Cocot-nya Ibu

23380124_10155949538243658_1130371077506248680_n

Akhir pekan kemarin Ibu diceritakan Teteh-si mbak di rumah. Katanya saat itu Teteh bilang sepulang sekolah, supaya kamu telpon Ibu menggunakan HP-mu untuk memberitahukan sesuatu sama Ibu. Kamu bilang sama Teteh: “Aku kan gak boleh main HP, kecuali Sabtu dan Minggu”. Teteh bilang, bahkan saat Ibu Bapak gak ada di rumah pun, kamu gak mau langgar itu.

Kisah lainnya, si Mbak melanjutkan, tentang Pakde. Tetangga dekat rumah yang dulu teman jalan pagi Aki saat sedang ke rumah kita. Pakde ini senang anak kecil. Gak heran kalau anak-anak kompleks, kerap bermain di halaman rumah dia yang luas. Pakde juga murah hati, kerap membagi cemilan juga permen. Namun saat kamu ditawari, kamu bilang sama Pakde: “Aku tanya dulu ya (sama Ibu) karena aku gak boleh sering makan permen”.

Lain waktu, Teteh melanjutkan kisah sama Ibu. Suatu masa, kamu mendapatkan uang 50 ribu dari Bapak, yang kemudian kamu pergunakan pergi ke Indomaret membeli cemilan yang kamu mau. ┬áDiantar Teteh. Lalu kamu merasa, kayaknya uang dari Bapak kurang karena cemilan yang kamu mau banyak betul. Teteh menawarkan “Teteh tambahin uangnya deh Neng, kalau kamu mau barang itu”. Lalu Teteh berkisah sama Ibu, kira-kira kamu bilang begini , ” Gak usah deh, Teh. Ini kubalikin aja cemilannya. Jangan pakai uang Teteh”. Begitu kamu bilang, sambil mengembalikan barang yang sudah kamu ambil ke rak di toko itu.

Kamu tau gak, Shira?

Yang Teteh ceritakan sama Ibu, rasanya jauh lebih membanggakan daripada saat kamu dapat nilai bagus, atau kamu bisa menguasai komposisi piano klasik setelah berminggu berlatih. Buat Ibu, itu artinya kamu paham nilai kejujuran. Yang bukan kamu lakukan, saat ada ‘orang’ melihat, dalam hal ini, Ibu dan Bapak.

Selalu ingat ya Shira, belajar integritas itu ya dari sekarang. Kamu harus teguh soal integritas ya dari sekarang ini. Supaya kalau udah gede, gak kaya wakil rakyat yang terhormat. Mengambil uang rakyat, atas nama rakyat. Jangan juga nanti saat kamu gede, jadi manusia-manusia penuh kedok , yang…. sumpaaah, banyak banget loh di sekeliling kita. Mereka yang berkawan baik dengan hipokrisi.

Hipokrisi itu buat Ibu, adalah tentang membohongi nurani. Dan percaya deh, itu bikin ngganjel loh. Kaya bisul, kecil…tapi bikin duduk gak enak. Kan lebih baik makan enak, tidur nyenyak, daripada membohongi hati nurani kamu. Keberadaan Tuhan kita, yang menjaga kita tentang batasan soal perkara hitam-putih, dikaruniakan Tuhan kepada manusia melalui hati nurani. Gak jauh dimana-mana. Itu ada di diri kita selama ini. Bukan di buku-buku self-help, atau para motivator yang jualan kecap soal kesempurnaan. Jangan jadi manusia-manusia yang juga memperjualbelikan Tuhan, seperti tukang loak menjual barang bekas.

Nanti kalau udah gede, baca-baca deh pemikiran Soe Hok Gie. Anak muda dengan idealisme. Bukan berarti harus seperti dia. Karena Ibu yakin, setiap orang harus menjadi versi terbaik dirinya sendiri, begitu juga kamu. Oh ya, Gie pernah bilang gini, “Lebih baik diasingkan, daripada tenggelam dalam kemunafikan”.

Karena mengambil sikap, adalah pilihan. Jangan pernah takut kalau kamu memperjuangkan kebenaran. Misalnya apa? Segala bentuk nyolong, ya udah jelas gak boleh dong. Di agama manapun loh itu. Jadi ya jangan dilakukan. Jangan pernah mengambil sepeser pun yang bukan hak. Meski sekeliling kamu melakukan itu, meski juga dengan modus yang ‘seolah-olah’ : “gue gak ambil atau merugikan kok”. Preet deh pokonya.

Nanti juga perlahan kamu akan berkenalan akan nilai-nilai moralitas, yang sesungguhnya menjadi landasan Hablum Minnanas dan Hablum Minallah, dua-duanya gak boleh dipisahkan. Yin dan Yang, seperti sepasang sepatu yang saling melengkapi. Esensi kita sebagai muslim, jangan hanya dimaknai pakai jilbab, sembahyang semata. Atau sesuatu yang sifatnya ritual. Itu namanya masturbasi beragama. Tapi maksud Ibu, harus seimbang soal hubungan dengan sesama. Nilai penghormatan pada perbedaan, tidak mencederai hak orang, konsisten dalam bersikap, tidak banyak bohong sama orang lain, dan masih banyak lagi. Nanti kalau sudah besar, kita akan banyak deh diskusi nilai-nilai filosofi semacam ini. Pelan-pelan ya, sayang.

Trus kamu harus inget juga, memperjuangkan keyakinan yang kamu yakini, bakal gak mudah. Apalagi kalau prinsip kamu bertentangan sama banyak orang yang saling mengamankan kepentingan. Tapi gak usah takut. Percaya deh sama Ibu. Niat baik kita itu yang akan melindungi kita. Gak mudah jalannya, tapi kamu pasti bisa kok.

Ya udah deh, nanti pasti kamu mengerti yang Ibu maksud. Nanti kamu akan belajar soal hidup dan kehidupan, nilai-nilai kehidupan, manusia dan memanusiakan manusia.

Tapi yakin deh, hidup dan kehidupan meski jalannya rumit atau berliku, tapi sebenarnya mengerucut pada nilai-nilai yang sederhana. Jangan pernah membuat nilai dan moralitas menjadi rumit.

 

 

Advertisements