Setangkup Rindu

Siang itu, ada kenangan yang sekelebat terlintas,

Tentang  air mata menggantung yang ditahan si empu-nya, karena sungguh ia tak pandai merangkai kata menjabarkan rasa. Tentang doa yang ia katakan, selalu ia sebut dalam shalat malam. Tentang tangis tertahan di telepon, karena ada cinta yang tak luwes ia ucapkan. Tentang kebanggaan, lewat kumpulan koran dan majalah yang memuat si anak. Tentang kian lembutnya hati dan perilaku, seiring  dengan cucu-cucu yang menorehkan bahagia.

Tapi siang itu pula,

Ada rindu yang tak sempat diucapkan. Ada perasaan yang tak sempat diungkapkan. Siang itu, hanya bisikan di tubuh kaku dan ucapan tak putus di telinganya. Dengan harapan, bisa melintasi beda dunia. Dengan keinginan sederhana, bahwa rasa itu bisa  sampai getarannya.

Sore itu,

Ada baju-baju tergantung sedemikian rapi. Ada tumpukan kitab suci dan buku yasin yang sedemikian banyak.  Satu buku, tertera tulisan rapi ditujukan pada anaknya. Ada foto-foto yang dengan telaten ia kumpulkan dan dibingkai. Semua adalah bahasa kalbu, yang tak selalu mulus ia ucapkan. Karena tak pandai mengungkap bahasa jiwa.

Pada siang itu, jasadmu tak ada lagi. Suaramu tak terdengar lagi. Pun tak bisa kulihat lagi bulir air mata tergantung di pelupuk mata, dengan sorot rasa cinta tiap kita berjumpa.

Tapi, toh tak akan kurelakan kau sendiri, karena dalam bait doa yang kulantukan setiap malam, ada rindu yang kutitipkan.

Aku mencintaimu, sebab itu aku tak akan pernah berhenti mendoakan keselamatanmu.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s