Seperti Itu Aku Merindukanmu

*Taken from my FB Notes. It’s fiction. Nothing real. It’s because I miss Reading Lights so much, the sanctuary that I love. But sadly, now it’s closed*

Kamu tahu seperti apa aku merindukanmu?
Seperti saat kita menyusuri labirin di balik judul buku bekas di Reading Lights. Memiringkan kepala, berupaya mencerna judul buku yang tegak berdiri di rak kayu usang namun mengeluarkan aroma hangat. Mencium aroma lembaran buku, yang entah sudah dibaca berapa mata. Bau, kamu bilang. Wangi, itu kataku. Khas. Seperti wangi tubuhmu sehabis bertemu air kala mandi sore, tanpa aroma buatan. Membuat aku tak bosan menghirup wangi tubuhmu, lagi dan lagi. Tempat itu kerap kita datangi di sore hari. Saat lalu lintas tak sesibuk pagi. Ketika orang bergegas kembali ke rumah, mencari kehangatan mereka yang tertinggal sejak pagi.

Seperti apa rasa rinduku untukmu?
Seperti saat kita terdampar di Kedai Teko, usai kuliah sore. Lalu kamu pesan teh masala. Satu porsi saja. Namun toh cukup untuk kita berdua. Kau tuangkan teh hangat beraroma menggoda itu, ke dalam cangkir kecil, Kau biarkan aku menyesap perlahan, sambil membiarkan aku bercerita apa saja. Kau hanya diam, sambil sesekali mengembalikan letak si poni yang terjurai menutupi mata indahku. Ya, kau yang bilang mataku indah. Katamu mataku hidup, semua semburat rasa terpancar disana. Lalu kita pesan kue wortel dengan lapisan keju diatasnya. Kita nikmati, lagi-lagi berdua.

Mau tahu seperti apa aku merindumu?
Kala sore hari kita melangkahkan kaki. Menuju Potluck Coffee Bar and Library. Kali ini aku pesan Apple Pie. Kau tak lupa mengambilkan buku yang ada di rak pojok ruangan sana. Kau ingat kan, bisa berjam lamanya kita disana. Paduan tawa, kopi hangat, kue yang enak,buku bagus serta pembicaraan tentang apa saja, menjadi ramuan pas yang membuat kita betah disana. Kita duduk di sofa, berdekatan sambil membaca buku hingga aku bisa mencium aroma tubuhmu, yang baru saja bertemu air di sore hari.

Kamu tahu kan aku merindumu?
Ya, aku si perempuan sore yang jatuh hati padamu. Yang jatuh hati pada semburat lembayung di ufuk langit sana. Kala panas perlahan menguap, bercampur udara dingin yang datang saat menjelang gelap. Tapi kau tak bisa lagi temani aku menunggu sore dan menyapa kedatangan gelap, karena sore kemarin kau sudah ucapkan janji sehidup semati, dengan cincin tersemat di jari kau dan dia. Wanita yang kini akan menghabiskan sore setiap hari bersamamu, hingga ajal memisahkan kau dan dia.

Jadi, sini, duduk temani aku habiskan sore. Satu kali ini saja.

Advertisements

Hidup Yang Berwarna

13178663_10154172591968658_7775675558277575580_n.jpg

Saya gak mau dan gak akan bisa menjalani hidup yang flat. Biasa-biasa saja. Semacam datang kantor, pulang, ketik-ketik, makan siang, ketik-ketik lagi. Pulang. Sudah begitu saja. Biasa-biasa disini bukan berarti hidup mewah. Toh saya juga bukan orang kaya. Kelas menengah biasa yang harus menabung sekian lama untuk bisa jalan-jalan dan liburan, misalnya.

I’m hunger for problems and obstacles. Karena hal itu membuat hidup lebih hidup. Learning curve.  I heart dynamic-colorful life.

Satu yang saya bersyukur, diberikan pekerjaan yang menantang, memungkinkan bertemu banyak kalangan, belajar dari senior-senior dunia televisi yang memberikan kesempatan luas bagi saya menyerap ilmu, membantuk jaringan. Masalah sih selalu ada. Tapi gak penting juga. Toh gak mengurangi kadar cinta saya pada pekerjaan saya sama sekali, memberikan suntikan energi luar biasa untuk menjalani hari tanpa menjadi robot tanpa jiwa.

Makanya dulu juga sempat menjalani usaha kecil-kecilan dengan brand NYai, yang bahkan tahun lalu masuk daftar semifinalis Wanita Wirausaha Femina, yang sayangnya karena kesibukan yang kian kerap (dimana sebagai autoimmune survivor saya juga harus pintar-pintar mengatur energi), akhirnya sementara Nyai hibernasi . (moga-moga diberi keluangan waktu tanpa harus sering-sering keluar kota lagi sehingga Nyai bisa jalan lagi). Tapi sungguh, menjalani Nyai itu sungguh menyenangkan. Bukan tentang uang. Tapi berkarya, bisa ikut pameran sekelas Indonesia Fashion Week hingga Inacraft, juga mendapat teman banyak sesama pelaku usaha kecil dan menengah.

13907132_10154442116048658_4008648590823492266_n.jpg

Itu juga kenapa saya selalu sebisa mungkin menyempatkan bertemu teman-teman sepulang kantor. Sebisa mungkin. Ditengah jadwal luar kota yang frekuensinya kian kerap beberapa bulan terakhir (eh mungkin setahun terakhir ya :D).  Teman, yang membuat hidup semakin berwarna. Bukan hanya teman sekolah dan kuliah, tapi juga teman-teman seru yang membuat saya merasa punya learning curve ilmu , dari beragam tempat kerja saya dulu, hingga teman playdate.

Keluarga, tempat untuk ‘pulang’ dan menemukan ‘rumah’, sehingga menjadi bagian amat penting dalam hidup. Menghabiskan waktu bersama mereka, meski melakukan kegiatan sederhana. Tak perlu luar biasa, itu saja membuat bahagia. Keluarga, meski tidak sempurna, tapi selalu menghangatkan hati ketika pulang. Banyak rencana seru kami untuk berpetualang menjelajahi negeri ini nantinya, yang satu-satu sudah masuk daftar checklist. 

Melakukan perjalanan. Tahun ini mulai memberanikan diri melangkahkan kaki ke tempat yang ‘gak biasa’. Bersama mantan pacar dan si gadis cilik. Jailolo di Halmahera Barat, menginap di suku Baduy, hingga pekan lalu ke BItung di Sulawesi Utara yang sohor berkat Selat Lembehnya. Semoga tahun-tahun berikutnya kami bisa melakukan perjalanan dan petualangan lain bersama, ke tempat yang juga eksotis, kaya budaya, dengan alam yang juga indah, tentu. Mendapat banyak teman baru yang knows how to live life wholeheartedly. Mereka yang memberi energi positif, karena menjalani kehidupan dengan energi dan rasa cinta. Saya bersyukur mengenal mereka.

Saat melakukan perjalanan, sejak dulu kami gak pernah tertarik ikut tur. Kami merasa suatu perjalanan akan menjadi memori dan tantangan mengasyikkan, jika kami berjalan kemana pada hari itu, sesuai dengan hati mengatakan ingin melangkah kemana. Tersesat, bingung, tanya sana-sini pada orang lokal, persinggungan dengan banyak individu, rasanya menjadi hal seru yang memberikan memori tersendiri. Tentunya juga, menyumbang keragaman warna hidup dalam perjalanan singkat itu. It’s the journey and experience, not the destination.

Lalu, project pribadi #weekendtanpamall juga ikut menyumbang keseruan hidup ini. Hal-hal sederhana, eksplorasi hal sekeliling, membuat akhir pekan juga menjadi ditunggu untuk mencoba hal-hal baru. Bahkan perlahan saya dan 2 teman lain, membuat page  Weekend Tanpa Mall, untuk sarana berbagi kegiatan seru diluar mall. Hal sederhana, yang memberi keasyikan tersendiri.

13876414_10154442119863658_2579603083273966759_n.

Saya selalu percaya, bagaimana kita mewarnai hidup, ragam warna apa yang akan ada dalam kehidupan kita, akan bergantung bagaimana saya merengkuh kehidupan sebagaimana adanya. Tidak sempurna, tapi saya memang kerap memiliki memori selektif yang akan mengisi benak dan jiwa. Tak mau mengingat hal sulit. Karena bagaimanapun segala masalah itu adalah satu paket yang harus kita terima sebagaimana berkat. Itu saja. Akan selalu ada orang sulit mampir ke kehidupan kita. Akan selalu ada teman yang mengkhianati kepercayaan dan ketulusan kita. Akan selalu ada masalah yang menghampiri , hingga bahkan membuat saya meneteskan air mata. Ada masa dimana saya merasa tak kuasa. Tapi esok, bangkit lagi dan menyongsong lagi hari untuk mewarnai lagi hari ke hari.

Ya sudah. Itu hidup. Toh masih ada berjuta berkat yang diberikan kepada saya dan keluarga kecil saya. Itu saja. Untuk segalanya, hanya Alhamdulilah. 

Lalu nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

Jadi, bagaimana kamu mewarnai hidupmu?

13151687_10154167454733658_3406389780890683791_n.jpg