Ibu Jangan Kerja! (Surat Untuk Shira)

38115_421694208657_4155618_n

Pagi tadi kau menghampiriku, memeluk aku erat seraya berkata :” Ibu, jangan kerja!”.
Mata indahmu diselimuti air mata, menetes di pipi bulatmu. Aku tersenyum, walau hati ini campur aduk dengan berjuta perasaan. Ingin rasanya menuruti emosi, tidak berangkat untuk meninggalkanmu. Apalagi hari ini hujan amat lebat mengguyur kota, membuat aku rasanya ingin memilih berkemul selimut menghilangkan dingin, dan berbagi kehangatan denganmu, matahariku.

Lalu ingatkah kamu, Nak…
Pagi tadi aku dudukkan tubuh kecilmu di pangkuanku. Aku pegang erat tanganmu, kupandangi lekat bola matamu, kuusap bulir air dipipimu. Lalu aku berkata meski aku tak yakin kamu akan mengerti seluruh ucapanku. Tapi aku senantiasa berusaha membiasakan diri, memperlakukan kamu sebagai individu utuh, memberi pengertian tak putus, hingga saatnya kamu memahahami.

DSC_0311

Jangan menangis, anakku sayang…
Berulangkali aku katakan padamu, ini harus aku lakukan. Aku bekerja, karena aku bahagia. Seorang ibu yang bahagia, akan juga memberikan yang terbaik untuk buah hatinya, sehingga kamu juga akan bahagia. Pekerjaan adalah nafas untukku, seperti juga kamu adalah nafas bagi jiwa ragaku. Tapi kamu bukan-lah prioritas bagi diriku, karena kamulah segalanya untukku. Kamu juga bukan pilihan, karena kamu adalah darah dagingku. Pergi meninggalkanmu untuk sementara sepanjang Senin hingga Jumat tiba, bukan karena aku tidak menyayangimu. Pekerjaan adalah pilihan, yang aku tahu akan membuat aku lebih baik sebagai manusia. JIka aku bahagia, aku tahu aku dapat memberikan emosi yang terbaik bagi dirimu.

Aku tahu, di tubuh mungilmu ada kekuatan itu. Kamu akan belajar dengan caramu sendiri, sesuai usiamu. Bahwa orang yang kamu sayangi, mungkin tidak senantiasa ada di sampingmu. Dengan ini kamu akan belajar bersabar, bahwa sesuatu yang kamu inginkan, tidak bisa senantiasa tersedia seperti kamu mau. Meski akan tiba saatnya nanti, akhir pekan, yang akan kita sambut dengan sukacita. Tak ada jarak memisahkan aku dan kamu pada saat itu, anakku.

Aku juga belajar meski tidak mudah, seperti sang pujangga Kahlil Gibran berkata :
‘Anakmu bukan anakmu. Anak adalah kehidupan, mereka sekedar lahir melaluimu tetapi bukan berasal darimu. Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu”

Pastilah tidak mudah bagimu, berpisah denganku sejak pagi menyapa hingga malam tiba. Pun tidak mudah bagiku menahan rindu untuk memelukmu setiap waktu. Aku tahu kau kerap menungguku pulang, dengan terkantuk-kantuk berusaha tidak memejamkan mata. Saat aku pulang, kau berikan pelukan terhangat yang pernah ada. Memang tidak mudah terbentang jarak meski hanya sementara. Tapi cepat atau lambat, itu akan terjadi. Akan tiba saatnya kau memiliki dunia sendiri. Akan tiba saatnya kau melangkah menggenggam erat tangan lain saat pernikahanmu tiba. Akan tidak mudah bagiku, tapi saat itu akan tiba.

1660820_10152224642728658_620355938_n 

Kelak kita akan sama-sama meresapi untaian kata sang pujangga, dan kau akan paham betul maknanya :
“Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya, karena jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi bahkan dalam mimpi sekalipun”

Dan tahukah anakku?
Untukku, ritual sesekali semacam pagi tadi saat aku melangkahkan kaki keluar pagar adalah pelajaran kecil untuk menuju tahap dimana aku tahu aku hanya bisa memberikan rumah untuk ragamu. Bukan untuk jiwamu.

Kelak kau akan memiliki kehidupanmu sendiri, Kau akan punya keinginan yang tak bisa aku campuri. Ada saatnya kau lebih memilih bersama temanmu di akhir pekan, daripada kau habiskan malam bersamaku. Akan tiba saatnya nanti kita berselisih pendapat karena aku merasa aku tahu yang terbaik untukmu. Tapi kau adalah individu yang memiliki pikiran dan perasaan sendiri. Akan tiba saatnya, kau merasa kesal padaku. Lalu tiba saatnya aku merasa kau sudah mulai membantahku.

Tapi ingatlah, sayang….
Aku belajar memaknai bahwa aku hanyalah busur, dan kau adalah anak panah yang akan meluncur. Melesat jauh dan cepat. Tapi ingatlah dalam ingatanmu, bahkan sejak kau tadi pagi duduk di pangkuanku, hingga nanti kau menjadi busur dan memiliki anak panah sendiri, tanganku tak akan pernah lepas dari genggamanmu. Akan aku alirkan segala kekuatan yang aku punya, untuk menjagamu. Akan kualirkan doa yang tak pernah putus, agar tangan Tuhan senantiasa akan menjagamu.

Tumbuh besar anakku, doa Ibu menyertaimu sepanjang waktu.

*Taken from FB notes*

Advertisements

All My Chakras Balanced

20140529_074452

I practice yoga at least 3 times a week. Sometimes less. Sometimes the intention takes me into daily basis on top of my mat. I read books and in the search of finding deeper truth in life. I love yoga. I drink green juice every morning. I eat raw veggies on daily basis. I learn how to eat clean. But hey, I’d love to satisfy my crave for dessert and something sweet, too. I eat junk food occasionally. At the moment I’m learning more about Ayurvedic approach. I’m hooked to essential oil but still a newbie. I care for my body as time passes by, have learned to love it, the soft parts, the wobbly parts, the strong parts and every tiny-ugly parts. I learn to meditate recently. But I still curse when I’m mad. Most days I’m a happy-balanced person. But I also have bad days. I have problem of letting go, and struggling to accept things I can’t change. Sometimes my world belongs to old ideas, fears, anxiety, rejection, old memories. I have difficult times of learning Aparigraha-the non grasping, non attachment concept. I have self doubt. I have insecurity. I’m afraid of failures. I don’t deny it. But I’m trying to embrace it.

But yeah, overall I’m happy with my life. Life is unpredictable. Chaos is natural. But beneath all the dramas, distractions and problems, I have a calm place I can rest in. My self. And it’s nice to embrace the natural beauty within our self. And yeah, family as well as friends count.

As emotion is only a visitor, I can let them in. Or kick them out.

#capeliatorangngeluhmulu. Get a life, will you?