Inspirasi Menyelinap Dari Mana Saja

Aku selalu menganggap diriku beruntung.

Kerap terjadi hal-hal yang membuka mata dan hati, di saat mungkin kepercayaan (diri maupun terhadap sekeliling) sedang nyaris menyentuh titik nadir.

Perjalanan pekan lalu ke Timur INdonesia bersama si mantan pacar, ternyata tidak hanya memberi rasa hangat di hati, tetapi juga mempertemukan aku dengan banyak individu yang memberi inspirasi, dengan cara mereka sendiri. Sederhana. Dalam diam, mereka berbuat sesuatu bukan hanya untuk diri sendiri, bukan karena semata karena uang. Tapi karena yakin bahwa hidup harus bermakna, bagi sekeliling.

Ada sosok pria sederhana di Desa Bobanehena, yang merangkul warga desa mereka, untuk bersama-sama membangun pariwisata dengan memberdayakan warga . Ia yang menemani kami melakukan perjalanan menuju kaki gunung Jailolo, dengan senyum yang senantiasa tersungging di wajah ramahnya. Tanpa melupakan kearifan lokal yang sudah bersemayam ratusan tahun lamanya di sudut teluk Moloko Ki Raha.

Ada induk semang. Wanita yang selalu tertawa, yang memberdayakan ibu-ibu janda, untuk memasak bersama, menyajikan hidangan lezat bagi banyak orang yang bertandang. Ibu-ibu dengan senyum lebar, meski harus menghadapi berbagai wisatawan dengan banyak karakter tak terduga.

Lalu ada mama-mama baik hati yang meminjamkan kebaya agar kami bisa ikut masuk Sasadu, berbaur merayakan syukuran panen. Mengingat desa ini sedikit berbeda dengan desa lain, dalam hal memegang adat istiadat.

Lalu ada satu lagi wanita hebat, yang kutemui disana. Yang dengan sepenuh hati melakukan perjalanan ke banyak daerah tak terjamah pariwisata modern. Tanpa kenal lelah membuka mata penduduk setempat, menyentuh dengan hati, bahwa mereka tidak boleh menjadi penonton bagi kemajuan pariwisata daerah mereka tinggal. Bahwa mereka harus bangga dengan keunikan budaya dan kecantikan alam laksana surgawi.

Dia pula yang meyakinkan, bahwa segala sesuatu harus dikerjakan dengan hati. Semakin meyakinkan diriku, bahwa bekerja dengan hati, tidaklah salah. Mencintai sepenuh hati yang kita lakukan, adalah sah.

Dalam kesenyapan, mereka semua bergerak, merangkul dengan energi luar biasa. Bahasa yang datang dari cinta, akan menguarkan frekuensi demikian besar. Yang terasa hingga je sanubari. Aku belum seperti mereka, tetapi aku selalu percaya, untuk berusaha memiliki tujuan yang sama. Bekerja karena cinta.

Untuk itu, ada terimakasih. Mungkin yang dilakukan orang-orang itu, biasa saja. Tapi biasa itu memberikan bekas luar biasa, untuk kembali meyakinkan diri. Bahwa bekerja dengan tujuan hidup yang bermakna dan kepuasan hati, adalah kebahagiaan diri. Meski jalan sulit dan berliku, menghadang diri.

Tabik.