Perkara Auto Imun

Jadi sejak didiagnosa auto imun  kurang lebih  4 tahun lalu, I always consider that everyday is a struggle. 

Mengeluh? Tentu tidak.  Hanya mencoba memahami bahwa auto imun memang tidak bisa disembuhkan. Meski lebih dari 1 tahun lalu, si hormon sudah dalam posisi normal, namun karena memang auto imun sendiri adalah kondisi dimana sistem imunitas kita error, maka periode remisi itu bukanlah legitimasi bahwa auto imun sudah beranjak pergi. Auto immune is a life time battle. It is disease that causes my body to mistake its own cells  for invaders (like viruses). So it attacks them the same as healthy-normal immune system  attacking an infection. Akibatnya tentu tubuh juga terkena imbasnya selayaknya orang sakit yang terkena virus karena tubuh kita sendiri menjadi musuh, yang salah mengenali mana tamu jahat mana tamu baik. Tubuh kita secara tidak langsung otomatis seolah sedang melawan virus atau bakteri setiap hari.

Jadi ketika hormon sudah berangsur normal pun (dalam kasus saya), tetap saja setahun sekali saya harus cek darah untuk memastikan kondisi hormon itu. Belum lagi kalau terkena sakit sesederhana flu, tubuh perlu waktu lebih lama untuk mengembalikan kondisi. Terlalu lelah, bisa menyebabkan saya tiba-tiba terserang demam dan nyeri sendi. Atau energi terasa hilang dari tubuh, sehingga bangun dari tempat tidur pun menjadi hal yang tidak mudah.

Lalu bagaimana?

Ya dijalani, sambil terus berusaha agar tubuh gak kena sakit. Toh kehidupan terus berjalan, begitupun dengan aktivitas yang harus saya lakukan. Meski demikian, saya gak mau kondisi itu menghalangi saya beraktivitas dan melakukan berbagai hal yang saya cintai. Meski secara psikologis, saya berusaha sekuat tenaga ‘menunjukkan’ bahwa I’m okay, I’m trying to prove that I have a normal condition. Thus, I prove as hard as I can, perhaps more than anybody else. But sometimes, i realize that even though I’m working and do many things, it does not mean that we’re okay. Sometimes the medication is as bad as the disease it self.  Ada beberapa kali, obat justru menyebabkan muka bengkak, gatal luar biasa, nyeri sendi luar biasa. Rupanya tubuh saya pun mengelabui si pemilik, dengan salah mendeteksi obat yang seharusnya menyembuhkan.

Ada satu kutipan tulisan yang secara tepat menggambarkan kondisi mereka yang memiliki auto imun:

Sadly, that’s a reality for many young men and women who have autoimmune diseases. They get advanced degrees, work full-time jobs at the office, and even manage to work on personal projects on the side. Our functionality is not always a legitimate measure of how we feel. We are often in pain and exhausted most of the workday. When you ask us to go above and beyond, we are pushing ourselves harder than we should. Sometimes this land us to ER or urgent care.”

Dengan begitu, kami (juga saya) selalu berusaha menunjukkan pada dunia, bahwa sakit tidak menghalangi saya melakukan berbagai hal yang saya cinta. Dan itu memang demikian adanya. Hanya saja, tekad kuat itu kadang berujung air mata. Ketika tanpa permisi, periode flare up pun mampir, melumpuhkan semangat yang senantiasa dibangun dengan tidak mudah.

Seperti 2 minggu terakhir, I’ve felt stabbing pain in my lower abdomen. Dua kali pula dokter memberikan pain killer untuk saya, karena tanpa itu, tidur yang seharusnya melegakan, justru membuat sakit kian kerap. Batuk dan bersin juga jadi siksaan. Mau mengeluh? Ya nggak lah. Disimpan saja dalam hati meski suami (selalu) menjadi tempat curahan hati. Mau berhenti melakukan banyak hal? Ya gak juga, karena semua itu juga nafas yang memberi energi untuk saya untuk terus bergerak dan berkembang. Berbagai aktivitas itu pula-lah, yang kerap menjadi semangat untuk terus menyongsong hari dengan kondisi optimal.

Tulisan ini hanya ocehan tak bermakna. Karena hari ini, saya mendadak ingin dunia mengerti, meski tidak mengecualikan. Karena saya juga tau, tak perlu juga pengumuman dengan toa, bahwa sakit 2 minggu lalu sedang mengacaukan fisik saya.

Tabik.

Advertisements