Sincerity

Work like you don’t need money. So that’s what Mark Twain said.

Bukan berarti kita seperti pekerja sosial, yang kerja tanpa dibayar. Tentu gak seperti itu. Namun pertemuan dengan mantan bos saat makan siang kemarin, yang mana si mantan bos ini boleh saya katakan sebagai mentor terbaik yang pernah bersinggungan dalam perjalanan karir ini, membuat saya merenungi kembali makna kalimat tersebut. Tak lain karena lewat mulut beliaulah (yang sampai sekarang selalu saya ingat), bahwa “Loyalitas itu bukan sama bos atau perusahaan. Tapi pada profesi”. Nyesss, kata-kata itu saya ingat sampai sekarang.

Siapa yang gak tau RZ? Pelopor news-television, News Director di beberapa televisi termasuk saat saya masih kerja di content provider asal Malaysia, yang sukses membawa Astro TV sebagai dream team. Bersyukur luar biasa pernah bekerja bersamanya, termasuk 3 musketeer yang sukses mengajarkan arti etos kerja dan integritas. Sampai sekarang kedua hal itu masih terpatri, membekas dalam hati.  Bahwa integritas dan etos kerja, adalah hal yang harus kita pegang teguh.

Mungkin saya aneh ya. But I don’t work for money, even though I need money. Kalau yang menjadi tujuan utama, sudah sejak dulu ketika lulus S2 saya memilih jadi lawyer ketimbang menjadi jurnalis TV. Jadi saya bekerja untuk apa? Untuk kepuasan batin. Untuk menuangkan cinta dan hasrat dalam serangkum aktivitas yang kemudian kita namakan bekerja.

I believe all work need sincerity. Ketulusan dalam memberikan yang terbaik tanpa hitung-hitungan. Ketulusan untuk senantiasa menjadi versi terbaik diri sendiri, bukan untuk berkompetisi. Karena uang menjadi ‘bonus’ dan bukan tujuan utama. Karena uang dan materi bukan ‘Tuhan’ yang menentukan hari nurani. Tanggung jawab kita dalam melaksanakan pekerjaan gak dimaknai sesempit berapa yang kita terima setiap bulan. Seperti ketika menjalankan usaha, keyakinan itu ada bukan karena hasilnya ada di muka. Karena tidak begitu rumusannya. Namun karena tau bahwa tidak ada usaha yang sia-sia, sekecil apapun itu. Rejeki yang Tuhan kasih toh’ gak dibayar dimuka. Tapi porsi manusia untuk memantaskan diri, melayakkan diri menerima rejeki yang romantis. Yang melegakan hati. yang meringankan langkah. Yang tidak memberi makanan ambisi. Yang tidak membuat serakah selalu lapar. Yang tidak mengorbankan orang lain. Yang tidak mencederai hati nurani.

Pembicaraan kemarin siang dengan si mantan bos, semakin menebalkan hati. Bahwa semua masih jadi mata uang yang berlaku. Gak perlu khawatir soal orang sekeliling yang membuat kamu mempertanyakan kewarasan ditengah kesesakan hati dan nurani. Why? Because deep down heart won’t lie. Some said that I was being too sensitive. But being vulnerable is also a strength.At least itu yang dikatakan Teteho si Guru Yoga.

Saya gak punya keinginan muluk-muluk. Saya hanya menjalankan porsi yang terbaik tanpa kalkulasi, karena hidup bukan matematika. Saya hanya ingin melangkah satu titik di banding hari sebelumnya. Tanpa mendeskripsikan secara rumit, apa yang saya inginkan. Why? Because God know better than I am. Selalu ada kejutan manis ketika saya siap dan yakin. Selalu ada keajaiban tak terduga dalam perjalanan ini. When I’m ready, life is ready. it work that way.

Pernah ada yang bertanya. Apa yang diinginkan dari Nyai di masa yang akan datang? Saya hanya bisa tercenung. Sungguh saya gak tahu, saya hanya ingin terus melangkah maju. Dalam menjalankan semua ini. Karena yakin, tidak ada pernah usaha yang sia-sia. Sekecil apapun itu. Entah satu hari, satu bulan, atau satu tahun lagi. Nothing in life is to be feared. it is only to be understood. With sincerity. Ya. ketulusan untuk menjalani semua tanpa hitung-hitungan seperti matematika. Sankalpa.

Give the best you have, and it will never be enough. Give your best anyway. In the final analysis, it is between you and God. It was never between you and them anyway (Mother Teresa).

Yin dan Yang

1374966_10151944213948658_1392709630_n

Life is about balance.

Percaya? I do.

Rasanya perjalanan karir atau dunia kerja selama ini memang lancar-lancar saja. Pindah satu TV ke TV lain, akhirnya memang bukan karena harus melamar atau bagaimana. Tapi alhamdulilah dikasih kepercayaan, sehingga ada aja bos baik hati yang ‘menarik’ saya untuk pindah dari satu TV ke TV lain. Sampai kemudian memutuskan untuk pindah haluan karir, kerja di dunia korporasi. Meski melewati proses tes yang rumit, alhamdulilah juga diterima dengan posisi yang saya idamkan (dan benefit yang juga diidam-idamkan pastinya).

Tapi Tuhan punya rencana lain. Sakitlah saya. Kondisi fisik melemah. Singkat cerita, saya (terpaksa) berhenti. Kusutnya pikiran karena digempur sakit, membuat saya dengan berat hati melepas pekerjaan yang untuk mendapatkannya pun gak mudah. Sempat mengutuk dan menggugat. Karir yang saya jalani gak pake neko-neko (nyolong, cheating), kok harus terhenti karena sakit. Tapi sekarang? Bersyukur pernah dikasih sakit. Karena kalau enggak, gak akan ada kisah soal si Nyai ataupun bisa menjalani aktivitas seperti sekarang.

Tapi ya itu. Namanya hidup, pasti ada aja hambatan atau apapun itu namanya. Akhir-akhir ini, tes yang dikasih sama Tuhan itu betul-betul menganggu kewarasan. Heuheuheu. Lebaynya begitu. Semua berhubungan sama mentalitas dan pola pikir slash wawasan orang. Hih. Gemas rasanya. Apalagi dulu, hal semacam itu relatif amat sangat jarang terjadi. Sekarang? Ndiladaaah, rata-rata begitu semua (ya ada sih beberapa yang enggak. Tapi minoritas). Ampun dije! #lalupingsan

Tapi rupanya ekspektasi saya harus diturunkan. Kalau dulu bicara atau diskusi sama orang-orang (di tempat-tempat kerja sebelumnya), itu nyambung layaknya jalan tol, alias lancar jaya. Sekarang saya harus menghadapi kenyataan bahwa suatu makna benar-salah itu bisa jadi abu-abu, tergantung kepentingan dan agenda. Lupakan soal prosedur. Lupakan soal integritas. Bahkan tanggung jawab moril. Disini adalah tentang survival of the fittest. Gak usah bicara team work dan kebersamaan. Teman saja bisa mengorbankan teman lainnya kok. TEMAN loh ya. Catet!  Passion? Bahasa apa pula itu? Etika dalam kerja antar sesama rekan kerja? Hanya angan-angan di siang bolong ciin. Emotional bonding? Ya elah, ngana ngigo’?  Hati kecil saya sempat mengatakan, betapa ‘mengerikannya’ kultur semacam ini.  Ya begitulah.

Ada yang menasehati: “kalau dulu kamu kerja di pabrik I phone, sekarang anggap kamu bekerja di pabrik handphone rakitan cina”. Hahahaha. Spot on! 

Sempat gamang rasanya. Value dan nilai yang selama ini saya yakini, kok rasanya jadi terasa salah. Bahkan etika kerja juga disini maknanya jadi abu-abu. Kalau sudah begitu, kangen betul rasanya dengan bos-bos saya yang juga jadi mentor terbaik saya hingga detik ini. Mereka yang rasional, profesional, dan teguh memegang nilai profesionalitas. Tapi kemudian saya berpikir, buat apa terjebak romantisme masa lalu? Toh para bos-bos itu masih berhubungan baik sama saya hingga saat ini. Kami memiliki hubungan personal yang juga baik.

Salah satunya sempat menraktir saya untuk kongkow dan minum wine bulan lalu, untuk kemudian berdiskusi tentang apa saja yang menentramkan, menghangatkan hati. Bahwa saya gak gila. Cuma mungkin kurang waras untuk pintar-pintar membawa diri di tengah dunia sesak penuh agenda itu. Ekspektasi harus diturunkan. Biar bagaimana, wawasan dan pola pikir orang memang akan dipengaruhi lingkungan (kerja) terdekat. Seperti katak dalam tempurung, ya sudah. Terima. Berdamailah.

As for me, work need sincerity. Iya, ketulusan. Perlu hati juga. Bukan semata-mata “wani piro”?. We gotta love what we do , not for the money, but for the happiness within. 

Disatu sisi. Setiap kali saya down, saat itu pula ada bayaran ‘kontan’ buat saya. Tak terhitung jumlahnya. Bahkan bayaran kontan itu kerap dibayar dalam hitungan hari. Dari mulai kesempatan, kepercayaan, hingga kabar baik, atau uluran tangan dari pihak tak terduga. Akhirnya saya berpikir, good will wins. Despite the hurdle and the toxic people around you. But God will give His Hand to guide you, open your eyes and see the horizon. I count my blessings, and I’m overwhelmed. Begitu banyak berkat yang saya terima, dari kiri, kanan, depan, belakang.

Ketika kepercayaan saya terhadap ‘orang’ sempat menyentuh titik terendah, disaat itu pula-lah ada sekelompok orang yang menunjukkan sama saya bahwa passion, kejujuran, kerja keras masih jadi mata uang yang berlaku di dunia-dunia lain. Meski bukan di dunia sesak itu. Belum lagi deretan kawan-kawan yang tak terhitung jumlahnya, yang senantiasa menghadirkan tawa dalam keadaan apapun. Juga keluarga yang selalu menghadirkan rasa hangat di hati dan menjadi ‘rumah’ untuk pulang. Ada banyak kesempatan untuk melakukan hal yang saya cintai.

Life is about series of misses and hits. And I think, I gain more hits than misses.Apparently, all my chakras balanced

Tabik.