Mari Berpetualang, Anak Ibu!

Sejak tahun lalu, kami mulai membawa si anak kecil untuk melangkahkan kaki, namun dengan menyelipkan unsur petualangan, mengenal alam, juga budaya. Kami sudah bolak-balik pergi liburan ‘standar turis’,  berkali-kali dan lagi-lagi ke kota sama, semacam Yogyakarta, Solo, Semarang dan Bali sejak si anak kecil berumur 1 tahun. Bosan rasanya.  Kami juga (bertiga) sudah melangkah ke Lampung, Medan, Malang, Surabaya dan Madura, Tasikmalaya, termasuk standar liburan orang Indonesia ke Malaysia dan Singapura demi Universal Studio dan Legoland. (Meh  , I knooowww 😀 ) Tapi saat itu kami juga tak lupa menyelipkan perjalanan ke berbagai museum dong.

DSC_3052

Tapi ya rasanya itu belumlah memberikan pengalaman ‘berpetualang’ yang sebenar-benarnya. Belum memberikan legacy untuk dia tentang makna perjalanan. Termasuk mengenal negerinya, #indonesiaku dan Indonesia kita yang sebenar-benarnya. Jujur apa adanya

dsc_1272

Jadi sejak tahun  lalu, kami bertekad memperkenalkan Indonesia dengan lebih dekat melalui perjalanan yang lebih memberi kesempatan pada dia untuk bereksplorasi. Toh dia sudah cukup besar, sudah mulai diajarkan mengurusi barang dan keperluannya sendiri. Sudah punya pemahaman keamanan diri sendiri secara sederhana. Saya gak mau dia tercerabut dari kehidupan yang sebenarnya , lantas kehidupan di mata dia identik dengan perjalanan yang nyaman, tentang kota besar dengan gemerlap cahaya, atau permainan dan atraksi buatan yang tidak memberi kesempatan bagi dia untuk bersinggungan dengan banyak manusia dengan kebiasaan dan kehidupan berbeda. Dia harus mengenal bumi dan alam tempat dia berpijak. Tanpa polesan. Sebenar-benarnya, dengan wajah kejujuran.

_mg_7224

Maka dimulailah perjalanan ke Baduy, ke Bitung (Sulawesi Utara), hingga camping di tahun ini. Sebelumnya kami mencoba melakukan eksperimen sederhana, dengan project pribadi #weekendtanpamall  sejak 2 tahun lalu. Maka dimulailah eksplorasi ke museum-museum,  galeri seni, pertunjukan seni dan budaya, sengaja menggunakan transportasi umum seperti KRL menuju satu tujuan, hingga sebisa mungkin berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lain yang berdekatan. Atau menonton di micro cinema, jelajah pasar dan kota tua, menelusuri tempat ibadah kuno umat agama lain.  Mampir ke toko buku bekas, atau menyaksikan senja di taman kota. Menikmati hal sederhana, eksplorasi, mencari tahu hal sekeliling kita. Kadang hanya di rumah, menikmati kebersamaan dengan bermain monopoli atau memasak bersama. Ada makna yang ingin kami titipkan melalui gerakan #weekendtanpamall.

dsc_0899

I believe, kids need adventure and experience. But parents have to teach them how to. How to spot risk, how to deal with problems, how to explore, how to develop skill and judgement when they need to be safe. Expose them to culture and history, so they know there is more than one way to live life. We took her to all kind of museum. A history museum, a science museum, an art museum. . She doesn’t have to understand everything. I just want to show her that exploring the unfamiliar is fun. It’s the place to encounter things you know nothing about, to ask questions, find answers, and see in new ways. 

Kids nowadays,  are over scheduled, and their days are filled with pressure. Tugas kami-lah sebagai orangtua, untuk mengajak dia bersenang-senang dengan cara sederhana. Mengajarkan dia menikmati hidup, yang dimulai dengan langkah kecil dan tidak rumit.

dsc_4818

Karena bukan salah video game atau TV. Tapi bagaimana saya dan mantan pacar membentuk cara berpikir si anak kecil, adalah yang utama. Memberi dia pemahaman kenapa lebih baik berlama-lama di alam terbuka, daripada bermain game dan hanya terkurung di ruangan.  Kenapa lebih baik bersenang-senang di bawah hujan, ketimbang seharian terkurung dengan Ipad. Toh melalui pengenalan sedikit-sedikit di project pribadi #weekendtanpamall , dia sudah mulai terlihat menikmati aktivitas yang sedikit gak biasa, dan tentu di luar mall. Meski kita gak anti mall 😀

15873271_687523891427459_2393659522165884574_n

I want her to enjoy the sunset surrounded by nature, not the super-packed beach club with pretentious people. They need connection with nature, as well as people.  They also need to figure out how to exist without technology. Dan perjalanan kami menginap di Baduy, membuktikan situ. Bahwa anak-anak justru amat menikmati hal dan aktivitas sederhana, tanpa listrik maupun teknologi.  Mereka belajar mengapresiasi hening di tengah malam gelap.

DSC_4813Kami juga dalam beberapa perjalanan tahun ini, lantas trekking serta hiking. Memperkenalkan si anak kecil juga dengan budaya, manusia yang berbeda. Membiasakan dia berkomunikasi dengan orang baru, seperti saat di Bitung, ia dengan mudah berinteraksi bahkan dengan penari Kabasaran yang secara tampilan fisik, berhubung itu adalah tarian perang, membawa pedang lengkap dengan aksesoris tengkorak Yaki. Menyeramkan? Tergantung cara pandang bukan? Disitulah kami sebagai orangtua mengambil kesempatan untuk menceritakan sedikit soal budaya etnis MInahasa, dan kenapa ada tari perang. Juga menjelaskan soal Kolintang, yang membuat dia terpaku di tempat duduknya.

img_8765

Di Baduy dan Bitung pula, kami biarkan ia bermain dan bersenda gurau dengan anak-anak lokal. Bahkan ada satu masa, dimana ia asik berkejaran dengan seorang anak lokal, menjelang matahari terbenam di pantai. Lalu mereka terlibat perbincangan khas anak-anak. Lucu, menghangatkan hati.

Kami ingin dia juga menyadari, bahwa Indonesia tempat ia lahir dan hidup, bukanlah milik segelintir manusia. Tapi ia adalah rumah bagi beragam rupa, tanpa memperdulikan suku, ras, agama, orientasi seksual, pilihan politik dan sejuta kotak yang dibuat manusia. Agar ia melebarkan cakrawala pikiran seluasnya, merengkuh perbedaan sebagai bagian dari kehidupan.

DCIM100MEDIADJI_0037.JPG

So, I want her to embrace life wholeheartedly. Let her climb the mountain. Paddle the river. Sail the sea. Crawl the cave. Go out and look up the night sky. Go chase the sunset. Appreciate silence and modesty. Knows value, not price. Knows the real meaning of life and be alive. Appreciate differences. Be human.

 

Karena hidup adalah bagaimana kita memaknai dan mewarnainya. Mari kita bersenang-senang lagi, untuk perjalanan dan petualangan berikutnya!

dsc_2317-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s