Perkara Menyederhanakan Hidup

DSC_0017

Hidup rumit? Enggak juga.

Kita sendiri yang cenderung membuat hidup menjadi rumit dengan ekspektasi, tolak ukur, harapan, kecemasan, ketakutan yang kita buat sendiri di dalam benak. Saya pun mengalaminya. Terbelenggu oleh yang sudah lewat, mencemaskan masa depan, hingga lupa akan masa kini. Abai akan apa yang ada di depan mata, sekeliling kita. Takut akan apa kata orang, apa yang dipikirkan dan tidak dipikirkan orang lain. Manusiawi pastinya. Asal jangan keterusan.

Tapi kita dikasih kekuatan untuk memilih. Semudah itu. Sesederhana memilih dan memilah pikiran kita.   Carpe Diem-mengenggam hari ini.

Setelah kilas balik, menyesap kehidupan dan jalan hidup, sesungguhnya ada begitu banyak berkat yang diberikan. Semua sederhana ketika kita kembali menyadari makna yang (sesungguhnya) membuat kita bahagia.

Menyederhanakan hidup terasa membuat langkah sangat enteng. Saat terdiam, menyesap hidup dan merasakannya, ternyata menyederhanakan hiduo membuat saya lebih eling saat memilah. Mana yang penting, mana yang berguna, mana yang tidak berguna. Dan itu tidak bergantung soal dimana kamu berada serta seperti apa kehidupan kita. Karena bagaimanapun rintangan dan hambatan akan selalu ada. Dimanapun dan kapan pun.

Tapi toh kita punya kekuatan untuk membuat pilihan tentang bagaimana cara terbaik menjalani kehidupan kita. So yes, I’ve learned. Through the hardest times. How can we appreciate joy if we don’t know how it feels to be sad? How can we appreciate sunshine if we don’t know how to walk under the rain? How can we value life if we don’t know how to grief or facing problems?

Ternyata ada banyak hal sederhana yang (sesungguhnya) membahagiakan. Membuat hidup lebih berwarna. Membuat saya perlahan sadar, perhaps I was wasting valuable times for counting problems instead of counting blessings. Tentu semua proses. Proses untuk memilih dan menyederhanakan hidup dan diri sendiri.

I’m gonna write it down, as part of my gratitude project. Here it is.

Keluarga. Pelukan hangat si gadis cilik sepulang kantor. Genggaman tangan si mantan pacar saat berjalan bersama. Semburat lembayung di saat senja di balik jendela kaca lantai 7. Menyesap teh hangat di sore hari. Tertawa. Teman-teman dan keberadaan mereka.  Rekan kerja yang menambah daftar siapa yang kau kenal. Sapaan pagi melalui telepon dari si mantan pacar di seberang pulau sana. Menemani si gadis cilik berlatih piano. Museum. Jalan pagi di taman kota.  Mendengar kicau burung untuk memulai hari. Senyuman Ibu dan Bapak dan tatapan bangga mereka. Rehat sejenak dengan diam dan mendengarkan semesta di pagi hari. Bernafas.

Yoga, karena menjadi sarana berkomunikasi dengan tubuh dan diri sendiri, sekaligus menyadari keberadaan diri. Meditasi, karena di balik hiruk pikuk pikiran dan pasang surut kehidupan, ada ketenangan tak berbatas, yakni di diri kita sendiri dan bukan orang lain. Memasak, karena menjadi wadah kreativitas sederhana untuk menghasilkan karya di meja bagi keluarga tercinta. Bekerja, karena menjadi nafas kehidupan sekaligus memberi energi besar untuk terus belajar, berkembang dan bergerak. Nyai, si bayi yang berawal dari hobi namun luar biasa memberi keseimbangan dalam hidup melalui gerbang bertemu begitu banyak kenalan baru.

DSC_2284

Membaca, karena menjadi jendela dunia. Berkelana, untuk memulai persinggungan singkat dengan orang yang tanpa sengaja kita temui sekaligus melihat kehidupan berbeda di luar sana.  Menerima perubahan. Memiliki tujuan. Meyakini keyakinan. Ketakjuban. Melangkah ke depan. Menemukan passion. Menyemangati diri. Menemukan jati diri. Menyadari makna bahagia yang tidak perlu dicari di luar sana.

Jadi, nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?

Perkara Yoga

Ternyata Indonesia Yoga School sudah ada teacher training khusus weekend saat tak sengaja saya membuka websitenya. Keinginan memperdalam yoga sudah ada sejak tahun lalu. Namun terpaksa mundur teratur karena terbentur masalah waktu. Bagaimana dengan pekerjaan saya? Bahkan jatah cuti juga bisa surplus jika harus mengambil modul kelas yang ada.

CYMERA_20150226_180857

Ndiladah, kini sudah ada program weekend. Khusus Sabtu dan MInggu selama beberapa kali pertemuan. Langsung saya kontak Mas Koko, Director dari Indonesia Yoga School yang workshop-nya 2 tahun lalu pernah saya ikuti. Sayang, batch pertama sudah dimulai awal Maret ini. Namun ternyata, sekitar September akan ada batch kedua. Senang tentu saja. Semoga alam semesta berkenan memuluskan keinginan yang satu ini.

Path 2015-03-09 07_48

Keinginan kuat bukan karena saya ingin menjadi guru yoga, meski kita tidak pernah tahu jalan hidup nantinya. Yang pasti, saya ingin mempelajari lebih dalam, mengetahui lebih jauh. Buku-buku soal yoga sudah menghiasi rak buku di rumah, tak lain karena saya ingin tahu filosofi, fungsi dan makna setiap asana maupun pranayama, juga mudra. Bukan hanya sekedar menguasai gerakan saja. Yoga secara tidak langsung mendorong keingintahuan begitu kuat untuk mengenal lebih baik, termasuk anatomi tubuh untuk lebih mengenal tubuh. Sekaligus mengena. diri sendiri.

I find yoga as the best way to create good connection between mind, body and soul. So I want to explore further. Namaste.

Wish me luck!