Bingkisan Mekkah Untuk Ibu

Besok Ibu berangkat umroh.

Tidak ada yang istimewa. Jutaan orang berangkat kesana setiap saat. Ibu hanya akan menjadi satu titik diantara lautan manusia, saat bersatu menjejakkan kaki bersama  di tanah suci.

Tapi untukku, inilah kado yang bisa kuberikan untuk Ibu.  Kutitipkan doa. Tolong sampaikan saat Ibu berdoa disana, agar kebahagiaan, kesehatan, kebaikan dan cinta selalu ada bersamamu.  Tuhan tahu, aku selalu mendoakan keselamatanmu. Meski sesekali ada perselisihan diantara kita, meski ada silang kata atau palingan muka, bahkan juga dongkol terasa dihatiku dan juga Ibu. Meski begitu, kita tahu ada cinta yang tak perlu terucap dengan kata. Setiap sen yang terkumpulkan, ada harapan tak terucap. Dari aku dan adikku. Agar menjadi genap. Agar kado di benak sejak tahun lalu, bisa dihadiahkan meski tanpa pita berwarna.

Maafkan aku Ibu,

Aku tahu kau begitu gembira. Celotehmu meluap berminggu lalu, meski kadang kudengar selewat saja. Binar ada di manik matamu. Soal seragam batik yang harus kau jahit. Tentang si supir taksi baik hati yang kau ajak makan siang bersama saat mengantarmu vaksinasi.  Atau perkara kebingunganmu mencari kacamata hitammu untuk menghalau surya di Mekkah sana. Juga perasaan rindumu pada si cucu yang akan 11 hari tak akan jumpa. Juga rencanamu ke pulau Dewata bersama cucu untuk melepas rindu pada si mungil Vedanta Shailakirti sepulangmu dari sana. Atau soal koper merah itu. Aku hanya mendengar tanpa sungguh menyesap ucapanmu. Alasanku yang kusimpan menggantung di mulutku, adalah lelah sepulang kerja. Maafkan aku untuk itu.

Padahal aku tahu, kau bercerita karena kau bahagia. Meski bingkisan perjalanan esok untukmu, tentu tak bisa membalas semua yang tak pernah kau hitung dan senantiasa mengalir untukku. Dan juga anak lelakimu. Tapi aku juga tahu, ada bangga kau simpan di sudut hatimu.

Bersenanglah Ibu, lewat bingkisan tanpa pita untukmu. Agar kau bisa melantunkan doa, menengadahkan muka di tanah Tuhan. Mungkin untuk mengadu soal hidup yang berwarna. Mungkin untuk bercerita. Atau menghilangkan rahasia. Berceritalah Ibu. Tentang bahagiamu. Kesedihanmu. Rasa rindumu pada yang sudah berpulang. Menderaslah doa. Bentangkan sajadahmu. Sampaikanlah . Bahkan  untuk menghitung nikmat dan menyampaikan dengan lebih dekat.  Di usiamu yang ke enam lima.

Sampai jumpa pekan depan. Di tanggal dua puluh dua. Dengan terus berbahagia.

Tentang Cinta Dari Shira

“Ibu pulang kantor jam berapa? Jangan terlalu malam ya, aku kan pengen ketemu Ibu sebelum bobo. Tapi..kalau misalnya masih macet, gakpapa Ibu pulang nanti aja agak maleman. Terus kalau Ibu sampe rumah aku udah bobo, bangunin aja aku. Gakpapa. Aku gak akan marah kalau Ibu bangunin”. Begitu ucap Shira saat kutelepon dari kantor.

Anak Ibu, what do I deserves to receive that kind of love and understanding from you? Ibu pulang sekarang, Nak. Tunggu Ibu…

*Ibutergugu*

10391892_104619996220955_1854289_n