi

Jalan Mana Yang Kau Pilih?

Beberapa minggu rasanya ada pergolakan batin, bahasa kerennya gitu. Atau entahlah apa namanya. Tapi membuat dada ini sesak. Karena mendadak merasa, simply there’s nothing I can do.

Hidup kan soal pilihan. Saya juga percaya, hati nurani gak pernah bohong. Tapi sesak rasanya melihat ada banyak ketidakjujuran, penyelewengan (tenaaang, bukan soal hubungan asmara :D) yang dilakukan dengan kasat mata. Tidak perlu jadi jenius untuk tahu bahwa ada banyak hak orang dilanggar dan tidak dipedulikan, atau meraup kepingan yang bukan hak mereka. Tahu, tapi mereka pura-pura gak tahu, atau entah apa namanya.

Shock, ketika tahu ada begitu banyak ‘rahasia’ dan ‘agenda’ yang disembunyikan banyak orang bukan dengan melalui perang terbuka. Tapi perang diam-diam yang membuat kamu tidak tahu, bahwa dibalik senyum manis orang tertentu, ada pisau lipat yang siap dihunuskan. Semua karena apa? Uang.

Siapa yang gak perlu uang? Ya kan? tapi apakah kemudian alasan uang juga menjadi alasan pembenar untuk tindakan. Ataukah makna kejujuran saat ini sudah terdegradasi yang membuat orang memiliki begitu banyak lapisan di wajah mereka? Rasanya sejak tahun lalu bertubi-tubi saya dihadapkan contoh di depan mata, bagaimana uang membuat orang melakukan berbagai cara. Bagaimana benar-salah, hitam dan putih, sudah tidak jelas lagi batasannya. Pilihannya: mau ikut arus atau berdiam diri tak bergeming, namun harus menahan begitu banyak kenapa  yang menggantung di kepala. Juga menahan dongkol, karena si pencuri bisa melenggang dengan riang gembira, karena pembiaran yang berlangsung sejak lama. Lalu krisis kepercayaan kepada  segelintir orang sekeliling pun menyeruak, karena ada banyak motif dan kepentingan yang disembunyikan mereka.

Mengutip kata seorang teman yang kurang lebih begini. “Meminta artinya akan berbanding lurus dengan tanggungjawab. Penghargaan itu soal kelayakan. Jika belum diterima, biarkan The Greater Power yang menghitung dan membalikkan keadaan”. Toh meminta, bukan kebiasaan saya. Tidak meminta, bukan berarti apa yang bukan hak kita anggap sebagai hak dengan alasan keadaan ekonomi, atau karena sekeliling melakukan hal yang serupa. Ya kan?

Mengutip hak orang, itu juga bukan diri saya. Mengadu teman sendiri demi penghargaan yang (seharusnya) berbanding lurus dengan kelayakan, juga bukan fitrah saya. Pilihan saya ada disini, di hati. Maka itulah saya berdiam diri, meski mungkin menyesakkan hati.

Seperti filosofi Taoisme. Wei wu wei. Action through inaction. Tidak memilih untuk menyerah, apatis, atau ikut arus yang demikian kencang menggoda keyakinan yang selama ini (berusaha) saya pegang teguh. Saya adalah saya.

Saya mengibaratkan perjalanan ini seperti naik gunung dengan berjalan kaki. Memang tidak mudah. Mungkin kau akan terjatuh, habis nafas, ingin menyerah. Tapi begitu kita sampai diatas puncak gunung, rasa lelah akan terbayar dengan pemandangan indah yang terhampar di depan mata.Meski mungkin, naik gunung dengan duduk diatas tandu, akan lebih mudah karena memanfaatkan tenaga orang lain.

Kesabaran saya tengah diuji. It’s about sticking and believes in values. Mari bekerja dengan hati. Bukan dengan menggadaikan harga diri dan prinsip nurani. Those people can’t make me cynical or sucked my belief in the goodness of every man’s heart. Even it’s tiring the hell out of me.

Tabik.

Weekend Tanpa Mall

Mencari cara menghabiskan libur akhir pekan, rasanya jadi tantangan tersendiri. Gak mau juga Shira itu taunya dari mall ke mall. Kadang kami suka juga bawa dia ke taman, kebun binatang, Taman Safari, Taman Lalu Lintas saat berlibur ke Bandung,  Dufan dan semacamnya. Namun apa lagi #weekendtanpamall yang seru dan edukatif?

Rumah kami ini terletak di cluster, jadi anak-anak bebas bermain di jalanan, bersepeda, main badminton di taman pojok jalan, main layangan, dan lain sebagainya. Tak jauh juga ada Taman Kota. Cukup sering kami membawa si anak kecil kesana. Kami menerapkan peraturan, Ipad/Tab hanya dimainkan kala akhir pekan saja. Hari biasa? Tidak boleh tentunya. Meski kadang ada pengecualian kala dia berhasil menguasai satu lagu piano baru, misalnya. Itu pun tetap dengan batas waktu. Gak mau aja dia terpaku main game dan sebangsanya. We want her to be outside, feel the air and running around and be playful. Kami biarkan dia bermain dibawah hujan, berlari di rumput tanpa alas kaki, atau menantang mentari dengan bermain layangan.

Sejak 3 bulan terakhir, saya sama si mantan pacar mencanangkan #weekendtanpamall. Maksudnya, agar kami disiplin menyediakan waktu secara berkala dan memikirkan acara seru akhir pekan tanpa melibatkan mall dan sebangsanya. Membuat kami ikut excited seperti halnya si anak kecil, saat kami berencana misalnya tanggal sekian akan pergi ke suatu tempat.

DSC_0449

Kali pertama, kami pergi berpetualang ke kawasan Pasar Lama di Tangerang. Pesta kuliner, mencicipi hidangan khas cina peranakan Tangerang yang banyak tersebar di kawasan pasar lama, lalu mampir melihat kelenteng Boen Tek Bio yang tertua di Tangerang. Agar ia tahu, bahwa wujud kelenteng tempat penganut agama Budha beribadah ya seperti itu.

#weekendtanpa mall lainnya, kami habiskan  di Eco Park di Ancol. Murah meriah pastinya. Hanya membayar biaya masuk Ancol, kita bisa berkeliling taman luas, memberi makan ikan langsung di danau, memberi makan burung yang bebas berkeliaran, atau menyeberang dengan rakit kecil menuju pulau buatan untuk memberi makan rusa, domba, angsa. Sesudahnya kita piknik di taman. Sementara si anak kecil berkeliling naik sepeda, kami tidur-tiduran di alas yang ada di lapangan rumput, saya membaca buku dan si mantan pacar tidur beneran 😀 .

Di akhir pekan, akan ada ‘pasar’ kecil dengan aneka stall menjual makanan dan bahan baku organik di Eco Park, tidak jauh dari dermaga. Seru!

 20130831_093001

20130831_081040

20130831_083643

Lalu kemana lagi? Bulan lalu kami membawa si anak kecil ke Museum Nasional. Disana setiap akhir pekan ada aneka kegiatan untuk mendukung gerakan Weekend di Museum. Kebetulan kami sengaja datang saat ada pentas dongeng Teater Koma (catatan: setiap dua minggu sekali Museum Nasional rutin menggelar dongeng sejarah bersama Teater Koma).

DSC_0395DSC_0372

Tema yang dibawakan berhubungan dengan benda sejarah koleksi museum. Saat kami datang, mereka mendongeng “Raibnya Celengan Majapahit”. Sesudahnya pengunjung bisa melihat langsung celengan tanah liat dari era kerajaan Majapahit. gak usah khawatir bosan mendengar dongeng sejarah. Kita semua larut tertawa dan berinteraksi dengan para pelakon yang seru sekali mendongeng..

DSC_0382

DSC_0413

Saat berkeliling museum, dengan raut muka terkejut sekaligus senang, si anak kecil menunjuk arca-arca kuno seraya membaca keras-keras. “Mahisa….Padma, Shiva, Bu… ini kan nama tas (NYai)!!!”. Lantas saya pun menjelaskan padanya bahwa nama-nama tas Nyai memang diambil dari nama-nama yang lazim terdengar pada jaman kerajaan Majapahit. Disaat belum ada Ipad, mobil, TV, bahkan sepeda. Disaat kereta kuda seperti di buku cerita adalah kendaraan lazim yang digunakan orang sehari-hari. Sepulang dari sana, si anak kecil merengek minta dibelikan buku soal kerajaan Majapahit yang membuat saya pusing tujuh keliling. Buku macam apa yang harus saya cari untuk anak seumur Shira?

Atau saat saya dan Ibu berlibur ke Surabaya akhir September lalu, kami sengaja membawa si anak kecil ke Museum Sampoerna. Lantas kami ikut Surabaya Heritage Track yang berangkat jam tertentu dari Museum Sampoerna, berkeliling mengenakan bus kecil ke kawasan kota tua dan melihat aneka bangunan peninggalan jaman kolonial. Gratis. Tanpa bayar. Sesudahnya kami mampir makan eskrim Zangrandi yang sudah ada di kota pahlawan sejak puluhan tahun lalu. Hati senang dengan cara sederhana.

20130928_145213

20130928_144933

Lalu akan kemana lagi kami menghabiskan akhir pekan dengan #weekendtanpamall? Nah, pekerjaan rumah saya dan si mantan pacar untuk memikirkan hendak kemana. Kami tidak mau si anak kecil  tercerabut dari kehidupan diluar kotak bernama mall, atau kotak bernama Ipad/Tab yang membuat ia tenggelam dalam dunia tanpa warna. Tentunya masih diperlukan ide dan kreativitas dari kami sebagai orangtua, untuk mengajak Shira melihat ‘dunia’ yang penuh warna.

Tabik

Nyai, Warna Hidup dan Cinta

Image

Menjalankan NYai itu memberi warna baru yang luar biasa dalam hidup saya. Bukan tentang uang. Tapi ada banyak pintu terbuka yang membuat saya melihat hidup ini dengan kacamata penuh warna. Bisa berbagi lagi di hadapan para mahasiswa- mengingat kesibukan sebagai dosen tahun lalu saya lepaskan karena keterbatasan waktu, bisa berkreasi dan (tetap) menulis, bisa berkenalan dengan banyak orang dari mulai konsumen hingga para reseller, bisa belajar banyak soal beragam hal, dan masih banyak lagi berkat yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Nyai berawal dari imajinasi. Jika kemudian ini terwujud nyata, tentunya senang luar biasa. Bagaimana kreasi- yang mungkin ada yang bilang ‘nyeleneh’ , tapi inilah wujud apa yang ada di kepala dan menjelma menjadi nyata. Nyai pula yang kian menyatukan saya dan si mantan pacar. Kami menjadi tim yang kompak, meski perjalanan ini pastinya diwarnai argumentasi atau perbedaan pendapat. Namun dinamika semacam itu tentulah bukan hambatan. Saya anggap itu warna lain yang saya temukan dalam perjalanan ini.

Buat saya, Nyai juga menjadi wadah dua kekuatan. Saya dan si mantan pacar. Kami menjadi lebih kuat karena kami berdua. Saya dengan ide saya, dia dengan kreativitas dan imajinasi dirinya. Tuhan punya cara misterius untuk menyatukan kami berdua melalui si bayi Nyai. Si bayi ini menjadikan kami kian dekat, karena ada banyak momen yang kami habiskan bersama. Cinta, kian erat bukan dengan kata-kata. Tapi karena kami tahu ada mimpi yang perlahan kami titipkan disini. Selangkah demi selangkah….

Perjalanan satu tahun ini sungguh amat sangat luar biasa.