Anakku, Si Tomboy-Romantis

14947482_10154745030148658_7026689316100608704_n

Pagi-pagi menemukan amplop tergeletak di meja rias. Rupanya dari si anak kecil. Si tomboy romantis yang sudah bisa mengungkap rasa pada ibunya, yang kerap dia bilang garang.ūüėÄ

Ini bukan kali pertama menerima hal serupa, tapi tetap saja bahagia pagi ini sederhana.

Nininya bercerita, si anak kecil menyiapkan ini sore kemarin. Satu amplop untuk Ibu, satu lainnya untuk Bapak. Entah bagaimana isi surat untuk si Bapak.

Advertisements

Seperti Itu Aku Merindukanmu

*Taken from my FB Notes. It’s fiction. Nothing real. It’s because I miss Reading Lights so much, the sanctuary that I love. But sadly, now it’s closed*

Kamu tahu seperti apa aku merindukanmu?
Seperti saat kita menyusuri labirin di balik judul buku bekas di Reading Lights. Memiringkan kepala, berupaya mencerna judul buku yang tegak berdiri di rak kayu usang namun mengeluarkan aroma hangat. Mencium aroma lembaran buku, yang entah sudah dibaca berapa mata. Bau, kamu bilang. Wangi, itu kataku. Khas. Seperti wangi tubuhmu sehabis bertemu air kala mandi sore, tanpa aroma buatan. Membuat aku tak bosan menghirup wangi tubuhmu, lagi dan lagi. Tempat itu kerap kita datangi di sore hari. Saat lalu lintas tak sesibuk pagi. Ketika orang bergegas kembali ke rumah, mencari kehangatan mereka yang tertinggal sejak pagi.

Seperti apa rasa rinduku untukmu?
Seperti saat kita terdampar di Kedai Teko, usai kuliah sore. Lalu kamu pesan teh masala. Satu porsi saja. Namun toh cukup untuk kita berdua. Kau tuangkan teh hangat beraroma menggoda itu, ke dalam cangkir kecil, Kau biarkan aku menyesap perlahan, sambil membiarkan aku bercerita apa saja. Kau hanya diam, sambil sesekali mengembalikan letak si poni yang terjurai menutupi mata indahku. Ya, kau yang bilang mataku indah. Katamu mataku hidup, semua semburat rasa terpancar disana. Lalu kita pesan kue wortel dengan lapisan keju diatasnya. Kita nikmati, lagi-lagi berdua.

Mau tahu seperti apa aku merindumu?
Kala sore hari kita melangkahkan kaki. Menuju Potluck Coffee Bar and Library. Kali ini aku pesan Apple Pie. Kau tak lupa mengambilkan buku yang ada di rak pojok ruangan sana. Kau ingat kan, bisa berjam lamanya kita disana. Paduan tawa, kopi hangat, kue yang enak,buku bagus serta pembicaraan tentang apa saja, menjadi ramuan pas yang membuat kita betah disana. Kita duduk di sofa, berdekatan sambil membaca buku hingga aku bisa mencium aroma tubuhmu, yang baru saja bertemu air di sore hari.

Kamu tahu kan aku merindumu?
Ya, aku si perempuan sore yang jatuh hati padamu. Yang jatuh hati pada semburat lembayung di ufuk langit sana. Kala panas perlahan menguap, bercampur udara dingin yang datang saat menjelang gelap. Tapi kau tak bisa lagi temani aku menunggu sore dan menyapa kedatangan gelap, karena sore kemarin kau sudah ucapkan janji sehidup semati, dengan cincin tersemat di jari kau dan dia. Wanita yang kini akan menghabiskan sore setiap hari bersamamu, hingga ajal memisahkan kau dan dia.

Jadi, sini, duduk temani aku habiskan sore. Satu kali ini saja.

Hidup Yang Berwarna

13178663_10154172591968658_7775675558277575580_n.jpg

Saya gak mau dan gak akan bisa menjalani hidup yang flat. Biasa-biasa saja. Semacam datang kantor, pulang, ketik-ketik, makan siang, ketik-ketik lagi. Pulang. Sudah begitu saja. Biasa-biasa disini bukan berarti hidup mewah. Toh saya juga bukan orang kaya. Kelas menengah biasa yang harus menabung sekian lama untuk bisa jalan-jalan dan liburan, misalnya.

I’m hunger for problems and obstacles. Karena hal itu membuat hidup lebih hidup. Learning curve. ¬†I heart dynamic-colorful life.

Satu yang saya bersyukur, diberikan pekerjaan yang menantang, memungkinkan bertemu banyak kalangan, belajar dari senior-senior dunia televisi yang memberikan kesempatan luas bagi saya menyerap ilmu, membantuk jaringan. Masalah sih selalu ada. Tapi gak penting juga. Toh gak mengurangi kadar cinta saya pada pekerjaan saya sama sekali, memberikan suntikan energi luar biasa untuk menjalani hari tanpa menjadi robot tanpa jiwa.

Makanya dulu juga sempat menjalani usaha kecil-kecilan dengan brand NYai, yang bahkan tahun lalu masuk daftar semifinalis Wanita Wirausaha Femina, yang sayangnya karena kesibukan yang kian kerap (dimana sebagai autoimmune survivor saya juga harus pintar-pintar mengatur energi), akhirnya sementara Nyai hibernasi . (moga-moga diberi keluangan waktu tanpa harus sering-sering keluar kota lagi sehingga Nyai bisa jalan lagi). Tapi sungguh, menjalani Nyai itu sungguh menyenangkan. Bukan tentang uang. Tapi berkarya, bisa ikut pameran sekelas Indonesia Fashion Week hingga Inacraft, juga mendapat teman banyak sesama pelaku usaha kecil dan menengah.

13907132_10154442116048658_4008648590823492266_n.jpg

Itu juga kenapa saya selalu sebisa mungkin menyempatkan bertemu teman-teman sepulang kantor. Sebisa mungkin. Ditengah jadwal luar kota yang frekuensinya kian kerap beberapa bulan terakhir (eh mungkin setahun terakhir ya :D).  Teman, yang membuat hidup semakin berwarna. Bukan hanya teman sekolah dan kuliah, tapi juga teman-teman seru yang membuat saya merasa punya learning curve ilmu , dari beragam tempat kerja saya dulu, hingga teman playdate.

Keluarga, tempat untuk ‘pulang’ dan menemukan ‘rumah’, sehingga menjadi bagian amat penting dalam hidup. Menghabiskan waktu bersama mereka, meski melakukan kegiatan sederhana. Tak perlu luar biasa, itu saja membuat bahagia. Keluarga, meski tidak sempurna, tapi selalu menghangatkan hati ketika pulang. Banyak rencana seru kami untuk berpetualang menjelajahi negeri ini nantinya, yang satu-satu sudah masuk daftar checklist.¬†

Melakukan perjalanan. Tahun ini mulai memberanikan diri melangkahkan kaki ke tempat yang ‘gak biasa’. Bersama mantan pacar dan si gadis cilik. Jailolo di Halmahera Barat, menginap di suku Baduy, hingga pekan lalu ke BItung di Sulawesi Utara yang sohor berkat Selat Lembehnya. Semoga tahun-tahun berikutnya kami bisa melakukan perjalanan dan petualangan lain bersama, ke tempat yang juga eksotis, kaya budaya, dengan alam yang juga indah, tentu. Mendapat banyak teman baru yang knows how to live life wholeheartedly.¬†Mereka yang memberi energi positif, karena menjalani kehidupan dengan energi dan rasa cinta. Saya bersyukur mengenal mereka.

Saat melakukan perjalanan, sejak dulu kami gak pernah tertarik ikut tur. Kami merasa suatu perjalanan akan menjadi memori dan tantangan mengasyikkan, jika kami berjalan kemana pada hari itu, sesuai dengan hati mengatakan ingin melangkah kemana. Tersesat, bingung, tanya sana-sini pada orang lokal, persinggungan dengan banyak individu, rasanya menjadi hal seru yang memberikan memori tersendiri. Tentunya juga, menyumbang keragaman warna hidup dalam perjalanan singkat itu. It’s the journey and experience, not the destination.

Lalu, project pribadi #weekendtanpamall juga ikut menyumbang keseruan hidup ini. Hal-hal sederhana, eksplorasi hal sekeliling, membuat akhir pekan juga menjadi ditunggu untuk mencoba hal-hal baru. Bahkan perlahan saya dan 2 teman lain, membuat page  Weekend Tanpa Mall, untuk sarana berbagi kegiatan seru diluar mall. Hal sederhana, yang memberi keasyikan tersendiri.

13876414_10154442119863658_2579603083273966759_n.

Saya selalu percaya, bagaimana kita mewarnai hidup, ragam warna apa yang akan ada dalam kehidupan kita, akan bergantung bagaimana saya merengkuh kehidupan sebagaimana adanya. Tidak sempurna, tapi saya memang kerap memiliki memori selektif yang akan mengisi benak dan jiwa. Tak mau mengingat hal sulit. Karena bagaimanapun segala masalah itu adalah satu paket yang harus kita terima sebagaimana berkat. Itu saja. Akan selalu ada orang sulit mampir ke kehidupan kita. Akan selalu ada teman yang mengkhianati kepercayaan dan ketulusan kita. Akan selalu ada masalah yang menghampiri , hingga bahkan membuat saya meneteskan air mata. Ada masa dimana saya merasa tak kuasa. Tapi esok, bangkit lagi dan menyongsong lagi hari untuk mewarnai lagi hari ke hari.

Ya sudah. Itu hidup. Toh masih ada berjuta berkat yang diberikan kepada saya dan keluarga kecil saya. Itu saja. Untuk segalanya, hanya Alhamdulilah. 

Lalu nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

Jadi, bagaimana kamu mewarnai hidupmu?

13151687_10154167454733658_3406389780890683791_n.jpg

Perjalanan Keluar Zona Nyaman

Jadi, saya memang punya project pribadi dengan tagar #weekendtanpamall .

Kali ini si agenda #weekendtanpamall kami putuskan untuk datang ke Desa Adat Baduy. Tidak muluk-muluk hingga Baduy Dalam yang menempuh perjalanan berjalan kaki selama 5 jam (belum termasuk perjalanan mobil dari rumah ke Desa Ciboleger yang merupakan gerbang Desa Adat Baduy, selama 5 jam termasuk mampir makan siang). Saya dan si mantan pacar memutuskan kali ini cukup hingga Baduy Luar sebagai perjalanan perdana, sekaligus tes kekuatan fisik dan mental (ini yang terpenting) si anak kecil.

GncYJ

Kami berangkat dengan keluarga teman saya yang merupakan orangtua dari teman main si anak kecil di sekolahnya. Sebelum berangkat saya sudah memperlihatkan foto Baduy agar si anak kecil mendapat gambaran, seperti apa tempat menginapnya nanti. Termasuk wanti-wanti bahwa disana tidak ada AC, karena listrik pun tidak ada.

Stepping Out From Comfort Zone

Sempat terbersit khawatir, apakah dia sanggup berada di tempat terpencil tanpa listrik dan tanpa sinyal. Tapi rupanya, kekhawatiran saya tidak beralasan. Memang anak-anak itu justru  ternyata punya kemampuan adaptasi yang luar biasa. Tidak ada kerewelan selama kami disana. Hanya mata berbinar dan tawa yang menghiasi wajah-wajah mungil mereka.

DSC_0573

Sejak perjalanan dari Desa Ciboleger menuju Desa Gajebo di Baduy Luar, meski waktu¬†tempuh hanya 1,5 jam, medan yang kami lalui adalah tanjakan ¬†dan turunan curam yang membuat betis menjerit. Tapi si anak kecil dan temannya, senang-senang saja. Memang diselingi keluhan-keluhan kecil “Bu, capeek. Kapan sampenya”. Namun toh saat kami menyemangati, mengalihkan fokus pikiran mereka dari rasa lelah, rengekan kecil itu sirna. Apalagi pemandangan sekeliling membuat antusiasme mereka mengalahkan rasa lelah di kaki.

Where Simplicity Is The Value Of Life

Buat anak-anak yang excited itu adalah saat mampir ke Legoland, Universal Studio atau hingar-bingar Bali, ternyata datang ke Baduy justru memberikan pengalaman berbeda yang membekas bagi mereka. Memang tujuan saya membawa si anak kecil ke sini, adalah to expose to different things so they appreciate different habit, culture and perspective on anything. Saya ingin si anak kecil merengkuh perbedaan, menghomatinya, sekaligus tidak menasbihkan bahwa persepsi benak dia lah yang paling benar. Padahal ada jutaan perbedaan dan cara pandang, yang semuanya relatif.

13932859_10154460923553658_3255385882844717231_n

Mungkin di benak kita terbersit “kasihan ya hidup tanpa listrik, terpencil”. Padahal bisa jadi warga Baduy justru juga kasihan pada anak saya toh?. Yang melonjak senang melihat sungai super jernih. Menjerit bahagia bisa main di sungai sepuasnya. Kegirangan melihat anak-anak ayam melenggang di jalanan desa. Naik tempat menjemur gabah dengan semangat. Menghitung kunang-kunang di gelap malam dengan antusias. Penasaran melihat kaum wanita menenun di bale-bale rumah mereka. Terheran-heran melihat leuit, tempat menyimpan gabah. Padahal semuanya bagi warga Baduy adalah hal lumrah.

Jadi semua masalah persepsi kan? Tidak ada kehidupan yang paling sempurna. Semua ada di benak kepala, tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Saya juga ingin dia menghargai kesederhanaan dalam hidup. Tidak melulu perlu Ipad atau TV kabel untuk bisa membuat kita bahagia. Terbukti dengan perjalanan semalam di Baduy, mereka bisa be present and enjoy the moment. Saat malam gelap, mereka dengan gagah berani berkeliling kampung bermodalkan senter. Makan seadanya (tapi nikmat dan lezat), tidur ngampar di rumah warga Baduy berselimutkan sarung. Ragu di awal saat hendak menyeberang jembatan bambu dengan sungai beraliran deras di bawah, namun kemudian tak sabar untuk kembali menyeberangi jembatan besar itu tanpa ragu.Berjalan girang tanpa alas kaki.

DSC_0490

Tentu saja, perjalanan yang membekas di hati ini juga tak terlupakan bagi kami sebagai orangtua. Disini kami belajar untuk ‘kuat jantung’. Membiarkan anak-anak menikmati ‘ketidaknyamanan’ untuk membentuk mental mereka. Yang kami lakukan adalah menyemangati. Membiarkan mereka menemukan keberanian dari dalam diri sendiri, untuk menyambut sesuatu yang betul-betul berbeda. Mengajarkan mereka untuk terus¬†mengambil langkah kecil dalam perjalanan, meski lelah luar biasa. Namun kami meyakinkan mereka untuk tidak berhenti hingga sampai di tujuan.

DSC_0747

Happiness Is A State Of Mind

Toh terbukti, mereka bahagia. Meski semalam tanpa listrik, meski harus ngos-ngosan saat jalanan menanjak, meski perjalanan ini bukan tipikal liburan-liburan sebelumnya. Bahkan saya sempat mendengar perbincangan mereka saat sedang mandi di tempat seadanya, seperti ini:

“Senang ya, kamu senang gak disini?”

“Iya, senang”

“Kapan-kapan kita kesini lagi yah”

“Ayok”

DSC_0694

Jadi memang, bahagia gak bahagia itu kembali ke pikiran kita toh?. Tugas saya dan si mantan pacar lah, untuk mengajarkan dia itu. Bahwa kita harus selalu menikmati kehidupan, seperti apapun kondisinya. Buruk sekalipun di kacamata kita, misalnya, karena toh semua tidak permanen. Sesudah lelah menempuh perjalanan naik-turun menuju Baduy, ada kesenangan luar biasa menanti mereka yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Keluar dari zona nyaman juga bisa jadi menakutkan. Tapi saya mau mengajarkan si anak kecil untuk tidak takut mengambil resiko (yang terkalkulasi). Petualangan dalam hidup selalu membuat hidup menjadi lebih hidup.

DSC_0692 copy

Kami juga berencana untuk  kembali,  menjajal Baduy Dalam. Yang jauh lebih terpencil, mandi saja tak boleh menggunakan sabun dan shampoo, yang bahkan tidak juga boleh foto-foto. Si anak kecil dengan antusias menyatakan diri untuk kembali ikut berpetualang ke Baduy Dalam. You go, girl!

Saya ingin dia merengkuh hidup dengan segala paket di dalamnya. Saya ingin ia membuka mata bahwa akan ada ketidaknyamanan dalam hidupnya, untuk membentuk learning agility dia. That life is not always about grand affair,  life itself is a gift eventhough it is not wrapped up as a gift.

Kami ingin ia berinteraksi dengan berbagai macam individu. Di Baduy, kami berinteraksi dengan warga sana. Ada Kang Sarpin dan Teh MIsnah, serta kedua anaknya yang banyak mengenalkan kami soal kehidupan suku Baduy. Ada Endang, guide-porter kami yang banyak berkisah. Ada sapa dengan suku Baduy saat berpapasan di jalan desa. Ada pelajaran langsung yang ia saksikan dengan mata kepalanya.Kami ingin anak kecil jatuh cinta pada alam dan isinya. Jatuh cinta pada dunia. Jatuh cinta pada hidup yang beragam warna.

¬†I wish her to have an adventurous-weird-fun life, and hopefully she is willing to add dash of quirkiness into her life wholeheartedly. Let’s sail ¬†life and be alive!

DSC_0795

Terimakasih sudah menjadi teman perjalanan yang menyenangkan, matahariku. Ibu bangga padamu, karena rasa takut adalah secuil pikiran yang ada di kepala.

Mari bersulang untuk petualangan berikutnya. Perjalanan mengenai alam, manusia dan semesta.

Makan Siang Istimewa

Hari ini aku makan siang super istimewa.

Saat jam makan siang tiba, aku membuka bekal seperti biasa, di ruang makan karyawan yang berbatasan dengan ruangan kecil tempat para OB, supir dan messenger kantor menghabiskan waktu mereka.

Sudah menjadi kebiasaan, apapun bekalku, seberapa banyak atau sedikit, menawarkan apa yang kubawa kepada siapa saja yang ada di ruangan itu, adalah lumrah kulakukan.  Kudengar di balik pintu ruangan kecil itu, para supporting system kantor tertawa, berceloteh seperti biasa

Tapi hari ini ada yang berbeda. Aku yang ditawari, oleh mereka yang sesungguhnya menjadi bagian tak kalah penting dalam keberlangsungan perusahan. Tak lama dua orang dari mereka datang menghampiri. Tangan penuh box plastik. Berisi ikan asin kapas renyah, sambal terasi, lalap dan jengkol. Mereka mendekat, menawarkan makanan itu. Rupanya hari ini mereka makan bersama. Istri salah satu dari mereka sengaja memasak khusus untuk dimakan bersama di kantor.

Aku sempat menolak. Khawatir nanti tak cukup. Tapi mereka terus menawari, tak lama ada satu lagi menghampiri. Mengangsurkan satu mangkuk sayur asam yang memang terlihat lezat. “Ayo mbak, masih cukup kok. Udah ayo”, begitu kata mereka. Dengan senyum tersungging.

Aku pun menerima tawaran itu. Dan seperti kuduga, citarasanya luar biasa. Hidangan sederhana yang menggoyang lidah. Di sela makan siang itu, mereka melontarkan canda yang membuatku ikut tertawa. Hari itu saya makan bersama mereka.

Tuhan memang punya banyak cara luar biasa, untuk mengirimkan malaikat. Makan siang hari ini membuatku haru sekaligus bahagia. Mereka saja ingat berbagi.

Bahagia hari ini terasa hingga hati. Bersyukur, karena Tuhan juga mengirimkan mereka, untuk selalu ingat berbagi. Seberapa banyak atau kecil yang kamu miliki.

Terimakasih untuk hari ini.

Tale Of An Ambivert

10563068_10153188100558658_8504334504462932186_n

 

I consider my self as an ambivert.

I can be social, love being surrounded by people. But I love being alone.I prefer to be surrounded by selected people with similar trait, those I can be comfortable with.

I’m emotionally stable during a stroll at bookshop, yoga session, or alone in a coffee shop, and everything in between. I’m also emotionally stable in quiet place eventho’ I’m bubbly-talkative kinda’ person. A too loud or too crowded environment drained my energy. I hate small talk. But I can be a social butterfly during my daily activities as a build-TV-from-scratch specialist.

I’m generally happy to meet new people, but I can be uncomfortable if I have to do it without any of my existing friends with me. Spending too much time with other people who are fake and meaningless- ¬†or those busybodies, can be exhausting. I respect people with values, integrity, dreams, interest, passion and knows how to live their life wholeheartedly, and with those, I could spend hours talking and talking and nothing can stop me. Those who are appreciate the true meaning of life and be alive.

Small talk is something that annoys me, because it feels a bit insincere. That’s why I often choose to be away from the crowd who gives me many reason throwing small talk. Meh. I choose to step away from those with negative vibes. I love being surrounded by people who can stretch my way of thinking, the joy of learning stimulates me.

Yes, I’m that complicated as an ambivert. But I define my own life, choose my own freedom by my own standard. I don’t need others to set the bar.

When you’re happy with your self and your life (despite the chaos and roller coaster of life), our self worth ¬†is never defined by others. And I’m glad I choose mine.

Carpe diem. Carpe noctem

 

 

Big Family Trip

So, keluarga besar dari pihak Ibuku berencana berwisata akhir tahun ke Tasikmalaya.

Kenapa Tasikmalaya? Karena disana ada makam leluhur Sukapura. Disanalah kakek-nenek, dan buyut dari pihak keluarga Ibu dimakamkan. Makam Sukapura yang terletak di pinggiran kota Tasikmalaya ini adalah makam kuno, tempat para Bupati  Sukapura dan keturunannya dimakamkan.

Sudah bertahun-tahun Ibu tidak nyekar kesana, begitupun adik-adik Ibu. Saat lebaran, salah satu Oom kami membuat grup WA keluarga besar , perbincangan di grup WA mencetuskan ide nyekar bersama ke makam keluarga itu sekaligus berlibur akhir tahun.

Urutan awal leluhur keluarga besar Ibu adalah¬†Raden Ngabehi Wirawangsa, yang bergelar Raden Tumenggung Wiradadaha I, dipanggil Dalem Pasir Beganjing, berkedudukan di Leuwiloa, Sukaraja (1641 ‚Äď 1674). ¬†Leluhur kami ini di masa hidupnya menjadi kepala daerah Sukapura beribukota di Sukakerta. Kemudian ia resmi diangkat ¬†menjadi bupati Sukapura dengan gelar Wiradadaha I, yang menjadi cikal bakal dinasti Wiradadaha di Sukapura ¬†alias Tasikmalaya.
Raden Tumenggung Wiradadaha diberi gelar oleh Sultan Agung (Mataram), yaitu Raden Ngabehi Wirawangsa,  sekaligus menjadi bupati Sukapura pertama, karena ia berjasa menumpas pemberontakan Dipati Ukur  di tahun 1632 silam. Begitulah. Jadi kalau Bapak adalah keturunan Bupati dan pendiri kota Bandung baheula, dimana kakek-nenek dan buyut dari keluarga Bapak dimakamkan di makam kuno Karanganyar-Bandung, keluarga Ibu ternyata berasal dari trah para Bupati Sukapura yang kini bernama Tasikmalaya. Baru tahu saya.

Yang seru, keluarga besar ini akan berangkat beramai-ramai dengan kereta. Tadinya tercetus akan menggunakan mobil masing-masing. Tapi selain malas menghadapi kemacetan menjelang libur Natal, rasanya lebih seru jika  kami berangkat beramai-ramai di satu gerbong.

Sampai di Tasikmalaya, diputuskan kita akan menyewa bis kecil yang sanggup menampung kami semua berjalan-jalan dan berwisata.  Panitia kecil ala-ala pun dibentuk. Ada Oom yang jadi ketua panitia, ada pula yang bertanggungjawab untuk konsumsi, transportasi, akomodasi dan semacam itu.

Aku? Didapuk jadi bendaraha *glegh* . Menghitung budget, melakukan penagihan dan melakukan pembayaran.

Memang panitia perlu dibentuk, mengingat yang berangkat ada sekitar 45 orang dengan total kamar 17. Kebayang kan sebanyak itu harus diurus makannya, keberangkatannya dan akomodasinya. Tanpa panitia dan pembagian tugas, kelar sudah urusan menjadi pusing tujuh keliling ūüėÄ

It would be an exciting experience. Karena aku belum pernah bepergian dengan keluarga sebanyak itu. Yay! Kemana menjadi tidak penting rasanya. Yang penting beramai-ramai. Anak, suami, orangtua, adik, ipar, keponakan, sepupu, oom dan tante, mari kita tamasya.