Lagi-lagi si Integritas

Pemimpin dengan integritas, adalah pemimpin tanpa kedok. Apa yang ia ucapkan di depan, selaras dengan yang ia ucapkan dan lakukan di belakang. Bukan ‘bisik-bisik’, menghindari konflik, tak berani ambil resiko lantas melemparkan piring kotor ke orang lain. Konsistensi antara tindakan, ucapan dengan nilai dan prinsip. Lawan telak dari hipokrisi, yang penuh kedok, agenda, kepentingan. Dia yang punya integritas, akan mendapatkan kepercayaan dari sekitar. Tentu saja.

Ada yang berkata” Tanpa integritas , motivasi menjadi berbahaya; tanpa motivasi, kapasitas menjadi tak berdaya; tanpa kapasitas, pemahaman menjadi terbatas; tanpa pemahaman pengetahuan tidak ada artinya; tanpa pengetahuan, pengalaman menjadi buta.”

(Sebentar. Aku mau muntah dulu. Sudah lama mual-mual)

Advertisements

This is My Soul Song, People

As an ambivert, I’m not a ‘group of friends’ person and certainly can’t keep up with all that.  A solitaire by nature.  As Lion walks alone, sheep walks with a herd. Not consider my self as lion tho. It’s just…, I prefer being alone than trapped in a group with banality and nonsense because I clearly cannot tolerate those.

I don’t despise small talk, but as ambivert, we are easily bored by small talk. I tolerate chit chat for a little while, but we need to dive into more meaningful conversation. Small talk, is not my forte.  I  won’t hesitate to withdraw my presence from nosy-busybodies people. As I can sense, guided by intuition those who fake their smiles, who really care, and those who are just being social climbers and need validation. Moreover, I strongly believe in my intuition until I know exactly those people whom you should avoid.

I might seem extrovert and bubbly, while the truth, I can only tolerate certain people. Love being surrounded by people, but still closed off and keeping to yourself. A selectively social, as certain people can recharge me but others drain the energy level. I’d rather make my limited “people” energy count by investing it into relationships that are truly fulfilling. Have no interest of trying to prove myself to certain people as well.

I do enjoy time alone, or perhaps with selected people whom I am comfortable with. I always look forward to: stay at home weekend, just relax with people you love and deeply care about, read books, cooking and yoga. I don’t like malls, large and loud venues, can be social whenever I want to be. I don’t have the urge to own the room, but need certain people I can connect with. Finding the real personality  who is willing to go beyond daily weather chat or material things, and yada..yada..yada, is like finding hidden gem to me.

 

Setangkup Rindu

Siang itu, ada kenangan yang sekelebat terlintas,

Tentang  air mata menggantung yang ditahan si empu-nya, karena sungguh ia tak pandai merangkai kata menjabarkan rasa. Tentang doa yang ia katakan, selalu ia sebut dalam shalat malam. Tentang tangis tertahan di telepon, karena ada cinta yang tak luwes ia ucapkan. Tentang kebanggaan, lewat kumpulan koran dan majalah yang memuat si anak. Tentang kian lembutnya hati dan perilaku, seiring  dengan cucu-cucu yang menorehkan bahagia.

Tapi siang itu pula,

Ada rindu yang tak sempat diucapkan. Ada perasaan yang tak sempat diungkapkan. Siang itu, hanya bisikan di tubuh kaku dan ucapan tak putus di telinganya. Dengan harapan, bisa melintasi beda dunia. Dengan keinginan sederhana, bahwa rasa itu bisa  sampai getarannya.

Sore itu,

Ada baju-baju tergantung sedemikian rapi. Ada tumpukan kitab suci dan buku yasin yang sedemikian banyak.  Satu buku, tertera tulisan rapi ditujukan pada anaknya. Ada foto-foto yang dengan telaten ia kumpulkan dan dibingkai. Semua adalah bahasa kalbu, yang tak selalu mulus ia ucapkan. Karena tak pandai mengungkap bahasa jiwa.

Pada siang itu, jasadmu tak ada lagi. Suaramu tak terdengar lagi. Pun tak bisa kulihat lagi bulir air mata tergantung di pelupuk mata, dengan sorot rasa cinta tiap kita berjumpa.

Tapi, toh tak akan kurelakan kau sendiri, karena dalam bait doa yang kulantukan setiap malam, ada rindu yang kutitipkan.

Aku mencintaimu, sebab itu aku tak akan pernah berhenti mendoakan keselamatanmu.

 

 

Integritas = Jati Diri

Integritas itu layaknya dua sisi mata uang. About who you are, and what you are.  Itu adalah keyakinan akan nilai, moralitas, kesejatian. Jati diri sebagai manusia. Yang akan melekat hingga akhir hayat. Membulatkan hati dan tekad untuk teguh, meski sekeliling melakukan sebaliknya. Integritas adalah lawan kemunafikan dan ketidakjujuran.

Bertahun-tahun melihat begitu banyak manusia tanpa integritas di planet itu. Tak perlu jenius untuk tahu, begitu banyak hal-hal yang tak sesuai nurani telah dilakukan. Bahkan untuk manusia semacam itu, pergeseran makna kejujuran pun terjadi.  Saling menutupi bangkai busuk. Saling mengamankan kepentingan kolektif segelintir manusia yang itu-itu saja. Saling memanfaatkan demi kepentingan sendiri. Tentu segalanya tidak lagi hitam dan putih. Padahal kejujuran meski bermakna luas, adalah selalu hitam atau putih.

Hanya satu kata: jijik.

Dan aku selalu ingat kata Bapakku: “Jujur itu harga mati!”. Dan aku jijik pada mereka yang menggadaikan kejujuran demi materi.

Integrity

integrity-2.jpg

Yes is yes. My no is no. No compromise. It’s about life’s honour.

Honesty and integrity is the wisdom  of life.  I’m not here to please everybody, but to do what’s right than convenient. I never compromise both by cheating.

It’s about doing the right thing because it’s the right thing to do. And I’m not afraid of the truth, the reality principle. Telling the truth eventho’ the truth is ugly. Integrity is the state of mind.

I’d rather be a person to hate, than crossing the line of my conscience. So suck it up, and I will keep pressing forward of telling the truth.

Mari Berpetualang, Anak Ibu!

Sejak tahun lalu, kami mulai membawa si anak kecil untuk melangkahkan kaki, namun dengan menyelipkan unsur petualangan, mengenal alam, juga budaya. Kami sudah bolak-balik pergi liburan ‘standar turis’,  berkali-kali dan lagi-lagi ke kota sama, semacam Yogyakarta, Solo, Semarang dan Bali sejak si anak kecil berumur 1 tahun. Bosan rasanya.  Kami juga (bertiga) sudah melangkah ke Lampung, Medan, Malang, Surabaya dan Madura, Tasikmalaya, termasuk standar liburan orang Indonesia ke Malaysia dan Singapura demi Universal Studio dan Legoland. (Meh  , I knooowww 😀 ) Tapi saat itu kami juga tak lupa menyelipkan perjalanan ke berbagai museum dong.

DSC_3052

Tapi ya rasanya itu belumlah memberikan pengalaman ‘berpetualang’ yang sebenar-benarnya. Belum memberikan legacy untuk dia tentang makna perjalanan. Termasuk mengenal negerinya, #indonesiaku dan Indonesia kita yang sebenar-benarnya. Jujur apa adanya

dsc_1272

Jadi sejak tahun  lalu, kami bertekad memperkenalkan Indonesia dengan lebih dekat melalui perjalanan yang lebih memberi kesempatan pada dia untuk bereksplorasi. Toh dia sudah cukup besar, sudah mulai diajarkan mengurusi barang dan keperluannya sendiri. Sudah punya pemahaman keamanan diri sendiri secara sederhana. Saya gak mau dia tercerabut dari kehidupan yang sebenarnya , lantas kehidupan di mata dia identik dengan perjalanan yang nyaman, tentang kota besar dengan gemerlap cahaya, atau permainan dan atraksi buatan yang tidak memberi kesempatan bagi dia untuk bersinggungan dengan banyak manusia dengan kebiasaan dan kehidupan berbeda. Dia harus mengenal bumi dan alam tempat dia berpijak. Tanpa polesan. Sebenar-benarnya, dengan wajah kejujuran.

_mg_7224

Maka dimulailah perjalanan ke Baduy, ke Bitung (Sulawesi Utara), hingga camping di tahun ini. Sebelumnya kami mencoba melakukan eksperimen sederhana, dengan project pribadi #weekendtanpamall  sejak 2 tahun lalu. Maka dimulailah eksplorasi ke museum-museum,  galeri seni, pertunjukan seni dan budaya, sengaja menggunakan transportasi umum seperti KRL menuju satu tujuan, hingga sebisa mungkin berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lain yang berdekatan. Atau menonton di micro cinema, jelajah pasar dan kota tua, menelusuri tempat ibadah kuno umat agama lain.  Mampir ke toko buku bekas, atau menyaksikan senja di taman kota. Menikmati hal sederhana, eksplorasi, mencari tahu hal sekeliling kita. Kadang hanya di rumah, menikmati kebersamaan dengan bermain monopoli atau memasak bersama. Ada makna yang ingin kami titipkan melalui gerakan #weekendtanpamall.

dsc_0899

I believe, kids need adventure and experience. But parents have to teach them how to. How to spot risk, how to deal with problems, how to explore, how to develop skill and judgement when they need to be safe. Expose them to culture and history, so they know there is more than one way to live life. We took her to all kind of museum. A history museum, a science museum, an art museum. . She doesn’t have to understand everything. I just want to show her that exploring the unfamiliar is fun. It’s the place to encounter things you know nothing about, to ask questions, find answers, and see in new ways. 

Kids nowadays,  are over scheduled, and their days are filled with pressure. Tugas kami-lah sebagai orangtua, untuk mengajak dia bersenang-senang dengan cara sederhana. Mengajarkan dia menikmati hidup, yang dimulai dengan langkah kecil dan tidak rumit.

dsc_4818

Karena bukan salah video game atau TV. Tapi bagaimana saya dan mantan pacar membentuk cara berpikir si anak kecil, adalah yang utama. Memberi dia pemahaman kenapa lebih baik berlama-lama di alam terbuka, daripada bermain game dan hanya terkurung di ruangan.  Kenapa lebih baik bersenang-senang di bawah hujan, ketimbang seharian terkurung dengan Ipad. Toh melalui pengenalan sedikit-sedikit di project pribadi #weekendtanpamall , dia sudah mulai terlihat menikmati aktivitas yang sedikit gak biasa, dan tentu di luar mall. Meski kita gak anti mall 😀

15873271_687523891427459_2393659522165884574_n

I want her to enjoy the sunset surrounded by nature, not the super-packed beach club with pretentious people. They need connection with nature, as well as people.  They also need to figure out how to exist without technology. Dan perjalanan kami menginap di Baduy, membuktikan situ. Bahwa anak-anak justru amat menikmati hal dan aktivitas sederhana, tanpa listrik maupun teknologi.  Mereka belajar mengapresiasi hening di tengah malam gelap.

DSC_4813Kami juga dalam beberapa perjalanan tahun ini, lantas trekking serta hiking. Memperkenalkan si anak kecil juga dengan budaya, manusia yang berbeda. Membiasakan dia berkomunikasi dengan orang baru, seperti saat di Bitung, ia dengan mudah berinteraksi bahkan dengan penari Kabasaran yang secara tampilan fisik, berhubung itu adalah tarian perang, membawa pedang lengkap dengan aksesoris tengkorak Yaki. Menyeramkan? Tergantung cara pandang bukan? Disitulah kami sebagai orangtua mengambil kesempatan untuk menceritakan sedikit soal budaya etnis MInahasa, dan kenapa ada tari perang. Juga menjelaskan soal Kolintang, yang membuat dia terpaku di tempat duduknya.

img_8765

Di Baduy dan Bitung pula, kami biarkan ia bermain dan bersenda gurau dengan anak-anak lokal. Bahkan ada satu masa, dimana ia asik berkejaran dengan seorang anak lokal, menjelang matahari terbenam di pantai. Lalu mereka terlibat perbincangan khas anak-anak. Lucu, menghangatkan hati.

Kami ingin dia juga menyadari, bahwa Indonesia tempat ia lahir dan hidup, bukanlah milik segelintir manusia. Tapi ia adalah rumah bagi beragam rupa, tanpa memperdulikan suku, ras, agama, orientasi seksual, pilihan politik dan sejuta kotak yang dibuat manusia. Agar ia melebarkan cakrawala pikiran seluasnya, merengkuh perbedaan sebagai bagian dari kehidupan.

DCIM100MEDIADJI_0037.JPG

So, I want her to embrace life wholeheartedly. Let her climb the mountain. Paddle the river. Sail the sea. Crawl the cave. Go out and look up the night sky. Go chase the sunset. Appreciate silence and modesty. Knows value, not price. Knows the real meaning of life and be alive. Appreciate differences. Be human.

 

Karena hidup adalah bagaimana kita memaknai dan mewarnainya. Mari kita bersenang-senang lagi, untuk perjalanan dan petualangan berikutnya!

dsc_2317-2

Jujur

Ibu dan Bapak selalu mengajarkan tentang kejujuran. Dan itu buat aku dan adikku, artinya luas. Jujur pada perasaan. Jujur pada keinginan. Jujur pada diri sendiri. Jujur pada hati nurani . Jujur gak mengambil yang bukan hak.

Doa mereka juga yang senantiasa dihembuskan, yang menjaga aku sampai detik ini, untuk gak pernah mengambil yang bukan hak. Bahkan berhutang sama orang juga, alhamdulilah gak pernah dilakukan hingga detik ini. Se-kantong kempes apapun, rejeki romantis itu Alhamdulilah selalu ada, tanpa berhutang. Dan itu semua, yang membuat aku tidur nyenyak, menjalani hidup tanpa beban karena takut ketahuan dan terbongkar belangnya. Tidur nyenyak, karena gak berkonspirasi sama siapapun untuk mengutip yang bukan hak. Tidur nyenyak karena gak dikejar penagih hutang. Tidur nyenyak tanpa khawatir ada yang ‘bernyanyi’.  Tidur nyenyak karena rejeki romantis yang menenangkan dan membahagiakan. Tidur nyenyak karena gak harus menutupi banyak rahasia.

Ibu dan Bapak  juga selalu bilang, jangan pernah berhutang budi sama orang. Jangan meminta-minta. Biarkan Tuhan yang membolak-balik keadaan.  Kehidupan kamu adalah tanggung jawabmu, jangan bergantung belas kasihan pada orang untuk menjalani kehidupanmu. Itu yang selalu mereka bilang.

Itu juga yang membuat hidup aku tanpa beban pada orang lain. Tanpa rasa takut jika rahasia ketahuan. Karena semua adalah hasil keringat sendiri. Bukan pemberian, bukan belas kasihan, bukan hasil merengek dan meminta. Termasuk dari orangtua.

Sekeras itu aku pada diriku sendiri. Karena aku percaya, honesty is the first chapter in the book of wisdom. Begitu kata si Thomas Jefferson.  Dan sesulit apapun tantangannya,  ada doa orangtua yang menjadi peneguh dan penerang jalanku. Dan itulah, sumber kekuatanku.