Ketulusan Belum Tentu Dibutuhkan

images

Kalau untuk urusan berteman, saya selalu sepenuh hati. Buat saya, teman baik itu adalah keluarga yang kamu pilih untuk menjadi bagian hidupmu. Tentu itu menggunakan hati. Karena dengan hatilah, ketulusan untuk teman yang kau pilih menjadi bagian yang tak terpisahkan.

But reality bites. Good friend of mine said I was too naive.Perhaps , I am.

Ujungnya? Kecewa. Sangat. Kamu dibohongi, kamu ‘ditelanjangi’ di depan orang oleh seseorang yang kamu percaya sepenuh hati, dan sebelumnya sudah kamu tetapkan adalah temanmu. Apalagi jika kemudian kamu tau, di belakangmu  orang itu membicarakan hal buruk tentangmu. Belum lagi kerap berkata kasar, melontarkan tudingan yang tidak terbukti. Berpikiran negatif dan menuduh. Tidak hanya sekali. Berkali-kali.

Sebelumnya, maaf tentunya ada. Mencoba berpikir positif dengan memaafkan dan melupakan. Namun rasanya hal itu terasa konyol ketika lagi-lagi terjadi. Hingga muncul kesadaran, mungkin memang sejak awal dia sendiri tidak pernah menganggapmu teman. Bukan begitu? Mungkin memang saya terlalu bodoh sehingga menampik tanda-tanda itu.

Marah? Tidak. kecewa? Tentu. Sedih? Iya. Karena rasanya menyakitkan ketika tau bahwa hatimu sudah mengkhianati dirimu sendiri, untuk menilai ketulusan orang. Tapi sekaligus ada kelegaan, karena baru kali ini saya menghadapi orang yang emosinya sangat naik turun, kasar terhadap lawan jenis, dan kerap menuding tanpa tedeng aling-aling, tanpa validasi. Rasanya energi saya tidak cukup banyak untuk menaruh orang yang demikian dalam sisi hidup saya.

Tapi ini juga menjadi tanda, untuk membersihkan orang-orang, yang sudah terlampau banyak menimbulkan energi negatif dalam hidupmu. Toh saya tidak kehilangan teman. Saya hanya kehilangan orang yang berpura-pura menjadi teman.

Hasta la vista. I’m deserving a life, without you….

Kamu Bukan Pilihan, Nak…

Dalam hidup, selalu ada sisi positif. Itu yang selalu saya (coba) percaya. Meski terkadang mungkin kesadaran itu tidak selalu langsung mengemuka. Bisa jadi sehari kemudian, seminggu, atau sebulan kemudian.

Kali ini tentang apa?

20151011_074940

Tentang bagaimana setelah si mantan pacar bekerja di luar kota sejak Februari lalu, dan justru ada kebaikan tersembunyi. Tentu bukan hal mudah, tanpa ada si mantan pacar yang biasa menjadi sparring partner berbagai urusan, dari tetek bengek rumah tangga, hingga anak. Namun perlahan, tanpa disadari saya justru semakin dekat dengan Shira. Saya merasa justru semakin ingin terus bersama dia, sebisa mungkin.  Di tengah jadwal pekerjaan yang memang juga sejak akhir tahun lalu kian bertambah bebannya. Meski satu hal, saya beruntung mencintai sepenuh hati apa yang saya kerjakan. With its ups and downs. I really do! 

20151003_114127

Namun saya ingin di waktu luang, saya menjalankan sepenuh hati kebersamaan dengan Shira. Menjalankan aktivitas menyenangkan bersama dia saja. Berburu buku. Mampir ke museum. Menghabiskan senja di taman. Menikmati kue coklat pekat dan secangkir teh di kedai favorit. Memanggang kue. Berenang. Atau kegiatan tak bermakna sesederhana berada di rumah, menonton TV and talking about nonsense. Si gadis cilik yang kini meretas jalan menuju setengah dewasa, dengan segudang pertanyaan dan kesukaan yang berkembang dan terus berkembang. She is growing and evolving.

Mungkin saya bukan orang pertama yang akan menyaksikan perkembangan dia saat saya tengah bekerja melakukan hal yang saya cinta, tapi saya ingin kami bisa berbagi kenangan. Saya ingin dia ingat kapan kami tertawa berdua, tertawa terbahak-bahak saat dengan konyol mendengarkan lagu Ariana GRande kesukaannya.  Saya ingin kami memiliki kenangan indah saat kami saling berkisah tanpa makna di depan televisi saat kami berdua belum mandi di akhir pekan. Atau saat saya memandikan dia usai berenang, lalu kami saling menyisir rambut yang basah oleh air kolam. Saya ingin ada kenangan bermakna mengenai hal sederhana yang kami lakukan berdua.

IMG-20151011-WA0020

Tapi sebagai orang yang mencintai banyak hal dan menikmati melakukan banyak hal (yoga, memasak hingga Nyai) tentunya jauhnya si mantan pacar membuat energi yang biasa terbagi dua antara saya dan dia, kini mau tak mau harus saya tangani sendiri. Termasuk urusan waktu dan perhatian untuk Shira. Sampailah saya di satu titik, dimana saya sadar bahwa waktu sudah berjalan sedemikian cepat. Ada satu-dua kejadian, dimana saya sadar saya perlu lebih banyak bersama dia tanpa terganggu hal yang memecah konsentrasi dan energi. Meski tentunya sejak dahulu juga saya sadar, bekerja adalah nafas untuk saya. Bekerja sejak dulu adalah pilihan yang membuat saya bahagia.

Jika saya sebagai ibu melakukan dan mengerjakan hal-hal yang saya cintai, happy mom creates happy child, toh?

Tapi tentu saja, dengan waktu yang berjalan demikian cepat, kemudian ada pilihan-pilihan yang harus saya putuskan. Saya tetapkan. Pun kemudian, tanpa alasan rumit saya memutuskan menunda segala urusan soal Nyai . Meski itu adalah hobi yang menyenangkan dan saya banyak mendapat berkah melaluinya. Teman baru, kenalan baru, jendela baru dan lain sebagainya. Meski kemudian ada yang menyayangkan kenapa pilihan itu dijalankan karena membangun hobi satu ini hingga bisa menapak langkah kecil, juga bukan hal mudah.

20150905_105940

Namun toh tak ada alasan yang kompleks di balik semua itu. Pilihan diambil demi waktu yang terasa terlalu cepat berlalu ketika bersamanya. Si anak kecil, matahari Ibu. Tidak terasa berat mengambil pilihan, pun bukan terasa sebagai pengorbanan. Karena anak bukan pilihan, tapi bagian hidup yang akan selalu membahagiakan. Selalu menghangatkan. Dan itu adalah kamu, anakku sayang….

Impromptu Trip

IMG-20150815-WA0044

Liburan tanpa rencana. Serba mendadak. Bersama teman-teman perempuan. Menyenangkan? Tak usah ditanya. Dari mulai Ben Thanh hingga hotel butik Villa Song, menikmati cheese platters di pinggiran sungai Mekong. Menikmati suasana malam di ketinggian, ditemani minuman anggur, dan lagi-lagi aneka keju. Kota cantik yang membumi, dengan bangunan tua tertata apik. Menyesap jejak masa lalu, menelaah ke suasana masa kini, yang berpadu demikian sempurna. Berjalan menelusuri kota yang tidak angkuh. Hingga orang-orang yang begitu sumringah, tak sungkan menyambut dan menyapamu dengan sepenuh hati.

Hangat, nyaman, terasa di hati.

IMG-20150816-WA0036

Lalu mampir kantor pos tua, mengirimkan kartu pos untuk si anak kecil. Menunjukkan cinta Ibu dengan cara sederhana. Berharap ia menerima nantinya dengan mata berbinar ceria.

IMG-20150815-WA0048

20150815_111702

Hidangan pinggir jalan, hingga restoran cantik dan cafe apik. Lalu setiap hari menenggak air kelapa murni tanpa bosan. Kuah pho yang harum dan penuh cita rasa. Kue beras bertabur remah udang kering. Bir ala Saigon. Banh mi berisi irisan ayam berbumbu. Sayur, sayur dan sayur dimana-mana untuk menemani santapan. Teh bunga lotus terhidang dengan manisan jahe . Kacang lotus. Tak lupa kopi tetes dengan susu pekat manis, bercampur es batu penghilang dahaga di terik hari.

Ada hari tentang berburu poci teh dan cangkir keramik. Lagi-lagi mencari sumpit apik, kali ini dalam kotak kayu. Negeri ini dikenal berkat kopi, tapi jangan lupakan aneka teh dalam kemasan menggoda hati.

Hatiku tertinggal di Saigon.

IMG-20150815-WA0013

Penghujung hari, kami singgah untuk berbelanja ala kadarnya di negeri Singa. Menikmati waktu singkat hanya untuk jagung letup berbalut karamel dan kue renyah coklat.

20150816_114019

Namun yang paling penting ada vibrasi diantara kita semua. Sejak menentukan pilihan apa yang akan disantap dan dinikmati, atau hanya sekedar berjalan menelusuri kota, hingga gurauan tanpa makna yang membuat pagi hingga malam dipenuhi tawa. Rekaman konyol di malam hari, dubsmash tanpa makna.

Perjalanan ini bukan tentang kemana, tapi perjalanan ini tentang bersama siapa. Kemana menjadi tidak penting lagi, ketika kita melangkahkan kaki dengan hati. Bersama mereka, aku tidak akan sendiri.

20150815_111241

Merayakan perjalanan, pertemanan, dan kehidupan. La Dolce Vita.

20150817_131839

20150816_112506