The Way Wings Should, A Poem by Rumi

DSC_4375

What will
our children do in the morning?
Will they wake with their hearts wanting to play,
the way wings
should?

Will they have dreamed the needed flights and gathered
the strength from the planets that all men and women need to balance
the wonderful charms of
the earth

so that her power and beauty does not make us forget our own?

DSC_4409

I know all about the ways of the heart – how it wants to be alive.

Love so needs to love
that it will endure almost anything, even abuse,
just to flicker for a moment. But the sky’s mouth is kind,
its song will never hurt you, for I
sing those words.

What will our children do in the morning
if they do not see us
fly?

DSC_4762

Advertisements

Belajar Dari Nyai

Nyai, buat saya bukan sekedar belajar bagaimana me-manage bisnis ataupun mengembangkan produk dan memperkenalkan brand (yuk…yuk, mampir ke online shop temporer kita disini) . Didalamnya, ada sekumpulan aktivitas yang membuat otak rasanya terus melar, untuk cari tahu. Bayangkan saja, saya yang ketika SMA benci setengah mati sama akuntasi dan gak pernah sukses membuat tabel debet dan kredit jadi balance, sekarang mau gak mau harus belajar namanya akuntansi sederhana. Kayaknya orang keuangan kantor cukup jengkel menghadapi saya yang telmigapo. (baca: telat mikir gampang poho). Hari ini diajarin, besok sudah lupa lagi  (Makasih loooh kang Lucky nan baik hati :D). Jadi seperti back to square one rasanya. Hyuuuk….

Belum lagi belajar pelan-pelan soal internet marketing endebra endebre. Lah, mau gak mau harus tau dong, wong core bisnisnya kan online. Atau dicekokin soal Meta. Atau SKU. Meski masih dalam format sederhana, tetep juga deh ya bikin penat binti semaput.

Terlepas dari hal-hal teknis diatas, ada yang jauh lebih berharga. Yaitu soal bagaimana mengasah sikap mental agar terus optimis, mengolah kesederhanaan rasa saat dikecewakan orang atau apapun itu. Mungkin yang terjadi belum seberapa, mengingat Nyai sebagai brand kan masih bayi betul. Tapi, setidaknya itu jadi tempelan kertas di kepala, supaya diingat terus, supaya siap apapun yang terjadi. Supaya saya  hati-hati, gak terjebak dan melakukan pola yang sama. Bagaimana pun Nyai harus terus melangkah, bukan?

Kita pernah ditawarin seseorang (catat ya: ditawarin) untuk cross promo di website ‘mereka’. Katanya bisa pasang foto produk Nyai, termasuk ada short brief soal produk Nyai. Ya senanglah pasti. Siapa yang gak mau. Apalagi ‘mereka’ itu produknya lebih dulu eksis meski core business kita berbeda jauh. Sudah semangat kirim ini itu, wanti-wanti bilang kalau ada yang kurang kasih tau aja akan dilengkapin. Kok tunggu sebulan, dua bulan, tiga bulan, empat bulan…. gak muncul juga ya. Bahkan email kita pun gak dibalas. Ketika ditanya, malah balik bilang: “abis situ belum kirim logo“. Doeng, kenapa gak ngomong dong ya sejak awal, atau balas kek email kita yang gak cuma sekali itu (sekedar catatan: email kita gak ada yang di reply loh padahal ditujukan ke lebih dari satu orang. Mungkin saking sibuknya ya, sampai gak sempet balas email 😛 :P).

At least shows that you have good courtesy. Wong wakil dari Pendopo Indonesia aja masih loh reply email dari Nyai.  Belum lagi salah satu dari ‘mereka’, tahu-tahu curi ide saya. Dia presentasikan kepada calon investor (gak ada hubungan sama Nyai sih) tanpa sepengetahuan saya. Padahal sebelumnya dengan polos saya kirim konsep panjang lebar dan detil, saya keluarkan semua ide sama dia. Sakit hati dobel-dobel rasanya pas tahu saya ditelikung begitu. Tapi ya sudahlah. Biarkan saja. Gak follow up lagi sama ‘mereka’? Ogah ah. Gengsi. Gak usah ambil pusing meski sedikit (banyak ding :D) dongkol. Masih banyak jalan menuju Roma kok. Nyai bisa bergerilya mencari cara lain.

Beberapa hari sesudah kejadian itu, tiba-tiba ada seseorang yang menawarkan develop website kita (permanent online shop) dengan bentuk kerjasama yang kita gak pernah bayangkan sebelumnya. Ada kesepakatan win-win solution yang terjadi. Tapi, jelas itu membuat mimpi punya website keren bakal terwujud lebih cepat dari perencanaan dan kondisi keuangan kita.  Saya sadar betul, kalau kita harus bayar as professional, mehi neeek. Rasanya keuangan Nyai belum sanggup di tahun ini.

One of our dream, slowly in front of our eyes. Rasanya kok setimpal ya setelah dikecewakan ‘mereka’ yang tadinya saya percaya sedemikian rupa. Yang lebih bikin bahagia dan membuat kekecewaan terbalas, kerjasama ini Insya Allah gak akan cuma berakhir di urusan website Nyai. Tapi juga ada pengembangan lain yang kalau terlaksana, akan membuat ide dan idealisme punya outlet lebih banyak. Belakangan saya tau dari orang lain, visitor website ‘mereka’  yang bikin mangkel itu ,ternyata perhari sekarang malah lebih sedikit dari Nyai.  Hyuuk…. (boleh gak sih nyengir ala Kunti? Eh, gak boleh yaaa. *tutupmulut* #ambillakban)

Pelajaran Pertama. Law of reciprocity. Bear in mind that a small favor can produce a sense of obligation to a larger return favor. Give, and it will be given to you.

Jadi ingat, dulu ada orang kantor saya jaman masih kerja di holding company nganu itu. Waktu saya keluar, memang orang itu tanya kabar saya? Atau at least, texting me to say farewell? Zero. Trus gak ujan gak angin beberapa bulan kemudian, dia sampai minta pin BB saya sama teman dekat saya di kantor itu. Pertama basa-basi, apa kabar, kerja dimana sekarang? Kok gak pernah kelihatan?  (lah ngapa’ ngana gak sms aja, kalau kangen sama saya sejak dulu ya? Hiahahaha) Udah mulai ada feeling gak enak, tumben-tumben nih orang. Ujung-ujungnya, dia minta saya bantu promosikan produk yang lagi dia kembangkan, ke orang media (dia tau saya mantan orang media, dan sekarang masih bersinggungan dekat sama orang media). Dia juga  minta saya kenalkan ke orang-orang media supaya produk dia diliput. Terus dia pengen juga joint promotion sama Nyai. Dalam hati saya ketawa aja, “kemane aje situ kemarin, Joooo…”.

Intinya sih bukan mau balas dendam. Tapiii, maintain relation sama orang itu emang penting, Massss…. Mana tau ngana bakal butuh orang lain di masa yang akan datang. Jangan pas butuh aja situ super duper baik. Bukan begitu, bukan?

Pelajaran kedua. Be sincere. Business is about maintain relation and expanding network. Itu bukan basa-basi bau nan palsu. It required your heart, and how you treat people.

Lalu kemarin, saya baru BBMan sama seseorang (gak perlu disebut lah ya, yang jelas kita bakal kerjasama dengan Nyai). Dia cerita bagaimana dia diculasin seseorang, yang sudah dibuatkan konsep dan aplikasi. Tanpa permisi dan notifikasi, konsep itu diubah begitu saja. Kompensasi tidak dibayarkan. Bahkan terakhir, email tidak direspon, dan ujung-ujungnya dia dihapus dari kontak BBM.

Kejadian itu membekas betul buat saya. Meski gak terjadi sama saya. Tapi, memang bisnis itu bisa kejam. Shit could happens. Kabur gak bayar untuk sejumlah kewajiban, bisa aja dilakukan. Tapi, rasa-rasanya kredibilitas lebih penting dari sekedar uang. Makanya saya jaga betul soal kepercayaan dan kredibilitas Nyai. Meski mungkin  kadang kita rugi secara materi, waktu, atau tenaga.

Misalnya: ganti tas kulit pesanan orang dengan tas baru tanpa extra charge, karena ada goresan sedikit saat tas ia terima (padahal beli selembar kulit sapi lumayan juga tuh harganya 😀 ). Atau, ganti ongkos kirim konsumen yang terpaksa mengirimkan kembali tas pesanan dia karena magnet tas gak berfungsi. Iya, emang cuma tujuh ribu perak, tapi itu goodwill kita. Bahwa kepercayaan konsumen sama produk kita  harus dijaga. Contoh lain, karena alasan teknis, pesanan tas seseorang yang sudah bayar lunas, ternyata mundur-mundur terus dari waktu yang dijanjikan. Padahal konsumen ini sudah 3 kali beli produk Nyai. Walhasil, ketika tas jadi, kita bela-belain kirim pakai supir ke rumahnya di….Bogor. Ongkos bensin sama tol-nya aja dari BSD udah lumayan kan? Hahahahahha. Tapi intinya, kepercayaan konsumen yang mulai terbentuk sama Nyai, itu lebih mahal dari uang. Misal yang lain, ada konsumen hit and run. Padahal teman loh. Dia pesan tas, pakai minta dibuatkan spesial dengan batik dan kulit pilihan dia. Ketika jadi? Boro-boro ya kasih kabar, mau apa enggak. Gimana kelanjutannya tuh pesanan dia?. Sudahlah. Relakan . Gak usah tagih padahal dia teman yang tinggal saya BBM. Kalau dia punya goodwill, dia akan kasih tau saya,toh? Tau-tau, alhamdulilah sehari kemudian tas itu laku, bahkan pesanan berdatangan. Ada orang lain yang memesan tas persis sama.

Pelajaran ketiga. Goodwill. Once trust is broken, you will have to pay more than you are now. It will do no harm to show others how you have goodwill towards everything. On the contrary, respect will flow right back to you. Now. Or later.