Thyroid Awareness Month

Thyroid-Awareness-Month-271x300

Jadi, Januari adalah Thyroid Awareness month.
Sayangnya, di Januari pula hasil darah menunjukkan kadar TSH lagi membandel. Tubuh sih memang beberapa bulan terakhir sudah menunjukkan alarm itu. Cuma gak mau dirasa-rasa, pokonya tetap aja melakukan hal yang kita cintai. Termasuk pekerjaan, yoga dan hal-hal semacam itu. Yang membahagiakan.
Trus gimana? Ya minum obat lagi. Toh yang namanya auto immune memang life time battle. Menyerah? Tentu tidak. Kalau tidak gak akan ada usaha yang namanya yoga, makan lebih banyak sayuran dan buah mentah yang sudah dilakukan beberapa tahun terakhir ini. Tapi mungkin memang usahanya harus lebih keras lagi, sembari menelaah apa yang seharusnya mungkin dihindari dan gak dilakukan, atau justru harus lebih kerap dilakukan
Yang paling penting itu memang menjaga ‘kewarasan’. Supaya terus optimis bahwa tubuh akan selalu punya cara mengembalikan keseimbangan sekaligus menyembuhkan alias homeostasis. Sehari dua hari ada cemas, wajar rasanya. Asal jangan terlampau lama. Kita yang rugi. Hidup rasanya terlalu indah untuk dihabiskan dengan cemas dan khawatir.
Toh dibalik ini semua masih bersyukur.
Kadar TSH gak turun terlalu tinggi, lalu punya atasan yang juga pengertian kalau kita harus mengembalikan dulu kondisi tubuh, ada keluarga yang juga selalu menyemangati, teman-teman yang baik hati, pekerjaan yang kita cintai, aktivitas yang membahagiakan diri.

Jadi kita gak punya alasan untuk mengeluh dan menyerah toh?

Oh ya, kenapa tiroid ini memegang peranan penting bagi tubuh sehingga dibikinlah thyroid awareness month? Karena proses krusial yang terkait metabolisme organ tubuh kita bergantung pada kelenjar yang satu ini.
Di Amerika diperkirakan 30 juta orang memiliki kelainan tiroid, sebagian diantaranya belum terdiagnosa. Lalu harus bagaimana? Cukup melakukan tes darah kalau mengalami gejala-gejala seperti di link ini :
http://www.medicinenet.com/thyroid_disease_sympto…/views.htm
http://www.medbroadcast.com/C…/GetCondition/Thyroid-Diseases

Jalan Bersahaja #WeekendTanpaMall

 

Sebetulnya mencanangkan project pribadi yang sering di share melalui social media lewat tagar ‪#‎weekendtanpamall‬ itu , awalnya lebih untuk membiasakan Shira bereksplorasi. Find the unusual thing in the usual place.

Menemukan hal unik dan menarik yang bukan melulu harus ke mall, atau keluar kota, misalnya. Meski tentu saja, mall ataupun bepergian ke luar Jakarta juga sah kami lakukan. Hanya saja, tidak mau juga mati gaya harus melulu mengajak anak ke mall jika libur akhir pekan telah tiba. Hal ini sudah pernah sedikit diulas lewat tulisan disini.

DSC_7693

Belajar menemukan hal sederhana di sekeliling kita melalui gerakan pribadi #weekendtanpamall nyatanya memberikan kesenangan tersendiri. Bukan cuma buat si anak kecil, tapi buat kami sebagai orangtuanya. Mencari, mengeksplorasi, menemukan hal yang menarik, namun sebenarnya ada di sekeliling kita. Ada rasa membuncah, saat berhasil menemukan satu tempat yang unik lewat kacamata kami, dan ikut tak sabar untuk berkelana ke sana.

Bukan tentang kemana.
Bereksplorasi menelusuri museum, sudut kota tua, mengecat keramik, berpetualang sengaja naik KRL hingga Bogor, menikmati senja seraya membaca buku di taman, mampir hutan bakau kota, toko buku cantik bukan di mall, menikmati sepiring kue lezat di kedai teh, berenang yang rutin kami lakukan di akhir pekan, kelas memasak dan masih banyak lagi.

DSC_7862

Kelenteng tua dan pabrik kecap usia seabad di Tangerang, pemutaran film pendek, pameran komunitas,  berburu tanaman. Atau sekedar mencari kedai kopi unik dan cantik di sekitar kawasan rumah, yang bukan St*****ks atau semacam itu. Senang rasanya ketika mampir tempat semacam Lot 9, Kopi Manyar, Pigeon Hole, Turning Point, Daily Press, dan masih ada lagi daftar yang ingin kami singgahi.

Atau cukup membuat kue, membiarkan dia membaca resep dan menakar bahan. Setelah sebelumnya saya biarkan dia menekuni resep, mencatat bahan, dan membelinya ke toko bahan kue. Atau saat ulang tahun dia minggu lalu, selain kami sekeluarga merayakan makan ke luar seperti biasa, saya menasbihkan #nasitumpengproject .

20160117_103721

Ya, membuat nasi tumpeng sendiri untuk syukuran sederhana bersama teman-teman Shira di kompleks. Kolaborasi keluarga kami dengan Teteh, yang sudah nyaris 2 tahun bekerja dan menjadi bagian keluarga kami. Lelah tentu, memasak untuk sekitar 20 orang. Tapi kami menganggap ini sebagai hal seru yang kami lakukan, dan tantangan. Apa yang Shira lakukan? Membantu memetiki tauge, membentuk perkedel, mencuci sayuran, hingga merebusnya. Ia juga dengan senang ikut menata makanan yang sudah kami siapkan di atas tampah. I can see the look of attainment in her eyes.

DSC_7671

Ada banyak cara.

Mungkin tidak selalu sesuai ekspektasi. Bukan tentang yang indah saja. Seperti satu loyang kue yang kami buat berakhir di tong sampah. Tapi beberapa hari kemudian kami buat lagi dan berhasil. Tentang bagaimana mencoba, mencari , dan mencoba, dan mencari lagi. Saya katakan padanya “setidaknya kita sudah mencoba dan mencari tahu. Jika tidak, bagaimana kita akan tahu?”.

20160117_091538

Hidup memang tidak selalu selaras rencana dan harapan juga indah di indra penglihatan, bukan? Tapi toh moment membuat kue itu yang melekat di hati. Bukankah makna perjalanan adalah perjalanan itu sendiri? Toh pembelajaran akan hadir dalam perjalanan itu sendiri. Bukan tentang tujuan perjalanan.

 

IMG-20151011-WA0042

Seperti saat menelusuri jalan menuju kawasan Pecinan lama dari kota Tua. Ada sampah menumpuk di pinggiran kali. Bau tentu saja. Atau saat dia melihat tunawisma berjejeran tidur di emperan. Ada pertanyaan, tentu saja. ‘Kenapa begitu, Bu?’.
Tapi biarkan Shira tau. Karena hidup tidak melulu pelangi. Ada hal yang mungkin tidak lazim di pandangannya. Tapi biarkan dia tau bahwa hidup tidak melulu satu warna. Nasib manusia juga tidak serupa. Saya berkata “Tidak semua orang beruntung bisa tidur di kasur. Syukuri hidupmu”.
Ketika kami ke negeri tetangga, kami ajak dia menelusuri museum, mampir ke Kelenteng tua dan tempat ibadah tertua etnis India, juga ke pusat budaya peranakan. Supaya dia tahu, ada budaya dan ritual berbeda meski kita menatap langit sama. Dia juga belajar jeli lewat aroma saat mencium bau kari tajam di pasar setempat. ‘Kok gak kaya pasar dekat rumah’, cetusnya. Kami juga ajak dia melihat pemutaran film pendek di salah satu museum. Meski sah juga kami mampir ke taman-taman permainan, pusat perbelanjaan di negara-negara yang kami singgahi.

IMG-20151220-WA0015

Saat keluar kota, agenda kami selain museum adalah pasar. Disitulah ada bukti budaya berbeda lewat bahasa setempat, kebiasaan, hingga kuliner. Belajar perbedaan dengan cara sederhana, bukan?. Saat kami singgah ke Madura, dia berkata “kok becaknya beda”. Kejelian lewat kacamata anak-anak. Seperti ada desa adat di Bali yang disinggahi usai menghabiskan hari di klub pantai yang dijejali manusia. Melihat potret Bali yang sebenarnya, tidak melulu lewat gemebyar Seminyak yang sesak. Meski hal semacam itu juga senang kami lakukan dengan suka cita.

IMG-20150314-WA0022
Karena kota tidak melulu gedung berpendar cahaya. Yang terkungkung dan terkurung tembok buatan.
Ada interaksi, kehidupan, geliat manusia, dinamika kota atau desa, yang jauh lebih menarik untuk dilihat lebih dekat. Yang sebenar-benarnya. Apa adanya. Sebagaimana hidup telanjang.

Mari melangkahkan kaki, bereksplorasi, membuka mata dan hati untuk menemukan hal sederhana yang ada di sekitar kita.

Itulah esensi #weekendtanpamall kami.

Mundur Satu Langkah

Jadi sejak si mantan pacar di luar kota , ada beberapa hal yang saya endapkan dulu. Yaitu urusan NYai.

Si bayi saya dan mantan pacar ini, mau tak mau menjadi prioritas terakhir keluarga kami dengan alasan-alasan yang telah saya tuliskan di postingan beberapa bulan lalu.

Padahal ada beberapa kesempatan yang hadir di depan mata. Seperti kesempatan kembali ikut Inacraft di tahun ini, hingga kembali lolos Indonesia Fashion Week 2016. Namun, mau tak mau kesempatan itu kami tunda dulu pelaksanaannya.

Menyesal? Tidak. Ada hal lain yang menurut kami jauh lebih penting . Bukan kami tidak mau mencicipi tambahan rupiah. Karena, uang bukanlah segalanya.

Bukan tak mungkin nanti kami akan melanjutkan hal yang sempat tertunda ini. Mundur satu langkah, bukan berarti menyerah kalah. Akan ada alasan dibalik semua, dan ini bukanlah tentang kalkulasi semacam matematika.

Invitation.jpeg

Salah satu pencapaian yang lumayan membahagiakan untuk saya dan si bayi Nyai, adalah masuk daftar 30 semifinalis wanita wirausaha Femina. Yay!

Meski tidak lolos finalis, tapi bagaimanapun hal ini buat si Nyai yang merupakan hobi dan kesenangan, adalah kabar yang super menyenangkan. Dulu rasanya hanya bisa mereka-reka betapa senangnya bisa setidaknya masuk dalam daftar semifinalis, dan melihat namamu tercantum di daftar. Eh, ternyata itu kesampaian. Meski kemudian proses selanjutnya saat itu tidak bisa saya ikuti, karena waktu yang tidak tepat. Saat itu Nyai memang sedang vakum, karena… ya itu tadi. Ada pilihan lain yang kami pilih dan menjadi prioritas. Apalagi kalau bukan waktu berharga untuk anak.

Tapi ya begitulah. Hidup adalah pilihan. Pilihan apapun yang telah saya putuskan, tidaklah pernah menyisakan penyesalan. Karena pilihan ini juga diambil dengan hati, yang tidak akan pernah mengkhianati nuranimu.

Tabik.

getImageContent.aspx.jpeg