Perjalanan Keluar Zona Nyaman

Jadi, saya memang punya project pribadi dengan tagar #weekendtanpamall .

Kali ini si agenda #weekendtanpamall kami putuskan untuk datang ke Desa Adat Baduy. Tidak muluk-muluk hingga Baduy Dalam yang menempuh perjalanan berjalan kaki selama 5 jam (belum termasuk perjalanan mobil dari rumah ke Desa Ciboleger yang merupakan gerbang Desa Adat Baduy, selama 5 jam termasuk mampir makan siang). Saya dan si mantan pacar memutuskan kali ini cukup hingga Baduy Luar sebagai perjalanan perdana, sekaligus tes kekuatan fisik dan mental (ini yang terpenting) si anak kecil.

GncYJ

Kami berangkat dengan keluarga teman saya yang merupakan orangtua dari teman main si anak kecil di sekolahnya. Sebelum berangkat saya sudah memperlihatkan foto Baduy agar si anak kecil mendapat gambaran, seperti apa tempat menginapnya nanti. Termasuk wanti-wanti bahwa disana tidak ada AC, karena listrik pun tidak ada.

Stepping Out From Comfort Zone

Sempat terbersit khawatir, apakah dia sanggup berada di tempat terpencil tanpa listrik dan tanpa sinyal. Tapi rupanya, kekhawatiran saya tidak beralasan. Memang anak-anak itu justru  ternyata punya kemampuan adaptasi yang luar biasa. Tidak ada kerewelan selama kami disana. Hanya mata berbinar dan tawa yang menghiasi wajah-wajah mungil mereka.

DSC_0573

Sejak perjalanan dari Desa Ciboleger menuju Desa Gajebo di Baduy Luar, meski waktu tempuh hanya 1,5 jam, medan yang kami lalui adalah tanjakan  dan turunan curam yang membuat betis menjerit. Tapi si anak kecil dan temannya, senang-senang saja. Memang diselingi keluhan-keluhan kecil “Bu, capeek. Kapan sampenya”. Namun toh saat kami menyemangati, mengalihkan fokus pikiran mereka dari rasa lelah, rengekan kecil itu sirna. Apalagi pemandangan sekeliling membuat antusiasme mereka mengalahkan rasa lelah di kaki.

Where Simplicity Is The Value Of Life

Buat anak-anak yang excited itu adalah saat mampir ke Legoland, Universal Studio atau hingar-bingar Bali, ternyata datang ke Baduy justru memberikan pengalaman berbeda yang membekas bagi mereka. Memang tujuan saya membawa si anak kecil ke sini, adalah to expose to different things so they appreciate different habit, culture and perspective on anything. Saya ingin si anak kecil merengkuh perbedaan, menghomatinya, sekaligus tidak menasbihkan bahwa persepsi benak dia lah yang paling benar. Padahal ada jutaan perbedaan dan cara pandang, yang semuanya relatif.

13932859_10154460923553658_3255385882844717231_n

Mungkin di benak kita terbersit “kasihan ya hidup tanpa listrik, terpencil”. Padahal bisa jadi warga Baduy justru juga kasihan pada anak saya toh?. Yang melonjak senang melihat sungai super jernih. Menjerit bahagia bisa main di sungai sepuasnya. Kegirangan melihat anak-anak ayam melenggang di jalanan desa. Naik tempat menjemur gabah dengan semangat. Menghitung kunang-kunang di gelap malam dengan antusias. Penasaran melihat kaum wanita menenun di bale-bale rumah mereka. Terheran-heran melihat leuit, tempat menyimpan gabah. Padahal semuanya bagi warga Baduy adalah hal lumrah.

Jadi semua masalah persepsi kan? Tidak ada kehidupan yang paling sempurna. Semua ada di benak kepala, tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Saya juga ingin dia menghargai kesederhanaan dalam hidup. Tidak melulu perlu Ipad atau TV kabel untuk bisa membuat kita bahagia. Terbukti dengan perjalanan semalam di Baduy, mereka bisa be present and enjoy the moment. Saat malam gelap, mereka dengan gagah berani berkeliling kampung bermodalkan senter. Makan seadanya (tapi nikmat dan lezat), tidur ngampar di rumah warga Baduy berselimutkan sarung. Ragu di awal saat hendak menyeberang jembatan bambu dengan sungai beraliran deras di bawah, namun kemudian tak sabar untuk kembali menyeberangi jembatan besar itu tanpa ragu.Berjalan girang tanpa alas kaki.

DSC_0490

Tentu saja, perjalanan yang membekas di hati ini juga tak terlupakan bagi kami sebagai orangtua. Disini kami belajar untuk ‘kuat jantung’. Membiarkan anak-anak menikmati ‘ketidaknyamanan’ untuk membentuk mental mereka. Yang kami lakukan adalah menyemangati. Membiarkan mereka menemukan keberanian dari dalam diri sendiri, untuk menyambut sesuatu yang betul-betul berbeda. Mengajarkan mereka untuk terus mengambil langkah kecil dalam perjalanan, meski lelah luar biasa. Namun kami meyakinkan mereka untuk tidak berhenti hingga sampai di tujuan.

DSC_0747

Happiness Is A State Of Mind

Toh terbukti, mereka bahagia. Meski semalam tanpa listrik, meski harus ngos-ngosan saat jalanan menanjak, meski perjalanan ini bukan tipikal liburan-liburan sebelumnya. Bahkan saya sempat mendengar perbincangan mereka saat sedang mandi di tempat seadanya, seperti ini:

“Senang ya, kamu senang gak disini?”

“Iya, senang”

“Kapan-kapan kita kesini lagi yah”

“Ayok”

DSC_0694

Jadi memang, bahagia gak bahagia itu kembali ke pikiran kita toh?. Tugas saya dan si mantan pacar lah, untuk mengajarkan dia itu. Bahwa kita harus selalu menikmati kehidupan, seperti apapun kondisinya. Buruk sekalipun di kacamata kita, misalnya, karena toh semua tidak permanen. Sesudah lelah menempuh perjalanan naik-turun menuju Baduy, ada kesenangan luar biasa menanti mereka yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Keluar dari zona nyaman juga bisa jadi menakutkan. Tapi saya mau mengajarkan si anak kecil untuk tidak takut mengambil resiko (yang terkalkulasi). Petualangan dalam hidup selalu membuat hidup menjadi lebih hidup.

DSC_0692 copy

Kami juga berencana untuk  kembali,  menjajal Baduy Dalam. Yang jauh lebih terpencil, mandi saja tak boleh menggunakan sabun dan shampoo, yang bahkan tidak juga boleh foto-foto. Si anak kecil dengan antusias menyatakan diri untuk kembali ikut berpetualang ke Baduy Dalam. You go, girl!

Saya ingin dia merengkuh hidup dengan segala paket di dalamnya. Saya ingin ia membuka mata bahwa akan ada ketidaknyamanan dalam hidupnya, untuk membentuk learning agility dia. That life is not always about grand affair,  life itself is a gift eventhough it is not wrapped up as a gift.

Kami ingin ia berinteraksi dengan berbagai macam individu. Di Baduy, kami berinteraksi dengan warga sana. Ada Kang Sarpin dan Teh MIsnah, serta kedua anaknya yang banyak mengenalkan kami soal kehidupan suku Baduy. Ada Endang, guide-porter kami yang banyak berkisah. Ada sapa dengan suku Baduy saat berpapasan di jalan desa. Ada pelajaran langsung yang ia saksikan dengan mata kepalanya.Kami ingin anak kecil jatuh cinta pada alam dan isinya. Jatuh cinta pada dunia. Jatuh cinta pada hidup yang beragam warna.

 I wish her to have an adventurous-weird-fun life, and hopefully she is willing to add dash of quirkiness into her life wholeheartedly. Let’s sail  life and be alive!

DSC_0795

Terimakasih sudah menjadi teman perjalanan yang menyenangkan, matahariku. Ibu bangga padamu, karena rasa takut adalah secuil pikiran yang ada di kepala.

Mari bersulang untuk petualangan berikutnya. Perjalanan mengenai alam, manusia dan semesta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s