Mau Kabur Ke Bulan

Yes, I’m quite proud of my self. Bukan karena sudah jago yoga, tapi…karena berhasil konsisten beryoga 1,5 tahun terakhir ini. Di studio, atau di rumah. Padahal jangan tanya ya. Saya ini dulu paling malaaaas olahraga. Ikutan gym, hanya tahan 3 bulan. Bolong lama setahun, register lagi, hanya tahan 4 bulan. Ya begitulah kira-kira. Tapi yoga, membuat saya tidak bisa berpaling, hingga detik ini. I love exploring and knowing my body can do wonder.Ā  Meski masih juga belum jagoan neon, but I love surprises, when I found out I can do challenging pose through times.

Badan saya juga tergolong tidak fleksibel. Kaku. Layaknya papan. So it took times for me to master challenging asana whilst perhaps, others can do it easier than I do. April lalu untuk pertama kalinya saya ikutan workshop. Yah gitu deh, berasa paling culun karena yang lain, alamakk, jago-jago. Tapi gak mau minder deh, yang penting terus semangat meski felt intimidated a bit. šŸ˜€ šŸ˜€

552597_583606454997147_1083017624_n555989_583607138330412_2059344673_n

Tapi yang lebih mengintimidasi, adalah ketika si mantan pacar yang hanya sesekali ikutan yoga, ternyataaaaaa… lentur luar biasa! He can do headstand, handstand, easily. Yang lebih mengiris hati ( jiaaaah šŸ˜› ) adalah, I’ve been struggling to master Bakasana and keep falling, then voila….he can do it easily as shown on the picture below.Ā *garuk_aspal*

20130714172634

Yes, life could be THAT unfair. *grin*

Mari kabur ke bulan. Shall we?

Advertisements

The (not-so-perfect) Headstand

Foto ini diupload untuk mengingatkan saja, bahwa keberhasilan mengangkat badan untuk melakukan headstand pose ini, sebetulnya masih belum benar. Selain masih menggunakan dinding (ini untuk newbie), postur juga masih belum sempurna. But no worries, someday I’ll get there. Setidaknya ini sudah langkah maju buat orang sekaku badan saya dan tidak pernah menjadi orang dengan tubuh fleksibel. Karena dulu, menaikkan badan pun rasanya beraaat betul…. So yes, these picture is a reminder yet motivation. That someday, I’ll master the perfect posture. And yeah, to celebrate my ‘one-year’ getting intimate with my mat. Wish the second year I’ll master another asanas.

headstand

Box of Magic Called Yoga

All we need is within our self (Anonymous)

I am newbie. Still have to learn a lot. But I do fall in love with this beautiful thing called: Yoga.

With yoga, I learn to enjoy (more) simple things in life which are really around me all these time. I appreciate more. Bird song in the morning, cool breeze, pure joy onĀ  my baby girl’s face . The clear sky. Cup of warm tea. The silky-smooth of new shawl. The smell of the ground after pouring rain. All can give immense pleasure for the whole day. It didn’t come just like we tap our fingers, as it comes naturally the moment I gain more acute awareness of the present moment by doing yoga. It is like opened to a new dimension of my awareness which I can open and explore slowly.

It teaches me to calm down, listen of our true self.Ā  It help me cope with stresses and help me experience self-realization- a connection with my self. I later realize, that our body has amazing mechanism to relieve all tensions. We, literally, don’t need sleeping pills to sleep.

Happiness is within our self. It is free. It is our choice. We can concentrate on the gloom around us, or simply concentrate on the beautiful things around us. Do we choose to hate or love and forgive? Do we let the Dementor inside our self suck up our happiness and putting fluid of negativity into our brain? Why I should holding onto grudges that keep me away from enjoying the present. Being angry, keeping hates, will never makes me feel good.

With yoga, I learn and learn to choose and react. Sure I can be angry or frustated, or I can choose to lighten up. It’s my call. No such thing as ‘born that way’ or ‘lucky’. Happiness is mindset that we have to practice. It’s not God given hence falling from the sky. With yoga, I learn how to deal with the worst situation and prepare my self. Open to grace. Surrender to something bigger that is always there to support you. There’s an old saying, when life hands you lemon, make lemonade (or perhaps gives your self shot of tequila with slice of lemon :P)

I’ve chosen to fill my life with simple things. Good books, beautiful music, family, and passion. I now take time to watch the sun set, or even look at the starry skies. I take moment to breath, and let the chatter monkeys inside my head go. I sometimes sit still, look at the morning light showering beautifully through my window . It is up to me to feed my soul the way that food feeds my body. It takes a life-time commitment. But I’m gonna make sure that I enjoy the ride. Cheers!

Namaste. (letter of gratitude, written on a beautiful morning after vinyasa session)

Do your best and turn your life into a Festival – Johann Wolfgang Von Goethe

(A Beginner) Love Letter to Yoga

Picture: Courtesy of elephantjournal

It was not love at the first sight. I’ve known you since 2 years ago. But I considered you as one of my fling back then.

Time passes by. I intensely began more serious relationship with you 7 months ago. And now, here I am. It’s been intenseĀ  months of dating you, and I still look forward to spending time with you. All those flowing Vinyasa class with dripping rivers of sweat all over my body, or even the fun Acro yoga, or the power class-Ashtanga, have been such an amazing gift.

I spent months knowing you, but foremost you spent these whole 7 months teaching me about my self. Knowing my self better and better, to know my limit. You taught me that yoga is not about competition with my self, it’s all about balancing body and soul.

Thank you for encouraging me toĀ  do what feels wonderful . Thank you to challenge myself when I care to, and to restĀ  with Savasana as long as I want after every session.Thanks for encouraging and not demanding. Thanks for the joy you give back, even with limited times we’ve had. 30 minutes, or even 1 hour. 3 times a week, or sometimes 4.

Thank you for wonderful times on the mat together. And here’s to many more.

XOXO

Inka

Kenapa Yoga?

I never considered my self as sporty person. Bahkan dulu saya palingĀ  malas berolahraga. Dua kali ikut keanggotaan Fitness First, bayar dimuka untuk 6 bulan, di bulan ketiga saya mulai malas-malasan. Ujungnya rugi, sudah bayar namun gak pernah datang lagi saat menginjak bulan ketiga dan seterusnya. Meski awal-awal semangat betul, beli baju olahraga, beli sepatu olahraga, tas khusus buat fitness, dan lain sebagainya. Niat pun berakhir niat, untuk resolusi agar lebih rajin berolahraga. Rasanya saya gak punya alasan khusus untuk melangkahkan kaki, mengenyahkan kemalasan agar rajin olah tubuh.

Trus?

Tahun lalu, saya sakit-sakitan. Sepertinya semua penyakit bersarang di tubuh. Dari mulai sakit mata yang kata dokter dry eyes syndrome, namun gak sembuh-sembuh sampai setahun, malah makin parah. Soft lens pun yang sudah setia menemani 10 tahun, terpaksa dibuang dan dilupakan jauh-jauh. Belum lagi berat badan terus turun, padahal sumpah deh saya gak pernah diet. Malah nafsu makan itu dari dulu tergolong luar biasa. Mudah demam tanpa sebab. Saya juga merasakan, gampang keringetan dan jantung mudah berdebar. Kadang kalau tarik nafas dada sakit. Jalan sedikit saja, saya mudah ngos-ngosan. Jompo betul. Bahkan kaki saya sempat tuh ‘banjir’, saking banyaknya keringatĀ  di telapak kaki sampai gak pede rasanya pakai sepatu tertutup.

Puncaknya saya dirawat 2 minggu di rumah sakit. Dokter hanya menyimpulkan saya kena virus, meski saya penasaran sekali. Saya tahu ada yang salah sama tubuh saya, tapi kok jawaban dokter gak memuaskan. Kalau saya iseng googling di internet soal gejala tubuh saya, ndiladah kok ujungnya yang keluar kata: auto imun.

Beruntung dokter mata saya yang terakhir, orangnya teliti dan sabar. Masih muda, komunikatif (hal langka buat dokter, dengan kaliber profesor sekalipun!). Dia cek medical record saya dengan teliti, banyak tanya soal keluhan kesehatan saya. Sampai dia bilang, kekhawatiran dia adalah : saya mengalami gejala auto imun. Buntutnya saya disuruh ambil darah, dan betul saja, saya mengidap hipertiroid yang notabene adalah satu dari sekian banyak jenis auto imun. Buat yang penasaran apa itu hipertiroid , silahkan klik aja ya).

Intinya saya harus minum obat setiap hari, untuk maintain hormon tiroid yang berlebih. Obat diminum sampai normal, menurut dokter bisa memakan waktu 1-1,5 tahun. Cek darah setiap 3 bulan sekali untuk memastikan ada progress. Memang sih, setelah berobat dari bulan ke bulan, ada perubahan nyata secara fisik. Berat badan bertambah dan kembali normal (yay), keringat dan ngos-ngosan hilang. Mata membaik, bebas dari obat tetes setelah dulu setiap jam harus ditetes obat. Meski sekarang saya masih gak berani juga pakai softlens.

Apa hubungannya sama Yoga?

Gara-gara sakit dan mudah sakit, saya mikir, umur segini kok saya merasa sudah gak fit. Obat, meski bisa menyembuhkan, juga bukan solusi kalau imunitas kita gak baik. Gejala pasti akan berulang. Meski gejala hipertiroid membaik, kok tetap aja saya merasa tubuh saya ini rentan sakit. Saya merunut ke belakang, sejak dulu saya ini mudaaaah sekali flu. Tempatkan aja 2-3 orang flu berat dekat saya, beberapa hari kemudian saya pasti flu juga. Belum lagi maag saya itu gampang kambuh. Telat makan sedikit, kumat. Minum soda sedikit, kumat. Minum kopi, kumat. Kurang tidur, kumat juga. Saya juga merasa gampang lelah dan mengantuk, yang saya tahu indikasi dari ketidakseimbangan metabolisme tubuh.Ā  Kok ya rasanya tubuh ini gak beres. Seumur-umur menikah, saya punya koleksi kartu keanggotaan dari 4Ā  rumah sakit berbeda (termasuk rumah sakit mata). Sementara suami saya, satupun gak punya! Dia sakit paling banter demam atau flu. Itu juga gak perlu obat, cukup tidur seharian, minum hangat, sembuh. Lah saya, kalau batuk atau flu bisa berhari-hari padahal sudah minum obat.

Dari situ mulai mikir. Apa ada hubungannya juga sama saya yang tergolong anggota ‘sumbu pendek’ alias gampang emosi, gampang stress (akhir-akhir ini, tepatnya setaun belakangan sejak saya didiagnosa hipertiroid) karena urusan pekerjaan dan hal sepele. Beda sama suami yang tergolong penyabar dan tenang dalam keadaan yang membuat panik sekalipun.

Artinya saya harus memperbaikiĀ  dari ‘dalam’, gak cuma menghilangkan gejala fisik.. Obat hanya menghilangkan sakit, tapi saya percaya ibarat mobil kalau mau jalan bagus,gak cukup hanya ganti oli. Mesin harus prima, supaya jalan juga bisa kencang. Kondisi fisik dan jiwa saya perlu diperbaiki juga dong biar gak gampang stress karena hal kecil dan sepele yang ujungnya menganggu kondisi fisik. Saya percaya yin dan yang itu berlaku dalam tubuh kita.

Pilihan jatuh sama yoga. Alasannya? Bisa latihan di rumah. Cukup seminggu 1-2 kali di studio, sisanya bisa di rumah. Gak perlu angkat pantat malas saya dan menyetir mobil ke gym, bangun tidur juga bisa dilakukan di rumah toh? Weekend saya gak perlu hilang karena berangkat ke gym. Baju olahraga bisa seadanya. Wong cuma modal yoga mat yang digelar di teras belakang (sekarang plus aromaterapi yang dibakar dan punya efek luar biasa pada mood).

Dorongan kuat untuk sehat, rupanya bisa mengenyahkan kemalasan saya. Saya hanya ingin bisa mendampingi Shira sampai dia dewasa, tanpa dia harus melihat ibunya bolak-balik ke dokter karena sakit. Saya cuma mau sehat demi Shira. Buat saya prestasi, loh sanggup secara konsisten menjalani 3-4 kali sesi yoga di rumah dan studio dalam seminggu, sementara dulu1-2 kaliĀ  fitness dalam semingguĀ  saja hanya tahan maksimalĀ  tiga bulan. Sejak hampirĀ  5 bulan terakhir, tubuh saya terbiasa dengan ritme olah nafas dan tubuh ala yoga. Kalau beberapa hari gak yoga, ada dorongan dalam diri saya untuk:Ā  ‘ayo yoga, sayang badan kamu nganggur’.

Buku yoga lengkap dengan CD saya beli, buat bekal latihan di rumah. Waktu disesuaikan, kalau saya lagi gak malas bangun pagi, jam 5.30 saya sudah mulai yoga di rumah. Kalau lagi malas bangun pagi, pulang kantor sesudah magrib saya latihan di rumah. Cukup 45-60 menit. Seminggu sekali (kadang dua kali) saya latihan di JakartaDoYoga . Saya harus terimakasih sama instruktur-instruktur disana, yang selalu menjelaskan dengan sabar fungsi setiap gerakan dan menjawab setiap pertanyaan saya.

SemakinĀ  saya tahu filosofi dan fungsi tiap gerakan, saya makin jatuh cinta pada yoga. Setiap gerakan punya keindahan tersendiri, punya cara untuk mengenal sinyal tubuh kita dengan lebih baik, Yoga punya magnet yang membuat saya tertantang untuk mengalahkan tubuh saya sendiri tanpa memaksakan kemampuan tubuh . Buat saya, yoga itu gabungan kekuatan dan kelembutan. Bagaimana diĀ  setiap gerakan kita harus sadar akan tubuh kita, kontrol tubuh dan nafas dengan penuh kesadaran, namun ada energi yang dialirkan. Di setiap gerakan yoga yang terlihat sepele, tersimpan kekuatan energiĀ  kita, si pemilik tubuh. Bagaimana gerakan semudah Tadasana (pose gunung, yang notabene hanya berdiri)Ā  bisa menghasilkan bulir keringat dan membuat tubuh terasa segar. Dashyat!

YangĀ  membuat saya lebih jatuh cinta, saya seperti mengalahkan setiap inci kemalasan dari tubuh saya. Saya yang gak pernah menganggap tubuh saya fleksibel, bahkan cenderung kaku, ternyata perlahan-lahan bisa challenge my body to go further. Buat orang mungkin biasa, tapi buat orang sekaku badan saya, jadinya luar biasa. Now I can touch my toes, I can do plank position easily, saya bisa mengangkat tubuh dengan tangan dalam posisi badan lurus dengan mudah sekarang. Padahal dulu, personal trainer di Fitness First selalu saya mohon agar sesi gerakan satu itu di skip saja. Dan…., banyak ‘keajaiban’keajaiban’ kecil yang tadinya saya pikir gak bakal bisa saya lakukan. Meski saya juga masih belum bisa posisi-posisi yang sulit dengan tubuh meliuk-liuk, but I believe, someday I’ll get there as long as I’m consistent.

I am now still struggle with hyperthyroid, but I’m getting better, faster than my doctor and I both expected. Months ago, he was amazed by the result of my blood check up. Pembesaran kelenjar pun mengecil dengan cepat dari pasien lain pada umumnya.Ā  Yang pasti, sekarang saya gak mudah terkena flu (terbukti saat satu kantor flu, saya sempat harap-harap cemas. Namun untuk pertama kalinya saya gak tertular disaat dulu saya pasti jadi orang pertama yang tertular).

Saya gak gampang lelah sekarang. Padahal kesibukan saya 6 bulan ini, lebih dari biasanya. Saya kerja, urus @NyaiIndonesia, juga mengajar, yang mengharuskanĀ  keluar kota seminggu sekali secara rutin. Dalam seminggu, biasanya hanya hari Minggu saya bisa leyeh-leyeh gak ngapa-ngapain. Senin-Sabtu, sampai di rumah pun saya kadang masih selesaikan pembukuan dan keuangan @NyaiIndonesia, selesaikan bahan mengajar, atau periksa tugas mahasiswa. Herannya, sejak yoga, rasanya tubuh lebih berenergi, gak mudah capek. Maag saya juga gak pernah kumat lagi. Padahal biasanya dulu setiap pagi cairan lambung saya pasti keluar. Sekarang? Hasta la vista.


Bahkan, I feel happier. Bukan berarti saya dulu gak bahagia, hanya setahun belakangan hal sepele bisa bikin saya kepikiran terus sampai gak bisa tidur, gampang tersinggung. Sekarang? Rasanya semua lebih ringan. Macet? Ya udah baca buku sambil nunggu macet. TukangĀ  tas di workshop dodol? Ya udah cari tukang baru, Anak buah BBM, laporan gak penting pagi hari? Gak usah dipikirin, tarik nafas, ntar juga ada solusinya. Takut terlambat di tempat meeting? Ya udah pakai aja ojek, biar cepet sampai. Gampang kan? Hehehehehe.

Jadi, bagaimana saya gak jatuh cinta sama yoga?

Yoga is a powerful tool for living a balanced and happy life so roll out a mat and do it