Terpikat Si Essential Oil

20140619_163733

 

I’m a wellness enthusiast. Sejak sakit auto imun, memang menyebabkan saya rajin mencari berbagai informasi kesehatan holistik yang tidak melulu menjadikan obat kimia sebagai solusinya. Sehat itu keseluruhan. Perlu usaha dan disiplin, dan membuka mata untuk mnenyerap berbagai informasi yang berseliweran.

20140619_162853

Saya lupa di akun Instagram siapa. Namun saat melihat foto botol kecil essential oil dari Young Living, I can’t get enough. I browsed and looking for comprehensive information. Sampai akhirnya nyasar kesini . Lalu dimulailah proses penjajagan dengan si minyak ini. Ternyata pure therapeutic grade essential oil berbeda dengan minyak aromaterapi yang banyak di pasaran. Singkatnya, minyak aromaterapi hanya mewakili efek wangi saja, bukan bagian terapi kesehatan. Pure therapeutic grade essential oil alias minyak atsiri mengambil 100 persen esensi dari tumbuhan sehingga memiliki efek therapeutic (bukankah obat-obatan juga banyak mengambil manfaat dari tumbuhan, hanya saja kemudian dicampurkan bahan kimia). Karena itulah pure essential oil banyak menempati wadah kaca berwarna gelap.  Satu yang pasti, harganya juga memang tidak murah. Masalahnya, untuk mendapatkan kualitas therapeutic, tumbuhan melewati proses distilasi yang panjang. Tidak hanya mengambil satu bagian tanaman saja, tapi juga bagian lain seperti getah, daun atau  batang. Itu jugalah kenapa harga tiap essential oil akan berbeda.

20140607_165221

Namun, saya gak kurang akal. Beli secara mencicil, satu-satu. Sesuai kebutuhan. Yang pertama saya beli, adalah blend essential oil Thieves. Kenapa? Karena khasiatnya banyak. Meningkatkan imunitas, mengatasi demam, radang tenggorokan, flu, anti bakteri dan antiseptik. The rest is history. I was hooked. Setiap bulan satu persatu botol pun mampir ke rumah. Saya sesuaikan dengan kebutuhan yang paling krusial. Tiap orang pasti berbeda kebutuhannya. Jadi pelajari baik-baik khasiat tiap essential oil. Do we really need particular type or not?

Ngaruh gak?

Iya. When my mind is chattering, I use Peace and Calming before bed. Gak lama kriyep-kriyep. Saat perjalanan dinas, makan sempat berantakan, sayur dan buah  gak konsumsi seperti biasanya. Ditambah bandel minum teh botol dua, makan gorengan. Walhasil malam muntah-muntah. Oles Peppermint Oil. Mual hilang, gassy hilang. Sempat si anak kecil demam. Selamat tinggal obat. Tiap dua jam saya oles Thieves di telapak kaki. Oles Melalauca di dada. Saya pijat badannya pagi, siang malam dengan campuran extra virgin coconut oil dan Lavender oil. Lalu rajin kompres air dicampur peppermint oil. Perlahan panasnya hilang. Langsung yang tadinya mata dia sayu, sore sudah ceria dan ngoceh lagi.

Oh ya, seminggu ini saya juga stop obat muka Er*a. Pakai apa dong?

20140614_091002

Frankincense oil. Plus pakai moisturizer dan night krim dari Kiehl’s (saran: pakailah produk yang komposisi bahan kimianya minimal). Bahkan saya juga sudah membuat sendiri toner yang dibuat dari campuran air seduhan green tea organik, unfiltered apple vinegar dan beberapa tetes Lavender oil. So far, pori-pori lebih kecil. Dan sebum yang akhir-akhir ini merajalela, sedikit berkurang (gambar bawah)

20140622_073701

Lalu merek apa yang dipakai? Saya pakai Young Living (bisa beli di independent distributor mereka di Instagram @oils2heal atau @younglivingid). Khusus untuk yang sifatnya kuratif pemakaiannya. Yang lebih bersahabat harganya ada Vimala (local brand tapi bahan baku tetap import ternyata. Dan produknya lebih terbatas dibanding YL. Sila mampir kesini ). Brand terakhir saya pakai beli campuran konsentrasi kerja, atau lagi bad mood. Hence I bought Focus and Uplifting blend.

Will share later about the experience using pure essential oil for daily living for sure.

 

 

 

Advertisements

Titik Balik

20130908_061432

Menerima hasil lab 2 bulan sekali sudah menjadi rutinitas 2 tahun terakhir ini. Gak ada yang aneh. Biasa saja. Tapi membaca hasil tes terakhir, tiba-tiba saja membuat dada ini sesak. Akhirnya si hormon tiroid dinyatakan normal. Akhirnya upaya selama 1,5 tahun ini membuahkan hasil. Yoga, rajin makan mentah dan semacamnya, ternyata berhasil menjinakkan si hormon tiroid yang sempat menghambat aktivitas dan melemahkan kondisi fisik saya. Meski tentu saja my own battle ini tidak berhenti sampai disini. Autoimun ada di tubuhmu, deal with it, and fight for it. It is surely a life time commitment. 

Buat saya ini membuktikan, bahwa sehat itu pilihan. (those negative people, go mock your self and your life, please. If you have any :D). Sempat ada yang mencibir sinis, ini pencitraan lah, ikut-ikutan trend lah. Hahaha. Kasihan. Instead of judging, why don’t you dig deeper to know what other have been going through?

Yang pasti, dikasih sakit membuat saya berpikir ulang atas hidup saya. Sakit juga yang membuat saya memutuskan meninggalkan pekerjaan yang (sebelumnya saya pikir) saya idamkan. Lengkap dengan jabatan dan uang yang saya inginkan. Saya berusaha keras untuk mendapatkan pekerjaan sebelumnya tersebut, yang saya pikir akan membuat hidup saya lebih bahagia dan berwarna. Nyatanya? Nihil. Saya merasa kosong, padahal yang saya mau sudah ada di genggaman. Sakit, sempat memberi pukulan buat saya dan mengutuk. Kenapa?

Namun sakit pula yang  memunculkan ide Nyai, saat melihat tumpukan kain dan batik di lemari. Suami mendukung.  Klop. Match made in heaven. Jadi kalau ada yang berpikir Nyai adalah cara saya untuk menjadi kaya, salah besar. Nyai adalah terapi ‘sembuh’, for doing things I love. Teman dekat and those who are close in my heart knows my craze for traditional fabric.

Tanpa diduga, keputusan meninggalkan zona nyaman  ternyata malah membuka pintu lebih lebar bagi saya untuk melihat dunia dengan kacamata berbeda. Saya lantas mendapatkan kesempatan menjadi konsultan media yang memberi tantangan untuk terus bergerak dan berpikir, dengan waktu yang lebih fleksibel . Segala aktivitas yang saya jalankan, bahkan sempat memberi saya waktu untuk menjadi dosen meski kemudian saya lepaskan karena lelah atas keharusan pulang pergi Jakarta-Bandung. Saya juga mendapat kesempatab jadi dosen tamu untuk sharing soal si bayi Nyai, bisa bertemu dengan orang-orang baru dan menjalin network, berkenalan dengan para womenpreneur luar biasa itu, traverse to places for work mission, sempat memiliki waktu untuk rutin beryoga, quality time dengan kawan-kawan. Dan yang terpenting, masih bisa memiliki waktu lebih leluasa untuk keluarga.

Semua mengalir bagai air. Tanpa pernah diduga, banyak hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, sekarang saya lakukan. And I do fall in love with all.  Saya jatuh cinta dengan beragam warna dalam hidup ini yang secara ajaib menuntun jalan saya untuk melihat dengan lebih jernih. Siapa sangka jalan hidup saya akan seperti ini? Padahal dulu, pandangan saya lurus ke depan. Bekerja yang baik, karir yang baik. Cukup.

Sakit, ternyata menjadi titik balik dalam hidup saya. Titik balik yang mengubah pandangan. Titik balik bahwa berkarya itu membahagiakan. Titik balik bahwa kebahagiaan tidak perlu dicari, cukup dirasakan dengan hati dan pikiran jernih. Titik balik bahwa hidup terlalu singkat dan indah dihabiskan dengan sakit-sakitan, A turning point which made me realize that feeling healthy, strong and fit are rock!

Siapa sangka bahwa kemudian muncul pula keinginan bahwa suatu saat, saya akan mengajar yoga. Untuk menyebarkan virus dan semangat serupa, yang saya rasakan berkat yoga. Untuk merasa sehat dan kuat, dan mampu menaklukkan dunia.

Keluar zona nyaman memang (sedikit) menakutkan. Namun tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan. The Greater Power will take care of you as long as you do your best. With love. Namaste.

Yoga and Creativity

How do you see creativity?

As for me, creativity is not solely about being creative (pffft).

Apapun yang kamu lakukan, ataupun apapun profesimu, semua butuh kreativitas kan? Whether you are an artist, accountant, journalist, or a mother who pick up your child on daily basis, you need creativity to meet everyday challenges. You need creativity to juggle schedules or even traverse the traffic. Creativity tells your brain to find solution.

I say, there’s no such thing as claim you self as ‘creative person’. Everybody has a sense of creative sides. To find solution. To finish the task. To teach your children how to read. To decide meal menu on daily basis. To  write report with the right word.  And so on and so forth. That’s part of being creative, too.

Dan buat saya, yoga ( I know…., boringgggg *yawn*), menolong saya menjadi lebih intuitif. Lebih kreatif. When I’m in an intuitive state, everything is not always black and white. I see different colors. I know my self better. It helps me to open flow of creativity. It is becoming fuels to creative process, gives spacious mind and observant heart, too. S

aya merasa lebih fokus pada apa yang saya kerjakan. Membuat saya lebih tenang pada saat harus multi tasking soal pekerjaan dan Nyai. Membuat ide berseliweran begitu saja. Inspiration strikes from everywhere.

Yoga helps me find my passion and mission. I know what I want because I see clearer.  I am more confident to take different step nor move forward.

So yes, just like Sianna Sherman as the creator of Mythic Yoga Flow said:  “creativity is actually the living and breathing essence of our self”.

And yoga leads my way.

Namaste.

We Keep Pressing Forward

brochure01

So many things to do as NYai is brewing.

First, we are now preparing for upcoming exhibition at IIFF 2013. New collection is lining up, for sure. Sabtu kemarin juga akhirnya kami sempatkan mengadakan syukuran dan doa bersama dengan seluruh elemen yang terlibat dalam Nyai di workshop, dipimpin si kepala suku.

Ada rasa haru menyeruak, karena lewat si bayi kecil bernama Nyai ini, ada banyak elemen terlibat. Gak cuma tukang saja yang mengerahkan segenap kemampuan dan ketrampilan mereka. Segelintir  masyarakat sekitar, yang mungkin sebenernya gak punya skill khusus untuk bisa jahit tas, tapi mereka (yang sebagian diantaranya adalah pelajar perempuan, yang membantu usai mereka bersekolah. Rata-rata mereka sekolah SMA atau madrasah setingkat SMA. Girl power!),  dikerahkan juga untuk bantu mengelem, memasang aksesoris, membungkus tas yang sudah jadi dengan plastik, atau memastikan setiap produk berisikan bungkusan koran yang dilapis kertas untuk menjaga agar tas tidak rusak.  So, this is what makes me beyond happy. Bahwa ada banyak elemen dan upaya yang dikerahkan segenap hati oleh banyak orang, untuk memberikan yang terbaik via NYai. Nyai hanyalah medium, di belakangnya ada proses yang menghidupi dan menggerakkan kehidupan sejumlah individu, untuk terus bergerak sesuai skenario kehidupan yang mereka punya. Subhanallah.

Along our humble journey, I found miracles after miracles. Salah satunya, tiba-tiba saja kita mendapat kesempatan ikut Fashion Parade di Indonesia Islamic Fashion Fair bulan Juni mendatang di JCC, secara cuma-cuma alias tanpa bayar! (Nyai sendiri  sekitar sebulan lalu dinyatakan lolos menjadi exhibitor di acara tersebut). Padahal tentu saja ikut Fashion Parade membutuhkan biaya yang buat ukuran NYai sih tidak sedikit.

How come? Will share ‘how’ later on our blog. Yang jelas, saya gak pakai target apapun. Saya hanya menjalankan porsi untuk berupaya sekuat tenaga, lalu membiarkan alam semesta mewujudkannya. Let the universe do its job, to let higher power taking care the rest. Yang pasti, sekarang kita sedang kebat-kebit mempersiapkan koleksi untuk fashion parade. Remember, this is our very first time. Namun entah kenapa, meski waktu yang tersisa tidaklah banyak, I just believe that everything will be ok, because I know God will handle everything in a greater way than I do. Hasbunallahi wa ni’mal wakil.

By the way, whaddaya think of above design? It’s the first draft which required another element. It’s part of the preparation for our next exhibition in Kuala Lumpur next June.

 

Tentang Energi Positif

A friend once said, circle your self with positive vibe. Because it’s like echo. Somehow, it would get back to you. And it’s true!

sunshine

Kalau saya siih, paling males baca status di twitter atau di FB yang selaluuu komplain. Cursing orang. Atau mengeluh. Atau nyinyir sama orang. Bahkan sering ngeluarin kata kasar atau mengutuk orang. Kayanya kok hidup mereka ini susah bener (atau dibikin susah?). Once in a while sih oke. Hey, we’re human. Tapi kalau gak cuma sekali dua kali, don’t you think it reflect his or her personality? Energinya negatif banget. Bacanya aja capek, gimana mereka yang ngejalaninnya ya?

Capek gak sih lo ngeluh mulu atau marah-marah sama orang terus. Atau nih, yang dikit-dikit ngerasa status seseorang ditujukan buat dia. Please deh. You better don’t have a social media account kalau bawaannya paranoid kaya gitu terus. Not everything revolve around your self loh. Get a (proper) life!

So yes, I am now carefully choose of how I’d be surrounded by. That’s’ why suka males ikut arisan, karena ujung-ujungnya ngomongin orang. Ah males ah… Yeah well, ini hipotesa pribadi siih. Heuheuheu.

Nah kebalikannya. Ketemu sama orang yang penuh semangat, mengerjakan sesuatu dengan keyakinan yang mereka punya, because they love, have belief and passion towards their life. Itu beda. Tanpa sadar, kita jadi kebawa energi yang mereka punya. Instead of digging your energy into the lowest level, that kind of person brings excitement. 

Seperti minggu lalu. Saya ketemu seorang teman lama, tetangga masa kecil tepatnya. Yang baru kembali dari negeri Paman Sam untukmenimba ilmu berkat beasiswa yang ia terima. Sejak dulu si Teteh ini memang pintar. Bahkan dia juga sudah menelurkan satu buku soal grafologi, alias ilmu membaca sidik jari. With her bubbly personality, how could I’m not loving her? So yes, we talked..talked..talked almost about everything.

Entah gimana akhirnya kita klik. Vibrasi itu gak bohong when you’re in sync with a person. Gak cuma minat semata, tapi.. yang paling penting adalah pola pikir. Dari mulai barang vintage, batik, hingga bermuara pada satu frekuensi sama untuk mematangkan satu heart project yang sudah saya mulai, namun terus terang perlu tangan tambahan untuk membuat ide-ide di kepala bisa terealisasikan. 3 jam berlalu, dan itu kurang. Hingga kami memutuskan untuk bertemu lagi  di Jakarta dan membicarakan lebih matang. Pembicaraan berlanjut via Whatsapp.

Usai pertemuan itu, energi saya ikut meluap-luap. Terbawa semangat yang memancar dari dirinya. So yes, I think it’s true. We have to carefully choose what kind of energy we want to have by selecting the energy around us.

Orang dengan energi positif sekaligus pencapaian positif, selalu membuat saya terpesona. Mereka yang yakin dengan diri mereka, yakin akan jalan di depan mata, yakin akan value yang mereka pegang, Oh they just mesmerized me, I’m telling you. Sirik? Rugi amat. Justru sama orang kaya gini, saya merasa saya harus banyak belajar. That kind of people awe me in unexplainable way. Those people who know what they want, those who are sure with their path and going extra miles to achieve their dream. Makanya kenapa ada rubrik #womenwelove disini. Buat saya, mengakui pencapaian orang lain dengan menuliskan profil dan prestasi mereka, justru jadi energi tambahan buat saya. Mereka bukan membuat saya sirik, lah  wong mereka jauh lebih hebat daripada saya. Lebih baik saya menundukkan kepala, mengakui dan memberikan pujian atas diri mereka yang luar biasa. Let’s surround my self with unseen positive energy they have brought. Enough said.

Kayanya udah gak jaman ya seumur kita masih bingung mau ngapain. Heloooow, the clock is ticking. Jangan sampe lo end up copycat mimpi orang lain misalnya karena: “kayanya asyik ya ngerjain anu” atau “aku mau ah bikin begini karena dia enak deh begini”.

Artinya, lo sendiri bingung lo mau ngapain kan?. Clueless. Atau juga, jangan sampe menyesal menghabiskan sisa hidup lo dan bertanya, what have I done? Look around your self, perhaps you might find role model, good examples around your self. Then be honest of what you really want, surely without copycat others. Most of all, be good and bring positive energy to your self. Without hate and prejudice. Apalagi sirik dan prasangka sama orang. Gak capek apa ya, berantem sama si nganu, sama si nginu. Prasangka sama si itu, atau sama si ini.

Every moment you have a choice – to be at peace or to be in resistance. When you are at peace you attract positive energy and when you resist you create negative vibes that reflect back on your being. It’s a simple choice and yet most people unconsciously choose to live in negativity. It’s not your boss, colleagues, parents, ex or the traffic, but your own perception that creates stress and negative energy. Circumstances are neutral. But perhaps it is your self who is mental *grin*

Apa Yang Kamu Lakukan di Malam Tahun Baru?

Sebetulnya buat saya sama si mantan pacar, malam Tahun Baru gak pernah jadi malam spesial. Sama aja sama malam biasa. Hanya mungkin sesekali jadi ajang kumpul bersama keluarga. Itu saja. Apalagi memang saya sama si mantan pacar, gak terlalu suka keramaian. Clubbing. Atau apalah namanya itu. Sejak jaman pacaran, kita itu lebih suka pergi cari makan, dari mulai menjajal kakilima sampai buffet di Satoo, misalnya. Paling banter nonton DVD. Senangnya di rumah. Bahkan hal ini berlanjut pada preferensi saat berlibur. KIta justru menjauh dari keramaian. Kalau ke Bali, ogah banget menginap di Kuta. Bahkan jalan-jalan juga sudah menghindari daerah Kuta. Kalau ke Yogya-Solo yang kerap kami sambangi, cari penginapan pasti yang unik dan mampir ke tempat/lokasi yang gak ramai kaya cendol. Misalnya, mampir ke Ullen Sentalu, museum-museum lain, atau menginap di Roemahkoe atau di Rumah Mertua  .Pokoknya menghindari keramaian yang orang banyak tumplek blek.

Persamaan kami, kami berdua terlalu senang di rumah. (yes, we’re that boring 😀 ). Kami juga senang kumpul keluarga. Makan-makan di rumah meski serba sederhana, itu sudah menyenangkan dan membahagiakan buat kami. Gak heran kalau tahun baru, acara kami juga gak kreatif. Ya seputar makan, dan kumpul keluarga. Yang jelas, liburan di Tahun Baru rasanya agak jauh dari daftar keinginan kita. Karena apa? Karena malas ramai dan keharusan menjadi gerombolan cendol. Baik saat berangkat, atau tiba di tempat tujuan.

Tahun lalu juga begitu. Rumah salah satu saudara jadi tempat berkumpul. Tahun ini? Ya di rumah mungil kami. Gak pakai persiapan heboh. Sore sehabis meeting, saya mampir ke Ranch Market, belanja keperluan makan malam.

Serpong-20121231-02467 Menu tahun baru? Homemade shabu-shabu, sepinggan pastel tutup pesan dari catering langganan. Lalu ada puding Christy-Kelapa Gading yang disuka si gadis cilik. Ibu dan Bapak jauh-jauh membawa kue klasik-jadul Frou-frou dari Sumber Hidangan, Braga. Ada cemilan dari Sakura Anpan. I made pitcher of home made lemongrass-mint tea. Sisanya, ngobrol, nonton DVD. Sesederhana itu. Namun bahagia memang sederhana kan?

Hari pertama di tahun 2013, lagi-lagi kita memilih di rumah. Pagi-pagi saya bangun. Yoga. Makan, Tidur lagi. Terus nonton TV. Dengerin si anak kecil main piano. Tidur lagi. Baca buku. Lantas liat berita TV dan bersyukur gak kejebak macet tahun baru. Hehehhehe.

Meski demikian, pergantian tahun kami lewatkan dengan mengobrol. Dari hati ke hati.  Saya sama si mantan pacar merefleksikan apa yang terjadi di 2012. Rasanya gak ada hal buruk yang terjadi, kok. Semua ujungnya malah berbalik, menjadi berkah buat keluarga kecil kami secara tidak terduga. Dan itu, yang membuat saya gak henti-henti bersyukur. Kami merasa, secara perlahan usaha kami membuahkan hasil. Kesabaran selama ini, ternyata berbalas dengan indah.

Saya bukan orang positif sedunia. Ada kalanya saya merasa lelah, marah, sedih, kecewa. Tapi hidup adalah pilihan. Dan saya memilih untuk bahagia. Yes, I’m too happy to be a hater. Apakah kita mau melihat gelas itu (selalu) setengah kosong atau terisi? It’s our call. Mau nyalahin orang lain atas sesuatu yang kita anggap ‘kesialan’? Mau mengutuk orang lain karena (tampaknya) hidup mereka lebih mudah dari kita? Semua gampang kok. Semua kembali sama kita sendiri. Mau rejeki dimudahkan? Usaha lebih keras lagi. Mau bahagia? Hindari berpikiran buruk sama orang lain. Memaafkan itu memudahkan buat kita sendiri kok. Mau jalan kita berkah? Doa dan restu orangtua jadi pintu kemudahan pertama. Sesederhana itu.

Resolusi di 2013? Ah gak punya.Hanya berdoa semoga selalu dikasih keyakinan dan optimisme. Dijauhkan dari buruk sangka (karena bikin cape diri sendiri. Bukan begitu bukan? :D). Dikasih tenaga dan waktu cukup untuk bisa membahagiakan orangtua, karena merekalah pintu rejeki selama ini. Doa dan restu mereka yang selalu menerangi jalan kami berdua.Dan ah…, ya, semoga selalu diberi kesehatan dan tenaga untuk merawat titipan Yang Diatas. Si gadis cilik. Yang selalu jadi sumber kekuatan dan kebahagiaan tanpa henti. Untuk kami berdua.

Let yourself be silently drawn by the stronger pull of what you really love (Rumi)

warrior pose

Selamat Datang 2013

book ideaHari ini rasanya ingin menangis. Bukan karena sedih. Tapi karena bahagia. Sejak minggu lalu, ada kabar baik yang datang dan datang. Rasanya semua kerja keras dan upaya menjaga komitmen dan sikap positif  (yang susah juga sebenernya *peluh* :D) sepanjang tahun ini, pelan-pelan terbayarkan. Seperti membuka kado akhir tahun yang mengejutkan. Rasanya masih tidak percaya…Hingga detik ini.

Meski tentu saja semua kabar baik ini baru awal. Awal dari kerja keras yang lebih lagi. Awal untuk terus berinovasi, mengatur strategi. Awal untuk sesuatu yang lebih baik lagi. Dan yang paling penting…, pastinya untuk terus konsisten mengasah optimisme dan keyakinan. Pekerjaan rumah besar menanti di depan mata. Tapi saya yakin, semua sumber kekuatan kasat mata yang selama ini ada di belakang saya, akan selalu cukup untuk menjaga kumparan energi ini agar tidak padam.

Air mata ini rasanya ada di pelupuk mata. Begitu banyak yang ingin saya ceritakan saat ini juga, namun saat itu pula saya merasa kehabisan kata-kata.  Semua halangan dan tantangan yang pernah dihadapi, kini terbayar sudah dengan amat tidak terduga. melebihi ekspektasi. Tapi membuat saya semakin yakin, perseverance has never been wrong. Alhamdulilah.

Yes, I dont want to ruin all the fun. Let me keep it for my self for a moment. Let me taste the memories, bitter or sweet, and reminiscing what had happened along 2012.  I will share the good stories soon… But now, let me feel the melody of life. Let me dance under the rainbow. Those are my color of life….

Carpe diem. Carpe noctem.