Hidup Punya Cara Aneh

Hidup ini lucu. Punya cara aneh.

Lalu ketika semakin yakin bahwa melepas segala kemelekatan itu dilakukan, semesta memampangkan beberapa kesempatan besar. Tak terduga. Datang begitu saja. Jika dulu tentu saja tanpa pikir panjang, kesempatan semacam ini akan diambil tanpa menelaah, kini?

Saya anggap ini adalah ujian seberapa besar dan seberapa kokoh kesadaran diri yang perlahan terbentuk, bahwa saya tengah meretas jalan untuk membuka kesempatan seluasnya untuk ‘menolong’ orang lain. Menemukan kekuatan jati diri secara perlahan, seperti perjalanan yang sudah saya lakukan. Bahwa jalan ini ternyata memberi begitu banyak berkah kebahagiaan yang tak ternilai uang. Bahwa dengan keheningan, kita akan menemukan jawaban. Bahwa hakikat hidup, adalah bukan bertanya dan terus bertanya mengharapkan kepastian. Tetapi melepas segala bentuk kemelekatan, tidak menggenggamnya begitu erat. Karena kemudian, hidup justru memberi begitu banyak kejutan yang menyenangkan.

Akhirnya saya juga menyadari, bahwa pilihan yang akan diambil ini harus terbebas dari ego, emosi yang merupakan wujud kemelekatan. Pilihan yang diambil dan tengah dijalani perlahan, adalah dalam rangka memerdekakan jiwa agar terus berkesadaran. Agar juga bisa mendampingi banyak orang lainnya (semoga), untuk menemukan kesadaran jiwa yang serupa. Menemukan hakikat kehidupan masing-masing, sesuai cetak biru jiwa masing-masing yang tentu tidak akan sama.

Dan saya juga kian menyadari, jalan ini kian membebaskan, meski belum sepenuhnya bebas, karena hakikat kita adalah terus dengan tekun meringankan langkah dengan melepas segala bentuk kemelekatan.

Namaste.

 

 

Advertisements

Tentang Empath #3

DSC_1830

Dulu, ketika radar membisikkan energi yang tidak selaras dengan kata hati, saya kerap mengabaikan. Karena takut berkata tidak, khawatir di cap aneh karena berbeda jalan atau minat juga pilihan. Padahal hati kecil berteriak karena memaksakan untuk mengikuti arus terbanyak. Demi apa? Untuk tetap berada di ‘kerumunan’. Padahal seiring waktu terbukti, kerumunan dan keriuhan yang sesungguhnya dipilih setengah hati, tidak selaras vibrasi. Lelah pun mendera. Gerutuan mewarnai. Kesal menyelimuti pada diri sendiri. Juga orang lain. Karena kita menjalani vibrasi bagai kutub bersebrangan.

Lalu perlahan memilah. Jika hati mengatakan tidak, jika diri mengirimkan sinyal untuk membentang jarak atau memisahkan tirai tipis, maka itu pula yang saya lakukan. Energi ini terlalu sayang diberi begitu saja untuk sesuatu yang sesungguhnya menguras energi karena ketidakmampuan berkata tidak. Atau ketidaksanggupan untuk menolak keriuhan yang dilakukan kolektif. Atau karena ingin terlihat ‘ada’. Menjadi berbeda atau memilih jalan berbeda, sungguh tak mengapa. Meski sendirian. Karena hakikatnya, dalam perjalanan kehidupan kita memang menjalani sendirian. Jika itu sesuai tuntunan jiwa, bukan memuaskan ego diri sendiri. Bukan untuk menyesuaikan diri dengan kerumunan. Atau menjadi ‘ada’ demi kerumunan. Bukan untuk memberi makan kemelekatan.

Hasilnya? Perlahan membebaskan. Perlahan lebih membahagiakan.

Kesimpulannya? Berbuat atau tidak berbuat sama beresiko. Tapi menjalani sesuai kata hati, yang tidak pernah khianat. Mendengarkan navigasi yang diberikan diri dengan jernih, tanpa distorsi. Tanpa keberisikan kemelekatan yang terus kelaparan. Tanpa menceburkan diri pada kesepakatan atau demi hal yang lumrah yang berlaku di kerumunan.

Meski tentu, melepas kemelekatan itu perlu upaya yang jalannya tidak selalu linear. Tidak selalu mulus lurus. Tapi toh kita akan baik-baik saja. Ada jati diri kita yang akan memandu perjalanan diri kita sendiri.

And I’m lighter. Slowly.
#selfjourney
#survivingonmagicandgoodkarm

Tentang Empath #2

Tulisan mbak Ester Shakoentala Devi yang sampai aku save di note, kubaca berulang-ulang. Namaste, Shifu.  Selamat meresapi, untuk kamu dan kamu dan kamu yang tengah menempuh perjalanan sama. Tidak usah bingung jika dirimu memandu untuk menarik diri. membentang jarak, dari yang semua itu ‘sepertinya’ bukanlah dirimu. Yakinilah, bahwa jiwamu sedang memandumu untuk melatih kesadaran dengan ‘menyendiri’.

DSC_3078

MENJADI MANUSIA MERDEKA BERKESADARAN TINGGI.
Ada saat belajar teori di kelas, ada saat praktek di dunia nyata.
Keduanya saling melengkapi dan saling menyempurnakan dalam proses pertumbuhan kesadaran jiwamu.
Setelah sekian lama dilatih dalam kesendirian untuk belajar mengenali dan menguasai diri, tiba waktunya kamu kembali “dilemparkan” ke dalam hiruk pikuk kehidupan nyata, untuk menguji seberapa kokoh kesadaran baru yang sudah terbentuk di dalam dirimu itu akan bertahan.

Kamu pasti akan mengalami kebingungan untuk sementara waktu dalam proses beradaptasi kembali.
Sama seperti ketika dulu kamu ditarik dari dunia yang ramai ke dalam kesendirian dan kesunyian.
Saat ini tugasmu adalah bagaimana bisa tetap menjaga keheningan di dalam keramaian.
Bagaimana menjaga agar jiwamu tidak mudah bereaksi seperti cara manusia lamamu dulu bertindak terhadap impuls yang datang.
Bagaimana agar kamu bisa tetap tekun membersihkan pikiran dan emosimu dari sampah-sampah energi bergetaran rendah yang setiap saat mempengaruhimu.

Kamu tidak bisa berharap akan steril selamanya.
Steril bukanlah kehidupan yang diperuntukkan bagimu.
Masa kesendirian dan pembersihan bantuan sudah secara bertahap dihentikan, agar kamu dapat menjajal kemampuan kesadaranmu sendiri dalam menghadapi pengaruh dari luar.
Itulah gunanya kamu dihadirkan di bumi ini.
Bukan untuk terus menerus tergantung pada kekuatan di luar diri, tapi juga tidak tergantung pada kebiasaan manusia lama yang pernah bersemayam dalam dirimu.
Kamu saat ini sedang dibangkitkan menjadi MANUSIA MERDEKA YANG BERKESADARAN TINGGI.
Yang punya kebijaksanaan tinggi dengan cara pikir manusia barumu yang selama ini dilatih oleh Sang Intuisi.
Jadi selama belajar dengan-Nya, KENALILAH POLANYA, jangan hanya mengikuti instruksi.
Sang Guru juga tidak ingin mengikatmu menjadi budak yang hanya bisa tunduk tanpa berpikir sendiri.
Kamu adalah murid di awal pelajaran, tapi kemudian kamu pun harus belajar melepaskan Sang Guru.
Kamu harus menjadi matang dan menjadi mitra-Nya, untuk mengangkat kesadaran yang lain secara bersama-sama.

Semua masa transisi akan tidak nyaman.
Tapi semua ini harus kamu lalui.
Semua pelajaran akan seperti itu, tanpa terkecuali.
Selalu ingat dan sadari pola barumu, kenali para sahabat di kanan kirimu, baik yang terlihat maupun tak terlihat, yang akan membantu mengingatkanmu.
Selalu terhubung dengan energi kesadaran yang lebih tinggi, jika kamu mulai merasa down, stres, tidak percaya diri, dan sedang penuh energi bergetaran rendah lainnya.
Kamu hanya perlu menyadarinya saja, yang akan menjadi tombol switch on-off, mengubah energi bergetaran rendah ke tinggi, tanpa harus merasa down berhari-hari dan menyalahkan diri berlama- lama.
Secepat kamu menyadari reaksimu, secepat itu juga kamu dipulihkan, itu kabar baiknya.
Jangan mau ditipu oleh kesadaran lamamu yang bersifat “menghukum”, agar kamu terus menerus merasa bersalah dan membuang- buang waktu untuk berpikir ke belakang.
Begitu jatuh, cepat bangun lagi.
Begitu menghadapi sesuatu yang menggelisahkan dan membuatmu tidak tentram, segera terhubung dengan kesadaran yang lebih tinggi.
Jangan malah terus menerus memikirkan apa yang membuatmu tidak nyaman itu.
Karena semakin lama sesuatu kamu pikirkan, ia akan makin menjadi.
Jadi, pikirkanlah yang baik-baik saja, yang menenangkan, yang membuat jiwamu damai dan bahagia.
Dengan demikian kamu sudah menjaga agar jiwamu tetap bercahaya.

Selamat terjun ke dunia nyata, selamat mempraktekkan pelajaran yang sudah diberikan dalam pengasinganmu selama ini.
Selamat menjadi jiwa-jiwa cahaya yang mandiri, merdeka dan dewasa.
.

Ester Shakoentala Devi

Happier, Happiest

DSC_2901

Alhamdulilah,

Melepas (yang memang sudah ingin dilakukan sejak lamaaaa), mendatangkan bahagia sehingga lebih berbahagia. Saying No is liberating.  Tak ada beban, datar, residu-residu seperti menguap begitu saja. Meditasi welas asih (metta sutta) ternyata gak salah. Seperti tombol switch on dan switch off yang membantu kita melepas kemelekatan. Semoga semua makhluk berbahagia.

“May all beings everywhere be happy. May they live in safety and joy. May all beings be free. May all beings awaken to the light of their own true nature”

#sendingmettasutta

Tentang Empath #1

Akhir-akhir ini banyak ‘dipertemukan’ dengan mereka yang tengah menempuh perjalanan sama. Bukan pilihan, karena sudah digariskan. Tapi untuk itu pilihan menjalaninya memang harus dilakukan. Disertai banyak kebingungan dan gagap mencoba memahami potongan-potongan puzzle tentang proses perubahan diri. Termasuk aspek-aspek yang sebelumnya tidak masuk di akal, tetap jika ditelisik semua tentang vibrasi, energi, frekuensi.

DSC_2049

Jika dulu saya memilih diam, kini setelah melihat ada ‘keterbukaan’ dari sesama yang membuat saya memahami, rasanya memang karena ini sudah menjadi bagian diri untuk bertransformasi perlahan. Maka marilah menerima dengan tidak menutupinya.

Tulisan ini saya baca beberapa hari silam Mbak Ester yang ia bagi di laman sosial media. (Ia pula yang mengatakan bahwa saya sudah ‘ditunggu banyak orang’ untuk menemani perjalanan mereka.

Ya memang, kita diminta semesta mengerjakan soal sendirian dan menemukan kunci jawabannya, agar bisa membantu orang menjawab soal ujian mereka. Untuk berjalan mendampingi menemukan ‘jati diri’. The Higher Self yang tak akan pernah khianat, karena ada di diri kita sendiri. Memandu, menjadi navigasi untuk memahami rahasia kehidupan dengan belajar menemukan hening dan jernih.

KEBINGUNGAN DI PERSIMPANGAN (BY ESTER SHAKOENTALA DEVI)

Untuk kamu yang sedang ada di persimpangan…

Jangan cemas dengan kondisi yang sedang kamu alami, jangan dilawan.
Kamu sedang ada di perbatasan pemisahan antara “manusia lama” yang sedang harus ditinggalkan vs “manusia baru” yang sedang dalam proses terinstall di dalam dirimu.
Sudah pasti rasanya gak karuan.
Sudah pasti membuatmu bingung, sedih, depresi, dan tidak nyaman.
Akan ada proses tarik menarik dalam dirimu selama beberapa waktu.
Akan ada konflik batin akibat ketidaksesuaian antara pikiran lama vs baru, gaya hidup lama vs baru, dst.

Yang dulunya senang berada di antara banyak orang, tiba-tiba sekarang ingin menyendiri.
Yang dulunya banyak bicara, sekarang sering jadi terbata-bata kehilangan kosa kata, akhirnya jadi malu dan memilih untuk berdiam diri.
Yang dulunya aktif bekerja dan berorganisasi, saat ini diserang rasa malas tingkat tinggi, bahkan bergerakpun berasa tak punya energi, lemah, loyo, terjadi perang dalam diri antara ingin memaksakan berbuat sesuatu, tapi tak ada bahan bakar di dalam diri.

Proses penyelarasan ini mungkin akan berlangsung selama beberapa tahun ke depan, jadi jangan buru-buru ingin mengakhirinya sekarang ini.
Yang perlu kamu persiapkan dan latihkan adalah belajar untuk semakin terhubung dengan Roh Pembimbing yang akan memandumu dari hari ke hari.
Ya, kamu tidak salah baca.
Bimbingan-Nya adalah dari hari ke hari, karena pergerakan segala sesuatunya saat ini begitu cepatnya.
Perubahan bisa terjadi seketika, tidak bisa selalu sesuai dengan rencana.

Jika kamu tidak mendapat dorongan untuk pergi, jangan pergi.
Jika kamu tidak tergerak untuk bicara, jangan bicara.
Jangan memaksakan diri untuk kumpul-kumpul dengan teman-teman, dan ngobrol-ngobrol yang gak ada juntrungannya, hanya supaya kamu tidak dianggap aneh.
Karena kalaupun kamu paksakan, toh kamu yang akan menderita sendiri.
Jadi jalani saja sesuai porsi dan tuntunan di dalam diri.
Kamu bukan egois, jangan menyalahkan diri sendiri.
Tapi kamu sedang berproses, di mana nantinya kamu akan melayani mereka yang mengalami hal yang sama dengan kamu.
Termasuk melayani mereka yang mungkin mengataimu egois sekarang ini 😁.

Tetaplah bergembira, karena kamu sudah tahu sekarang bahwa kamu tidak sedang bermasalah.
Kamu memang akan dipisah-pisahkan, akan dicerai-beraikan, karena untuk melayani orang-orang yang membutuhkan pencerahan, harus ada orang yang bersedia diutus.
Jika kamu hanya mau kumpul-kumpul saja, tidak mau diutus ke tempat di mana seharusnya kamu berada, maka kamu sendiri yang akan menderita, karena artinya kamu tidak sesuai dengan cetak birumu.

Selamat menyesuaikan diri.
Selamat terus mengikuti petunjuk.
Jangan melawan.
Ikuti dan lakukan saja walau dianggap aneh dan tidak normal.
Banyak orang sedang menunggu nasehat dan pendampinganmu.
Jangan menunda-nunda lagi untuk melakukan bagianmu.

Wei Wu Wei

DJI_0024

“When your words don’t match your truth, when your behaviour doesn’t match your beliefs and when your voice doesn’t match your vibration, the Empath knows”

Dan tahu serta mengetahui itu gak enak. Siapa bilang merasakan vibrasi yang gak selaras itu enak? Karena kita pun tahu, orang-orang di hadapan dan sekeliling kita berusaha keras menutupi, menyembunyikan yang sesungguhnya. Jelas, jujur itu pilihan. Untuk beberapa orang, aku mencoba memahami bahwa ada keterpaksaan keadaan yang membuat mereka melakukan itu. Tekanan, kekhawatiran, rasa takut. Ada relasi kuasa yang dipertontonkan dan membuat gamang mereka. Sehingga mereka memilih tak mengindahkan navigasi yang bersemayam di diri mereka sendiri. Toh kita juga tidak bisa memaksakan mereka menempuh jalan yang ‘mereka anggap sulit nantinya’. Tak semua orang dengan gagah berani memilih hati nurani, karena ada kekhawatiran, kebingungan dan kecemasan yang mereka anggap sebagai resiko.

Sempat ada rasa marah. Ingin rasanya berkata lantang:  “Never underestimate my intuition. I can recognize your game before you even play it”. Tapi toh untuk apa?.

Malam itu saya mencari hening dengan bermeditasi. Membersihkan residu kemarahan. Residu kekecewaan. Akhirnya menyadari, tak ada untungnya memaksakan semua orang untuk jujur hingga partikel terkecil, karena itu adalah pilihan masing-masing. We cannot resonate the messages they are not ready to receive. Jadi hari itu saya memilih menjauh. Bukan untuk membiarkan. Tapi ada kalanya menjauh dan melihat dari kejauhan lebih baik, sehingga tidak ada bentrokan energi yang dipaksakan sebelum waktunya. Yang berakibat pilihan semakin sulit bagi sebagian orang.

Biarkan semesta yang menemukan waktunya. Tidak cepat-cepat, tidak juga lambat. Begitu panduan yang menggedor-gedor malam itu. Sesulit apapun, lepaskan. Begitu juga rasa marah, kecewa, terkhianati, kesedihan. Meditasi membantuku memilah mana yang perlu saya simpan, mana yang perlu saya letakkan sejenak, mana yang perlu saya lepaskan. Bukan kita yang mencegah karma orang lain, tapi mereka sendiri. Menjaga agar kita tidak memetik karma buruk dari karma buruk orang lain, adalah dengan melepaskan pilihan itu pada masing-masing individu. Bukan dengan mencegahnya, memaksakannya. Biarkan kesadaran nurani yang memandu mereka menempuh perjalanan pilihan yang mereka buat.

Wei wu wei.  The morality of no morality. I let go, therefore I am free. And they are not.

.…..Thus, the wise man deals with things through wu-wei and teaches through no-words. The ten thousand things flourish without interruption. They grow by themselves, and no one possesses them. The highest attainment is wu-wei and is purposeless (wei). When wu-wei is done, nothing is left undone…. (From The Tao Wisdom)

Makhluk Bernama Empath

BTO_divine_dictionary_empath_web

Saya gak akan bercerita bagaimana proses menuju perjalanan akan kesadaran sebagai empath terbentuk. Namun setelah ditelisik, sesungguhnya sudah banyak pertanda dan pola semesta dibentangkan, terpampang di depan mata. Sejak lama. Hanya saja dulu kalau ibarat radio, gelombangnya belum pas sehingga suara pun kresek-kresek diterima sinyal radio. Ketika perlahan menyelaraskan energi melalui jalan yang sebelumnya disadari akan menuju ke sini, rangkaian puzzle itu mulai terbentuk. Akhirnya muncul kesadaran, bahwa misi yang telah ditetapkan dalam hidup salah satunya bermuara kesini.

Ternyata ini adalah hal yang harus diterima untuk berkesadaran. Kadang ada nggak enaknya, karena kadang kita kerap bisa merasakan seseorang berbohong, bisa merasakan energi dibalik kata penuh gula, atau kadang ingin muntah berada dekat beberapa orang yang vibrasinya terasa tidak enak betul, dan ini itu itu ini. Perjuangan selanjutnya adalah bagaimana tidak ‘terseret’ vibrasi mereka, tetap menjaga niatan dan hati, agar tidak terseret emosi untuk terbawa karena tau yang sebenarnya dibalik senyuman atau uluran tangan palsu, sehingga kita bisa terpancing mengeluarkan kartu kunci tentang keadaan yang sebenarnya. Hal semacam tanpa tedeng aling-aling bisa ‘menelanjangi’ mereka. Bahkan bisa memantik emosi kita, jika kita tidak baik-baik menjaga hati agar tidak terseret energi negatif.

Tapi ya sudah, proses ini harus pula diterima karena toh komplementer. Untuk terus menemukan pencarian jati diri dengan tetap memproteksi energi diri sendiri. Memilah-milah. Seorang kawan pernah berkata, “It’s indeed like a roller coaster. Tapi kita itu diminta semesta mengerjakan soal ujian untuk membantu mereka menjawab soal mereka sendiri. A lot of people are waiting, so we can walk with them to grow through life“. And so be it. I slowly learn to embrace these part. Wholeheartedly.

Ia juga menambahkan, proses transformasi ini tidak linear memang, seperti spiral yang berbelok-belok. Disertai beberapa dampak kepada fisik, yang sebetulnya adalah cara semesta menuntun kita untuk terus memperkuat jati diri. Mengheningkan diri, berkomunikasi dengan diri sendiri untuk merangkai pertanda. Berpegang pada intuisi dengan membiarkan diri kita menuntun diri sendiri menuju apa yang sudah digariskan. Karena memang kita ternyata ‘dipilih’ memiliki misi yang sudah menjadi cetak biru dalam hidup ini, dan mau tak mau harus dijalani.